HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
CLEAR!


__ADS_3

Nia tampak duduk dengan canggung, sembari menyelisik seisi kamar hotel. Di luar dugaan itu kamar yang sederhana, bahkan tergolong sangat sederhana untuk istri mantan raja. Nia tak sendirian. Ada Suleikah yang tengah sibuk menyiapkan makanan. Ada pula seorang pengawal pria yang selalu mengekori Suleikah bagai bayangan. Bukan tanpa alasan Nia berada di hotel sekitar alun-alun tersebut. Suleikah berkata akan memberitahu alasan Ushi menyembunyikan Nia dari keluarganya. Itulah kenapa Nia bersedia ikut serta.


"Selera makan Ushi tuh berubah-ubah. Waktu kecil dia gak makan nasi karna cuma suka kembang gula. Badannya sampe kurus banget." Suleikah meletakkan sendok di pinggiran piring zuppa soup. "Waktu seumuran kamu dia juga suka banget makan ini."


"Seumuran saya itu 17 taun, Bu?"


"Loh? Kamu 17 taun? Bukannya harusnya 16 taun?"


Nia menggeleng. "Saya pernah gak naik kelas sekali."


Suleikah tampak terkejut. Ingin menanyakan lebih tetapi ragu.


"Waktu Ayah meninggal saya gak mau sekolah. Gak mau makan juga. Pokoknya gak mau ngapa-ngapain. Jadinya yaudah, saya gak naik kelas," imbuh Nia.


Suleikah berdeham sambil menyodorkan sendok pada Nia. "Coba ini mumpung masih panas."


"Gak suka masa, Bu." Nia melihat satu per satu hidangan di meja. "Dari semua makanan ini saya cuma suka batagor."


"Oh iya-iya. Ushi juga suka banget sama batagor." Suleikah buru-buru mengambil piring berisi batagor yang ada tempat di depannya. "Kamu pasti juga gak suka mapel olahraga kan?"


"Saya gak suka semua mapel. Saya gak suka sekolah," jawab Nia.


Suleikah terbahak, membuat Nia yang hendak menyendok batagor itu terkejut, pun seorang pengawal yang sedari tadi berdiri bagai manekin di samping pintu. Riko, pengawal bertubuh seperti atlet voli itu belum pernah melihat Suleikah tertawa sejak dirinya diangkat secara resmi menjadi pengawal pribadi Suleikah. Nia mencuri pandang pada Riko, bukan karena tertarik. Demi apapun Zaim Alfarezi sejuta kali lipat lebih seksi. Nia hanya merasa tak nyaman karena Riko memulai mencuri pandang.


"Dia Riko. Pengawal pribadi saya. Dia beda kok sama pengawal saya yang lain. Jadi kamu gak usah takut, karna Riko ada di pihak kamu." Suleikah mengusap-usap kepala Nia. "Udah lama saya pengen ketemu kamu. Tapi Allah baru kasih izin sekarang. Saya seneng banget."

__ADS_1


Nia tak menjawab, bingung. Kenapa tiba-tiba Suleikah menujukan tatapan berkaca-kaca? Lalu, kenapa pula usapan Suleikah begitu terasa? Seolah rasa rindu yang baru saja diucapkannya itu bukanlah sebuah kebohongan.


"Ushi ngumpetin kamu karna takut ketauan sama suami saya."


"Wajar sih, Bu. Tante Ushi kan gak cuma ngasih saya tempat tinggal gratis tapi juga nyekolahin saya, nyukupin semua kebutuhan saya, te–"


Gelengan Suleikah menyela ucapan Nia. "Ushi sama Burhan itu mantan pacar. Mereka terpaksa putus karna skenario suami saya."


"Mantan pacar? Skenario?"


"Iya," sahut Suleikah. "Saya yakin awalnya Ushi ngumpetin kamu karna takut ketauan nampung anak mantan pacarnya. Tapi sekarang alesannya pasti udah beda. Dia pasti udah tau."


Nia tak menjawab. Napsu makannya hilang. Jadi bagaimana tadi? Ushi adalah mantan pacar almarhum sang ayah? Dan apalagi? Ushi bersedia menampung anak dari mantan pacarnya? Apa-apaan? Apa mereka sedang memainkan peran sinteron di channel ikan terbang?


"Ushi sama Burhan pernah punya anak walopun mereka gak pernah nikah. Dan anak itu, kamu." Suleikah tersenyum. "Mau saya ceritain?"


" … Selain Burhan sama dokter, waktu itu saya juga liat kamu pas kamu baru banget lahir. Terus biar kamu gak jadi inceran suami saya di masa depan, saya, Burhan sama dokter sepakat buat malsuin jenis kelamin kamu."


"Sampe segitunya." Nia akhirnya membuka mulut.


"Karna suami saya orang gila." Suleikah menghela napas. "Tapi kamu gak perlu khawatir. Burhan kan udah meninggal. Terus sekarang ada Zaim Alfarezi yang ngelindungin kamu. Dan dokter itu, saya udah bayar dia buat tutup mulut selamanya."


...•▪•▪•▪•▪•...


Sebuah taksi berhenti di depan kediaman Ushi. Penumpang taksi tersebut, Nia, keluar setelah berlama-lama di dalam taksi, entah melakukan apa. Perasaan Nia campur aduk, tidak sesedih pun sesenang itu setelah mengetahui fakta bahwa dirinya adalah darah daging Ushi. Nia memikirkan hal lain. Benar, Nila, perempuan yang selama ini dipanggilnya ibu ternyata tak lebih dari orang asing. Nia menghela napas, lalu akhirnya melewati gerbang kediaman Ushi.

__ADS_1


KLEK


"Bu, itu Nia udah pulang, Bu." Ikbal tiba-tiba beranjak.


Spontan Ushi menoleh ke arah pintu. "Nia?" Ushi berjalan setengah berlari. "Kamu gak apa-apa? Ada yang luka? Ada yang sakit? Kita cek ke rumah sakit aja langsung ayo."


"Kata Bu Suleikah aku anak Tante ya?" Nia tampak ragu sebelum melanjutkan ucapannya. "Katanya Bu Suleikah liat aku pas aku baru lahir."


Ushi menghambur memeluk Nia, sambil menangis histeris. "Iya. Iya kamu anak Tante. Kamu anak Tante."


KLEK


"Sayang?"


Zaim tiba-tiba muncul dari balik pintu, diekori Bastian dan Jani. Ketiganya tak kalah panik dari Ushi dan Ikbal. Melihat Nia dan Ushi yang saling berpelukan, Zaim pun yang lain yakin jika status keponakan dan tante pada keduanya kini sudah resmi berganti menjadi ibu dan anak. Dan untuk menambah bumbu keharmonisan di antara Nia dan Ushi, Jani berinisiatif untuk menyerahkan peninggalan terakhir Burhan yakni selembar foto bayi dan voive recorder.


"Kami nemuin ini di loker Bu Ushi sebelum loker itu dibakar orang-orangnya Pak Safi." Jani memberikan plastik berisi selembar foto dan voice recorder pada Ushi.


"Ini kamu?" Ushi menoleh pada Nia setelah memandang cukup lama foto bayi dalam genggamannya.


Nia hanya mengangguk menanggapi Ushi.


"Mirip Burhan. Burhan versi cewek." Ushi tertawa, namun anehnya air matanya menetes semakin deras. "Ini?" Ushi melihat ke arah Jani.


"Rekaman suaranya Pak Burhan, Bu," jawab Jani.

__ADS_1


Ushi mengangguk-angguk, seraya menekan ragu tombol play pada voice recorder.


Sayang. Maaf. Aku salah. Semuanya emang salah aku, tapi atas permintaan keluarga kamu. Keluarga kamu cuma pengen yang terbaik buat kamu. Hidup bahagia sama keluarga kamu aja jangan sama aku. Karna hidup sama aku cuma bakal bikin kamu menderita. Aku terpaksa pergi. Tapi aku gak bisa terus pergi kaya gini. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kamu juga kan? Keluarga kamu dengan segala kehebatannya, jelas bisa bikin aku bertekuk lutut. Kamu punya pilihan. Pergi dari sana sama aku. Aku jemput kamu kalo kamu udah siap. Tapi kalo kamu masih ragu, ini, liat foto anak kita. Namanya Nia, Yesenia Eve. Ibu kamu yang kasih nama.


__ADS_2