
Setelah menginjak gas dengan antusias, akhirnya mobil mewah Ushi melewati portal sebuah apartemen yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Ushi pun bergegas memarkirkan mobilnya dan mencari nomor apartemen seribu dua puluh satu. Tak ada keraguan sedikit pun pada langkah Ushi, sehingga tak peduli meski waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam, dirinya tetap menekan bel.
KLEK
"Maaf saya ganggu malem-malem gini. Soalnya darurat."
Pemilik nomor apartemen seribu dua puluh satu itu, Denar Djajadi, tak menjawab, hanya membuka lebar pintu apartemennya. Denar pun duduk di depan Ushi, setelah Ushi melarangnya menjamu. Entah perkara darurat apa yang dibawa Ushi, namun firasat Denar buruk. Dan benar saja. Ternyata perkara darurat itu sejuta kali lipat lebih darurat daripada gaun pernikahan Marina yang kekecilan!
"Jadi ternyata hubungan Nia dan Pak Zaim gak direstuin sama Pak Hakam?"
Ushi mengangguk menanggapi Denar. "Saya juga baru tau kemaren. Waktu Pak Hakam tiba-tiba dateng ke tempat kerja saya."
"Kalo saya boleh tau lebih detil, alesan Pak Hakam apa ya, Bu?"
"Saya gak bisa kasih tau. Kecuali kamu mau join rencana saya."
"Rencana? Renana apa, Bu Ushi?"
"Batalin pernikahan kamu. Terus kamu aja yang sama Nia. Saya lebih setuju kamu yang sama Nia."
Bukan main. Sungguh, jantung Denar seperti baru saja dikejut oleh Defibrillator*. Hari di mana Denar akan berfoto memamerkan cincin pernikahan serta buku nikah sudah di depan mata. Tetapi apa-apaan? Calon mempelai wanitanya diganti? Diganti dengan Nia? Seorang gadis yang sudah dianggap seperti saudari sedarahnya sendiri? Gila! Sekali pun ini hanya mimpi, ini benar-benar terlewat gila!
*Perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal (aritmia). Alat ini juga umum digunakan pada pengidap henti jantung atau ventrikel agar detak jantung kembali ke ritme normal.
"Gimana? Kamu setuju? Kalo iya kamu setuju, saya bakal langsung kasih tau kamu alesan Pak Hakam gak ngerestuin hubungan Nia sama Zaim."
"Gini, Bu Ushi. Bukannya saya gak setuju. Tapi masalahnya saya juga lagi ada di kondisi yang sulit," jawab Denar akhirnya.
"Sulit maksudnya? Sulit keuangan?"
"Bukan, Bu. Bukan itu. Saya juga gak bisa ngasih tau. Soalnya ini menyangkut aib saya. Ta–"
"Oke berarti jawaban kamu gak," sela Ushi seraya beranjak.
Denar ikut beranjak. "Tolong tunggu sebentar, Bu. Masih ada yang mau saya sampein."
"Buat apa? Kan kamu gak setuju."
"Tapi, Bu. Ini penting buat Nia da–"
"Yang penting buat Nia tuh cuma satu. Jangan sampe Nia punya trauma yang lain," sela Ushi lagi. "Dengan kamu gak setuju, berarti secara langsung kamu udah jadi salah satu orang yang bakal bikin Nia punya trauma yang lain."
DEG
BRAK
__ADS_1
Denar tercenung, perkataan Ushi seketika membuat Denar dikungkung dilema. Apakah Denar harus benar-benar menghancurkan pernikahannya dan bergabung dalam rencana Ushi? Atau sebaliknya, memberitahu Zaim dan Nia perihal Al Hakam yang diam-diam tidak memberikan restu pada hubungan mereka? Denar tercenung cukup lama, hingga akhirnya mantap mengejar Ushi.
"Bu Ushi."
Ushi tak menjawab, hanya terpaksa menghentikan langkahnya yang terburu karena Denar yang tiba-tiba mengadangnya.
"Pak Zaim dan Nia itu saling cinta, Bu," imbuh Denar.
"Mereka gak akan saling cinta lagi kalo tau Pak Hakam gak ngerestuin hubungan mereka."
"Saya yakin mereka bakal tetep lanjutin hubungannya meskipun kelak mereka tau."
Ushi melotot. "Saya emang gak kenal Nia karna bukan saya yang ngerawat dia dari bayi. Makanya saya gak yakin keputusan apa yang bakal Nia ambil kalo kelak dia tau Pak Hakam gak ngerestuin hubungannya sama Zaim."
Denar menggeleng-geleng. "Bukan itu maksud saya, Bu Ushi. Saya gak bermaksud ba–"
"Saya bakal ngelakuin apapun buat ngelindungin Nia dari trauma yang lain," potong Ushi. "Kenapa? Karna cuma itu yang bisa saya lakuin sebagai seorang ibu yang dateng terlambat. Minggir."
...•▪•▪•▪•▪•...
KRES
Selotip yang membungkus kardus berukuran sedang itu akhirnya terpotong, dan seketika menampakkan isi di dalamnya. Terlihat samar-samar sebuah ponsel lipat berwarna putih yang dililit bubble wrap dengan warna senada. Bastian pun kembali menggerakkan gunting untuk memotong bubble warp tersebut, dan buru-buru mengaktifkan ponsel yang selama berbulan-bulan hanya membuatnya tidur selama empat puluh menit!
Benar, ponsel itu berkaitan dengan Yoshi karena itu adalah ponsel milik Zain yang dicurinya. Zain memberikan ponsel itu pada Kasih sebelum Kasih divonis sakit jiwa. Entah atas alasan ingin membantu Kasih untuk sembuh, sekadar penasaran atau cemburu buta, yang pasti Yoshi memiliki niat jahat. Sebab tidak hanya mencuri, Yoshi juga seperti ingin menghilangkan sesuatu dengan cara membongkar ponsel itu, pun menghapus semua file yang tersimpan.
"Kalo udah feeling ini hp ada alat pelacaknya seharusnya jangan dipenjemin adeknya. Emang sampah. Jadi udah pasti bakal kena apes." Bastian masih bergumam. "Untung filenya masih bisa dibalikin sama si bocah hacker itu. Apaan sih emang isinya sa–"
DEG
DEG
DEG
Ucapan Bastian terjeda, oleh degup jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Setelah memeriksa kotak pesan serta riwayat panggilan yang kosong, Bastian langsung mengklik ikon gallery. Dan betapa terkejutnya Bastian saat mengetahui isi gallery itu. Ada sekitar sembilan puluh dua buah video yang berisi interogasi kejam yang dilakukan oleh seorang polisi pada seorang pria misterius bertubuh gempal. Bastian pun memutar video itu satu per satu.
" … Jadi udah berapa lama kamu ngirim foto-foto ini ke istrinya Pak Zain?" Si polisi menunjuk puluhan foto yang berserakan di lantai.
"Empat bulan, Pak."
"Kamu yang ngirim sendiri atau lewat kurir?"
"Saya kirim sendiri," jawab pria gempal yang wajahnya berlumuran darah segar pun darah kering itu.
"Oke." Si polisi beranjak mendekati kamera. "Sekarang ceritain semuanya karna ini introgasi terakhir kamu." Si polisi mengatur kamera ke posisi close up.
__ADS_1
"Saya freelance fotografer yang dibayar Bu Emily buat moto kebersamaan Pak Zain sama Bu Emily. Selain moto, saya juga dibayar buat ngirim foto-foto itu ke istrinya Pak Zain, Bu Kasih."
"Oke. Ceritain juga semua yang Emily omongin. Kamu bilang dia banyak ngomong kan?"
Si pria gempal mengangguk menanggapi si polisi yang berdiri di belakang kamera. "Bu Emily bilang alesannya ngelakuin semua ini karna gak terima Pak Zain dijodohin sama Bu Kasih … Bu Emily udah suka sama Pak Zain dari zaman masih training."
"Bagus. Terus ngomong kalo gak mau saya bolongin kepala kamu."
Si pria gempal mengangguk lagi. "Bu Emily sengaja ngajak Pak Zain makan bareng, pulang kerja bareng, shopping bareng, biar saya bisa lebih gampang dapetin foto-foto yang Bu Emily mau. Bu Emily mau hasil fotonya keliatan kaya pasangan yang lagi selingkuh."
"Lanjut."
"Waktu itu saya lagi sama Bu Emily. Bu Emily dapet telfon dari Bu Kasih. Saya denger Bu Kasih marah-marah. Terus gak lama saya denger suara tabrakan. Bu Kasih kecelakaan. Cuma itu yang saya tau. Karna abis kejadian itu, Bu Emily udah gak memperkerjakan sa-"
Bastian menjeda video terakhir yang diputarnya. "Jangan bilang pas kecelakaan si Kasih lagi hamil anaknya Zain? Anjing si Emily." Bastian merogoh ponselnya, buru-buru membuat panggilan. "Halo, Za."
"Dapet?"
"Iya gua dapet." Bastian beranjak. "Gua ke tempat lu sekarang."
"Langsung ke tempat Kakek aja."
"Lu lagi di sana?"
"Gak."
Bastian diam cukup lama sebelum kembali bercakap. "Oh, oke gua tau. Jadi apaan pesen lu?"
"Bilang sama Kakek kalo gua tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih. Tapi kalo Kakek mau tau, dia harus ngerestuin dulu hubungan gua sama Nia."
"Udah gua duga. Yaudah terserah lu aja deh. Yang penting abis misi ini gua mau rehat du–"
"Jangan sekarang," sela Zaim.
"Gua udah kaya jenglot, Za. Gua ga–"
"Gua transfer dua milyar malem ini," sela Zaim lagi.
Bastian menghela napas. "Apaan emang misinya?"
"Ngawasin Ushi."
"Ushi? Kenapa emang dia?"
"Gua ngerasa perlakuan dia ke gua berubah. Tatapannya ke gua juga kaya dibikin-bikin. Gua harep gua salah."
__ADS_1