
Nia mengendap-endap keluar dari kamarnya, sambil mengintip ke setiap penjuru rumah. Syukurlah tidak ada Bagas, ayah Ikbal yang lebih aktif berceloteh dari burung murai batu. Demi apapun Nia tak sanggup lagi menghadapi Bagas, apalagi memasang senyum pepsodentnya setiap detik. Saat Bagas memutuskan untuk menginap, Nia seperti langsung mendapat firasat yang sangat amat buruk!
Dan benar saja. Kehadiran Bagas membuat Nia tak bisa tidur dengan nyenyak. Jangankan tidur, bahkan mengumpat saja Nia tak sempat. Bagas terus mengetuk pintu kamar Nia, meminta tolong untuk dibuatkan ini itu. Nia terpaksa menurut, berharap setelahnya bisa menarik selimut. Namun nyatanya Nia harus berakhir mendengarkan omong kosong Bagas sampai pagi, tanpa peduli meski esok hari senin.
"Masa si Ikbal belom bangun?" Nia melirik kamar Ikbal. "Tan–, eh, Ibu juga kenapa harus ngejob di luar kota pas Om Bagas dateng sih?" Nia berganti melirik kamar Bagas. "Ayo kabur sebelom Om Bagas jadiin gue babu lagi."
Nia berlari menuruni lantai satu, dengan hanya melihat lurus ke pintu keluar. Berhasil. Nia bersandar sesaat di depan pintu, sambil menutupnya dengan suara seminimal mungkin. Nia kembali mengendap, khawatir kalau-kalau Bagas ada di balkon kamarnya. Kosong. Nia bisa melanjutkan pelariannya. Nia pun bergegas menuju gerbang, rintangan terakhirnya sebelum menghirup udara segar. Namun.
DUG
"Aw." Nia mengusap-usap keningnya. "Loh? Kok kamu ada di sini?"
Zaim hanya menanggapi Nia dengan mimik wajah datar, dan sorot mata penuh kemurkaan.
"Tapi ngobrolnya nanti aja deh. Kebetulan kamu di si–"
"Kamu mau sampe kapan jadiin aku orang terakhir yang tau masalah kamu?" sela Zaim akhirnya.
"Hah? Masalah? Masalah apa? Aku gak ada masalah kok."
Zaim menghela napas. "Jadi bapaknya Ikbal bukan masalah buat kamu?"
"Bukanlah. Om Bagas mah kurang kalo cuma disebut masalah."
"Yaudah packing sekarang." Zaim menggandeng Nia masuk ke dalam rumah.
"Eh, tunggu-tunggu. Di dalem ada Om Bagas."
"Terus?"
"Ya terus ngapain masuk? Orang aku udah susah-susah kabur," jawab Nia.
"Gak ada seragam sekolah cewek di rumah aku."
__ADS_1
"Hah? Seragan sekolah cewek? Buat apa?" Nia tanpa sadar sudah kembali masuk ke dalam rumah. "Eh, jangan-jangan aku harus nginep di rumah kamu lagi?"
"Gak mau? Mau nginep di hotel aja?" Zaim membuka pintu rumah Nia. "Cepet packing barang-barang kamu yang penting. Abis itu kita makan siang."
Nia hanya melangkah malas menuruti perintah Zaim. Empat jam yang lalu, Zaim mendapat pesan singkat dari Ikbal yang berisi jika Nia tengah diganggu oleh ayahnya yang genit. Ikbal meminta bantuan pada Zaim untuk kembali memberi Nia tumpangan sementara sampai Ushi menyelesaikan pekerjaannya. Zaim yang saat mendapat pesan singkat itu tengah berada di luar kota pun langsung terbang ke Jakarta.
" … Aku gak suka jadi orang terakhir yang tau masalah kamu."
"Kamu udah sejuta kali ngomong gitu, Sayang." Nia memasukkan barang-barangnya ke tas tanpa menoleh pada Zaim.
"Jangan manggil sayang-sayang kalo aku lagi marah."
"Justru harus manggillah biar kamu udahan marahnya."
"Aku serius."
Akhirnya Nia menoleh pada Zaim. "Aku tuh cuma gak mau ganggu kerjaan kamu."
"Kamu malah ganggu kerjaan aku kalo tiap ada masalah gak bilang. Hari ini aku langsung batalin rapat penting pas dapet chat dari Ikbal. Ka–"
"Halo," sela Zaim pada Bagas, seraya beranjak dan mengajak Bagas berjabat tangan.
"Oh, iya." Bagas menyambut jabatan tangan Zaim. "Kamu pasti pacarnya Nia ya? Tapi bentar deh. Kamu kaya gak asing ya."
"Zaim Alfarezi."
"Zaim Alfarezi," gumam Bagas. "Oh, Zaim Alfarezi yang hidden crazy rich Jaksel itu Yang punya cabang karaoke di Amerika juga kan? Itu deket apartemen saya loh. Saya sering ke sana."
"Makasih. Tapi kayanya pelayanan tempat karaoke saya yang di Amerika kurang oke ya."
Bagas menggeleng cepat. "Enggak kok, gak ada yang kurang. Pelayanannya paling the best. Terutama pelayanan pemandunya ya–"
"Terus kenapa masih godain pacar saya ya?" Zaim beranjak. "Kan katanya gak ada yang kurang?"
__ADS_1
...•▪•▪•▪•▪•...
Hendri menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Ucil, sopir pribadi Zaim, lalu berlalu memasuki kediaman Zaim. Sambil memindahkan mobil Hendri, Pak Ucil memandang bingung ke arah pria bersetelan semi formal itu. Apa Hendri sedang mabuk? Atau mengalami jet lag*? Atau, akhirnya menjadi gila dan tak ingat waktu karena terlalu lama bekerja dengan Al Hakam yang terkenal psikopat rupiah?
*Jet lag adalah gangguan tidur berupa rasa kantuk pada siang hari dan sulit tidur pada malam hari, yang timbul setelah melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat melewati zona waktu yang berbeda.
"Ada masalah apa ya sampe Den Hendri dateng tengah malem gini?" tanya Pak Ucil dalam hati. "Semoga bukan masalah gede amin."
Sayangnya Hendri memang datang dengan membawa masalah besar. Zaim tahu itu meski sedari tadi Hendri hanya menenggak kaleng alkohol sambil menceritakan rapatnya yang hancur total. Awalnya Zaim acuh, namun perlahan telinganya mulai panas. Zaim pun meminta Hendri untuk angkat kaki jika tujuan kedatangannya hanya untuk menenggak alkohol gratis.
Zaim beranjak. " … Besok gua ada rapat pagi ja–"
"Penyebab Zain meninggal emang karna kecelakaan pesawat," sela Hendri. "Tapi itu penyebab kedua. Penyebab pertamanya tuh dibunuh, Za."
"Gua tau."
Spontan Hendri menoleh pada Zaim. "Lu tau? Dari mana? Dari siapa?"
"Gua kan gak cuma liat mukanya Zain doang. Banyak luka lebam di badannya. Luka sayatan juga. Gua apal luka-luka kaya gitu. Itu luka karna perlawanan, Hen." Zaim beranjak. "Siapa?"
Hendri diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Umar Zakawat. Bawahannya Safi. Dan dia masih idup."
Zaim tampak terkejut.
"Tapi bukan itu masalahnya, Za." Hendri ikut beranjak. "Kakek udah tau lama soal Umar Zakawat. Yang Kakek belom tau, Yesenia Eve cucu kandungnya Safi."
Bak disambar petir di tengah badai hujan. Tak disangka ternyata Safi adalah dalang di balik kematian Zain yang tak wajar. Hakam yang diam-diam menyelidiki Safi pasti menyimpan dendam pada Safi seiring berjalannya waktu. Dan sekarang sudah terbukti Nia adalah cucu kandung Safi. Lantas bagaimana kelanjutan hubungan Zaim dan Nia? Hakam adalah orang yang tak memiliki belas kasih. Sementara Safi, orang yang tak kenal belas kasih. Benar-benar rival yang klop, bukan?
"Kakek bilang bakal ada di pihak lu selama Yesenia Eve bukan anaknya Ushi Widhiani," tambah Hendri.
"Kalo Kakek maunya gitu, gua gak punya pilihan selain ngejabanin."
"Kan masih ada cara buat ngehindarin itu, Za."
__ADS_1
"Apa? Ngelepas Nia? Iya, itu emang cara brilian. Tapi sayangnya gak ada di rencana gua tuh. Gimana dong?" Zaim meninggalkan ruang tamu. "Lu harus milih mau ada di pihak siapa, Hen. Jangan berat ke Kakek karna dia udah ngurusin lu dari bayi. Jangan berat ke gua juga karna kita udah kaya sodara sedarah."