
Terlihat Nia baru saja turun dari angkot. Namun alih-alih bergegas pulang karena gerimis mulai turun, Nia malah berbelok ke warung makan. Tampak Nia memesan salah satu makanan yang akhir-akhir ini digandrunginya sebagai formalitas. Ya formalitas, agar mendapat tempat duduk. Tempat duduk yang pas sekali menghadap jalanan di seberang di mana Nuna, si bocah kecil misterius terakhir kali terlihat.
"Lontong balap* setengah porsi, tempe mendoan satu sama es tawar."
*Makanan khas Surabaya yang terdiri dari lontong, daging sapi, kuah kaldu sapi, tauge, tahu goreng, sambal petis dan lentho (terbuat dari kacang yang direndam dengan beragam bumbu selama satu malam yang kemudian ditumbuk, dikepal dan digoreng). Lontong balap biasanya dihidangkan dengan pasangannya yakni sate kerang.
Nia mengangguk pada pelayan warung makan. "Makasih, Mas."
"Sama-sama, Mbak. Krupuknya di sana ya. Free. Nasi putih sama teh tawar juga free."
Nia hanya kembali mengangguk pada pelayan yang sepertinya sepantaran dengan dirinya itu, lalu melanjutkan pencarian Nuna sembari menyantap seporsi makanan khas Jawa Timur tersebut. Hari ini Nia pulang sekolah lebih awal karena tidak ada pelajaran tambahan. Nia sengaja menghindari Vina dan menolak ajakan Ikbal untuk pulang bersama karena ingin mencari Nuna tanpa bantuan siapa-siapa.
"Di sini ternyata Mbak Yesenia. Tadi saya cariin sampe ke sana. Untung gak saya samperin ke rumah. Saya kan tau rumahnya Mbak Yesenia. Di Komplek Medina kan? Blok J nomer delapan. Rumah yang ada pohon rambutannya. Iya kan?"
Nia hanya tersenyum paksa menanggapi seorang sopir angkot yang tempo hari meminjaminya uang untuk membantu Nuna.
"Ngomong-ngomong saya buru-buru nih, Mbak. Mau narik lagi soalnya baru dapet setoran dikit," imbuh si sopir angkot.
__ADS_1
Spontan Nia mengambil dompet dari dalam ranselnya. "Ini, Bang. Sekali lagi makasih ya udah nolongin saya."
"Sama-sama, Mbak. Kita ka–, eh, kok cuma segini, Mbak?"
"Lah kemaren kan saya minjemnya emang cuma segitu."
"Iya sih. Saya pikir ditambahin gitu maksudnya. Secara kan Mbak Yesenia pacarnya Mas Zaim Alfarezi, orang terkaya di Jaksel." Si sopir angkot tertawa. "Yaudah kalo gitu makasih ya, Mbak. Saya duluan."
Nia sengaja tak menanggapi sopir yang terkenal sangat ugal-ugalan itu karena sibuk bersumpah serapah dalam hati. Bagaimana tidak? Di zaman yang serba sulit seperti sekarang, bersedia mengeluarkan uang untuk orang yang tidak dikenal memang suatu kebaikan yang langka. Tetapi bukankah sudah cukup dengan uang yang dipinjam itu dikembalikan tanpa kita harus menarik urat-urat murka?
"Harusnya gak gue balikin aja tuh duitnya. Kalo dia nagih gue pura-pura drama aja. Terus kalo dia ngamuk tinggal aduin ke Zaim. Rasanya kalo ketemu orang-orang gak bersyukur kaya gitu bawaannya pengen langsung jadi antagonis deh," batin Nia. "Tapi ini si Nuna kok gak nongol-nongol ya?"
Tanpa ragu Nia pun langsung menanyai tiga orang satpam yang berjaga di pintu keluar timur ruko tersebut. Namun meski Nia sudah menyebutkan ciri-ciri Nuna berulang kali, ketiga satpam itu berkata tidak pernah melihat bocah seperti Nuna selama delapan tahun mereka bekerja sebagai petugas keamanan di sana. Mereka pun menawarkan diri pada Nia untuk mendampinginya mencari Nuna ke dalam ruko-ruko.
Tentu saja Nia langsung menerima tawaran itu. Sayangnya hari mulai gelap, dan Ikbal terus mengancam Nia melalui pesan singkat, memintanya untuk segera pulang jika tidak ingin diadukan pada Ushi yang sedang dalam mode senggol bacok. Akhirnya Nia terpaksa mengakhiri pencariannya sampai di sana. Namun esok, Nia bersumpah akan menanyai satu per satu pemilik ruko meski tahu blok di ruko tersebut dibagi dari blok A hingga Z!
"Nah itu dia yang kita tunggu-tunggu," ucap A110 sembari membenahi posisi duduknya. "Langsung aja kalo gitu. Kita udah buang-buang banyak waktu soalnya."
__ADS_1
"Siap."
"Tunggu." A110 melepas kaca mata hitamnya, lalu menoleh pada seorang pria yang duduk di sampingnya. "Inget skenarionya kan? Kamu udah sadar, udah tobat. Dan kamu, bukan lagi pedofil*."
*Pedofil merupakan sebutan untuk orang yang mengidap penyakit pedofilia. Pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia empat belas tahun. Seseorang baru bisa dianggap pedofil jika usianya minimal enam belas tahun.
Pria itu, Ferdi, hanya menyeringai menanggapi A110.
...•▪•▪•▪•▪•...
Sambil memantau progress misi keduanya dari dalam mobil, A110 membaca ulang berkas yang berisi informasi pribadi Ferdi. Ferdi Fuadi, pria berdarah Padang itu sudah menduda selama lebih dari dua puluh tahun. Istri Ferdi meninggal karena Chlamydia*. Dan sejak penyebab istri Ferdi meninggal dunia itu sampai ke telinga ibu-ibu berdaster, tak ada satu pun wanita yang sudi dipersunting oleh Ferdi. Tidak peduli meski Ferdi memiliki toko sembako raksasa!
*Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Chlamydia dapat dialami oleh pria maupun wanita. Pada pria, penyakit ini dapat menyerang saluran kencing (urethritis). Sedangkan pada wanita, chlamydia dapat meningkatkan risiko kemandulan. Selain organ kelamin, chlamydia juga dapat menyerang *****, tenggorokan serta mata. Penularan ini terjadi bila bagian tersebut terkena cairan yang dihasilkan oleh organ kelamin.
Namun ada satu wanita yang masih mau meladeni Ferdi. Benar, Nila, ibu sambung Nia. Entah bagaimana Ferdi dan Nila bisa memiliki hubungan seperti itu, satu yang pasti, Ferdi adalah saksi kunci lain atas penganiayaan yang dilakukan Nila pada Nia kecil. Bahkan Ferdi pun ikut serta menganiaya Nia meski dalam konteks yang berbeda. Ya, menganiaya secara seksual. Ferdi adalah duda kesepian yang dengan senang hati mau menjaga Nia saat Nila sedang sibuk.
"Sekali pedofil ya selamanya pedofil," gumam A110. "Tapi lumayan bisa diandelin juga dia."
__ADS_1
A110 tidak memuji Ferdi tanpa alasan berdasar. Karena sangat sedikit orang dengan hasrat menyimpang yang tetap bisa melangkah sehalus dan setenang itu meski tahu korbannya sudah ada di depan mata. Dan Ferdi adalah satu dari yang sangat sedikit itu. Terlihat hanya tinggal tiga sampai lima langkah lagi sampai Ferdi bisa menyamai langkah Nia. Namun ketika langkah Ferdi nyaris terkikis, tangan berotot seorang pria tiba-tiba saja melingkar kuat di lehernya.
Spontan Ferdi menoleh, dan menunjuk wajah pria itu. "K-kamu?"