
Nia serta Vina tampak begitu bersemangat berbelanja kebutuhan study tour bersama teman sekolah mereka, Sekar dan Cindy. Mulai dari berbelanja pakaian renang, aneka snack, sunblock, dan lain sebagainya. Mereka benar-benar sudah sangat tidak sabar untuk menginjakkan kaki di Pulau Tidung, atau yang lebih dikenal dengan nama Pulau Seribu. Sambil asyik memilah ini itu, mereka berbisik membahas topik yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan cengar-cengir.
" … Ya gitulah pokoknya." Sekar, teman sebangku Vina, tersipu malu.
"Gitu gimana anjir. Yang detil dong. Udah terlanjur penasaran nih."
"Tau nih. Buru cerita yang detil," timpal Cindy, teman sebangku Nia pada Vina.
"Ya ciuman lah. Tapi cuma nempel doang. Terus cuma sebentar juga kok."
"Omg-omg. Terus-terus gimana rasanya?" Vina semakin antusias, bahkan tanpa sadar menghambur memeluk Sekar.
"Gak ada rasa apa-apaan. Ya b aja. Ya kaya lu nyium kulit lu sendiri aja gitu."
Vina refleks mencium punggung tangannya, pun Cindy. Sementara Nia, tak henti tertawa geli sejak topik vulgar itu dibuka oleh Cindy.
"Beneran dicium dong duh geblek banget," imbuh Sekar. "Kalo lu sendiri pernah ngapain aja sama pacar lu, Vin?"
"Emang pacaran online bisa ngapain sista." Vina tertawa.
"Kan bisa ngirim pap gituan. Pasti pernah kan lu? Ngaku-ngaku." Cindy ikut tertawa.
"Gak pernahlah. Cuma cewek-cewek kesepian yang mau ngirim pap gituan ke orang yang gak jelas. Misal orangnya jelas sekali pun juga gak bakal gue mau ngirim. Yang rugi gue anjir. Kalo disebar gimana? Atau, kalo dijadiin alat buat meres gue yang kismin ini? Terus …"
Mendengar apa yang baru saja dikatakan Vina, membuat Nia, Sekar serta cindy kompak tertawa semakin geli.
" … Udah ah. Katanya lu berdua mau pada beli ayam bakar yang di lantai dua. Sono cepet beli. " imbuh Vina sembari menggandeng Nia. "Yuk, Nya. Kita beli makan di foodcourt* aja."
*Tempat makan yang terdiri dari berbagai tenant atau counter yang menawarkan jenis kuliner yang bervariasi.
"Ketemu di foodcourt ya." Nia melambaikan tangan pada Sekar dan Cindy.
Vina berdeham, "Jadi, Nya, lu udah pernah ngapain aja sama ayang Zaim? Cerita dong. Sama gue aja ceritanya dijamin gak bocor."
Nia tak menjawab, hanya kembali tertawa geli. Tampak Vina masih berusaha merayu Nia agar mau membuka mulut. Sungguh, dibanding hasil ujian matematikanya, Vina lebih ingin mengetahui jawaban Nia. Namun Nia yang bersikeras mengalihkan topik sambil mengiming-imingi Vina ini itu, membuat Vina akhirnya menyerah. Ya, kadang sedikit batasan memang diperlukan dalam sebuah persahabatan. Bukan karena tidak percaya, tetapi mungkin belum waktunya.
" … Mampus. Gue yakin sih bokapnya si Ikbal sama temen cabulnya itu bakal kena gangguan jiwa sebelom genep seminggu."
"Mereka bukannya udah kena gangguan jiwa dari sebelom bikin video syur gue ya?" Nia tertawa.
"Iya juga ya." Vina ikut tertawa. "Btw gimana perkembangan Pongpong* yang lu pasang di mobilnya ayang Zaim?"
__ADS_1
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
"Gak ada perkembangan apa-apa. Soalnya Zaim jarang make mobil itu."
"Ya lu cabut terus pasang di mobilnya yang sering dia pakelah, Nya. Gimana sih? Atau lu udah berubah pikiran buat bantu ayang Zaim nyelesaiin masalahnya secara gerilya?" tanya Vina lagi.
"Gaklah. Gue malah makin semangat mau bantu dia. Karna Om Bagas udah dipenjara, jadi kemungkinan masalahnya tinggal nyokap tiri gue kan?"
Vina mengangguk-angguk. "Apa rencana lu?"
"Belom tau. Ntar deh gue pikirin. Sekarang mah yang penting nyopot Pongpong dulu dari mobilnya Zaim. Kan …"
Terlambat! Sekali pun Nia pergi ke kantor Zaim detik ini juga, sudah terlambat. Karena mobil yang dipasangi Pongpong itu telah dinyalakan mesinnya, oleh Al Hakam. Ya, Al Hakam. Delapan menit yang lalu Hakam mendatangi kantor Zaim dengan dalih meminta kunci mobil tersebut, yang mana merupakan kado ulang tahun dari Hakam. Zaim pun menggenggamkan kunci itu, tanpa pernah tahu jika dirinya baru saja mendekatkan malaikat maut pada sang Kakek.
"Kekanakan banget. Padahal tinggal bilang kangen." Zaim memandangi mobil mewahnya yang baru saja keluar dari basement kantornya.
...•▪•▪•▪•▪•...
"Tiati. Besok gue ke rumah pagi-pagi bawa nasi uduknya Bu Jum. Babay hanibaniswiti. Jangan …"
Ikbal mendecak sambil melirik Vina dari spion sepeda motornya. "Udah malem pun masih heboh aja ya sahabat lu yang kaya speker kampanye itu. Belom aja didamprat lelembut."
"Yang ada Vina kali yang ngedamprat lelembut." Nia tertawa. "Btw kok lu gak bawa helm sih? Tau sendiri di daerah sini masih ada razia biar pun udah jam satu pagi."
"Ya terus gimana?"
"Lewat jalan tikuslah. Udah diem. Yang penting nyampe rumah," sahut Ikbal.
Dan, dimulailah perjalanan yang sangat menyiksa bokong tersebut. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya dalam waktu sepuluh menit, kini harus ditempuh dalam waktu setengah jam. Tak mengejutkan. Namanya saja jalan tikus. Jadi sudah bisa dibayangkan itu adalah sebuah jalan yang sempit, becek dan bau. Persis seperti jalan-jalan yang biasa dilalui para tikus yang tidak lagi takut pada bayangan manusia.
" … Gua sih feeling lu sengaja shopping biar punya alesan gak di rumah sama gak nganterin Ibu ke bandara. Iya kan?"
"Iyalah. Lu kan juga sama. Biar pun lu di rumah juga kan cuma ngedekem doang di kamar. Terus emang lu nganterin Ibu ke bandara? Gak kan?" Nia balik melempar tanya pada Ikbal.
"Seenggaknya gua nganterin Ibu sampe depan rumah."
Nia memukul Ikbal. "Itu namanya bukan nganterin ya tolong."
"Padahal Ibu nungguin lu tau. Sampe …"
Benar, meski tengah berperang dingin dengan Nia, Ushi tetap berharap bisa diantar ke bandara olehnya. Tetapi Nia malah sengaja pamit pergi berbelanja kebutuhan study tour bersama Vina, Sekar dan Cindy. Tidak hanya sampai di situ, usai berbelanja Nia pun sengaja tidak langsung pulang ke rumah. Nia malah menghabiskan waktu di kediaman Vina sambil menunggu jam keberangkatan Ushi ke Droseros habis.
__ADS_1
" … Berarti selama ini Ibu ke Droseros sama Om Edo?"
"Yaiyalah masa sama Bu Jum? Kan gua pernah bilang Om Edo tuh pernah kuliah di Amerika jadi dia pasti apal daerah di sana."
"Terus Ibu mau ngapain lagi ke Droseros? Kan udah dapet rumah?" tanya Nia lagi.
"Rumahnya kan direnov. Jadi Ibu ke sana buat mantau langsung perkembangan renovasinya. Gitu sih kata Ibu."
Nia menghela napas kasar. "Ngeselin banget. Pokoknya gue gak mau pindah sebelom Ibu kasih tau alesannya. Kalo Ibu kekeh tutup mulut, gue bakal lebih kekeh. Liat …"
Itu bukan sekadar gertakan. Sebab Nia bersungguh-sungguh dengan apa yang baru saja dikatakannya. Nia marah, untuk yang pertama kali, pada Ushi. Bagaimana tidak? Alih-alih menjawab tanya Nia tentang alasan kepindahannya ke Droseros, Ushi malah bersikap keras kepala. Edo, kekasih tak sampai Ushi pun tak luput dari kemarahan Nia. Edo jelas tahu apa alasan Ushi, namun enggan memberitahu dengan dalih janji.
" … Tapi gak tau kenapa gua juga yakin kalo alesan Ibu tiba-tiba pengen pindah tuh karna Kakek emang penyebab kakaknya Kak Zaim meninggal. Gimana ya ngomongnya?"
Nia kembali memukul Ikbal. "Tinggal ngomong dih."
"Kakek tuh aus banget sama kekuasaan. Biasanya orang yang aus kekuasaan gitu kan bakal ngehalalin segala cara termasuk bunuh orang. Ya walopun bunuhnya gak pake tangan dia sendiri ..."
Nia diam, merasakan keyakinannya yang semakin menguat.
"... Tapi lu juga harus ngertiin posisi Ibu sebagai seorang Ibu. Gua yakin Ibu ngelakuin itu karna khawatir sama lu. Khawatir lu bakal diperlakuin buruk sama kakeknya Kak Zaim kalo kelak kalian nikah," imbuh Ikbal.
"Iya juga sih. Mau gimanapun juga kan gue cucunya Pak Safi. Terus mau gak disengaja sekali pun, fakta kalo Pak Safi udah bunuh kakaknya Zaim kan gak bisa dilupain gitu aja."
"Itu lu paham. Jadi mendingan lu cepet baikan deh sama Ibu da–"
Ucapan Ikbal terjeda, karena suara riuh sirene ambulans bercampur teriakan Polantas yang meminta semua pengendara untuk memberi jalan. Spontal Ikbal yang baru saja keluar dari jalan tikus pun menepikan sepeda motornya, dan bergabung dengan pengendara lain yang berkerumun di bahu jalan. Ikbal yang penasaran pun berniat mencari wajah-wajah ramah untuk ditanyai, namun sekumpulan pria muda di sekitarnya sudah lebih dulu menjawab rasa penasarannya.
" … Denger-denger sih kakeknya Zaim Alfarezi."
"Mobilnya meledak gara-gara Pongpong."
"Maksudnya mobilnya Zaim Alfarezi lagi dipake Kakeknya gitu? Oh, gua tau. Senggol-senggolan antar pengusaha sukses ya?"
"Bisa jadi. Tapi jatohnya salah target sih ini mah."
"Iya soalnya kan itu mobilnya Zaim Alfarezi. Tapi gak tau gimana lagi dipake sama Kakeknya."
"Gila ya orang kaya. Beli Pongpong cuma buat diledakin."
"Tapi Pongpong mantep juga ledakannya ya, sebelas dua belas sama granat."
__ADS_1
"Lah iyalah. Pongpong mah lu taro samping lilin aja bisa ngeledakin dua sampe tiga rumah, apalagi lu taro di mesin. Katanya tol arah mana tuh sampe ancur separo …"
DEG DEG DEG