
"Saya juga gak suka adik saya ketimpa masalah terus karna Pak Zaim," sahut Denar sembari menarik Nia ke sisinya.
"Kemaren bilang cinta pertama. Sekarang bilang adek. Gak jelas banget." Marina berlalu.
Suasana langsung menegang setelah istri Denar, Marina, melontarkan kata yang menyimpan makna tersembunyi. Meski tersembunyi, siapa pun pasti bisa memahami makna itu. Merasa akan segera terjadi sesuatu yang buruk, Nia pun memberanikan diri untuk menjadi pemecah ketegangan. Setelah melepas pegangan tangan Denar, Nia berkata jika Denar tidak perlu pergi ke Taiwan karena orang yang ingin membuatnya celaka sudah jelas bukan Nila.
" … Terus mending Kak Denar susul istri Kakak deh. Takutnya karna marah dia ngebut nyetirnya ka–"
"Enggak," sela Denar pada Nia. "Sekarang gak ada yang lebih penting dibanding kamu, Dek."
Gawat! Semua orang kecuali Zaim, kompak menyerukan sepatah kata itu dalam benak masing-masing. Bagaimana tidak? Raut wajah Zaim yang semula dingin perlahan berubah angker setelah mendengar ucapan Denar. Dan puncaknya adalah ketika Denar kembali menarik Nia ke sisinya. Zaim yang merasa tak bisa lagi menahan amarahnya pun akhirnya meninju wajah Denar dengan membabi buta. Spontan suasana di bandara itu pun menjadi kian tak karuan.
Kamera ponsel para penumpang pesawat perlahan mulai mengarah pada aksi Zaim yang brutal. Ya, alih-alih membantu Nia, Bastian, Sobari, Ikbal dan Jani untuk memegangi Zaim, mereka malah sibuk mengabadikan momen berdarah itu. Tidak ada yang bisa menghentikan Zaim, tak peduli meski Nia sudah mengancam macam-macam. Aksi brutal Zaim berhenti dengan sendirinya, saat Denar tidak lagi menggeliat. Setelahnya Zaim pun membawa Nia meninggalkan bandara.
Baik Nia maupun Zaim, tak ada yang bersuara. Di sepanjang perjalanan yang tidak bertujuan itu, sungguh hanya suara pendingin mobil saja yang terdengar. Zaim masih setia menatap lurus ke depan, pun Nia sembari sesekali melirik tangan kanan Zaim yang lecet. Sampai pada akhirnya Nia refleks mengungkapkan isi hatinya. Bukan, bukan ungkapan untuk adu cekcok apalagi putus melainkan ungkapan yang baru-baru ini dianggap agak-agak.
"Kayanya kamu harus sering-sering nonjokin orang deh."
Zaim hanya menoleh pada Nia.
"Soalnya seksi banget sumpah," imbuh Nia.
Perlahan Zaim tertawa. Tertawa geli sampai terpaksa menghentikan kemudi.
Nia masih melanjutkan, "Aku serius tau. Ini bukan trik buat nyairin suasana."
Zaim masih tertawa.
"Dih bodo amat. Apanya yang lucu coba?"
"Luculah," sahut Zaim akhirnya. "Aku pikir kamu bakal takut sama aku."
"Takut sama cowok seksi emang faedah?"
Zaim kembali tertawa. "Aku udah gak bisa nahan emosi. Maaf."
"Aku kalo jadi kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama kok. Begitu juga kalo aku jadi Kak Denar."
"Kalo gitu aku mau minta maaf soal yang lain."
Nia berganti menoleh pada Zaim.
"Maaf karna kayanya aku gak bisa kasih toleransi Denar lagi. Jadi aku harap kamu tau harus apa," tambah Zaim.
"Aku gak ada rencana apa-apa. Karna terlepas dari Kak Denar nganggep aku cinta pertamanya atau yang lain, selamanya aku cuma bakal nganggep dia kakak."
"Aku percaya kamu."
__ADS_1
Nia hanya tersenyum pada Zaim, dan keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang kali ini memiliki tujuan jelas. Benar, Nia dan Zaim pulang ke rumah Zaim. Namun tak disangka kedatangan keduanya mendapat sambutan "meriah" dari Ushi. Ushi yang terbangun karena suara sepeda motor Ikbal, langsung melongok ke luar jendela. Sebenarnya Ushi tidak peduli ke mana pun Ikbal berniat keluyuran, tetapi masalahnya kenapa Nia ikut-ikutan?
" … Pak Ucil udah cerita semuanya sama saya. Katanya Pak Ucil disuruh nganterin Nia ke bandara. Tapi karna ngeburu waktu akhirnya si Ikbal yang nganter. Terus katanya ada yang darurat. Darurat apa coba jelasin ke saya."
"Saya jelasin singkat ya, Bu. Sisanya besok soalnya saya masih utang ngecek laporan," balas Zaim pada Ushi.
"Yaudah apaan?"
"Nia berkaitan sama insiden penembakan waktu itu. Dan Pak Denar rencana ke Taiwan nyamperin Bu Nila karna ngira Bu Nila pelakunya. Ja–"
"Tunggu-tunggu," sela Ushi sembari buru-buru menghampiri Zaim. "Maksudnya si dajjal itu mau nyelakain Nia dengan cara nembak gitu? Wah bener-bener dajjal. Kenapa dia gak nembak diri sendiri aja sih? Harusnya kamu biarin Pak Denar ke Taiwan dong, Za. Gimana sih ka–"
"Bukan Bu Nila pelakunya, Bu. Tolong cerna kata-kata saya pake kepala dingin."
Ushi mendecak, "Terus siapa? Yang paling punya motif kan si dajjal itu. Emang ada lagi? Ah, udah pokoknya masalah ini biar saya yang urus."
"Ibu pasti mau nyamperin Bu Nila kan? Yaudah kalo gitu saya yang duduk manis. Silahkan Ibu urus."
"Iya oke. Kamu pikir saya gak bisa urus gitu?"
Zaim mengangguk. "Saya aja kewalahan. Soalnya berurusan sama Bu Nila berarti berurusan sama suaminya, Pak Monaco. Beliau mantan gangster yang masih ditakutin sampe sekarang. Saya aja sampe harus nyewa orang paling berpengaruh di Taiwan buat jadi tameng. Harga sewa orang itu per satu jam delapan ratus tiga puluh ribuan nt dollar*. Kalo dirupiahin sekitar empat ratus juta."
*Nt dollar atau new Taiwan dollar atau dollar Taiwan baru adalah mata uang negara Taiwan.
Ushi tampak sangat terkejut, tetapi berusaha setengah mati untuk tetap mendongakkan dagunya.
Ushi masih membisu. Namun perlahan dagunya yang sedari tadi didongakkan mati-matian itu, lemas!
Zaim masih melanjutkan, "Saya kasih waktu Ibu buat mikir sampe besok pagi ya. Kalo gak ada jawaban, berarti Ibu yang harus duduk manis. Deal?"
...•▪•▪•▪•▪•...
" … Jadi karna trauma ya makanya anak itu pingsan."
"Betul, Pak Hakam." Suara Dokter Leo terdengar melalui sambungan telepon.
"Bahaya gak kira-kira kalo keseringan pingsan gitu?"
"Jelas bahaya, Pak. Baik secara mental maupun isik. Kalo secara fisik bisa mengakibatkan cedera kepala sampai kematian. Kalo secara mental saya kurang tau. Tapi saya ada kenalan psikolog yang bagus."
"Saya ada waktu besok sore."
"Baik, Pak Hakam. Segera saya sampaikan ke kenalan."
"Makasih, Dok. Nanti …"
Hakam memutus panggilan telepon itu, setelah melemparkan candaan pada Dokter Leo yang terkenal sangat kaku. Setelahnya Hakam kembali melanjutkan obrolan dengan tamu spesialnya, Jani. Ya, Jani. Lagi-lagi Jani bekerja untuk dua orang tuan dengan alasan yang sama persis saat dulu dirinya bekerja untuk Zaim sekaligus ayah Ushi, Sayfudin Qazzafi. Saya siap selama ada yang mampu bayar lebih tinggi! Begitu alasan Jani.
__ADS_1
"Maaf ya. Saya gak bisa nolak panggilan Dokter Leo," ujar Hakam sambil meletakkan ponselnya di meja. "Sampe mana tadi?"
"Iya jadi fix insiden penembakan yang kemaren itu berkaitan sama Bu Kasih, Pak."
"Coba jelasin lebih."
Jani mengangguk. "Delusi* Bu Kasih kumat, Pak. Itu awal mulanya. Bu Kasih gak cuma nganggep Pak Zaim orang yang ngehamilin Beliau aja tapi juga nganggep Yesenia Eve sebagai penyebab Beliau keguguran."
*Merupakan salah satu gangguan mental serius. Delusi ditandai dengan kesulitan seseorang untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi. Dan walaupun sudah terbukti bahwa apa yang diyakini tidak benar, penderita gangguan delusi akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar.
"Terus gimana dia bisa sampe terlibat sama anggota Atlas*?"
*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.
"Soal itu masih saya selidikin, Pak. Karna anggota Atlas itu tiba-tiba ngilang," balas Jani.
"Gitu ya. Yang penting udah ketauan kalo Kasih yang ada dibalik semua ini. Tapi saya ngerasa masih ada yang ganjel."
"Soal apa, Pak?"
Hakam diam cukup lama sebelum menjawab, "Temen yang dimaksud Kasih ini kira-kira siapa? Soalnya yang saya tau temennya Kasih cuma Emily. Tapi kan gak mungkin orang Emily di penjara. Saya kan bayar orang juga buat ngawasin Emily."
"Mau saya cek langsung ke penjara, Pak?"
Hakam mengangguk. "Soalnya feeling saya gak enak. Kamu bilang aneh kan, Kasih yang lagi masa perawatan bisa keluar dari RSJ? Jangan-jangan dia gak kabur tapi ada yang bantu ngeluarin lagi."
Tepat. Ibarat mata panah yang dilepaskan oleh Komandan Perang Kumari Kandam, dugaan Hakam benar-benar tepat sasaran! Di waktu yang bersamaan di kediaman Kasih. Terlihat Kasih tengah berbincang dengan seorang wanita misterius yang mengenakan penutup wajah, kacamata hitam dan selendang kupu-kupu yang dikenakannya asal. Kasih tampak kesal, berbeda dengan wanita misterius itu yang terus-menerus menyunggingkan senyum.
" … Ini semua gara-gara A110 yang tiba-tiba ngilang. Rencana aku buat bales dendam ke Nia jadi gagal."
Si wanita misterius beranjak, menghampiri Kasih. "Bukannya terlalu awal ya buat bilang gagal?"
Kasih hanya menoleh pada si wanita misterius.
"Aku bakal bantu. Kaya waktu aku bantu ngeluarin kamu dari RSJ sama waktu aku dorong Mamah kamu dari tangga. Kalo aku yang bantu gak ada yang gagal kan?"
"Apa rencana kamu?" tanya Kasih akhirnya.
"Sama kaya rencana awal aja. Targetnya tetep bikin Nia trauma. Cuma kita perlu cari kaki tangan baru yang gak bakal berkhianat."
Kasih mendecak, "Emang hari gini ada yang gak berkhianat? A110 yang kamu percaya banget aja buktinya berkhianat juga kan?"
"Yaiya tapi beda kan kalo kaki tangannya cinta sama kamu?"
Kasih diam, seakan sudah tahu siapa kaki tangan baru yang dimaksud si wanita misterius.
"Dia pasti gak bakal bisa nolak," imbuh si wanita misterius. "Karna kan dia cinta banget sama kamu." Si wanita misterius berdiri di hadapan Kasih. "Dia gak cuma bisa bantu kamu bales dendam aja tapi juga bisa dijadiin kambing hitam. Gimana?"
__ADS_1