
Langkah setengah berlari seorang guru wanita yang mengenakan heels dua belas senti itu akhirnya terhenti, tepat di depan Nia dan Vina yang tengah dalam perjalanan pulang. Indah, guru mata pelajaran ekonomi sekaligus wali kelas Ikbal itu seketika teringat ada yang ingin ditanyakannya pada Nia saat melihat gadis dengan potongan rambut wolf tersebut melintas di seberang kelasnya. Padahal wali kelas Nia, Ibu Sur, bisa langsung menjawab tanya Indah. Tapi bukankah jarang ada istri muda yang akur dengan istri tua?
"Yesenia, ada yang mau saya tanyakan sama kamu," ujar Indah sembari menggiring Nia ke teras musala.
"Apaan, Bu?"
"Kamu tinggal sama Ikbal kan ya? Kira-kira kamu tau gak Ikbal ada urusan keluarga seperti apa sampe izinnya dua minggu?"
"Saya taunya sih dia mau ngerayain ulang taun sama keluarganya yang di Malaysia. Terus Tante Ushi juga mau ketemuan sama calon suami barunya."
Indah mengangguk-angguk menanggapi Nia. "Terus kamu siapanya Ikbal?"
"Bukan siapa-siapanya, Bu. Jadi almarhum Ayah saya sahabatan sama Tante Ushi. Saya dititipin ke Tante Ushi sampe Ibu saya pulang."
"Emang Ibu kamu di mana?" tanya Indah dengan kerut-kerut di dahinya yang kian menebal.
"Kerja di Taiwan."
Indah mengangguk-angguk lagi. "Saya cuma mau mastiin aja sih kalo Ikbal izin bener-bener buat urusan keluarga. Soalnya kan izinnya lama, ngejar ketertinggalan pelajarannya kan lumayan. Oya, saya boleh minta tolong gak sama kamu?"
Nia menggeleng-geleng, diikuti Vina yang sedari tadi anteng karena sibuk mengunyah permen karet demi misi meniruskan pipi.
Indah tertawa. "Aduh, saya serius ini."
"Minta tolong apaan dulu, Bu."
"Rencananya saya mau fotocopy semua catetan mapel kelas X4 mulai hari ini, biar memudahkan Ikbal belajar. Kamu tinggal kasihin Ikbal aja kok. Bisa kan?"
"Kalo cuma gitu sih bisa, Bu. Kirain apaan. Saya mah gak suka Ikbal biarpun cuma numpang di rumahnya."
Indah tertawa lagi. "Makasih ya, Yesenia. Yaudah kalian cepet pulang gih. Jangan mampir-mampir." Indah berlalu.
"Andai wali kelas gue Bu Indah bi–"
"Heh, anak tukang bakso."
Spontan Nia yang harapannya baru saja dihancurkan oleh suara cempreng yang sangat dikenalnya itu pun menoleh, pun Vina yang seketika menghentikan misi mengunyahnya. Benar, pemilik suara cempreng paling mengganggu di SMAN Lentera Dunia memang hanya dia, Ruruh Kinanti, a.k.a si silikon, a.k.a mantan pacar Ikbal. Terlihat Kinan, sapaan akrab gadis berdada terlewat besar itu tengah menghampiri Nia dan Vina bersama dengan gengnya. Kinan and the geng terkenal sebagai pengganggu, jadi sudah jelas apa maksud kedatangan mereka, bukan?
"Bener kan? Bokap lu yang dulu jualan bakso di samping kelurahan?" Kinan tertawa geli. "Nama baksonya Eve, gais. Gue pikir asal bikin nama ternyata make nama belakang anaknya ya–"
"Gaje banget lu anjir," sela Vina pada Kinan.
"Ini juga nih gais, anaknya tukang putu ayu. Gue pernah beli putu ayunya dan sumpah rasanya sampah banget." Tawa Kinan kian geli, pun tawa gengnya yang berjumlah empat orang itu.
"Lu mau nanya Ikbal di mana kan?"
__ADS_1
Spontan Kinan menghentikan tawanya. "Gak tuh. Gue udah tau dia di mana. Karna tadi pagi kita telfonan. Dan mungkin lu belom tau, dua hari yang lalu gue sama Ikbal balikan."
"Ya terus?"
"Ya terus lu jangan macem-macem," sahut Kinan pada Nia. "Karna kalo lu macem-macem gue bakal kasih tau ke semua orang kalo lu anak tukang bakso yang delapan taun lalu viral karna ketauan make pesugihan de–"
Ucapan Kinan menggantung, menggantung entah sampai kapan, sebab Vina yang tiba-tiba melepeh permen karetnya dan tanpa ragu menempelkannya ke rambut Kinan yang terkenal seperti duta sampo. Kinan terlihat sangat terkejut, pun Nia, dan terutama empat orang gadis setengah good looking yang berdiri di belakang Kinan. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan, sesaat setelah Kinan berteriak murka. Berbeda dengan aksi kejar-kejaran dengan Pria Purnama yang sudah sepuh, aksi kejar-kejaran kali ini benar-benar memacu adrenalin.
"Sini-sini." Nia menarik Vina masuk ke salah satu gerai minuman.
"Lumayan juga tuh si silikon larinya."
"Iya bener. Padahal sneakersnya empat sentian," balas Nia sambil melihat-lihat tampak dalam gerai minuman. "Btw ini tempat jualan apaan?"
"Es boba. Kata orang-orang enak banget tapi harga segelasnya hampir gocap."
"Terus itu ownernya? Apa brand ambassadornya?" Nia menunjuk sebuah poster berukuran besar di tengah ruangan.
"Ownernya. Zaim Alfarezi. Kaya artis ya? Masih single tau. Tajir melintir pula. Gak cuma punya usaha es boba, dia juga punya macem ind*maret, transportasi online, pusat kebugaran, karaoke, bioskop, hotel bintang enem, maskapai, tempat wisata, dan dia juga yang punya Zet."
"Zet? Aplikasi kencan kita?" tanya Nia lagi.
"Yes."
...•▪•▪•▪•▪•...
SREK
SREK
SREK
Satu per satu lembar novel bersampul pria berpistol yang sedang memeluk seorang wanita bergaun hitam itu dibalik cepat. Si pembaca novel, Nia, membaca novel berjudul JUST KILL ME itu sembari menyantap nasi kapau. Tak terhitung sudah berapa kali Nia menggeleng, pun memaki. Jelas saja. Tidak ada nilai apapun yang bisa dijadikan pembelajaran dari novel bergenre romance, action, dan kriminal itu. Nia bahkan sampai bingung bagaimana bisa novel itu menjadi viral? Isinya saja lebih berantakan dari bubur ayam yang diaduk.
"Fix, Lexander Kingston cuma pedofil bucin." Nia menutup buku tebal itu sambil menyuap nasi. "Emang bucin termasuk nilai apaan? Bucin kan sebelas dua belas sama orang yang kesurupan Badarawuhi." Nia berganti menyuap tambusu. "Jadi maksudnya Pak Bastian, si Duplikat L.K tuh jadi sinting, sadis dan gak masuk akal karna bucin? Sama gue? Ya kali."
Nia memikirkan jawaban atas tanyanya sendiri sambil melahap nasi dengan lauk empat macam itu. Setelah membaca novel viral tersebut, Nia malah tak paham dengan ultimatum yang diberikan Bastian padanya tempo hari. Katakanlah Duplikat L.K memang seperti Lexander Kingston, bukankah Duplikat L.K harus menjadi bucin terlebih dahulu sebelum berubah menjadi sinting, sadis dan tidak masuk akal? Dan untuk menjadi bucin, bukankah diperlukan yang namanya cinta? Dan jatuh cinta secara online? Bukankah itu hanya modus penipuan zaman now?
"Gue yakin Duplikat L.K cuma orang biasa. Karna selain pemilik ajian rawa rontek sama Zaim Alfarezi, semua orang di luaran sana tuh cuma orang biasa. Jadi gak ada alesan buat ngeblokir Duplikat L.K lagi dong. Iya dong?" Nia mengambil ponselnya, membuka aplikasi Zet, dan mulai mengetik sesuatu.
KAO : Aku udah punya jawaban.
LK : 😆
KAO : Tapi aku mau nanya-nanya dulu.
__ADS_1
LK : Anything.
KAO : Maksudnya nyoba sama kamu tuh pdkt atau pacaran?
LK : Pdktnya kan udah.
KAO : mengetik…
LK : mengetik…
KAO : Masa pacaran online?
LK : Ya ayok kalo mau offline.
Kunyahan lahap Nia seketika melambat, bahkan telor dadar yang memenuhi mulutnya mendadak berubah rasa menjadi pahit. "Pacaran offline ya. Berarti pacaran beneran. Kalo dia kaya Pria Purnama gimana? Atau lebih parah misalnya? Terus kalo dia ngajakin gue tidur gimana? Secara dia kan otw om-om."
LK : mengetik…
KAO : Kamu gak akan ngajakin aku yang gak-gak kan?
LK : Ngajakin dong.
"Ih anjir bener feeling gue." Nia mengetikkan balasan dengan semangat berapi-api, sampai tak sadar sebelah tangannya yang digunakan untuk menyuap itu ikut ambil bagian.
KAO : mengetik…
LK : Tapi kalo udah jadi Nyonya Duplikat L.K.
KAO : 😒
LK : Haha.
KAO : Pacaran online aja.
LK : Oke. Kita pacaran mulai hari ini.
KAO : Online.
LK : Sama aja sih buat aku mau pacaran online atau offline. Intinya kamu pacar aku. Tau kan arti status itu?
Kunyahan lambat Nia semakin melambat, sesaat setelah membaca pesan dari Duplikat L.K. Entah kenapa perasaan Nia mendadak menjadi aneh, seolah baru saja mengiyakan sesuatu yang akan mendatangkan petaka besar di kemudian hari.
LK : Aku pake hati. Jadi jangan main api walopun kamu cuma nganggep ini pacaran online.
DEG DEG DEG
__ADS_1