HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SIASAT


__ADS_3

" … Cuma kamu yang bisa bantu aku, Do."


Seorang polisi pria yang seragamnya disesaki banyak penghargaan itu, Edo, menghela napas untuk yang kesekian kalinya. "Emang gak ada cara lain, Shi? Coba pikirin dulu. Pikirin pake kepala dingin."


"Ada. Ngumpet di belakang Bapak. Tapi kamu tau yang bisa ngumpet cuma aku sama Ikbal kan? Terus Nia gimana?"


Lagi-lagi Edo menghela napas. "Bukannya aku gak mau bantu kamu, Shi. Secara kamu tuh udah aku anggep kaya adik perempuanku sendiri. Cuma ini lawannya Zaim Alfarezi. Koneksinya dia gak main-mainloh. Agak susah, Shi."


"Do, aku udah pernah gagal jadi seorang ibu. Aku gak mau ngulangin itu, Do. Kalo Ikbal, dari kecil idupnya udah enak. Beda sama Nia. Dia dari TK udah dianiaya si dajjal itu, Do. Dia trauma sampe gak bisa nangis …"


Edo tampak mendengarkan Ushi dengan serius.


" … Dia dipukulin tiap hari. Dikasih makan nasi basi. Bahkan dititipin ke duda kesepian dan sering dipegang-pegang. Bayangin dia bakal setrauma apa kalo aku gak bertindak dari sekarang, Do," imbuh Ushi.


"Oke, Shi, oke. Aku bantu. Tapi mungkin butuh waktu lama."


"Berapa lama?"


"Dua tahun."


Ushi menggeleng. "Dua taun berarti umur Nia pas dua puluh. Zaim bilang dia mau nikahin Nia pas umurnya genep dua puluh. Gak bisa dipercepet, Do? Sampe Nia sama Ikbal lulus SMA gitu?"


"Masalah kaya gini gak bisa dicepet-cepet kalo mau meminimalisir kegagalan, Shi. Tapi aku bakal usahain."


"Makasih, Do. Makasih banyak. Aku pasti bakal bales kebaikan kamu."


Terlihat Ushi keluar dari gerbang kantor polisi, diantar oleh Edo dari kejauhan. Perasaan Ushi sedikit tenang berkat kesediaan Edo untuk membantu rencana masa depannya. Di sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Ushi mengingat kembali percakapannya dengan sang bapak yang dirasanya terlalu menyakitkan. Entah terbuat dari apa hati Safi. Meski tahu Safi menyayanginya dengan tulus, rasa benci di hati Ushi sudah terlanjur berkarat. Berkarat sejak Ushi menyadari jika penyebab utama trauma masa kecil Nia bukan Nila tetapi Safi!


*FLASHBACK ON*


" … Waktu itu lagi musim pemilihan Raja. Semua calon Raja ngelakuin itu kok. Gak cuma Bapak aja. Lagian mana Bapak tau kalo pilot pesawat itu cucunya Al Hakam." Suara Safi terdengar melalui sambungan telepon.


"Kok bisa Bapak ngomong gitu tanpa ada rasa bersalah sih, Pak?"


"Loh, ngapain ngerasa bersalah? Kenal penumpang pesawat itu juga gak. Apalagi kenal cucunya Al Hakam. Udahlah. Lagian itu udah berlalu. Kalo kamu mau marah sama Umar Zakawat sana. Kan dia yang bunuh cucunya Al Hakam bukan Bapak."


"Pak!" seru Ushi.


"Intinya kamu nelfon Bapak apa sih? Kalo gak penting Bapak tutup. Kalo mau ngomongin lebih lanjut soal ini pulang ke sini …"


*FLASHBACK OFF*


"Gak penting ya." Ushi tersenyum getir. "Emang gak ada yang penting buat Bapak sih selain kursi Raja."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Good morning. Good morning. Good morning. Big news. Big news. Big news."


KLEK


"Brisik, jamet." Ikbal membuka gerbang rumahnya sambil memelototi Vina.


"Siapa ya? Sorry saya manusia jadi gak paham bahasa buaya." Vina menerobos masuk dan berlari tunggang langgang.


"Anjir. Heh, keluar lu dari rumah gua!" Ikbal mengejar Vina.


KLEK


"Nya."


"Anjir kaget." Nia yang sedang mencatok rambut itu hampir saja mencatok kupingnya sendiri saking terkejut.


"Big news, Nya."


"Napas dulu, Vin, napas."


Spontan Vina mengatur napasnya. "Oke-oke. Udah." Vina langsung duduk di samping Nia. "Ternyata ayang lu punya grup penggemar anjir."

__ADS_1


"Grup penggemar?"


Vina hanya mengangguk terlewat bersemangat tanpa memedulikan rambut kuncir kudanya yang semakin awut-awutan. Dengan lebih bersemangat Vina pun menjelaskan maksud ucapannya. Seorang kating perempuan yang berbaik hati memberikan Vina tumpangan, Yeshi, ternyata merupakan anggota dalam grup penggemar Zaim. Yeshi berkata jika ada banyak orang yang membentuk grup penggemar Zaim. Namun sangat sulit untuk menjadi anggota karena syaratnya yang sulit bukan main.


"Nih, grupnya." Vina menunjukkan room chat grup penggemar Zaim. "Nama grupnya Duplikat L.K Lovers. Andai mereka tau arti dari nama itu apaan." Vina tertawa.


Nia ikut tertawa. "Eh, loh? Itu foto gue bukan sih?"


"Iya. Banyak foto lu di sini. Di edit-edit gitu terus digabungin sama fotonya Zaim."


Nia tertawa. "Pada bahas apaan biasanya?"


"Duh, Nya, jangan nanya. Sumpah alay banget anjir. Mereka bucinnya udah gak ketolong." Vina kembali tertawa. "Ada yang sampe mau jual soang cuma buat ke Jakarta nemuin Zaim. Soang loh soang bukan kambing. Aduh ngakak." Vina tak henti tertawa. "Tapi kata Kak Yeshi tuh …"


Tidak semua grup penggemar Zaim pro dengan hubungan asmara Zaim dan Nia. Beruntungnya grup penggemar Duplikat L.K Lovers termasuk pro. Grup penggemar Zaim yang lain diketahui mengecam keras hubungan asmara Zaim dengan Nia. Menurut Yeshi, dari sekian banyak grup penggemar Zaim, ada satu grup yang disepakati menjadi grup penggemar Zaim yang terbesar. Kabarnya grup itu dibentuk di instagr*m, dipegang oleh orang terdekat Zaim, dan sudah diverifikasi dengan centang biru.


"Oh iya bener udah centang biru."


"Dan katanya yang diacc cuma yang centang biru juga, Nya," timpal Vina pada Nia.


"Kalo gitu penggemarnya artis semua dong?"


"Gak juga. Lu belom tau emang? Sekarang kan centang biru bisa dibeli di Sh*pee."


"Demi apa?"


"Demi kecantikan gue yang paripurna." Vina terbahak. "Tapi serius. Kalo mau beli harganya sejuta. Gila kan? Tapi kata Kak Yeshi banyak loh yang pada beli."


BRAK


"Udah mau jam setengah lapan bego. Gibah mulu. Sekolah biar kalo mikir pada gak pake dengkul. Tapi pake ini." Ikbal menunjuk kepalanya seraya berlalu.


"Dia kenapa sih anjir. Lagi dapet?"


"Iya lagi dapet. Dapet sial." Vina terbahak lagi. "Tapi by the way anyway busway, gue kaya mengendus aroma-aroma bolos gitu masa, Nya."


Pada akhirnya Nia dan Vina melewati hari senin itu dengan membolos. Vina senang melihat sahabat sehati sesanubarinya yang bisa kembali tertawa. Sungguh, dada Vina terasa sesak saat menyaksikan Nia yang tak berselera melakukan apa-apa. Sama seperti Zaim, Vina pun berusaha melakukan segala cara untuk menghibur Nia. Jujur saja Vina tidak bergabung dalam Duplikat L.K Lovers secara gratis. Vina membayar sejumlah uang pada Yeshi untuk bisa bergabung dalam grup penggemar tersebut.


"Ramein dong grupnya."


"Oke-oke." Vina mulai mengetikkan sesuatu. "Salam dulu lah ya basa-basi. Ceritanya kan gue anggota baru."


Elvina : Hai semua salam kenal. Makasih udah diizinin gabung ya ❤


Salwa : Hi, Elvina. Selamat bergabung.


Puji : Met gabung, Elvina. Dijamin gak bakal nyesel gabung di grup kita. Soalnya grup kita paling lurus.


Jessica : Kaya Zaim Alfarezi kita yang selalu lurus.


Aiko : Sekalipun doi ngambil jalan yang menyimpang pun, dedek tetep cintrong.


Siti : Udah siap jual soang nih ke pasar. Sharelock alamat kantornya Zaim Alfarezi dong. Serius ini aku.


Nia dan Vina terbahak bersamaan membaca keseruan obrolan di grup penggenar tersebut.


"Kan gue bilang juga apa. Bucinnya pada gak ketolong kan?" Vina masih terbahak.


Nia hanya ikut terbahak menanggapi Vina.


Maya : Tinggal di mana, Elvina?"


"Eh-eh ditanya tuh, Vin. Jawab-jawab."


Vina mengangguk pada Nia dan secepat kilat mengetikkan balasan pada anggota grup bernama Maya.


Elvina : Aku tinggal di Bojong, Kak.

__ADS_1


Septi : Jauh gais. Aku di Depok."


Anjani : Sama aku juga warga Depok. Tapi banyak juga yang dari luar kota, Elvina. Ada yang anak Binjai bahkan NTT.


Vina menggeleng-geleng. "Gila-gila. Penggemarnya Zaim Alfarezi kayanya merata di seluruh negri ya, Nya."


"Kalo pada tau aslinya Zaim pasti pada left group."


"Bener banget anjir."


Yeshi : Selamat bergabung, Dek.


Salwa : Loh kalian udah pada kenal?


Yeshi : Kita satu sekolah. Elvina junior aku.


Puji : Yeshi bukannya sekolah di Andalan Teladan ya?


Yeshi : Betul.


Jessica : Oh kalian anak-anak holkay rupanya wkwk. Btw, aslinya Yesenia Eve tuh beneran secakep itu gak sih?


Yeshi : Cakep banget. Baik. Ramah. Gak sombong. Pokoknya ples-plesnya banyak.


"Ciye." Vina menyenggol Nia yang tampak kegirangan dipuji.


Aiko : Cocok udah sama Zaim Alfarezi kita gais.


Putri : Iya sih dia emang cakep. Gue akuin. Tapi baju-bajunya norak. Terus masih pake celana dalem yang motifnya stroberi 🤣 Dan nilainya dia tuh jeblok semua. Terus yang bakal bikin kalian shock, foto pas dia kecil kaya kekurangan gizi."


Siti : Astagfirullah. Siapa sih nih? Kok aku gak kenal ada member yang begini.


Putri : Heh. Gue juga ogah kenal sama lu. Nama lu aja norak iyuh.


Maya : Tolong tag admin. Tolong dikick dong ini member. Gak pernah nyapa gak pernah nongol gak pernah sharing eh tiba-tiba nongol malah bikin rusuh.


Putri : Gak perlu repot-repot ngetag admin, Beb. Harga diri gue mau ditaro mana sampe mau dikick dari grup receh macem grup ini. Lagian gue ngomong fakta kok. Foto-fotonya udah gue apus sih. Coba kalo belom, kalian pasti pada bakal sungkem sama gue. Bye 😎


...Putri has left group...


Septi : Dih, siapa sih tuh member? Gaje banget.


Sofia : Bunga. Temen sekampus gue. Dia fans fanatiknya Zaim Alfarezi. Dia emang sus*. Pokoknya muka sama karakternya beda jauh. Bagus deh dia left group. Gue jadi leluasa nimbrung sekarang.


*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.


Vina menoleh pada Nia. "Nya, lu gak apa-apa kan?"


Nia mengangguk-angguk. "Tapi Bunga yang lagi diomongin mereka bukan Kak Bunga mantan pacarnya Ikbal kan?"


"Bentar gue save nomernya. Biar fotonya muncul ples biar kita tau dia Bunga yang mana."


"Iya coba, Vin."


Setelah nomor wh*tsapp yang diberi nama Bunga Sus itu tersimpan, foto profil pemiliknya pun muncul. Dan betapa terkejutnya Nia dan Vina ketika potret wanita yang berpose seperti sedang sakit gigi itu adalah benar Bunga yang itu. Bunga mantan kekasih Ikbal yang wajahnya sepolos Jisoo Blackpink!


"Tapi kok dia bisa sampe tau kalo celana dalem gue motifnya stroberi sih?"


"Bentar-bentar." Vina tampak berpikir. "Waktu itu dia ke rumah lu nyariin Ikbal. Tapi Ikbal gak ada. Terus lu pergi dinner kan tuh sama Zaim. Otomatis sendirian doang dong dia di ru–, anjir. Fix, dia masuk kamar lu, Nya."


"Iya, fix." Nia menghela napas. "Duh banyak banget masalah sih."


"Nyantai, Nya, nyantai. Kali ini biar dedek aja yang turun tangan."


"Mau ngapain lu?"


Vina menyeringai. "Neror."

__ADS_1


__ADS_2