
Hari di mana Umar Zakawat akan dieksekusi mati pun tiba. Pengadilan Negeri Jiran mantap menjatuhi hukum gantung pada Umar Zakawat untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Eksekusi tersebut digelar di Penang, Malaysia, pada pukul satu siang waktu setempat. Terlihat Zaim dan Jani baru saja mendarat di BUIKL*, disusul Hakam dan Hendri tak lama setelahnya. Keempatnya tampak kompak menahan geram sekaligus tak sabar saat memasuki ruang eksekusi.
*Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur.
" … Tamak untuk terus hidup dan tamak untuk mengekalkan status adalah berbeza … Saya tidak menyesali apa yang saya lakukan kerana saya terpaksa bertahan*."
*Serakah buat bertahan hidup sama serakah buat mertahanin status tuh beda. Saya gak nyesel atas apa yang saya lakuin karna saya harus bertahan hidup.
Suara tercekik yang membuat bergidik itu menggema memenuhi ruang eksekusi, tak lama setelah Umar Zakawat menyampaikan kata-kata terakhirnya. Selain Zaim dan Hakam, para penonton tampak menunduk sambil menutup mata. Wajar, sebab itu bukanlah tontonan yang lumrah. Lalu setelah Umar Zakawat dinyatakan mati oleh dokter, para penonton langsung saling berebut untuk keluar dari ruang eksekusi. Berbeda dengan Zaim yang malah bergeming.
"Kenapa?" tanya Bastian pada Zaim.
"Gua gak liat Safi atau tangan kanannya. Tapi gua yakin pasti ada orangnya Safi di antara penonton barusan."
"Pastilah. Tapi susah buat nyari mereka yang mana."
"Kakek mau makan ayam percik* yang di Kelantan. Kamu sama robot-robot kamu cari tempat makan yang laen aja."
*Kuliner berbahan dasar ayam yang diolah dengan beragam jenis rempah. Pengolahan dilakukan dengan cara merendam ayam ke dalam bumbu untuk kemudian dipanggang sampai sedikit hangus. Saat dipanggang, ayam diberi bumbu tambahan dengan cara dipercik. Saat sudah selesai dipanggang, ayam kembali dibalur dengan saus sehingga aroma dan cita rasanya tetap terjaga dari luar dan dalam ayam.
Spontan Zaim dan Bastian menoleh pada Hakam yang baru saja melontarkan perintah kekanakan itu.
"Kok gua dengernya kaya, ayo makan ayam percik sama gua di Kelantan." Jani tertawa.
"Buat apa buang-buang uang di tempat makan yang gak enak?" Zaim mendahului Hakam dan Hendri yang berjalan beriringan. "Kakek dulu aja yang makan di sana. Aku masih ada urusan sama Umar Zakawat."
Hendri menggeleng-geleng. "Mulai gila dia."
Sebab bukan Zaim Alfarezi namanya jika tidak ada kegilaan barang satu hari. Demi menghindari huru-hara di negeri orang dan terutama demi bisa menyantap ayam percik dengan khidmat, Hakam pun terpaksa mengekori sang cucu. Dan yang hendak dilakukan Zaim ternyata memandangi mayat Umar Zakawat. Dokter yang bertanggung jawab atas jasad Umar Zakawat bahkan sampai dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Zaim saat ini.
Si dokter menghampiri Zaim. "Maaf terlebih dahulu, Tuan. Tetapi jika tidak ada keperluan lagi, sila pergi kerana saya masih bertanggungjawab untuk menghantar jenazah Umar Zakawat ke rumah pengebumian*."
*Maaf sebelumnya, Pak. Tapi kalo gak ada keperluan lagi silahkan pergi karna saya masih punya tanggung jawab buat nganter jasad Umar Zakawat ke rumah duka.
Zaim menoleh pada si dokter. "Adakah doktor pernah mendengar tentang seseorang yang mempunyai kebolehan unik? Seperti menyembunyikan nadi dan degupan jantung selama beberapa saat*."
*Dokter pernah denger gak, ada orang yang punya kemampuan unik? Kaya nyembunyiin denyut nadi dan detak jantung selama beberapa detik.
"Mana ada orang macam tu*."
*Mana ada orang kaya gitu.
Zaim melangkah menghampiri jasad Umar Zakawat. "Saya juga tidak percaya tetapi saya hanya boleh bertenang apabila saya membuktikannya*."
*Saya juga gak percaya tapi saya baru bisa tenang kalo udah ngebuktiin itu.
"Adakah Tuan meragui keupayaan saya sebagai seorang doktor*?"
*Apakah Anda ngeraguin kemampuan saya sebagai seorang dokter?
Zaim mengelilingi jasad Umar Zakawat tanpa melepas pandangannya sedikit pun. "Tidak, tetapi saya yakin dia masih hidup jika dia mempunyai kebolehan seperti yang saya cakap tadi*."
*Enggak tapi saya yakin dia masih hidup kalo dia punya skill kaya yang saya bilang tadi.
__ADS_1
"Tiada siapa yang mempunyai kebolehan se–*"
*Mana ada orang yang punya skill ka–
"Maaf, Dok. Dia pelik apabila dia tidak mempunyai mood yang baik*," sela Hakam sembari mencengkeram pundak si dokter.
*Maaf, Dok. Dia emang suka aneh kalo moodnya lagi gak bagus.
"Ya, Dok. Jadi harap faham. Selain moody, dia juga agak sakit di sini*." Hendri menimpali sambil menunjuk kepalanya.
*Iya, Dok. Jadi tolong dimaklumin. Selain moody dia juga agak sedikit sakit di sini.
"Za, mending kita cabut. Gua lupa ada yang mau gua laporin." Bastian menyenggol Jani.
Jani berdeham, "Iya gua juga ada yang mau dilaporin, Za. Sambil makan enak kayanya."
Zaim mengalihkan pandangannya pada Hakam, si dokter dan yang lain. Meski tak memberi jawaban apa-apa, tampaknya Zaim mendengarkan. Sayangnya bukan mendengarkan Hakam dan yang lain melainkan mendengarkan kata hatinya. Entah sejak kapan Zaim memegang pisau steak, tetapi pisau steak itu dengan cepat menancap di tangan Umar Zakawat, tepatnya di bagian nadinya. Hakam dan yang lain pun kompak melotot sambil membulatkan mulut.
TES
TES
TES
Ranjang yang menjadi pembaringan empuk terakhir Umar Zakawat itu perlahan dibanjiri darah. Hakam dan yang lain yang bingung harus bereaksi apa tanpa sadar mengikuti Zaim memandangi tetesan darah segar tersebut. Tiga puluh menit berlalu sejak pisau steak itu menancap di nadi tangan Umar Zakawat. Kini barulah Zaim percaya jika Umar Zakawat hanya tinggal nama. Sementara Zaim berlalu sambil tersenyum semringah, Hakam dan yang lain justru sebaliknya, bergidik!
"Sekali lagi saya minta maaf, Dok."
*G-gak masalah. A-anda bilang cucu Anda emang agak sedikit sakit di bagian kepala kan. J-jadi gak masalah. S-saya yang bakal urus sisanya.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya ucapkan selamat tinggal." Hakam berlalu. "Dia dapet piso steak dari mana?" tanya Hakam pelan.
Hendri melihat Bastian dan Jani secara bergantian dan menanyakan hal yang sama meski hanya melalui tatapan.
Bastian yang juga menanyakan hal yang sama ikut menoleh pada Jani. "Bukannya kamu yang seharian ini sama Zaim?"
"Saya juga gak tau, Pak."
"Makin gak beres aja otaknya tuh anak." Hakam menggeleng sembari menambah kecepatan langkahnya. "Lama-lama saya jodohin juga dia sama Kasih."
...•▪•▪•▪•▪•...
DUG
"Kamu gak apa-apa?"
"Enggak. Tapi, itu, Pak." Nia menunjuk hidung Denar. "Kayanya Bapak yang kenapa-kenapa deh."
Jelas saja. Kepala Denar baru saja dihantam bola basket dengan sangat keras. Bahkan saking kerasnya, rasanya Nia pun semua murid yang ada di tempat kejadian bisa mendengar suara kerangka kepala Denar yang retak. Semuanya bermula ketika Denar tiba-tiba berlari tunggang langgang menghampiri Nia yang hampir saja terkena lemparan bola basket. Bak adegan dalam sinetron bertajuk kisah kasih anak SMA, Denar menumbalkan kepalanya untuk melindungi Nia dari lemparan bola tersebut. Romantis? Ya, andai Denar tidak mimisan!
" … Saya gak apa-apa. Iya. Silahkan melanjutkan kegiatan mengajar," balas Denar pada salah seorang guru.
"Tapi mau di sini aja, Pak?"
__ADS_1
Denar mengangguk menanggapi guru yang lain. "Iya. Saya mau di sini dulu sebentar. Nanti saya bisa balik ke ruangan saya sendiri kok."
"Kalo gitu saya permisi, Pak."
"Saya juga, Pak, ya."
"Kalo butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan, Pak. Saya ngajar pas di samping UKS kok."
"Terima kasih bapak ibu sekalian. Selamat mengajar kembali. Maaf udah buat keributan." Denar melihat para murid yang berkerumun di depan UKS. "Kalian juga balik ke kelas ya."
"Tuh ayo bubar-bubar. Pada seneng kan gak belajar …"
Para murid yang digiring guru penjaskes itu pun langsung berhamburan seperti anak ayam yang disiriam air, berbeda dengan Nia yang malah bergeming. Saat hanya tersisa Denar dan dirinya, Nia pun masuk ke UKS dengan langkah ragu. Melihat kedatangan Nia, Denar langsung mengurungkan niat untuk berbaring di ranjang UKS. Nia tampak canggung tetapi tidak dengan Denar. Denar menggeser kursi, meminta Nia untuk berhenti menjadi hantu di pojok ruangan. Spontan Nia tertawa, dan rasa canggungnya pun sedikit demi sedikit mulai meluruh.
"Bolos kelas karna ngerasa salah sama Kakak?"
Nia tampak terkejut. "Eh, Kakak?"
"Gak apa-apa. Kita bisa ngobrol santai kalo cuma berdua kok."
Nia mengangguk ragu. "Mmm, harusnya tadi Ba–, eh, Kakak gak perlu ngehalangin bola basket itu buat aku."
"Iya sih. Sakit banget soalnya. Tapi kalo kamu yang mimisan, yang ada Andalan Teladan digusur sama Zaim Alfarezi terus dijadiin cabang Ziboba*."
*Nama tempat minuman milik Zaim yang menjual aneka es boba.
Nia refleks terbahak, pun Denar.
"Maaf ya, soal foto makan siang kita yang waktu itu sempet viral. Kakak sama sekali gak ada niat apa-apa. Murni cuma pengen nyapa kamu aja," imbuh Denar.
"Iya, gak apa-apa. Tapi Kakak minta maafnya gak sekalian besok aja? Soalnya kejadian barusan kan bakal bikin kita viral lagi besok."
Denar tertawa lagi, pun Nia.
"Oya, Kak," tambah Nia. "Mmm, itu, maaf aku baru sempet ngucapain makasih sekarang. Mmm, itu, soal biaya rumah sakit Bapak."
"Hm?"
"Aku tau kok Kakak bantu nyicil biaya rumah sakit Bapak. Aku liat tanda tangan Kakak di absensi pengunjung rumah sakit. Makasih ya, Kak. Makasih banyak."
"Oke deh kalo ketauan Kakak ngaku. Sama-sama. Tapi gak usah banyak-banyak gitu makasihnya. Kaya sama siapa aja sih, Dek."
Nia tersenyum. "Itu aja masih kurang. Soalnya waktu itu sisa biaya perawatan Bapak yang harus dilunasin Ibu tinggal sedikit banget. Tapi, Kak, waktu itu Kakak dapet uang dari mana?"
"Ada. Kakak ada tabungan kok."
"Kalo Kakak ada tabungan sebanyak itu, kenapa Kakak harus ambil cuti tiap semester buat nyari duit nambah semeseter berikutnya? Kenapa tabungan itu gak Kakak pake aja buat lunasin biaya kuliah Kakak?"
Denar berdeham, "Tolong pe–"
"Terus kalo aku boleh tau, siapa cewek jilbaban yang Kakak anter ke stasiun?"
DEG
__ADS_1