HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BENDERA PUTIH


__ADS_3

Nia, Ushi serta Edo terlihat sedang berkumpul di ruang tamu, menonton acara di televisi sembari menunggu kedatangan Zaim yang sudah terlambat hampir satu jam. Meski begitu Nia dan yang lain maklum, bahkan tak keberatan jika pada akhirnya Zaim membatalkan janji kunjungannya ke kediaman Nia. Karena Nia berikut yang lain tahu saat ini Zaim tengah mendampingi tim dokter untuk menyampaikan kondisi terbaru Al Hakam pada awak media.


" … Benturannya cukup fatal karna berdampak pada keretakan tulang tengkorak bagian belakang … Saya dan tim sudah mengupayakan yang terbaik."


"Tapi Anda bilang tadi Pak Hakam masih belum sadar?" Seorang wartawan wanita kembali melempar tanya.


"Betul. Beliau masih belum sadar karna pengaruh obat bius yang diberikan cukup banyak."


"Kira-kira ada perubahan kondisi di hari keberapa, Pak?"


Dokter wanita paruh baya menoleh pada wartawan lainnya. "Dilihat dari kasus yang serupa, pasien akan menunjukkan perubahan kondisi di hari ketiga."


"Misalkan lebih dari itu dan gak ada perubahan kondisi gimana, Bu?"


Tim dokter yang terdiri dari empat orang itu saling memandang satu sama lain, dan berakhir memandang Zaim yang sedari tadi hanya bungkam.


"Dijawab aja, Dok."


Seorang dokter pria paruh baya mengangguk menanggapi Zaim. "Kami bisa menjamin pasien akan mengalami perubahan kondisi di hari ketiga. Entah itu perubahan kondisi yang baik atau sebaliknya. Dan …"


Kecuali Edo yang sudah memprediksi akhir buruk yang akan menghampiri Al Hakam, Nia dan Ushi kompak membuat mimik wajah terkejut. Nia serta Ushi memang memiliki rasa tidak suka pada Hakam, namun meski begitu mereka diam-diam berdoa agar Hakam segera menunjukkan perubahan kondisi yang akan menggembirakan semua orang terutama keluarga satu-satunya, Zaim. Ya, semoga saja keputusan finalNya sama dengan doa yang setiap hari dipanjatkan Nia dan Ushi.


"Kayanya Zaim gak dateng deh. Kita makan malem aja ka–"


Ucapan Edo terjeda, karena bel kediaman Nia yang baru saja berbunyi. Ushi pun buru-buru melihat siapa si tamu, dan benar saja, ternyata Zaim.


" … Sambil makan malem kali ya."


Zaim menyeruput tehnya. "Makasih, Bu, tapi saya cuma bisa sebentar di sini. Jadi langsung aja. Apa alesan Ibu tiba-tiba pengen pindah ke Droseros?"


"Oh iya. Jadi gini. Mulai dari mana dulu ya."


"Dari Pak Hakam yang nyamperin kamu di studio dong, Shi. Itu kan awal mulanya," sahut Edo pada Ushi.


"Iya aku tau, Do. Tapi kan gak gampang. Nyusun kata-katanya ituloh maksud aku."


"Biar saya bantu, Bu."


Spontan Ushi dan Edo menoleh pada Zaim.


"Kakek saya ke studio Ibu buat bilang kalo dia gak ngerestuin hubungan saya sama Nia. Karna Nia itu cucunya Pak Safi. Dan Pak Safi itu dalang dibalik kematian Kakak saya. Itu kan alesan Ibu tiba-tiba pengen pindah ke Droseros?"

__ADS_1


"Loh kok kamu bisa tau, Za?"


"Bahkan Nia yang cuma baca-baca artikel tentang Pak Safi aja bisa tau, Bu."


Ushi dan Edo berganti menoleh pada Nia.


"Jadi bener alesannya itu, Bu?"


"Kamu pasti mikir Ibu lebay. Tapi nanti kamu bakal ngerasain kalo udah jadi seorang ibu. Ibu cuma gak mau kamu punya trauma yang lain. Kamu kan udah punya trauma gara-gara si dajjal Nila itu. Kalo misal Zaim ninggalin kamu setelah tau alesan Ibu kan kamu bakal punya trauma yang lain. Iya kan?"


Nia tak menjawab. Ketepatan tebakannya perihal alasan kepindahan Ushi dan kondisi terbaru Al Hakam benar-benar membuat pikirannya semakin kocar-kacir.


"Sebenernya saya sama Nia udah prediksi alesan Ibu, dan kami gak ada masalah. Tapi bakal jadi masalah kalo Ibu ikut-ikutan gak ngasih restu. Hubungan kami jadi sia-sia." Zaim meletakkan cangkir tehnya. "Jadi kaya yang saya bilang sebelumnya, saya siap putusin Nia. Sekarang juga."


"Shi, keputusan ada di kamu. Tapi tolong pertimbangin obrolan kita di Droseros sebelum kamu ambil keputusan."


Ushi menghela napas. "Rumah yang saya beli di Droseros bakal langsung ditempatin setelah kelar renov."


Zaim mengangguk-angguk, lalu perlahan beranjak. "Kalo gitu, mulai malem ini, saya sama Nia udah gak ada hu–"


"Tapi yang nempatin kan bisa kamu sama Nia," sela Ushi sembari ikut beranjak. "Maksudnya nanti kalo kalian udah nikah. Anggep aja hadiah pernikahan dari saya." Ushi berlalu menuju dapur. "Sekarang makan malem dulu bisa kan?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Nia hanya ikut tertawa menanggapi Vina.


"Oya hampir lupa. Jadi gimana kekasih tak sampainya Tante? Ganteng gak?"


"Lumayan," jawab Nia akhirnya.


"Berarti ganteng." Vina kembali tertawa. "Terus-terus? Lu suka gak sama Om Edo?"


"Suka-suka aja sih. Orangnya baik, dan baiknya tulus. Eh, Vin, udah dulu ya. Kayanya servis acnya udah kelar deh. Soalnya Om Edo lagi jalan ke sini nih." Nia memasang sabuk pengaman.


"Emang mau pada ke mana?"


"Mau makan soto, terus anter Om Edo ke bandara. Eh, jenguk kakeknya Zaim dulu."


"What? Jenguk siapa? Pak Hakam? Omg-omg. Emang harus banget dijenguk ya? Gak harus kan? Mending gak usah ngikut jenguk deh, Nya."


"Maunya sih gitu. Soalnya gue juga belom siap ketemu kakeknya Zaim. Tapi kalo gue gak ikut kan cuma bikin viral."

__ADS_1


"Oke-oke tapi inget ya, Nya, jangan sampe bocor. Cuma kita yang boleh tau. Oke?"


Nia diam, cukup lama.


"Nya? Lu gak berencana buat ngaku sama Pak Hakam kalo lu yang masang Pongpong* di mobilnya Zaim yang lagi Beliau pake kan? Gak kan? Gak plis?" imbuh Vina.


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


Nia masih setia mengunci mulutnya.


Vina menghela napas. "Oke kalo emang bener lu mau ngaku sama Pak Hakam. Tapi ngakunya harus sama gue. Karna bukan cuma lu aja yang bikin Beliau kecelakaan tapi gue juga. Jadi gue juga harus ngaku dong iya dong? Jadi nanti pas lu sampe rumah sakit, lu harus langsung telfon gue. Oke?"


"Makasih ya, Vin."


"Hah apaan? Eh? Tunggu-tunggu. Lu nangis, Nya? Duh jangan …"


Wajar. Memang siapa yang tidak akan menangis memiliki sahabat seperti Vina? Itu bukan tangis haru semata melainkan juga tangis terima kasih. Terima kasih untuk Vina yang sampai detik ini masih bersedia menampung duka yang dibagi Nia. Singkat cerita panggilan telepon antara Nia dan Vina yang sudah berlangsung selama tiga jam itu berakhir. Sementara Vina menyudahi belanja oleh-olehnya dan berlari ke pinggir pantai menanti telepon dari Nia, Nia tengah menghitung langkah memasuki kamar rawat Al Hakam.


KLEK


"Ya ampun," ujar Ushi seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ternyata kondisinya lebih parah dari yang disampein tim dokter."


Ya, benar sekali apa yang baru saja dikatakan Edo. Ternyata dalam wawancaranya tempo hari, tim dokter hanya membeberkan sedikit sekali informasi tentang kondisi Hakam. Sebab Hakam tidak hanya mengalami keretakan tulang tengkorak, tetapi juga luka bakar yang hampir mencapai delapan puluh persen. Tak hanya itu. Sekujur tubuh Hakam juga dipasangi beragam alat bantu. Lalu yang paling membuat prihatin, detak jantung Hakam yang terpampang di monitor, bergerak lebih lambat dari bayi siput!


"Shi?"


"Aku gak bisa liat Beliau lebih lama lagi, Do." Ushi berjalan setengah berlari meninggalkan kamar rawat Hakam.


Edo menoleh pada Nia. "Kamu masih mau di sini?"


Nia tak segera menjawab, namun akhirnya mengangguk ragu menanggapi Edo.


"Yaudah kalo gitu Om tunggu di luar sama Ibu kamu ya." Edo berlalu.


KLEK


Jantung Nia berdetak semakin cepat, bersamaan dengan jaraknya dengan ranjang Hakam yang semakin terkikis. Nia gemetar, tenggorokannya mendadak kering, dan keringat dingin seakan berlomba membasahi pakaiannya. Inikah yang dirasakan para tersangka saat melihat korbannya yang tengah sekarat? Rasa hancur? Rasa ingin bertukar posisi? Rasa ingin memutar waktu? Nia semakin terombang-ambing dipermainkan pikiran buruk, hingga lupa untuk menelepon sang sahabat.


"P-pak Hakam, s-saya, itu, s-sebenernya saya y-yang u-udah ma-"

__ADS_1


KLEK


__ADS_2