
"Za, kenapa meja sekertaris kamu ko-, eh, lagi ada tamu ya. Maaf-maaf. Loh tapi kok kamu udah makan siang? Emang Kakek gak ngasih tau kalo kita mau makan siang bareng?"
Kasih tiba-tiba saja masuk ke ruangan Zaim, dan berniat untuk segera balik kanan. Namun wajah terkejut Zaim yang langka membuat Kasih mengurungkan niat, dan melanjutkan langkahnya ke dalam ruangan mewah itu. Wajar saja Zaim terkejut, pun Ushi. Kasih tidak hanya menampakkan batang hidungnya secara tiba-tiba tetapi juga memamerkan perut sembilan bulannya yang tanpa hasil.
"Kamu pasti nanya anak aku mana. Tapi aku gak mau jawab ah. Orang kamu keliatan gak suka aku pulang. Iya kan?"
Zaim hanya berdeham merespon Kasih, lalu menoleh pada Ushi. "Kita lanjut ngobrolnya di lain waktu ya, Bu. Nanti kalo kerjaan saya agak berkurang, saya main ke rumah."
"Oh iya-iya, Za. Santai aja." Ushi buru-buru mengambil tas dan jaketnya. "Yaudah kalo gitu saya pamit ya, Za. Mari, Bu Ka–"
"Biar saya anter ke parkiran, Bu," sela Zaim seraya mempersilakan Ushi memimpin jalan. "Silahkan."
"Aku tinggal bentar."
"Take your time*," jawab Kasih pada Zaim.
*Gak usah buru-buru.
Tak lama Zaim pun kembali. Namun rantang berisi nasi, semur ayam serta aneka lalapan itu sudah tidak ada lagi di meja ruang kerja Zaim. Dan ketika Zaim baru berniat mencari tahu, Kasih muncul dari dalam toilet. Seolah tahu Zaim mencari keberadaannya dan terutama mencari keberadaan makan siangnya, Kasih dengan santainya menunjuk tempat sampah.
"Aku buang. Kita mau makan siang sama Kakek. Nanti kalo kamu kenyang duluan kan jadi gak asyik."
Zaim menghela napas menanggapi Kasih. "Gak harus dibuang juga."
"Harus dong kalo udah keliatan gak enak dan gak sehat. Lagian sejak kapan kamu makan nasi putih sama masakan yang pedes-pedes gitu? Kalo Kakek tau pasti kamu langsung diceramahin seharian."
Zaim kembali menghela napas, emosinya mulai merambat ke ubun-ubun. "Jadi kamu ada perlu apa ke sini?"
Kasih mendecak, "Ternyata kamu emang gak seneng aku pulang. Kamu juga gak pernah ngontek selama aku di Minnesota. Kamu makin berubah ya, Za."
"To the point aja. Aku sibuk."
__ADS_1
"Sama anak SMA itu?"
"Iya," jawab Zaim cepat.
"Pantes sampe ngelupain Kakek. Kakek bilang kalian udah ada setaun lebih gak makan siang bareng." Kasih bersandar di meja kerja Zaim. "Cinta boleh, tapi jangan sampe bikin kamu lupa sama Kakek. Kakek kan satu-satunya keluarga kamu. Masa pacar kamu gak bisa ngerti? Ya wajar ya. Masih SMA kan soalnya."
"Aku gak bisa ikut makan si–"
"Enough, Za," potong Kasih. "Kakek kangen sama kamu. Kamu tau Kakek gak akan pernah bilang kan? Kalo kamu gak nyaman, anggep ini makan siang sama Kakek bukan sama aku. Hm?"
Zaim tak menjawab, pun tak menolak saat Kasih memaksanya beranjak dari kursi kerjanya yang kerapkali membuat sakit punggung itu. Tentu saja Zaim bisa menolak dengan alasan pekerjaannya yang memang sedang banyak-banyaknya. Tetapi entah kenapa suara hati Zaim terus meneriakkan persetujuan. Begitulah akhirnya Zaim pergi bersama Kasih untuk menyantap makan siang bersama sang kakek.
Terlihat Zaim dan Kasih keluar dari lift bersamaan dengan Ushi yang masuk ke dalam lift yang lain. Benar, Ushi. Ushi kembali karena ponselnya yang sedang diisi daya tertinggal di ruang kerja Zaim. Ushi mengetuk pintu bertuliskan CEO itu berulang kali, dan memutuskan untuk masuk tanpa izin. Benar saja dugaan Ushi, tak ada siapa pun di sana. Ushi bergegas mengambil ponselnya dan pergi. Namun.
"Loh-loh ini kok dibuang?" Ushi menunjuk tempat sampah. "Wah bener-bener ya. Ternyata baiknya pencitraan doang. Padahal banyak banget orang yang gak makan di luar sana tapi dia malah buang-buang makanan. Bilang kek kalo gak suka. Mana semur ayam kampung lagi. Ada telornya pula."
KLEK
"Eh, Ibu siapa ya?"
"Ya?"
"Budek kamu ya hah?"
Petugas kebersihan itu membungkuk seraya meminta maaf berulang kali, pun menjelaskan identitasnya yang baru bekerja selama dua hari.
"Kerja tuh sama bos yang bener. Biar berkah," imbuh Ushi.
BRAK
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
" … Mana mungkin aku buang masakan Ibu kamu yang enaknya berlipet-lipet dari masakan kamu itu."
"Iya aku percaya. Yang gak percaya kan Ibu."
Zaim hanya menghela napas kasar.
"Jadi Bu kasih yang udah buang semur ayam Ibu?" imbuh Nia.
"Iya. Nah pas aku cabut makan siang sama Kasih, Ibu kamu balik ke ruangam aku karna hpnya yang lagi dicas ketinggalan. Aku udah cek di rekaman cctv. Aku tau kronoginya."
"Yaudah kalo gitu tinggal tunjukin rekaman cctvnya sama Ibu."
"Iya, Sayang. Nanti aku bakal ketemu langsung sama Ibu kamu buat nunjukin rekaman cctvnya."
"Nanti kapan? Jangan lama-lama. Aku jadi sasaran amukan Ibu tiap hari tau gak. Padahal kan harusnya kamu. Baru kali ini aku ngerasa kaya anak tiri."
Zaim tertawa. "Lusa aku ke rumah ya. Kalo sekarang-sekarang aku gak bisa. Aku lagi sibuk. Aku mau ganti logo Ozol* sama rekrut driver tambahan. Jadi banyak banget yang harus aku urus."
*Nama transportasi online roda dua milik Zaim yang hanya beroperasi di desa-desa pedalaman di Indonesia.
"Iya aku ngerti."
"Makasih, Sayang. Yaudah kalo gitu aku lanjut kerja dulu ya. Nanti malem aku telfon lagi. I love you."
Zaim langsung memutus panggilan telepon berdurasi singkat tersebut, setelah Nia membalas salam penutup wajibnya. Berbeda dengan Zaim yang saat ini tengah bergelut dengan segunung dokumen yang harus ditandatangani, Nia malah sibuk bergelut dengan kekepoannya yang mulai menandingi level kekepoan Vina, sahabat sehati sesanubarinya!
Entah kenapa selama Zaim menjelaskan insiden semur ayam dua hari silam, nurani Nia seakan menolak untuk percaya. Benarkah alasan Kasih kembali ke tanah air hanya karena merindukan Anto, sang ayah? Lalu benarkah Kasih keguguran hanya karena menenggak sebutir obat flu? Dan mungkinkah pertemuan Nia dengan Nuna si bocah misterius berkaitan dengan Kasih?
Ya, untuk tanya yang terakhir, entah kenapa Nia yakin sekali jika jawabannya adalah iya! Sebab tak peduli meski penyakit mentalnya membaik atau sebaliknya, keinginan Kasih untuk bersatu dengan Zaim demi menggantikan posisi mendiang suaminya sudah semestinya harus direalisasikan, bukan? Karena keinginan itu terus mengekor terlepas dari bagaimanapun kondisi mental Kasih dulu dan sekarang.
"Kayanya Nuna sengaja disuruh ngerjain gue deh. Tapi tujuannya apaan? Masa iya tujuannya mental gue? Bisa jadi sih. Soalnya aneh banget kisahnya Nuna bisa semirip itu sama kisah gue. Gue harus cari tau. Semoga aja Nuna juga tinggal di sekitar sini," batin Nia.
__ADS_1
...Hendri Zachary...