
TING
Pintu lift yang akhirnya tiba di lantai 0 itu pun terbuka. Namun pemandangan yang menyambut para penumpang lift di lantai CEO Zet itu bukan replika lukisan Monalisa melainkan Nisma, sekretaris Zaim. Berbeda dengan yang dipikirkan Zaim serta Nisma, lagi-lagi para penumpang lift berpikir jika Al Hakam kembali datang tanpa pemberitahuan. Itulah alasan kenapa raut wajah Nisma tampak seperti kekurangan oksigen.
TING
"Dari kapan?" tanya Zaim pada Nisma, segera setelah pintu lift tertutup.
"Dari dua jam yang lalu, Pak."
Zaim melirik jam dinding di koridor. "Sendiri?"
"Iya, Pak," balas Nisma sembari mengimbangi langkah lebar Zaim. "Terus makan siang Bapak belum saya siapin soalnya tadi saya liat pacar Bapak bawa kotal bekel."
"Kalo gitu makan kamu aja. Maksudnya makan siang saya."
"Baik, Pak. Terima kasih. Terus untuk schedule Bapak selanjutnya mau dicancel aja apa gimana, Pak?"
Zaim kembali melirik jam dinding. "Saya kabarin tiga puluh menit lagi."
"Baik, Pak."
KLEK
CEKLEK
CEKLEK
Zaim masuk ke dalam ruangannya, dan langsung mengunci pintu sebanyak dua kali. Tetapi tak ada siapa pun di ruangan bergaya industrial tersebut. Zaim menyelisik ruangannya dengan saksama, mencari keberadaan sang kekasih yang sudah setia menunggu selama dua jam. Ternyata ada di sana, di walk in closet* yang pintunya tidak tertutup rapat. Zaim pun langsung menghampiri ruangan itu dengan langkah bersemangat.
*Ruangan untuk menyimpan pakaian dan aksesoris pendukung seperti sepatu, dasi, ikat pinggang dll. Bisa juga menjadi tempat penyimpanan barang yang biasa disimpan di lemari pakaian seperti sprei dan handuk. Ruangan ini juga dapat menjadi tempat untuk berpakaian dan berhias.
Terlihat Nia tengah asyik mencocokkan pakaian Zaim dengan dasi. Zaim memandangi Nia yang belum menyadari kedatangannya. Ada terlalu banyak tanya yang berjubel dalam benak Zaim. Apakah pemandangan yang ada di depan mata Zaim saat ini bisa terus dilihatnya? Bagaimana jika pada akhirnya Nia setuju untuk dibawa ke Taiwan? Masalahnya dibandingkan Ushi, Nila memiliki hak yang lebih kuat untuk mengasuh Nia.
Pernikahan. Ya, itu adalah cara termenjanjikan jika Zaim ingin terus menikmati pemandangan seperti saat ini. Tetapi Nia pasti menolak. Kalau begitu, masih ada cara terakhir. Meski Zaim tidak menyukai cara tersebut karena terkesan tidak pasti, namun apa boleh buat. Pertunangan. Benar, setidaknya dengan pertunangan Zaim akan memiliki hak atas Nia meski bukan hak yang bisa mengungguli hak yang dimiliki Nila.
"Eh?"
"Aku laper." Zaim mengeratkan pelukannya.
"Aku juga."
"Oya? Yaudah madep aku."
Nia melihat Zaim dari pantulan cermin. "Bukan yaudah ayok makan?"
"Iya madep aku dulu baru bisa makan kan."
__ADS_1
Nia tak mengerti maksud Zaim meski akhirnya mengiyakan pintanya. "Terus?"
"Terus tahan suara kamu."
CUP
Nia terkejut, karena Zaim yang tiba-tiba menciumnya. Rupanya lapar yang dimaksud Zaim bukan lapar perut. Meski tak menduganya sama sekali, Nia tak keberatan. Jujur saja dari semua yang Zaim miliki, Nia paling ingin memiliki sentuhan Zaim yang berapi-api. Sungguh, sentuhan Zaim bagaikan segelas es teh di siang yang terik. Nagih! Bibir dan tangan seksinya yang mendarat di mana-mana itu benar-benar definisi sebuah kenikmatan!
"Kamu." Zaim diam sesaat, tampak ragu untuk melanjutkan, "Kamu, jadinya beneran beli obat bulbul*?"
*Obat pembesar payudara wanita.
Lagi-lagi jantung Nia dibuat nyeri karena terlalu terkejut. Nia memang sering digep alias ditangkap basah. Tetapi demi Tuhan inilah yang paling memalukan!
"Kan aku udah bilang aku gak masalah sama ukuran." Zaim menghela napas sambil mengancingkan kembali pakaian Nia. "Coba aku liat obatnya udah BPOM apa belom."
"Mmm, itu, mmm kayanya udah," sahut Nia akhirnya.
Zaim menghela napas lagi. "Jangan dipake lagi."
"Mmm, iya, mmm aku emang baru pake tiga kali karna mmm stepnya aneh."
Zaim menunduk, tubuhnya gemetar menahan tawa.
"Apa yang lucu? Serius stepnya aneh. Masa sebelum diolesin disuruh ma–"
"Masih dua taun loh," sela Zaim. "Dan jujur aja aku udah kewalahan."
"Kewalahan nahan nafsu aku sendiri. Jadi jangan pake lagi." Zaim menurunkan Nia dari meja. "Jangan bikin aku ngacak-ngacak urutan nikah oke?"
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
"Udah kaya seleb aja mereka," gumam Monica seraya menggeleng. "Bahkan seleb aja gak selebay ini. Pacaran sama anak ingusan sih ..."
Monica kembali menggeleng, pun kembali mengklik video Zaim dan Nia selanjutnya. Sejak pertemuannya dengan Zaim, Monica membutuhkan waktu dua hari untuk menenangkan mentalnya yang terguncang. Tetapi setelahnya Monica langsung bergerak cepat menyusun strategi untuk memenuhi permintaan orangtuanya. Tak peduli meski harus berhadapan dengan Zaim yang dilabelinya cowok sinting, Monica harus segera bertemu sang adik sambung dan memboyongnya ke Taiwan!
" … Jadi ini video panas mereka yang total viewnya terbanyak sedunia?" Monica menaikkan volume ponselnya. "Ini mah cuma orang-orang sakit yang bakal percaya." Monica mendecak, "Jadi ke mana-mana gini sih. Padahal harusnya aku fokus nyari alamat rumah sama sekolahnya si Nia."
Memang, sudah hampir tiga jam Monica bergelut dengan ponselnya tetapi belum juga mendapatkan yang dirinya cari. Selalu saja Monica terdistraksi dengan video-video kencan mesra Nia dan Zaim yang diunggah oleh para y*utuber bersubscriber puluhan juta. Padahal hanya membutuhkan hitungan detik untuk mengantongi informasi pribadi Nia. Monica pun langsung bergegas ke kediaman Nia yang baru. Namun tentu saja tak ada yang membukakan pintu.
"Cari Bu Ushi, Mbak?"
Spontan Monica menoleh ke asal suara. "Oh. Iya."
"Tapi Mbaknya ini wartawan atau siapa ya?" tanya ibu muda itu lagi.
__ADS_1
"Oh, bukan-bukan. Saya kerabat dari Taiwan.
"Taiwan? Bukan Malaysia?"
"Malaysia?" Monica berdeham, "Jadi Bu Ushi belum pulang ya?"
"Belum, Mbak. Pulangnya malem. Sekitar jam sembilanan."
Monica mengangguk-angguk. "Kalo Nia?"
"Gak tentu juga Nia pulangnya. Apalagi si Ikbal. Biasalah anak muda."
"Ikbal? Siapa Ikbal?" tanya Monica dalam hati.
"Samperin aja ke sekolahnya kalo emang mendesak, Mbak."
"Oh iya. Rencana saya juga gitu. Makasih ya, Bu. Kalo gitu saya permisi."
"Tapi, Mbak."
Monica refleks berbalik. "Ya?"
"Nia udah pindah dari Lentera Dunia. Sekarang dia sekolah di Andalan Teladan."
Monica tersenyum. "Iya saya udah tau, Bu. Makasih sekali lagi ya."
Namun lagi-lagi. Upaya Monica tidak membuahkan hasil. Saat tiba di Andalan Teladan, sekolah menengah atas itu sudah sepi. Monica pun menyudahi upayanya hari itu, dan menelepon sang ibu. Suara Nila yang terdengar lemah seketika membuat Monica semakin dikungkung kegagalan. Semuanya benar-benar karena cowok sinting bernama Zaim Alfarezi. Sejujurnya Monica ingin membeberkan semuanya, tetapi Monica tak tega melakukan itu pada sang ibu yang tengah terbaring sakit.
"Kayanya aku bakal lama di sini."
"Ada masalah ya?" Suara Nila terdengar semakin lemah.
"Enggak kok, Mah. Aku udah ketemu Nia. Anaknya sehat."
"Alhamdulillah kalo gitu. Mana Mamah mau ngomong sama Nia."
Monica diam sesaat. "Anaknya baru banget pulang sekolah. Kayanya lagi di kamar mandi. Nanti aku telfon lagi."
"Iya, Mamah tunggu." Nila terbatuk. "Kamu bilang Nia dirawat sama orang kaya kan?"
"Iya."
"Nanti Mamah juga mau ngomong ya sama orang itu. Mamah mau ngucapin makasih."
"Iya. Nanti aku telfon lagi."
Nila terbatuk lagi. "Makasih ya, Monic. Mamah jadi ngerepotin kamu. Padahal kamu sibuk. Kalo Mamah gak tiba-tiba sakit gini pasti Mamah sendiri yang jemput Nia." Nila terus terbatuk. "Mamah harus minta maaf sama Nia …"
__ADS_1
Monica hanya mendengarkan.
" … Mamah udah banyak jahatin Nia. Dari bayi, dari bayi Mamah udah jahatin dia. Nia, anak itu, jadi pelampiasan emosi Mamah karna Burhan gak pernah cinta sama Mamah," imbuh Nila. "Jadi tolong ya, Monic. Tolong temuin Mamah sama Nia."