HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
POLA PIKIR SINETRON


__ADS_3

" … Kayanya kecelakaan pesawat yang heboh banget waktu itu tuh dalangnya si Safi deh, Za. Maksud aku pesawat yang dipilotin almarhum Kakak kamu."


"Misal bener gitu gimana? Kamu gak apa-apa?"


Nia beranjak lagi. "Loh kok malah nanya gitu ke aku sih? Harusnya kamu tuh nanya gitu ke diri kamu sendiri."


"Kayanya aku emang terlalu over thinking."


"Hah? Apaan sih. Orang nanya apa jawabnya apa."


Zaim kembali mengulurkan tangannya pada Nia, memintanya kembali ke pelukannya. "Sini dulu baru aku jawab."


Nia menggerutu, meski begitu tetap meraih uluran tangan Zaim dan kembali memeluk tubuh sekeras batu itu.


"Kita jalanin aja. Terlepas dari bener atau sebaliknya."


"Tapi kamu gak apa-apa? Maksud aku, pola pikir kamu gak pola pikir sinetron kan?"


Spontan Zaim tertawa. "Emang pola pikir sinetron kaya gimana?"


"Ya misal bapaknya A maling, tapi si Anya ikutan dikira maling juga padahal mah anaknya lurus-lurus aja. Sama kaya kasus kita. Yang bikin pesawat almarhum Kakak kamu kecelakaan kan si Safi, tapi akunya jadi ikutan dikatain keji. Itu kan pola pikir sinetron …"


Zaim masih tertawa, meski tidak segeli sebelumnya. Ini salah. Bagaimana tidak? Ini pembicaraan yang seharusnya didiskusikan dengan mengerahkan semua konsentrasi dan keseriusan. Sebab sedikit saja salah menafsirkan maksud satu sama lain, hubungan yang baru seumur jagung itu jelas akan berada di ujung tanduk! Tetapi jauh di luar dugaan, Nia malah membuat diskusi itu terasa ringan namun tetap menggiring lawan bicaranya untuk bersama-sama berpikir dalam.


" … Paham gak?" Nia mendongak menatap Zaim. "Pola pikir kamu diem-diem gak kaya gitu kan?"


Zaim terbahak lagi, tak tahan melihat mimik wajah Nia yang khawatir sekaligus menyindir. "Gak dong, Sayang. Tenang aja. Kalo pola pikir aku kaya gitu, aku pasti udah mutusin kamu dari kapan tau."


"Iya juga sih. Tapi tunggu deh. Kamu gak mungkin gak tau kan? Maksud aku, kamu pasti juga nyari tau kan penyebab kecelakaan almarhum Kakak kamu? Terus gimana? Sama gak sama dugaan aku? Bener si Safi kan dalangnya?"


"Itu udah berlalu, Sayang. Kita bahas soal yang baru aja ya."


"Soal Ibu yang tiba-tiba pengen pindah ke Droseros, bukan?"


Zaim menggangguk. "Menurut kamu alesannya karna apa? Mungkin gak karna Ibu kamu nyari tau juga penyebab kecelakaan pesawat itu?"


"Mmm, kayanya gak deh. Ibu emang suka baca, tapi cuma suka majalah-majalah fashion." Nia diam sesaat. "Tapi gawat sih misal Ibu nyari tau juga soal penyebab kecelakaan pesawat itu."

__ADS_1


"Kok bisa gawat?"


"Ya gimana gak gawat. Soalnya pola pikir ibu tuh sinetron. Sinetron banget malah," balas Nia.


Tawa Zaim kembali pecah, pecah lebih geli dibanding tawa-tawanya sekian detik yang lalu. Sungguh, penyesalan Zaim terasa semakin dalam. Zaim benar-benar tidak seharusnya over thinking pada kekasihnya yang memiliki pola pikir unik! Sepertinya tidak hanya rupa Nia saja yang lebih condong pada alamarhum sang ayah, melainkan juga sifatnya. Sebab jika sifat Nia lebih condong pada Ushi, saat ini Nia pasti sudah ikut bersandiwara sambil mengemasi barang-barangnya.


Zaim mengusap air mata gelinya. "Yaudah, Sayang. Kita jalanin aja kaya yang aku bilang ya."


"Iyalah. Mau gimana lagi."


"Tapi kayanya ujian hubungan kita ke depan bakal makin berat deh. Tapi tetep, aku bakal nagih janji kamu buat nikah sama aku kalo umur kamu udah pas dua puluh."


Nia kembali mendongak menatap Zaim, lalu menggeleng. "Aku gak mau nikah kalo cuma kita yang bahagia. Impian pernikahan aku tuh …"


Membuat keluarga dari kedua belah pihak pun para tamu undangan ikut berbahagia. Benar, itulah impian pernikahan Nia. Jika pun ada yang tidak berbahagia atas pernikahan Nia, dirinya berharap jumlah dari mereka-mereka yang berbahagia masih jauh lebih banyak. Di hari pernikahannya nanti Nia ingin mengundang teman seangkatan dan semua guru di sekolahnya yang lama, Lentera Dunia. Nia juga ingin mengundang Kinan, si ta* berjalan. Dan juga, Nila.


"Serius? Emang kamu udah maafin dia?"


"Aku masih berusaha," balas Nia.


Zaim menghela napas. "Kamu gak perlu maafin dia kalo endingnya malah bikin kamu makin trauma, Sayang."


"Dia pernah baik?"


Nia mengangguk-angguk. "Aku gak tau kenapa dia tiba-tiba berubah jadi sejahat itu sama aku. Tapi sebelumnya dia tuh sosok ibu yang gak kalah baik dari Ibu. Dia sayang banget sama aku. Aku bisa rasain." Nia mendongak lagi. "Dia gak sepenuhnya norehin kenangan kejam kok."


Zaim diam, hanya membalas tatapan Nia.


"Tapi, aku masih butuh banyak waktu buat bisa bener-bener maafin dia," imbuh Nia.


...•▪•▪•▪•▪•...


Suara ombak yang terlewat bersemangat, terdengar jelas melalui jendela kamar tidur yang sengaja dibuka lebar. Nila tampak menikmati suasana sore itu, pun segelas teh melatinya. Sambil terus mengisi cangkir tehnya yang kosong, Nila tak henti memandang bingkai foto berukuran sedang yang diletakkannya di meja di depannya.


Itu adalah foto kelulusan Nia saat SMP. Terlihat Nia berfoto bersama Vina dan Ikbal. Dalam foto itu Nia tampak tertawa lebar sembari memeluk erat buket bunga dan buket susu cokelat kesukaannya. Tawa Nia terasa seperti sihir. Ya, sebab hanya dengan melihat foto itu sekilas saja, sunggingan senyum tiba-tiba saja bertengger tanpa permisi.


Nila mendapat foto itu dari Zaim yang beberapa pekan lalu mengunjunginya ke Taiwan. Pertemuan pertama yang sangat canggung. Meski begitu Nila seolah sudah tahu siapa Zaim. Namun satu yang Nila tidak tahu, kenapa tiba-tiba Zaim memberinya kado? Dan kenapa pula kado itu harus repot-repot diantarkan Zaim secara langsung?

__ADS_1


*FLASHBACK ON*


" … Pacarnya Nia ya?"


Zaim hanya mengangguk menanggapi Nila.


"Mirip Denar ya," tambah Nila. "Saya pikir akhirnya Nia sama Denar. Soalnya mereka udah deket banget dari kecil."


"Hubungan mereka berdua gak kaya gitu. Dan maaf, saya lebih unggul dari Denar dari segala sisi."


Nila refleks tertawa. Tetapi sungguh, hanya Nila seorang. Karena sang suami, Monaco, antek-anteknya, Monica beserta Bastian, masih setia memasang mimik wajah tegang. Sementara Zaim sendiri? Entahlah. Benar-benar sulit untuk menggambarkan mimik wajah Zaim. Entah tegang, takut, atau malah sebaliknya, sangat menikmati.


"Saya dateng ke sini buat nangkep kecoak sama ngasih ini ke Anda."


Nila menerima tas berisi kado dari Zaim. "Buat saya?"


Zaim kembali mengangguk. "Anggep aja dari Nia."


"Dari siapa?"


"Nia." Zaim beranjak. "Ya walopun yang bungkus kadonya sekertaris saya sih. Tapi Nia pernah bilang dia pengen semua keluarganya liat foto kelulusannya." Zaim meninggalkan ruang tamu kediaman Monaco. "Anda kan keluarganya Nia juga. Jadi anggep aja itu dari Nia."


*FLASHBACK OFF*


"Kok belom siap-siap? Mau sampe kapan kamu mandangin foto anak itu?"


Spontan Nila menoleh ke asal suara. "Ini baru mau siap-siap. Monic mana?"


"Di bawah sama temennya."


Nila beranjak. "Temennya yang mau nginep itu ya?"


"Iya. Yaudah cepet siap-siap. Ntar telat lagi kontrolnya kaya kemaren."


"Iya-iya." Nila berlalu memasuki walk in closet*. "Tunggu ya."


*Ruangan untuk menyimpan pakaian, sepatu, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan lainnya. Ruangan ini juga bisa menjadi tempat untuk berpakaian dan merias wajah.

__ADS_1


KLEK


"Nyulik anak begini aja pada gak becus. Padahal tinggal dibius terus dimasukin pesawat," gumam Monaco sambil memandangi foto kelulusan Nia.


__ADS_2