
Mobil roti tawar itu melaju dengan kecepatan tak main-main, meski sadar jalan yang tengah dilaluinya bukanlah jalan tol. Apa boleh buat, siapa pun yang sedang dalam situasi darurat pasti tak akan segan berbuat nekat. Ushi, si pengendara ugal-ugalan, bahkan tetap menancap gas meski lampu lalu lintas mengharuskannya untuk berhenti. Semuanya bermula dari pesan suara yang dikirimkan Ikbal pada Ushi dua puluh menit yang lalu.
Dalam pesan suara berdurasi tiga menit sembilan belas detik itu, Ikbal menyampaikan pada sang ibu jika selama beberapa hari terakhir Nia dirundung teman-temannya dan bahkan mbak kantin serta beberapa orang guru. Masalahnya sepele, hanya karena berita viral delapan tahun silam yang kebenarannya masih simpang siur sampai sekarang. Berita viral tentang almarhum ayah Nia yang meninggal menjadi tumbal atas ulahnya sendiri.
Sekolah pun panik. Bahkan Kepala Sekolah yang hari itu sedang tidak ada di tempat sampai bergegas ke sekolah karena takut akan konsekuensi yang akan didapat jika mengusik keluarga mantan Raja Malaysia. Ushi pun tiba di sekolah menengah atas terbaik di kota itu, dan langsung menuju ruang BK sesuai arahan dari putra semata wayangnya. Terlihat ada sekitar sepuluh orang yang berdesakan di sofa ruangan yang paling dihindari para murid tersebut.
Empat orang guru BK yang terdiri dari dua perempuan dan dua pria, Kepala Sekolah, seorang wanita berusia dua puluhan yang tak lain mbak kantin, Ikbal beserta Wali Kelasnya, Indah. Wali kelas Nia, Ibu Sur, dan tentu saja Nia berikut si duta sampo yang mulai hari ini resmi berganti julukan menjadi ta*i berjalan. Ushi menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu sebelum menghampiri Nia dengan langkah cepat untuk memeriksa kondisinya.
"Kamu gak apa-apa kan?"
Nia mengangguk-angguk menanggapi Ushi.
"Siapa yang mulai?" tanya Ushi lagi.
Nia langsung menunjuk Kinan yang berbalut selimut UKS itu dengan jari tengahnya.
Ushi menoleh pada Kinan. "Harusnya mulutnya kamu leletin ta* juga." Ushi beranjak. "Bal, ambil tas kamu. Sekalian tas Nia juga. Terus tunggu Ibu di mobil."
"Bu, saya me–"
Ushi mengangkat sebelah tangannya, menjeda ucapan Kepala Sekolah yang sudah pasti hendak meminta maaf. "Ternyata saya salah udah mercayain anak-anak saya di sekolah ini. Jelas-jelas anak saya dibully tapi bisa-bisanya pihak sekolah gak turun tangan dan malah ikut-ikutan."
"Saya akan urus masalah ini, Bu."
Ushi menggeleng menanggapi Kepala Sekolah. "Telat dong, Pak. Ini udah empat hari sejak anak saya dibully. Kalo mental anak saya tempe, apa gak dari kemaren dia ngelakuin hal-hal menyimpang atau bahkan bunuh diri?"
"Kami juga baru tau masalah ini, Bu. Kami pikir anak-anak cuma becanda ka–"
"Becanda?" Ushi memelototi salah satu guru BK. "Anak saya sampe gak bisa beli minum di kantin selama empat hari dan Anda bilang itu cuma becanda?"
Semua orang yang ada di ruangan itu kompak membisu, di mana secara tak langsung mereka mengakui jika mereka telah turut serta merundung Nia.
"Ngebully itu gak harus nyerang korban secara verbal atau fisik. Kalian tau tapi tutup mata aja gak ada bedanya sama pelaku," tambah Ushi. "Siapa lagi yang bully anak saya? Gak mungkin cuma dua orang ini kan? Saya denger ada dari pihak guru juga?"
"Sedang saya selidiki, Bu. Saya berjanji akan menyelesaikan ma–"
"Janji saat udah kejadian itu gak ngefek, Pak," sela Ushi lagi pada Kepala Sekolah. "Saya gak akan biarin anak-anak saya sekolah di sini lagi. Dan saya rasa orangtua di luar sana juga harus tau kalo ternyata sekolah terbaik di kota ini isinya cuma pembully doang." Ushi meninggalkan ruang BK.
__ADS_1
Spontan Kepala Sekolah mengejar Ushi, diikuti sebagian guru BK. "Bu Ushi. Tolong beri saya waktu, Bu. Saya …."
...•▪•▪•▪•▪•...
Orang-orang yang melintas di depan rumah bernomor delapan itu kompak menanyakan hal yang sama dalam benak masing-masing. Wajar saja. Sebab ini adalah kali pertama gerbang rumah mewah itu terbuka lebar hingga menampakkan isi perabotan yang menyilaukan mata. Terlebih, banyak sekali kendaraan yang berjubel di depan rumah bercat merah bata tersebut.
Setelah beberapa tahun hanya menerima tamu dari Malaysia dan Vina, hari ini rumah tersebut kedatangan tamu yang lain. Benar, tamu lain itu adalah Kepala Sekolah SMAN Lentera Dunia beserta beberapa orang guru. Reputasi sekolah menengah atas terfavorit itu tengah menggantung di ujung tebing, jadi wajar saja jika pilar-pilarnya sampai turun tangan.
Di tengah pembicaraan serius para orangtua, terlihat di lantai dua, Nia, Vina dan Ikbal tengah mengintip. Mimik wajah Kepsek dan para guru tampak sangat tegang, seperti sedang menghadapi guru kimia yang hobi memberi pertanyaan dadakan di pagi buta. Mereka bergantian meminta maaf pada Ushi, dan berjanji akan menskors semua orang yang terlibat dalam insiden ta*i berjalan.
"Si Tante tuh kerjanya MUA apa mafia sih kok kayanya sangar banget ampe muka Kepsek kita makin cengo?" Vina mendongak menatap Ikbal.
Nia tak menjawab tanya Vina, hanya ikut mendongak menatap Ikbal.
"Muka lu berdua anjir yang cengo."
Spontan Vina menyentil jakun Ikbal. "Gue serius *P*ithecanthropus Erectus."
"Sakit, monyet." Ikbal melotot
"Elu monyet." Vina ikut melotot.
"Gaklah anjir." Ikbal diam sesaat. "Mungkin mereka kaya gitu karna tau latar belakang keluarga gua kali. Kakek gua kan mantan Raja Malaysia, tapi pengaruhnya masih gede biar kata udah lengser." Ikbal kembali diam. "Gua gak tau ini bener apa gak, tapi katanya pengaruh Kakek gua sampe bisa ngerubah undang-undang di sana."
"Apa karna Kakek lu ya, alesan si Tante ngerahasiain Nia sampe sekarang?"
"Mungkin," jawab Ikbal pada Vina.
"Jangan-jangan kita sodara?" Nia lagi-lagi mendongak menatap Ikbal.
"Ogah amat gua punya sodara yang aibnya segudang kaya lu. Oya, soal aib. Serius nanya nih gue, ta* yang lu leletin ke si Kinan tadi pagi ta*nya siapa?"
Nia tak menjawab, hanya berganti menyentil jakun Ikbal. Jerit sakit tak tertahan Ikbal spontan menarik perhatian para orangtua yang tengah bersitegang. Ushi pun mengakhiri pembicaraan itu dengan keputusan tak terduga. Ya, Ushi berniat memindahkan Nia dan Ikbal ke sekolah lain. Tak apa meski bukan sekolah favorit, yang penting tak ada pembully yang bersembunyi di balik seragam.
" … Besok saya bakal ke sekolah buat ngurus surat pindah anak-anak saya." Ushi beranjak. "Gak ada hal lain lagi yang mau saya sampein jadi bapak ibu sekalian boleh pulang sekarang."
Nia langsung menoleh pada Vina, sesaat setelah mendengar keputusan sepihak Ushi. Entah bagaimana nasib Nia tanpa Vina, sahabat sehati sesanubarinya. Pasalnya sedari masih duduk di bangku sekolah dasar Nia dan Vina selalu bersama. Vina dan Nia sudah seperti set perontok daki, tidak akan terlihat hasilnya jika hanya digunakan salah satunya saja. Merasa hatinya sangat hancur, Vina pun memutuskan menginap di rumah Nia.
__ADS_1
KAO : 😢
LK : Siapa?
KAO : Ini aku dih.
LK : Maksud aku siapa yang bikin kamu nangis?
KAO : Aku juga gak tau siapa yang harus disalahin.
LK : mengetik…
KAO : By the way, aku mau pindah sekolah.
LK : Why?
KAO : Aku dibully. Gara-gara masa lalu Ayah. Padahal Ayah gak ngambil pesugihan.
LK : Nama.
KAO : Hah?
LK : Kasih aku nama-nama orang yang ngebully kamu.
KAO : Plis jangan libatin Pak Bastian atau bahkan Zaim Alfarezi lagi plis.
LK : mengetik…
KAO : Lagian masalahnya udah selesai.
LK : Aku butuh nama. Kalo aku yang cari sendiri, yang gak salah bisa kena getahnya.
Spontan Nia beranjak, lalu bersandar di punggung ranjang. "Anjir perasaan gue gak enak. Mau ngirim siapa lagi nih orang buat nyampein pesan anceman?"
KAO : I'm okay.
LK : Oke aku cari sendiri.
__ADS_1
"Anjir beneran nih orang. Telfon-telfon. Buru telfon sebelom dia ngirim orang lagi ke sekolah." Nia mendekatkan ponsel ke telinganya. "Pak Bastian aja udah bikin heboh apalagi Zaim Alfarezi."
PULSA ANDA TIDAK CUKUP. TEKAN 1 UNTUK MENGAKTIFKAN PINJAMAN PAKET BICARA 100 MENIT SEPULUH RIBU RUPIAH BERLAKU SATU HARI SESAMA ….