
" … Minggu depan aku ada uas lima hari. Jadi selama itu aku bakal jarang ngontek kamu ya. Kencan juga kayanya gak bisa dulu." Suara Nia terdengar melalui panggilan telepon.
"Noted, Sayang," sahut Zaim.
"Terus abis uas aku juga ada study tour ke Pulau Tidung."
"Kamu ikut?"
"Iyalah. Ini kan study tour perdana aku. Tambahin ongkosnya dong."
Zaim tertawa. "Anything for you*, Sayang."
*Apapun untukmu, Sayang.
"Tapi aku maunya cash."
"Bawa atm aku aja sekalian. Soalnya aku kalo ngongkosin gak suka yang tanggung-tanggung."
"Duh makin cinta deh sama Zaim Alfarezi."
Zaim kembali tertawa. "Yaudah kalo gitu aku tutup ya. Aku lagi ada tamu soalnya." Zaim menoleh ke dalam ruang kerjanya. "Kamu ati-ati pulangnya."
"Iya. Yaudah."
"I love you, Sayang."
Zaim mengakhiri panggilan telepon itu, setelah mendengar Nia membalas ungkapan cintanya yang tulus. Setelahnya Zaim langsung bergegas meninggalkan balkon, dan melanjutkan bincangnya dengan Bastian dan Sobari, robot barunya. Zaim berkata pada Bastian jika mereka bisa meninggalkan Indonesia dengan tenang karena Nia yang kebetulan membatasi komunikasi dan ajakan untuk berkencan dengan Zaim.
"Oh iya anak-anak SMA kan lagi pada uas ya."
Zaim mengangguk pada Bastian. "Makanya. Gua mau sebelom Nia kelar uas urusan kita sama Bagas, Monaco, dan orang-orangnya udah clear."
"Oke." Bastian menoleh pada Sobari. "Kalo gitu misi ngawal Nia saya serahin Bapak ya."
"Iya. Hari ini juga saya langsung pindah ke rumah aman," balas Sobari.
"Ada yang mau ditanyain? Atau ada yang masih mau ngusul?"
Bastian dan Sobari hanya menggeleng kompak merespon Zaim. Zaim tak memberi respon balik, hanya beranjak. Terdengar Zaim menelepon Nisma, memintanya segera ke ruangannya. Tak berselang lama Nisma pun muncul, kurang dari satu menit. Bak sekretaris seprofesional Sekretaris Kim, Nisma langsung mengeluarkan pulpen dan buku catatan seraya menanyakan jadwal Zaim yang mana yang perlu direvisi.
"Bukan soal jadwal saya hari ini."
"Oh, soal makan siang ya, Pak? Mau ganti menu?" tanya Nisma lagi.
"Enggak juga. Saya mau makan siang yang kaya biasanya aja. Sama Pak Sobari sama Bastian tuh tanyain mau makan siang apa."
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Sama pesenin tiket pesawat ke Taiwan ya, Nis."
Nisma mulai mencatat. "Buat kapan, Pak?"
"Sesuaiin aja sama jadwal saya yang agak longgar. Buat dua orang ya. Saya sama Bastian."
Nisma mengganguk. "Segera saya urus ya, Pak."
"Oya, kemaren kamu mau ngomong apa?"
"Ya, Pak?"
Zaim menoleh pada Nisma. "Iya apa? Kemaren kamu kan gak jadi ngomong karna si Hendri tiba-tiba dateng."
"Oh itu." Nisma melirik Bastian dan Sobari. "Duh, jawab apa ya? Mana ada Pak Bastian sama Pak Sobari lagi. Masa iya gue jawab jujur? Kalo adek gue malak penggemarnya Zaim di instagr*m? Gimana nih?" batin Nisma.
"Nis?"
"Oh iya, Pak. Itu bukan soal yang penting kok, Pak." Nisma tersenyum paksa. "Kalo gitu saya urus makan siang Pak Bastian sama Pak Sobari dulu ya, Pak."
...•▪•▪•▪•▪•...
KLEK
Ushi muncul dari balik pintu utama rumahnya, dan langsung disambut dengan pemandangan Nia serta Ikbal yang tengah belajar untuk ujian akhir semester. Meski lelah setelah bekerja selama empat belas jam, Ushi tetap menyisihkan waktu untuk menjalankan perannya sebagai seorang ibu. Sambil membuat camilan martabak tahu, Ushi menyemangati putra-putrinya, pun mengiming-imingi hadiah ini itu kepada siapa pun yang berhasil memperoleh nilai ujian di atas KKM*.
" … Mau ganti hp boleh, warnain rambut boleh, nginep di rumah temen juga boleh," ujar Ushi sembari meletakkan sepiring martabak tahu berikut cabe rawit dan sambal cocol di meja.
"Mau martabak tahu sama rawit aja, Bu."
"Iya, Bu. Lebih menggoda," timpal Ikbal pada Nia.
Ushi tertawa. "Yaudah malah beneran." Ushi beranjak. "Kalo gitu Ibu ke kamar ya. Belajarnya jangan sampe malem. Lanjut lagi aja besok subuh."
Nia dan Ikbal mengangguk kompak, pun memandang kompak sosok sang ibu yang hilang ditelan pintu kamar tidurnya di lantai dua. Aneh. Kenapa Ushi masih tampak sangat lesu? Bukankah Ushi tidak lagi harus tinggal selama dua puluh empat jam di studio karena bosnya, Madam, yang akhirnya sembuh dari sakit gigi? Nia berpikir kelesuan Ushi selama ini disebabkan oleh itu, tetapi nyatanya tidak. Ushi malah semakin tampak lesu hingga tanpa sadar kehilangan beberapa kilogram berat badannya.
"Ibu kenapa ya? Biasanya mau secapek apapun tetep nungguin kita belajar karna takut kita bikin contekan."
"Capek kali," jawab Ikbal sambil melahap gigitan terakhir martabak tahunya dengan dua buah rawit gendut.
"Tapi Ibu jadi agak diem juga tau. Padahal Ibu kan aslinya heboh." Nia menoleh ke kamar Ushi sebelum melanjutkan, "Terus gue liat beberapa kali Ibu telfonan malem-malem."
"Iya gua juga pernah liat sekali pas kebangun aus. Telfonannya bisik-bisik kan?"
Nia hanya mengangguk menanggapi Ikbal.
"Paling telfonan sama Om Edo."
__ADS_1
"Siapa Om Edo?" tanya Nia.
"Kekasih tak sampainya Ibu." Ikbal terbahak. "Ibu suka, Om Edo juga. Tapi gak ada yang mau nembak duluan." Ikbal kembali terbahak.
"Lu kenal Om Edo?"
"Kenallah. Dulu sebelom sekolah di Amerika kan tiap taun baru Om Edo ke sini. Gua yakin kemaren-kemaren yang Ibu rajin ke luar kota tuh buat nemuin Om Edo."
"Yaudah telfon. Tanya. Ibu ada masalah apa."
Ikbal menggeleng tanpa menghentikan kunyahan lahapnya. "Gua gak punya nomernya. Pake Pongpong* aja."
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
"Pongpongnya lagi dipake," balas Nia.
"Dipake buat apaan anjir. Jangan bikin masalah lagi lu. Ntar nangis lagi."
Nia memukul kaki Ikbal dengan kalkulator. "Udah deh gak usah kepo. Gimana kalo kita colong nomernya Om Edo?"
"Kita?"
"Yaiyalah kita. Masa cuma gue yang khawatir Ibu jadi pendiem kaya gitu? Ketauan kan lu bilang sayang-sayang sama Ibu tiap hari cuma dusta biar dikasih uang jajan lebih."
Ikbal mendecak, "Dasar wanita. Isi otaknya cuma suudzon aja." Ikbal berganti menoleh ke kamar Ushi. "Gua rasa Ibu tidurnya malem deh. Apalagi fix kalo Ibu emang lagi ada masalah. Besok aja. Pas Ibu lagi mandi. Gua …"
Ya, dan rencana untuk mencuri nomor ponsel kekasih tak sampai Ushi itu pun benar-benar dilaksanakan esok hari saat Ushi sedang mandi, atau lebih tepatnya, sedang luluran! Dengan bermodalkan ujung jepit rambut bermotif kupu-kupu milik Vina, Nia dan Ikbal sukses memasuki kamar Ushi, pun sukses mencuri nomor ponsel Edo. Namun ketika keduanya hendak keluar dari kamar tidur beraroma obat nyamuk bakar itu, Nia tanpa sengaja menjatuhkan kardus dari meja rias Ushi.
"Bego banget sih lu." Ikbal refleks menoyor Nia.
"Sorry-sorry."
"Cepet beresin. Keburu Ibu udahan."
Nia mengangguk-angguk merespon Ikbal dan buru-buru merapikan isi dari kardus yang dijatuhkannya. Ikbal yang mulai panik pun terpaksa turut serta membantu. Awalnya baik Nia maupun Ikbal hanya fokus memasukkan kembali foto-foto rumah dan pemandangan itu ke dalam kardus. Tetapi gerak cepat tangan keduanya pun perlahan mulai terhenti. Sambil tetap memasukkan lembar foto berukuran 4R tersebut, Nia serta Ikbal terlihat kompak mengamati satu per satu foto-foto itu.
KLEK
"Loh kalian ngapain? Kok kalian bisa masuk ke kamar Ibu sih? Perasaan Ibu udah ngunci ka–"
"Kita mau pindah, Bu?" sela Ikbal. "Ke sini?" Ikbal menunjukkan selembar foto rumah berlantai dua pada Ushi.
"Mmm ya, mmm itu, mmm Ibu masih pikirin kok. So–"
"Kenapa, Bu?" Nia ikut menyela. "Kenapa kita harus pindah sampe ke Amerika?"
DEG DEG DEG
__ADS_1