HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS JANI


__ADS_3

KLEK


"Woy, Upik Abu. Kenapa stiker chat di Zet* gak bisa disimpen kaya stiker chat di wa sih? Gimana …"


*Aplikasi kencan milik Zaim yang sudah diunduh oleh lebih dari seratus juta pengguna.


Nia berulang kali mengucap syukur dalam hati, alih-alih menjawab berondongan tanya Ikbal. Ya, Ikbal. Padahal Nia mengira yang datang saat dirinya sedang bertelepon dengan Monica adalah Zaim. Saking seriusnya memikirkan alasan mengulur waktu, Nia sampai melupakan cctv tersembunyi di kediaman Zaim. Nia sudah ketakutan membayangkan situasi di mana Zaim akan mengamuk setelah tahu apa yang dibicarakannya dengan Monica melalui pantauan cctv tersembunyi. Tetapi syukurlah semua itu hanya berakhir menjadi bayangan.


" … Upik Abu. Denger gak sih lu?"


"Kenapa lu tiba-tiba maenan Zet?" tanya Nia akhirnya.


"Ya suka-suka gualah anjir mau maenan apaan. Mau maenan gundu kek. Maenan latto-latto kek. Masalah buat lu? Udah cepet jawab."


"Minta jawaban aja sono sama yang bikin Zet. Bye."


BRAK


"Anjir ka–, eh tapi bener juga ya. Mendingan gua langsung nanya Kak Zaim."


Ikbal pun bergegas menuju kamar Zaim. Tetapi tak ada jawaban. Mungkin Zaim sudah tidur karena kehabisan tenaga mengurus sepuluh perusahaannya yang terus menggurita. Ikbal lalu kembali menggedor kamar Nia sambil menyerukan beragam nama julukan. Nia yang merasa sangat-sangat terganggu pun akhirnya mengibarkan bendera putih. Nia melotot membuka pintu kamarnya. Namun tentu saja Ikbal tidak takut sama sekali, pun tidak tahu malu. Ikbal hanya melenggang memasuki kamar Nia setelah menggenggamkan ponselnya.


" … Udah belom? Lelet banget sih lu."


Nia menoleh pada Ikbal, melotot. "Diem apa gue banting ini hp?"


Ikbal hanya terbahak menanggapi Nia.


"Lagian kenapa harus nyimpen stiker sebanyak ini sih? Buat apaan? Orang chatan tuh pake huruf bukan pake stiker."


"Gua kan cool. Cowok-cowok cool tuh kalo chatan harus pake stiker."


Nia menggeleng-geleng. "Najis."


Ikbal kembali terbahak. "Udah cepet. Yang menanti balesan dari chat Danny Phantom banyak nih."


"Eh, Danny Phantom? Kaya pernah denger tapi dari siapa ya?"


"Ya dari gualah bego. Itu nama samaran gua di Zet. Lu add aja. Tapi gak bakal gua terima." Ikbal tak henti terbahak. "La–"


"Nih udah," sela Nia. "Sekarang keluar dari kamar gue. Ketawa lu kaya lagu lingsir wengi tau gak. Sono-sono."


Ikbal tak menanggapi ejekan Nia dengan ejekan, tetapi dengan jitakan. Nia yang kesal hendak membalas tetapi Ikbal dengan gesit melarikan diri. Sambil merasakan jitakan panas Ikbal di kepalanya, Nia kembali mengingat-ingat nama Danny Phantom. Nia yakin pernah mendengar nama itu, tetapi bukan hari ini pun bukan dari Ikbal. Tanya Nia pun terjawab ketika pesan singkat dari Vina datang. Dalam pesan singkat itu Vina mengatakan jika dirinya resmi berpacaran dengan teman kencan onlinenya yang bernama, Danny Phantom.


"Omg-omg. Jadi Danny Phantom tuh si Ikbal? Bener juga ya. Dulu kan Vina pernah bilang dia punya temen kencan namanya Danny Phantom. Tapi beneran Ikbal bukan ya? Yang pake nama samaran Danny Phantom kan pasti banyak. Harus gue tanya nih demi keselamatan Vina."


TOK TOK TOK


KLEK

__ADS_1


"Nih-nih cepet jitak kalo lu gak terima," ujar Ikbal seraya menyodorkan kepalanya. "Cepet gua sibuk."


"Dih bau banget sih lu. Kramas bego."


"Anjir ngelunjak da–"


"Lu Danny Phantom yang jadian sama Vina bukan? Liat foto profil lu coba. Ada berapa orang di Zet yang pake nama samaran Danny Phantom?"


"Minta jawaban aja sono sama yang bikin Zet. Bye."


BRAK


Nia mengatur napasnya. "Sabar-sabar. Yang waras sabar yang waras ngalah."


"Sayang?"


Spontan Nia menoleh ke asal suara.


"Kok belom tidur? Katanya besok ada ulangan?" tanya Zaim lagi.


"Oh iya ini baru mau tidur."


Zaim menghampiri Nia. "Kalo gak bisa tidur mau tidur sama aku?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Terlihat di sebuah kamar tidur berpenerangan minim itu, Jani terbaring tak berdaya dengan perban yang melilit tubuhnya di sana sini. Perlahan Jani pun membuka matanya, dan berusaha secepat mungkin mengumpulkan kesadaran untuk membaca situasi. Apakah saat ini Jani sedang berada di tempat kawan atau sebaliknya, di sarang lawan?


"Siapa ya yang nyelametin gua? Bukan Bastian. Karna kalo Bastian pasti sekarang gua ada di rumah sakit. Bukan Pak Sobari juga. Terus siapa? Masa Zaim?"


Jani terus menumpahkan tanyanya dalam hati, pun terus menebak siapa kawan yang sudah menyelamatkan nyawanya. Namun alih-alih mendapat petunjuk, pikiran Jani malah membawanya kembali pada ingatan hari itu. Hari di mana tangan kanan Safi, Wafiq Ma'ruf, memberondonginya tembakan dengan wajah dingin. Anjing si Wafiq! Begitu umpat Jani.


"Malah mikir ke mana-mana. Bukannya mikir siapa yang nyelametin gu–"


KLEK


"Oh, Anda udah udah sadar?"


"Loh? Kamu?"


"Iya saya. Saya mau ganti perban," jawab Yoshi.


"Ntar aja. Bukan itu yang penting sekarang." Jani berusaha untuk duduk. "Kenapa kamu nyelametin saya?"


"Karna saya liat semuanya. Kaki sama tangan Anda yang diiket, terus Sipir yang buang Anda ke laut."


"Anjing semua emang. Terus, kenapa kamu bisa ada di penjara juga?"


"Waktu itu saya mau ketemu Emily."

__ADS_1


"Ternyata bener Emily sekongkol sama Safi. Ya pantes aja dia bisa keluar masuk penjara." Jani menghela napas. "Terus gimana tadi? Lanjutin cerita kamu."


"Iya waktu itu saya ke penjara buat ketemu Emily. Saya mau ngasih jawaban buat tawarannya."


"Tawaran?"


Yoshi menggangguk. "Dua hari sebelum Anda ditembak, Emily nemuin saya di rumah. Dia nawarin saya join rencana bales dendam Kasih. Saya bilang saya butuh waktu buat mikir."


"Terus setelah mikir? Kamu setuju?"


Yoshi mengangguk lagi. "Soalnya saya mau tau penyebab anak saya meninggal."


Jani hanya kembali menghela napas. "Jadi kamu ada di pihak siapa sekarang?"


"Kasih."


Jani tak henti menghela napas. "Kasih punya delusi*. Dia nganggep Zaim ayah dari anak yang dikandungnya dan nganggep Nia yang udah bikin dia keguguran. Kemungkinan besar Emily itu orang yang udah mancing delusinya Kasih."


*Merupakan salah satu gangguan mental serius. Delusi ditandai dengan kesulitan seseorang untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi. Dan walaupun sudah terbukti bahwa apa yang diyakini tidak benar, penderita gangguan delusi akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar.


"Dari dulu sampe sekarang dia emang gak pernah brenti jahatin Kasih. Tapi siapa yang nembak Anda?"


"Orangnya Safi. Jadi Safi nganggep penyebab kekalahan pemilunya kemaren tuh Zaim. Dulu waktu pemilunya barengan sama waktu Zaim nyidang Bagas. Sidang itu digelar terbuka dan beritanya sampe Malaysia. Safi kena imbas karna masyarakat tahu kalo Bagas yang kena kasus video porno itu mantan menantunya."


"Jadi Safi nyari kaki tangan juga ya buat bales dendam."


"Iya. Dan gak tau gimana awalnya pokoknya Emily itu kaki tangannya Safi. Terus Emily ngelibatin Kasih dan Atlas*. Jadi nyambunglah semuanya." Jani menoleh pada Yoshi. "Saya boleh pinjem hp?"


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Anda mau telfon Zaim Alfarezi?"


Jani mengangguk merespon Yoshi.


"Kalo Anda ceritain semuanya ke Zaim Alfarezi, apa yang bakal dia lakuin ke Kasih? Menjarain Kasih?"


"Mungkin," balas Jani.


"Kalo gitu saya gak bisa pinjemin Anda hp. Saya harus dapet jaminan keselamatan Kasih dulu. Kalo gak ada jaminan, saya bakal bawa orang yang udah nembak Anda ke sini. Terus saya bakal pura-pura gak tau."


Spontan Jani tertawa. "Ternyata sinting juga ya kamu. Kamu kalo mau jaminan, minta sama Zaim dong. Masa minta sama saya. Saya mana punya kuasa."


"Kalo saya jadi Zaim Alfarezi, saya gak mungkin ngasih jaminan keselamatan buat orang yang punya niat nyelakain pacar saya."


"Itu tau. Tapi saya masih punya Tuan yang laen kok. Kalo Tuan saya yang ini, kemungkinan besar bakal ngasih jaminan keselamatan buat Kasih. Karna walau gimanapun Kasih itu cewek pilihan almarhum cucunya."


Yoshi yang langsung paham maksud perkataan Jani tak menjawab, hanya merogoh ponselnya dari dalam saku dan melemparkannya pada Jani.


"Halo, Pak Hakam. Ini saya Jani. Saya …"

__ADS_1



...Patricia Anjani...


__ADS_2