
" … Salam buat Pak Denar, ya Bu. Kalo gitu kita pamit."
"Makasih ya, Bu. Makasih banyak." timpal Nia pada Vina.
Marina tak menanggapi Nia pun Vina meski hanya dengan anggukan malas atau senyum basa-basi, dan malah menutup pintu apartemen Denar dengan kasar.
BRAK
"Jangan di sini nangisnya, Nya. Di lift aja ayok," bisik Vina sembari menggandeng Nia dengan langkah setengah berlari. "Tahan, Nya, tahan."
Namun ketika Nia dan Vina hendak masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, keduanya bertemu dengan Denar. Terlihat Denar seperti sedang terburu-buru, napasnya tak beraturan, peluhnya pun bercucuran di mana-mana. Lalu tanpa diminta oleh Nia dan Vina, Denar tiba-tiba menjelaskan alasannya tidak bisa membalas pesan pun menjawab panggilan Nia. Ponsel Denar tertinggal di apartemen saat dirinya mengurus mobilnya yang bermasalah dengan pihak asuransi di parkiran apartemen.
" … Sodara saya yang ngabarin saya kalo kamu nelfon, Dek. Oh iya, kamu belom punya nomer hp saya yang satunya ya?"
Nia mengusap air matanya cepat. "Kakak bukannya yatim piatu?"
"Oh. Iya. Maksudnya junior yang udah Kakak anggep kaya sodara Kakak. Dia nginep sementara di apartemen Kakak. Banyak kok junior Kakak yang lain yang sering nginep juga." Denar menoleh pada Vina. "Tapi masa kalian udah mau pulang?"
"Oh, iya, Pak. Soalnya kalo pulangnya nanti-nanti takut keretanya penuh." Vina tersenyum paksa.
"Kalo gitu mau makan siang dulu gak? Saya pesenin sop iga yang kemaren ya? Mau ya, Dek?"
Nia menggeleng. "Besok-besok aja, Kak. Kita udah makan kok sebelom jalan ke sini."
"Kalo gitu Kakak anterin pulang ya?"
"Gak usah, Pak, gak usah. Naik kereta lebih cepet serius," sahut Vina.
"Yaudah saya anter sampe stasiun aja kalo gitu. Ya, Dek? Tolong jangan ditolak la–"
Ucapan selanjutnya Denar seketika terjeda, saat Nia tiba-tiba menatapnya dengan air mata yang bercucuran. Hati Denar terasa seperti dihunjam puluhan belati, sebab air mata Nia yang mengingatkannya pada masa lalu mereka yang terlampau kejam. Tak peduli meski air mata itu jatuh di pipi Nia dewasa, di mata Denar, Nia tetaplah gadis kecil berkuncir kuda yang menyukai susu cokelat. Denar mematung, kalah telak dengan air mata Nia yang membuat hunjaman di hati Denar semakin dalam.
"Kenapa Kakak sampe rela ngelakuin itu buat aku yang bahkan bukan siapa-siapanya Kakak?"
Denar menyentuh lembut kedua pundak Nia. "Dek, denger. Ka–"
__ADS_1
Nia menepis sentuhan Denar. "Kenapa Kakak sampe jual diri cuma buat aku yang bukan siapa-siapanya Kakak? Kenapa Kakak ngorbanin masa depan Kakak buat aku yang bukan si–"
"Dek, kamu orang yang berharga buat Kakak," potong Denar. "Kamu segalanya buat Kakak. Jangankan diri Kakak. Kakak bahkan rela ngasih yang lebih dari itu."
"Terus gimana cara aku bayar semua yang udah Kakak kasih buat aku?"
Denar tersenyum. "Cukup dengan kamu bahagia, Dek."
"Aku doang yang bahagia? Terus Kakak? Kakak sengsara sama cewek itu? Cewek yang sama sekali gak Kakak suka gitu?"
Denar tersenyum lagi. "Gak apa-apa. Waktu bisa ngubah apapun termasuk manusia."
Nia tak merespon, hanya membuang wajahnya sambil berharap lift itu bisa segera sampai di lantai tujuannya.
"Kakak serius. Yang penting kamu bahagia, Dek."
"Kakak salah kalo Kakak mikir aku bakal bahagia setelah tau semuanya," jawab Nia akhirnya. "Karna ini bukan utang budi atau utang nyawa. Tapi utang masa depan."
TING
...•▪•▪•▪•▪•...
Nia tampak murung. Bukan karena teringat pertengkarannya dengan Denar empat hari silam melainkan karena mimpi masa kecilnya yang tak henti datang meneror hampir setiap malam. Mimpi itu terasa terlampau nyata. Nia benar-benar seperti merasakan rasa sakit saat dijambak, dipukul dengan centong nasi, pun ditendang dengan sepatu hak Nila. Lalu yang paling terasa nyata adalah, rasa nasi basi yang lengket dan beraroma tak sedap yang melewati kerongkongan Nia selama bertahun-tahun.
"Nya, nih."
Spontan Nia menoleh pada Vina yang sudah kembali dari mengantri es potong.
"Kok bukan rasa coklat?"
"Emang bukan. Sekali-kali cobain rasa yang lain juga dong, Nya. Buang jauh-jauh rasa coklat kalo cuma bikin mood lu acakadut," imbuh Vina.
Nia hanya menerima sepotong es rasa vanila dengan topping nata de coco dari Vina. Nia meresapi apa yang baru saja dikatakan sahabat sehati sesanubarinya itu. Ya, ada benarnya. Sudah sewajarnya meninggalkan apapun itu yang hanya membuat suasana hati semakin memburuk. Nia merasa sedikit terhibur, dan mencicipi es dengan ciri khas tusuk sate tersebut. Di tengah perjalanan pulang, sebuah sepeda motor mewah tiba-tiba mengadang Nia dan Vina. Lagi-lagi Zaim, ojol super ganteng yang limited edition!
"Aku pikir aplikasi ojol aku error, ternyata pelanggan aku emang gak mesen aku," ujar Zaim sambil membuka kaca helmnya.
__ADS_1
Vina refleks berjingkrak-jingkrak. "Ih omg-omg itu gombalnya bahaya banget buat jantung cewek-cewek omg."
"Tuh kan bener. Kalo ada cewek yang heboh kaya cacing kepanasan pasti dia. Gak punya malu dih najis." Ikbal memarkirkan motornya di samping Vina. "Oit, Kak Zaim."
"Bal." Zaim membalas ajakan Ikbal untuk high five*. "Nia kenapa akhir-akhir ini diem banget sih?"
*Merayakan sesuatu di mana kedua orang mengangkat tangan mereka lalu membenturkannya. Singkatnya, high five adalah melakukan tos.
"Tau tuh. Kesurupan kunti rambutan depan rumah kali, Kak." Ikbal menunjuk Vina. "Tapi harusnya kan yang kesurupan dia. Demit kan suka kumpul sama yang sejenis."
"Ya ya ya. Ledekin aja daku sesuka dirimu Pithecanthropus Erectus. Es potong daku jauh lebih penting daripada dirimu sorry."
Zaim tertawa, pun Nia meski tak segeli biasanya.
"Ke Puncak yuk? Bakar ubi sama jagung?"
"Gaslah, Kak." Ikbal menyalakan mesin motornya dengan bersemangat. "Ikut gak lu?"
"Ikutlah. Mana ada cewek yang bakal nolak kalo yang ngajak seorang Zaim Alfarezi."
Zaim kembali tertawa. "Yuk." Zaim mengulurkan tangannya pada Nia.
Nia hanya mengangguk sambil menyambut uluran tangan Zaim. Di sepanjang perjalanan Nia hanya diam dan hanya menemplok seperti ransel. Entah kenapa Nia terus teringat akan mimpinya meski itu mimpi yang berpotensi mengusik traumanya yang tertidur. Nia pun bernostalgia sambil menikmati hawa sejuk kebun teh. Nia ingat kala itu dirinya menyembunyikan centong nasi dengan harapan Nila tidak akan memukulnya. Namun alih-alih berjalan sesuai harapan, Nila malah berganti memukul Nia dengan raket nyamuk.
Denar yang mengetahui luka asing di tubuh Nia langsung pergi ke apotek dan membeli salep. Denar membalurkan salep itu di tubuh Nia yang sangat kurus. Lalu Nia juga ingat saat Denar menyuapi Nia nasi warteg tanpa memedulikan perutnya yang terus berbunyi. Dan yang tidak bisa Nia lupakan, ketika Denar menjemput Nia dari kediaman Ferdi, si duda kesepian, dengan taksi. Tetapi pada akhirnya Nia serta Denar harus turun di tengah jalan karena uang Denar yang tidak cukup untuk membayar ongkos taksi tersebut.
HIKS HIKS HIKS
"Sayang, are you okay?" tanya Zaim pada Nia sambil membuka kaca helmnya.
HIKS HIKS HIKS
Karena tak ada jawaban dari Nia, Zaim pun menepikan sepeda motornya di salah satu SPBU, diikuti Ikbal. Namun tak peduli sekeras apapun Zaim mencoba untuk menenangkan Nia, tangis Nia malah semakin menjadi. Vina pun langsung melompat dari sepeda motor Ikbal dan berlari memeluk Nia. Zaim shock karena itu kali pertamanya melihat Nia menangis begitu histeris. Terlihat dari raut wajah Ikbal yang tak kalah shock, Ikbal jelas tidak tahu-menahu. Berbeda dengan Vina yang malah tampak tenang.
"Vin, kamu pasti tau kan? Cepet kasih tau saya, Nia ada masalah apa?"
__ADS_1
Vina hanya mengangguk menanggapi Zaim, tanpa menghentikan usapan lembutnya dari punggung Nia.