HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SAMPAH TERIAK SAMPAH


__ADS_3

Suasana riuh di salah satu restoran yang mengusung konsep AYCE atau makan sepuasnya itu semakin riuh, ketika sosok Zaim dan Nia melewati pintu masuk restoran tersebut. Para pengunjung yang semula hanya fokus pada hidangan di atas kompor portabelnya masing-masing, kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada pasangan viral yang tengah berjalan menuju meja enam belas itu.


"Ternyata restoran yang dimaksud mereka di komenan instagr*m tuh di sini." Seorang pengunjung memulai bisik-bisik.


"Zaim Alfarezi cakep banget ya aslinya. Ternyata ceweknya juga aslinya cakep."


"Kebanting gitu gak sih? Kaya si ceweknya ini masih kecil gitu."


"Kan masih SMA. Bentar lagi juga gede."


"Eh, liat tuh orang-orang pada motoin mereka. Gue juga ah."


"Fix nih restoran bentar lagi otw waiting list …"


Enam orang pengunjung di meja enam tak henti saling berbisik membicarakan keuwuwan Zaim dan Nia. Terlebih keuwuwan itu semakin uwuw seiring bertambahnya waktu, meski yang mempertontonkannya dengan jelas hanya Zaim seorang. Terlihat Nia terus mengoceh dan menyumpit daging panggangnya yang mengepul, sementara Zaim, lebih banyak mendengarkan sambil menujukan tatapan cinta.


"Liat gak tadi? Ih so sweet banget." Seorang pengunjung di meja nomor dua puluh tak kalah seru berbisik. "Zaim Alfarezi niupin siomay terus disuapin dong ke ceweknya dong."


"Sumpahlah tuh cewek mimpi apa ya sampe bisa dapetin Zaim Alfarezi? Secara selama ini berita yang nyangkut Zaim Alfarezi kan cuma bisnis-bisnisnya yang suskes."


"Gue juga penasaran. Eh, ya ampun ya ampun. Liat gak? Barusan Zaim Alfarezi ngedipin matanya. Anjir-anjir kenapa gue yang salting sih ..."


Dan tidak hanya pengunjung di meja nomor dua puluh serta enam saja yang salah tingkah menontoni Zaim dan Nia, melainkan semua pengunjung, bahkan juga para pramusaji restoran. Setelah puas mengisi perut, Zaim dan Nia terlihat memasuki toko pakaian wanita. Zaim tampak mengekori Nia yang tengah melihat-lihat pakaian di etalase, mengekori dengan tanpa ekspresi menahan mual seperti para pria kebanyakan.


" … Suaranya Zaim Alfarezi seksi banget anjir. Denger gak lu? Gini-gini gue praktekin." Karyawan toko pakaian itu berdeham, "Bromo dingin loh. Ambil jaket yang banyak. Omg-omg so sweet."


"Harusnya pacarnya Zaim Alfarezi jawab gini, obat dingin aku tuh kamu bukan jaket, Sayang."


"Duh, fix ini para jomblo kena mental ngeliat Zaim Alfarezi pacaran."


"Ngomong-ngomong ceweknya Zaim Alfarezi oke juga ya. Mereka kaya mirip gitu gak sih kalo diliat sekilas?"


"Hilih. Dulu zaman gue pacaran juga orang-orang sering bilang gue mirip sama cowok gue. Tapi putus-putus juga tuh."

__ADS_1


"Kira-kira kalo Zaim Alfarezi sama ceweknya bakalan putus juga gak ya?"


"Kayanya sih gak. Kalo gue liat dua-duanya bucin tu–, eh, yah, gak jadi belanja ya? Mau ke mana tuh mereka?"


Ke toko pakaian wanita yang lain. Sebab demi apapun Nia tak sanggup lagi melihat jaket-jaket di toko pakaian sebelumnya yang dibanderol dengan harga gila. Dua juta rupiah untuk satu buah jaket berbulu berwarna ungu? Sekali pun saat ini Nia diganjar dengan dompet yang tebal, dirinya tak akan sudi mendatangi kasir! Namun di toko pakaian wanita yang lain, satu buah jaket berbulu dibanderol dengan harga yang lebih gila.


"Kenapa? Gak suka modelnya? Atau apa? Hm?" Zaim mendudukkan Nia dengan lembut di sofa.


"Kemahalan. Harga segitu tuh gak worth it cuma buat jaket bulu."


"Mending beli barang dengan harga murah sepuluh kali, atau sekalian beli barang mahal sekali tapi bisa dipake buat jangka panjang?"


Nia mendecak menanggapi Zaim, "Dasar otak bisnis."


Zaim terbahak. "Prove my word*. Ambil satu aja. Aku yakin jaket itu bakal awet."


*Buktikan ucapanku.


"Tapi masa harganya empat juta? Beli di toko yang pertama aja kalo gitu."


Nia diam, bibir tipisnya yang disapu lipstik ombre itu semakin maju.


"Sayang, denger ini baik-baik dan pake buat ke depannya," imbuh Zaim sambil mengusap sebelah pipi Nia. "Aku tajir melintir. Serius."


...•▪•▪•▪•▪•...


Pandangan Safi tak sedetik pun lepas dari gerbang SMAN Lentera Dunia. Ya, Lentera Dunia, tempat di mana sang cucu, Ikbal Navarro, bersekolah. Namun Safi tidak datang untuk Ikbal, melainkan untuk Nia, cucunya yang lain yang baru diketahuinya pagi tadi. Safi yang sedang dalam misi mengambil hati Zaim Alfarezi memutuskan untuk tinggal sementara di Jakarta. Mau tak mau Safi harus meninggalkan kegiatan padatnya sejenak, dan menikmati status penganggurannya.


Tak ada kegiatan yang bisa Safi lakukan selain menunggu telepon dari Zaim, atau bergelut dengan remote televisi. Tiga hari ditemani televisi, Safi baru menyadari jika Nia adalah cucu haramnya. Hampir semua program memberitakan Nia, Cinderella yang diprediksi akan memulai debutnya menjadi selebgram bercentang biru. Butuh waktu lama untuk Safi mengiyakan jika rupa gadis tujuh belas tahun itu sama persis dengan rupa sang putri bungsu saat masih duduk di bangku SMA.


Bel pulang SMAN Lentera Dunia pun berdering, dan perlahan, siswa-siswi berseragam putih abu-abu itu menampakkan dirinya dari balik gerbang raksasa, termasuk Nia. Melihat sosok Nia dengan mata kepalanya sendiri membuat Safi semakin yakin jika Nia adalah anak haram Ushi dan Burhan. Keyakinan Safi pun kian diperkuat dengan informasi yang berhasil diperoleh oleh sang tangan kanan, Wafiq Ma'ruf. Ternyata Burhan dan istrinya, Nila, tidak pernah memiliki anak!


" … Ahmad Burhanudin berkahwin dengan seorang anak perempuan. Manakala Nila Anggraeni pula berkahwin sebagai perempuan*," terang Wafiq pada Safi.

__ADS_1


*Ahmad Burhanudin nikah dengan bawa satu anak perempuan. Sementara Nila Anggraeni nikah dengan status gadis.


"Sepatutnya semasa teman wanita Zaim Alfarezi mula-mula muncul di media, saya mendengar awak untuk melihat wajahnya sekurang-kurangnya sekali." Safi menghela napas. "Masih ada lagi yang menipu saya selain doktor itu. Saya percaya."


*Harusnya waktu pacarnya Zaim Alfarezi muncul pertama kali ke media, saya dengerin kamu buat liat mukanya seenggaknya sekali. Masih ada yang lain yang ngebohongin saya selain dokter itu. Saya yakin.


"Saya akan segera mencari orang itu, Tuan."


"Buka mulut dulu. Selepas itu segera dibersihkan*."


*Buat buka mulut dulu. Abis itu langsung beresin.


Wafiq hanya mengangguk mengiyakan perintah dari Safi, namun entah kenapa tak segera beranjak dan bergegas.


"Masih ada sesuatu yang awak ingin katakan*?" tambah Safi.


*Masih ada yang mau kamu omongin.


Wafiq tak segera merespon, sibuk berpikir keras. "Boleh saya tahu rancangan Tuan seterusnya*?"


*Boleh saya tau rencana Tuan selanjutnya.


Safi tersenyum. "Tukar sisi*."


*Pindah kubu.


"Dengan Al Hakam?"


Safi kembali tersenyum. "Dengan siapa lagi? Saya rasa bersisi kepada Al Hakam lebih menguntungkan*."


*Dengan siapa lagi? Saya rasa berkubu dengan Al Hakam lebih menguntungkan.


Wafiq yang langsung paham dengan rencana majikannya itu akhirnya keluar dari mobil. Jika ada di posisi yang sama dengan Safi, Wafiq pun akan memilih untuk berpindah kubu. Meski menerima uluran tangan Zaim Alfarezi adalah keuntungan besar, berkubu pada Al Hakam juga tak kalah menguntungkan. Al Hakam yang membenci sejak lama Safi pasti akan semakin membenci Safi saat tahu sang calon menantu memiliki hubungan darah dengan Safi.

__ADS_1


Ketika rasa benci Al Hakam sudah mencapai batas, barulah Safi muncul, menawarkan kerja sama. Safi akan membeberkan ketidaktahuannya tentang cucu Al Hakam yang saat itu ikut menjadi korban keserakahannya. Atau jika perlu, menyerahkan Umar Zakawat dan membuatnya membuka mulut perihal apa yang terjadi di detik-detik sebelum pesawat yang dipiloti cucu Al Hakam itu jatuh ke laut. Tetapi sebagai gantinya, Al Hakam harus menyingkirkan Nia.


"Keturunannya si sampah Burhan itu gak boleh ada di dunia ini," ujar Safi dalam hati, sembari meminta sopirnya untuk tancap gas.


__ADS_2