HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
PESAN TERAKHIR


__ADS_3

WUSH


Nia menarik selimutnya, bersamaan dengan hembus dingin angin pagi yang tak henti menjahili. Meski dalam keadaan setengah sadar, Nia ingat betul jika hari menganggurnya masih tersisa satu hari. Namun Nia terpaksa membuka mata, karena ruang geraknya yang mendadak menjadi sangat terbatas. Ada sesuatu di belakang Nia, sesuatu yang dirinya harap bukan salah satu penunggu pohon rambutan rapiah!


"Eh? Tangan? Tangan cowok?" tanya Nia dalam hati sembari memandangi tangan yang melingkar di tubuhnya.


Ya, itu memang tangan cowok. Nia memandang lekat tangan yang tampak tak asing itu. Ada dua buah plester yang melingkar di kedua jari tengahnya, pun ada bekas tinta hitam di ujung kemeja putih panjangnya. Hanya ada satu orang yang memiliki deskripsi seperti itu. Perlahan tapi pasti, jantung Nia mulai menciptakan suara gaduh, dan semakin gaduh ketika Nia memberanikan diri untuk membuktikan keyakinannya.


"Kak Denar?" Nia buru-buru membekap mulutnya. "Eh? Kok, Zaim? Mampus gue. Dia denger gak ya? Gak apa-apa denger. Toh ini cuma mimpi. Tapi tunggu, kayanya bukan mimpi deh," batin Nia.


Nia memandang kondisi kamarnya yang semakin berantakan. Terlihat ada jas, kaus kaki, sepatu dan tas kantor yang tergeletak di sembarang tempat. Lalu hawa dingin yang sedari tadi membuat Nia menggigil, ternyata datang dari jendela kamarnya yang tidak tertutup rapat. Zaim pasti masuk diam-diam dari jendela seperti waktu itu. Nia semakin khawatir, namun refleks menghela napas lega saat tak sengaja melihat piama lengkap yang menempel di tubuhnya.


"Ternyata ampuh juga tips nyalain alarm tiap sejam. Walopun tidur gak pules tapi seenggaknya gue tidur gak bugil." Nia masih membatin.


KREK


Nia bergegas turun dari ranjang untuk menyisir rambut singanya, dan terutama untuk membuat roti lapis empat sehat lima sempurna untuk Zaim sebagai permintaan maaf karena telah salah mengira Zaim sebagai Denar. Nia berharap Zaim terlelap sampai sore, atau pulang diam-diam karena enggan menunjukkan wajah bantalnya. Tetapi tentu saja Zaim masih ada di kamar, dengan wajah bantal yang malah membuat fokus Nia buyar!


"Kok belom pulang?"


"Kan nungguin itu." Zaim menunjuk nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring roti lapis yang dibawa Nia.


"Yaudah abis itu pulang." Nia meletakkan nampan tersebut di meja belajar. "Soalnya aku mau ngambil seragam sama buku paket."


"Sekalian aja aku anterin."


"Gak, aku udah janji mau ke sana sama Vina." Nia menoleh pada Zaim. "Aku gak pernah ngingkarin janji. Kalo pun terpaksa aku ingkarin, gak akan sampe empat kali kaya seseorang."


"Kan aku udah minta maaf. Emang masih belom udahan juga marahnya?"


"Belomlah. Jadi dobel-dobel malah," jawab Nia sambil membuka tirai kamarnya. "Semalem kamu masuk lewat sini?"


Zaim menyeruput susu hangat. "Bukan semalem tapi tadi pagi."


"Terus?"


Zaim tak menjawab, sibuk melahap roti lapis empat sehat lima sempurna.


"Kamu ngeselin banget tau gak," imbuh Nia.


"Kamu juga."


Spontan Nia melempar selimut yang tengah dilipatnya, lalu menoleh memelototi Zaim. "Siapa?"


"Kamu."


"What? Aku? Apa coba maksudnya? Kamu lagi nyari-nyari kesalahan aku? Kenapa juga kamu jadi ikutan kesel?"


"Gimana gak ikutan kesel? Masa bangun tidur yang aku denger dari pacar aku bukan selamat pagi, Sayang tapi malah Kak Denar."


DEG


Zaim masih melanjutkan, "Siapa tuh, Kak Denar?"


DEG DEG


"Jawabnya jangan berbelit-belit." Zaim kembali menyeruput susu hangat. "Soalnya aku kurang tidur."

__ADS_1


DEG DEG DEG


...•▪•▪•▪•▪•...


KLEK


Pintu ruang interogasi yang tertutup setengah, seketika menampakkan Umar Zakawat yang tengah menguap. Zaim pun menutup pintu ruang interogasi sepenuhnya, sebab sungguh, beradu tatap dengan Umar Zakawat lebih dari tiga detik hanya akan memancing ketidakrasionalan! Hakam beranjak dari sandarannya, diikuti Hendri. Keduanya lalu bersama-sama menghampiri Zaim yang bergeming tepat di depan pintu ruang interogasi.


"Apa katanya?"


Zaim mengeluarkan rokok dari saku celananya. "Bullshit doang."


"Jadi masih gak jujur juga itu anjing?" tanya Hendri lagi. "Biar gua yang bikin dia ju–"


"Hen." Hakam menghela napas. "Jangan sok jadi brandalan deh. Muka kamu gak cocok. Balik aja sana ke kantor urus rapat buat besok."


"Tapi di–"


"Biar saya yang urus," sela Hakam lagi. "Kalo kamu ga–"


"Muka Kakek juga gak cocok. Jadi Kakek juga balik aja ke kantor urus rapat buat besok." Zaim menyulut rokok. "Biar aku yang urus. Aku masih punya rencana cadangan."


"Za."


Spontan Zaim mengurungkan niatnya membuka pintu ruang interogasi, lalu menoleh pada Hakam.


"Kamu ngrokok lagi?"


Zaim hanya menggeleng menanggapi Hakam.


"Terus itu?" Hakam menunjuk rokok di tangan Zaim.


KLEK


Hakam menoleh pada Hendri, sesaat setelah Zaim hilang dari balik pintu ruang interogasi. "Maksudnya dia mau nyiksa Umar Zakawat kan?"


"Kayanya sih gitu, Pak."


Hakam menggeleng-geleng. "Gak bisa dibiarin. Yang ada nanti duit saya abis cuma buat nutupin Umar Zakawat yang mati konyol gara-gara disundutin rokok sama itu brandalan."


KLEK


Zaim, Hakam, serta Hendri sudah duduk berhadapan dengan Umar Zakawat. Di luar dugaan, ternyata Zaim tidak menyundutkan rokok itu pada Umar Zakawat sebagai konsekuensi atas ketidakjujurannya. Zaim malah meminta Umar Zakawat untuk menghisap rokok itu. Anehnya Umar Zakawat tampak antusias, seperti seorang bayi yang melihat botol susunya setelah lelah merajuk. Ada yang aneh!


"Anda sudah ketagih." Zaim menunjuk asap rokok yang baru saja dihembuskan Umar Zakawat ke langit-langit. "Saya mencampurkan ximonic ke dalam rokok. Ximonic adalah sejenis dadah. Tetapi hanya saya dan rakan saya di Itali yang memilikinya*."


*Kamu udah kecanduan loh. Saya campurin ximonic ke dalem rokok itu. Ximonic itu sejenis narkoba. Tapi baru saya sama temen saya di Italia yang punya.


Spontan Umar Zakawat melepeh rokok dalam mulutnya. "Kurang ajar!"


"Sama-sama. Rileks sahaja. Tidak perlu membalas." Zaim menyeringai. "Jadi, bolehkah awak membuka mulut dengan betul sekarang*?"


*Sama-sama. Santai aja. Gak usah bales budi. Jadi, udah bisa buka mulut yang bener kan sekarang?


"Saya lebih rela mati daripada buka mulut*."


*Mendingan saya mati daripada buka mulut.

__ADS_1


"Tapi crush awak tak mati pun kan*?" Zaim memberi kode pada salah seorang polisi penjaga. "Nyalain."


*Tapi gebetan kamu gak dibawa mati juga kan?


Umar Zakawat tampak terkejut, dan kian terkejut saat melihat teman wanitanya yang tampak gelisah dari balik layar laptop. "Kalau berani buat macam-macam sa–*"


*Kalo kamu berani macem-macem sa–.


"Awak tidak lagi berada dalam kedudukan untuk mengancam atau berunding dengan saya." Zaim beranjak, lalu menarik kursi lain di samping Umar Zakawat. "Awak ketagih, dan satu-satunya yang boleh membuat awak berhenti ialah saya. Dan crush awak, saya boleh hancurkan hidupnya saat ini. Faham?"


*Kamu tuh gak lagi ada di posisi yang bisa ngancem atau negosiasi sama saya loh. Kamu kecanduan, dan yang bisa bikin kamu brenti cuma saya. Terus gebetan kamu, bisa saya ancurin idupnya detik ini juga. Paham?


Umar Zakawat tak menjawab, namun siapa pun tahu, itu adalah ekspresi wajah setuju dari orang putus asa yang menyimpan dendam kesumat!


"Awak bunuh juruterbang*?"


*Kamu bunuh pilot itu?


"Ya. Saya menikamnya dengan pisau kerana dia tidak mati*."


*Iya. Saya tusuk pake piso karna dia gak mati-mati.


"Kemudian tentang dia bersetubuh dengan seorang pramugari*?"


*Terus soal dia begituan sama pramugari?


Umar Zakawat menggeleng. "Saya hanya mengada-ada*."


*Saya cuma ngarang.


"Kemudian apa lagi yang awak buat*?"


*Terus apalagi yang kamu karang?


"Itu sahaja*."


*Itu aja.


Zaim mendecak, "Awak betul-betul merendahkan saya ya? Saya lebih dari Sayfudin Qazzafi. Saya tidak dapat mengira berapa banyak sampah seperti awak yang saya buang secara senyap-senyap. Dan mengapa tidak ada yang tahu? Sebab duit saya yang tak ada siri tu boleh cover apa-apa*."


*Kamu beneran nyepelein saya ya? Saya lebih-lebih loh dari Sayfudin Qazzafi. Gak keitung udah berapa banyak sampah-sampah kaya kamu yang saya singkirin diem-diem. Dan kenapa gak ada yang tau? Karna uang saya yang gak ada serinya bisa nutupin apapun. 


"Pulangkan telefon saya*."


*Balikin hp saya.


Zaim kembali memberi kode pada polisi penjaga untuk memberikan ponsel Umar Zakawat yang disita sebagai barang bukti. Umar Zakawat lalu meminta Zaim untuk membuka gallery ponselnya. Terlihat hanya ada satu buah video di sana. Zaim langsung menyentuh ikon play pada video tanpa menunggu instruksi selanjutnya dari Umar Zakawat, saat mengetahui sampul video tersebut adalah wajah mendiang sang kakak.


Kakek, tolong jangan salahin Kasih sekalipun anak yang dia kandung sekarang bukan anak aku. Tolong pura-pura gak tau aja. Oke? Dan, Chimp. Maaf ya, gua gak bisa menuhin janji tanding panjat tebing. Gua mau mati nih. Soalnya udah dingin, udah kebas, udah gelap. Tolong jangan berantem sama Kakek ya, Chimp, ganti bernatem sama Hendri aja. Atau Bastian. Oke?


"Juruterbang memberitahu saya untuk menyampaikan mesej terakhirnya dengan apa cara sekalipun. Sebenarnya saya tidak berniat untuk memberikannya secara percuma ka–*"


*Pilot itu nyuruh saya nyampein pesen terakhirnya dengan cara apapun. Sebenernya saya gak niat nyampein secara cuma-cuma ka–.


BUG


BUG

__ADS_1


BUG


"Anjing!" seru Zaim sembari melayangkan tinjunya pada Umar Zakawat. "Bangsat!"


__ADS_2