HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
"SNUSNU"


__ADS_3

"Bu, kayanya itu blush onnya yang sebelah kiri kemerahan deh."


"Oh iya bener. Ibu pake warna yang mana ya tadi."


Spontan Nia beranjak, dan ikut mengobok-obok kotak makeup. "Yang ini."


"Oh iya ini." Ushi tersenyum paksa pada seorang pelanggan. "Maaf ya, Mbak. Soalnya bulsh on keluaran terbaru sama yang lama packagingnya sama. Tapi serius masih tetep cantik kok."


Pelanggan wanita muda itu hanya ikut tersenyum paksa, seolah yakin jika saat ini wajahnya bukan cantik melainkan sebelas dua belas dengan ondel-ondel. Bos Ushi, Madam, yang memang gemar berkeliling memantau karyawannya saat bekerja, diam-diam memerhatikan Nia. Sama seperti saat Madam bertemu dengan Ushi pertama kali, Madam seperti bisa tahu jika putri semata wayang Ushi itu tak kalah berbakat dari sang ibu.


"Nama kamu Nia ya?"


Nia beranjak, lalu menyalami Madam. "Iya, Madam."


Madam tersenyum. "Ibu kamu sering nyeritain kamu sama Ikbal makanya saya tau. Ngomong-ngomong, kamu kayanya punya bakat makeup. Terus kamu juga cepet tanggap ya. Kerja di sini aja nanti kalo udah lulus."


Nia hanya menanggapi Madam dengan senyum paksa.


"Dia emang punya bakat makeup. Sama bakat masak. Rasa masakannya lumayan. Kalo Adeknya punya bakat jadi kang pukul. Soalnya dari kecil udah suka bela diri. Menang mulu lagi kalo diikutin lomba."


Madam tertawa merespon Ushi. "Hebat ya Ibu kamu. Walopun sibuk tapi masih bisa nyelamin anak-anaknya. Kamu kalo emang suka makeup, kursus aja biar dapet sertifikat. Sertifikat itu bisa bikin kamu diperhitungkan loh."


Nia kembali menanggapi Madam dengan senyum paksa.


"Ngomong-ngomong mau pada ke mana nih? Kok kamu pulang sekolah langsung ke sini?" tambah Madam.


"Mmm, mau nyalon sama Ibu."


Madam tertawa lagi. "Jawabnya kok takut-takut gitu sih. Wajarlah anak cewek nyalon. Apalagi kamu kan ceweknya Zaim Alfarezi."


Nia tak henti menyuguhkan senyum paksanya pada Madam. Sampai seorang karyawan studio tiba-tiba muncul dan menyampaikan pada Madam jika ada pelanggan baru yang ingin berbincang langsung dengan Madam perihal harga photoshoot di studionya. Madam pun pamit. Dan setelah selesai merias pelanggan terakhirnya, Ushi dan Nia langsung bergegas menyambangi salon kecantikan yang direkomendasikan oleh google.


" … Kok gak nyampe-nyampe sih, Bu? Ini mau ke salon kecantikan apa ke dukun pelet?"


"Dikit lagi kok." Ushi melirik ponselnya yang didudukkan di dashboard mobil. "Itu titiknya gak jauh dari sini. Abis perempatan ke kanan terus lurus tujuh ratus meter. Iya kan?"


"Iya tapi jauh."


"Ya jauhlah orang jalannya sama Ibu. Coba sama Zaim."


"Dih Ibu apaan sih tiba-tiba banget."


"Besok-besok kalo kalian kencan pulangnya jangan sampe lewat jam sepuluh malem. Ntar jadi omongan tetangga."


"Kemaren abis isya juga kita udah di rumah kalo Ibu gak tiba-tiba minta bungkusin kepiting saos padang. Kemaren posisi kita tuh udah di tol tapi harus balik ke restoran yang posisinya bener-bener di dalem pantai tau."


Ushi berdeham, "Ya kan bisa nolak."


"Maunya sih gitu. Tapi Ibu kan ngancem gak boleh pulang kalo gak bawa kepiting saos padang," sahut Nia.


"Yaudahlah orang udah lalu. Kepiting saos padangnya kan juga udah di perut." Ushi berdeham lagi. "Terus serius nih kamu gak ada niatan nyari cowok lain? Beneran deh Ibu bosen ngadepin masalah kalian yang gak ada abisnya itu. Dan masalahnya tuh masalah kecil yang endingnya selalu jadi masalah gede karna reputasinya si Zaim."


"Toh masalah yang bikin Ibu bosen itu kan selalu kelar dengan damai, Bu."


Ushi mendecak, "Belain aja terus."


"Bukan belain. Aku tuh ngomongin fakta."

__ADS_1


"Oh kamu ngajakin ngomongin fakta. Sebenernya Ibu gak mau ngomong ini ya. Tapi gak apa-apa. Ya kali aja bisa bikin kamu sadar. Kamu pasti belom tau. Ibu juga belom tau lama sih. Ibu diceritain sama Edo."


Nia tak menjawab, hanya menoleh pada Ushi dengan raut wajah penasaran.


"Zaim tuh cowok gak bener aslinya. Kamu liat kan di tv dia temenan sama Atlas*? Kata Edo, Atlas tuh punya usaha narkoba sama senjata api."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Yang penting tajir dan terkenal, Bu. Kalo tajir dan terkenal tuh dijamin plesnya banyak."


"Ples apaan maksudnya? Nih ya. Ibu juga matre tapi matrenya pilih-pilih. Ibu gak mau matrein cowok yang bahaya macem Zaim sama Atlas." balas Ushi.


"Terus Ibu pikir Om Edo gak bahaya?"


"Ya bahaya tapi seenggaknya dia gak terkenal."


"Justru terkenalnya itu yang bikin plesnya banyak."


"Ples apaan sih Ibu gak ngerti." Ushi mengurangi kecepatan mobilnya. "Kayanya ini deh salon kecantikannya. Oh iya bener ini. Tapi kok parkirannya penuh banget ya? Jangan-jangan antri lagi."


Dan benar saja. Tampak bagian dalam salon kecantikan itu penuh dengan kaum hawa berwajah udang rebus yang tengah kepanasan. Tanpa pikir panjang, Nia dan Ushi pun meninggalkan salon kecantikan tersebut. Namun seorang wanita dengan jas dokter tiba-tiba saja mengejar Nia serta Ushi yang hampir tiba di parkiran. Wanita paruh baya itu mengajak Nia dan Ushi untuk kembali masuk ke dalam salon kecantikan dengan segudang iming-iming.


" … Jadi calon istri sama calon mertuanya Pak Zaim Alfarezi mau treatment apa nih hari ini? Kami bakal pilihin dokter yang paling oke. Terus kami juga bakal kasih diskon."


Ushi refleks mengekori si Dokter. "Serius nih, Dok?"


"Serius dong, Bu. Mari, silahkan."


"Maksud aku plesnya banyak tuh kaya gini, Bu," bisik Nia pada Ushi.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Iya, Bu. Ibu mau titip apa?"


Ushi menggeleng. "Gak ada."


"Katanya lagi pengen makan tengkleng*, Bu?"


*Makanan semacam gulai kambing tetapi dengan kuah yang tidak memakai santan. Tengkleng biasanya berisi tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel, sate usus, sate jeroan, dan lain-lain.


Ushi menoleh pada Nia. "Kapan Ibu ngomong gitu?"


"Tadi sore."


"Gak. Udah gak pengen. Udah sana pada cepet nonton terus pulang," balas Ushi.


"Yaudah kalo gitu kita jalan ya, Bu."


Ushi hanya mengangguk menanggapi Zaim, tanpa melepas pandangan tajamnya pada setiap gerak-gerik hidden crazy rich Jaksel itu. Dan mobil mewah Zaim pun hilang di pertigaan komplek, dibuntuti empat mobil polisi tanpa suara sirine. Meski begitu Ushi masih bergeming di depan gerbang kediamannya, pun masih menujukan pandangan tajamnya pada jalanan komplek yang sepi.


"Udah tau gerimis. Masih nekat aja malem mingguan. Mereka gak tau apa kalo ujan tuh bahaya buat pasangan bucin? Awas aja pada pulang tengah malem lagi," ujar Ushi seraya membanting gerbang rumahnya.


Tampak Ushi menghabiskan malam minggunya bersama program dangdut di televisi. Sambil ikut melagukan alunan lagu dangdut, Ushi tak henti melirik jam dinding. Nia dan Zaim harus pulang pukul sepuluh. Tidak boleh lebih barang satu detik pun. Titik! Dan, satu jam berlalu. Pun dua jam, tiga jam, hingga kini hanya tersisa tiga puluh menit. Namun tak ada tanda-tanda akan kepulangan Nia dan Zaim.


"Kok belom pada pulang? Kalo si Ikbal mah kan kang pukul. Bodo amat mau gak pulang juga." Ushi menyambar ponselnya di sofa. "Telfon deh. Eh, kok hpnya Nia mati? Lah hpnya si Zaim juga kenapa ikut-ikutan mati? Jangan-jangan, mereka lagi snusnu." Ushi berganti menyambar kunci mobilnya. "Gak bisa dibiarin. Harus aku susul."


Tanpa bersedia menunggu hingga tiga puluh menit itu habis, Ushi nekat menyusul Nia dan Zaim yang tiga setengah jam lalu pamit bermalam minggu ke salah satu bioskop di sekitar rumah. Di sepanjang perjalanan menyatroni satu per satu bioskop yang ada di sekitar rumahnya, Ushi terus mengkhawatirkan banyak hal tentang putri semata wayangnya. Dan benar saja.

__ADS_1


Di tengah kekhawatiran Ushi yang kian tak terkendali, Nia dan Zaim memang sedang bersnusnu ria, maksudnya, sedang menggelitik berahi satu sama lain. Terlihat di kursi sopir sedan mewah itu, Zaim tengah memangku Nia. Tentu saja tak sekadar memangku melainkan juga bercumbu. Tetapi cumbuan kali ini jauh lebih panas, lebih berani, dan lebih keluar jalur!


" … Filmnya."


"Pentingan ini," balas Zaim seraya menyentuh bibir Nia.


Nia tertawa. "Kalo ada yang liat gimana? Kayanya tadi aku liat ada security yang patroli."


Zaim melucuti jaket dan kausnya sembari menjawab, "Gak ada yang berani deketin mobil aku selain rampok."


Nia kembali tertawa, pun kembali menyambut bibir Zaim yang seksi dan, membara. Tak ada lagi percakapan setelah itu. Wajar. Dua sejoli yang terus disuntik virus bucin oleh Dewa Asmara tersebut tengah sibuk menyentuh satu sama lain. Hingga puncaknya, Nia dan Zaim benar-benar berakhir keluar jalur! Zaim langsung menurunkan ritsleting celananya, ketika Nia setuju dimasuki benda berbentuk es lilin jumbo itu.


" … Tunggu-tunggu."


"I already wait for years, Sayang*." Zaim mengecup kening Nia. "Rileks."


*Aku udah nunggu bertahun-tahun, Sayang.


"Gak-gak. Itu gak mungkin bi–"


"Bisa," sela Zaim. "Trust me*. Hm?"


*Percaya aku.


Nia mengangguk ragu menanggapi Zaim, dan berteriak sejadinya setelah Zaim memasukkan semua es lilin jumbonya!


"Aaakkk."


TINNNNNNNNN TINNNNNNNNN


"Aduh kaget!" seru Ushi. "Ternyata mimpi. Tapi kok bisa sejelas itu sih?" Ushi melihat sekitar. "Terus kok bisa aku ketiduran di mobil? Bukannya tadi aku mau nyusul Nia sama Zaim ke bi–"


Ucapan Ushi seketika terjeda, karena suara mesin mobil yang dikenalnya terdengar tengah mendekat. Sudah jelas hanya hidden crazy rich Jaksel yang memiliki suara mobil sehalus itu. Tanpa berniat menata pikirannya yang sangat amat kacau, Ushi buru-buru keluar dari mobilnya untuk menghampiri Nia serta Zaim dengan setumpuk dampratan yang sudah mencapai ubun-ubun!


KLEK


"Kok jam segini baru pulang?"


Nia melirik Zaim sebelum merespon Ushi. "Kan ini ba–"


"Ssstttt," sela Ushi pada Nia. "Ibu gak tanya kamu."


"Maaf, Bu. Soalnya tadi jalanan se–"


"Macet? Gak mungkinlah." Ushi menunjuk mobil-mobil polisi yang tengah putar balik. "Kamu kan nyewa mereka. Udah gak mungkin banget kena macet di jalan."


"Bukan macet, Bu. Ta–"


"Terus apa?" sela Ushi lagi, pada Zaim. "Ini udah jam dua belas malem loh. Jam dua belas malem. Katanya kalian cuma nonton? Kok sampe jam dua belas? Emang nonton film apaan? Emang ada film yang durasinya lebih lama dari Avengers Endgame? Gak kan?"


Nia dan Zaim kompak mengunci mulut, pun kompak membuat ekspresi kebingungan.


KLEK


"Ini kan masih jam sembilan kurang, Bu."


Ushi menunjuk Ikbal. "Loh, kok kamu udah pulang?"

__ADS_1


"Emang aku abis dari mana? Orang seharian aku di rumah. Ibu ngigo ya? Apa mabok gara-gara tadi minum bir pletok? Tapi bir pletok kan gak ada alkoholnya."


Zaim menghampiri Ushi, lalu menggenggamkan plastik berukuran sadang seraya menahan tawa. "Dinetralin dulu maboknya pake tengkleng, Bu. Selamat makan, Bu. Saya pamit ya."


__ADS_2