HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SALAH PANCING


__ADS_3

"Gak ada, Bu."


"Nyari tuh pake mata, Bal. Bukan pake mulut kamu yang licin kaya belut itu," balas Ushi sambil membalik lembar majalah fashion yang tengah dibacanya.


"Tapi seriusan gak ada, Bu. Soalnya kan aku jarang banget pake hoodie itu. Jadi udah gak mungkin aku pindah-pindah. Duh, mana aku ada janji sama Bunga jam tujuh lagi."


"Jatoh kali di bawah-bawah." Ushi kembali membalik lembar majalah.


"Ibu!"


"Apaan sih dih? Ngagetin aja." Ushi memelototi Ikbal yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Awas ya kalo Ibu cari ada. Ibu pakein bulu mata ya kamu." Ushi beranjak.


KLEK


"Oh, no." Nia menutup pintu kamarnya pelan. "Hoodienya si Ikbal kan ada sama Duplikat L.K."


*FLASHBACK ON*


Nia sibuk membersihkan kemeja Zaim, sampai tidak sadar jika sudah satu jam berlalu. Gila! Membiarkan tamu menunggu selama satu jam tanpa terlebih dahulu dipersilakan duduk, minum, dan bahkan diberi baju ganti? Segera setelah sadar Nia langsung keluar dari kamar, dan masih mendapati Zaim berdiri dengan aura seksinya yang tumpah-tumpah. Nia berlari memasuki kamar Ikbal, mengacak-acak isi lemarinya demi menemukan baju yang pas untuk tamunya yang terlewat seksi. Dapat. Namun sialnya baju yang pas itu adalah baju favorit Ikbal yang hanya dikenakannya saat hari valentin.


"Kak, pake ini."


Zaim langsung mengenakan hoodie milik Ikbal. "Lama juga ya kamu liat roti sobek saya."


Nia berdeham, "Mau minum apa, Kak?"


"Kalo nyuruh saya duduk dulu gimana?"


"Oh iya bener. Duduk, Kak, duduk." Nia ikut duduk. "Jadi minumnya apa, Kak?"


*FLASHBACK OFF*


Nia menepok jidatnya. "Mampus. Kok bisa lupa sih gue? Telfon cepet telfon." Nia buru-buru membuat panggilan telepon dengan Zaim. "Eh? Kok gak diangkat? Ke mana nih orang? Mencurigakan banget malem minggu gak ngangkat te–"


KLEK


"Jigong peuyeum, cowok lu ngapel tuh."


Nia terlonjak. "Ketok dulu anjir kalo mau masuk kamar orang."


"Emang ini bisa disebut kamar orang?" Ikbal memandangi kamar tidur Nia yang ya, sangat amat berantakan.


"Lu gak tau ya kalo kamar orang-orang sukses semuanya kaya gini? Minggir."


"Dih dasar gak tau malu."


Nia hanya menjulurkan lidahnya menanggapi Ikbal, dan bergegas turun ke lantai satu. Terlihat Zaim tengah mengobrol dengan Ushi. Entah apa saja yang dibawa Zaim, yang pasti meja ruang tamu itu tampak disesaki plastik makanan beraneka warna. Ushi langsung beranjak saat melihat kedatangan Nia, pamit untuk membuatkan minuman sambil mengangkut satu per satu plastik berisi makanan langganan para sultan itu.


"Hai."


Nia hanya melambaikan tangannya menanggapi Zaim.

__ADS_1


"Aku mau pamitan."


"Emang mau ke mana?" Nia duduk di samping Zaim.


"Ke Malaysia. Bastian kecelakaan pas lagi tugas. Dia kilangan banyak darah, dan sekarang masih kritis karna belom dapet pendonor."


"Bastian? Kayanya saya pernah denger nama itu tapi di mana ya?" Ushi meletakkan segelas air dingin di meja.


"Mmm ituloh, Tan. Polisi yang dateng ke sekolah aku waktu itu, yang nolongin aku pas insiden Pria Purnama."


"Oh iya-iya bener." Ushi kembali mengangkut plastik. "Kecelakaan mobil, motor, atau apa, Za?"


"Ketembak, Bu."


"Ya ampun. Siapa yang nembak? Udah gila kali ya orang main ditembak-tembak aja."


"Pelakunya masih diburu polisi," balas Zaim pada Ushi.


"Terus Pak Bastian butuh donor darah apa?"


"O negatif, Bu."


"Wah susah itu. Yang saya tau O negatif cuma bisa nerima donor dari O negatif juga."


"Aku O negatif," ujar Nia.


Spontan Zaim dan Ushi menoleh pada Nia.


Zaim, Nia serta Ushi beralih menoleh pada Ikbal yang baru saja turun ke lantai satu.


"Ibu kan pernah donor darah sama aku dulu di kampus mana gitu aku lupa. Udah lama banget sih emang. Aku juga lupa-lupa inget. Yang aku inget ya itu, golongan darah Ibu O negatif," imbuh Ikbal.


"Almarhum Ayah juga O negatif. Katanya Ibu juga. Tapi Ibu pernah bilang sama aku kalo golongan darahnya AB. Kok bisa sama gitu kita ya, Tan? Jangan-jangan aku anak Tante?" Nia melafalkan kalimat terakhirnya dengan nada khas sinetron.


"Pengen banget ya lu jadi sodara gua? Gua aja ngeri. Aib lu anjir kebanyakan. Kak Zaim udah tau belom aib dia yang paling gi–"


Ucapan Ikbal menggantung menggelitik rasa penasaran Zaim, karena Nia yang tiba-tiba menerkam Ikbal. Beruntung Ikbal dengan sigap menghindar, jika tidak, sekujur tubuhnya pasti akan dipenuhi bekas cubitan yang berpotensi besar membuat sang kekasih salah paham. Kedua bocah belasan itu tidak tahu, jika apa yang baru saja dikatakan Nia adalah kesalahan. Ya, meski hanya para dokter dan sedikit sekali orang yang bisa menyadarinya.


Meski O negatif termasuk golongan darah yang langka, golongan darah ibu Nia tidak seharusnya AB. Tetapi jika memang demikian, berarti Nia bukanlah anak kandung dari wanita yang sedari bayi dipanggilnya ibu. Golongan darah ibu Nia harus A, atau B. Atau sebaliknya, jika benar ibu dan ayah Nia bergolongan darah AB dan O negatif, maka Nia harus bergolongan darah A, atau B. Entah mana yang benar, yang jelas Ushi mulai merasa resah.


Ushi tiba-tiba beranjak. "Saya ke kamar sebentar ya, Za."


Zaim ikut beranjak. "Silahkan tapi saya boleh minta izin bawa Nia ke Malaysia?"


"Hah? Oh, mau donor ya. Bawa aja. Pak Bastian kan dulu juga pernah bantu Nia. Tapi tanya dulu anaknya mau apa gak."


"Iya, Bu."


"Yaudah sa–"


"Bu Ushi," sela Zaim.

__ADS_1


"Ya?"


"Saya punya kejutan buat Ibu. Kalo misal nanti Ibu suka kejutannya, saya boleh nyicil ya?"


"Nyicil?"


Zaim mengangguk menanggapi Ushi. "Nyicil ngelamar Nia."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Mau lagi?"


Nia menggeleng, tanpa menghentikan kesibukan mulutnya yang tengah mengunyah, pun tangannya yang sedari tadi menyumpit kwetiaw.


"Pelan-pelan," tambah Zaim.


"Aku kan mau donor darah. Aku harus banyak makan biar gak lemes."


"Iya tapi pelan-pelan."


Nia meminta Zaim mendekat, lalu berbisik, "Aku gak akan keselek kok, Sayang."


"Aku sensitif."


"Hah?"


"Telinga aku sensitif banget."


Nia meletakkan sumpitnya, lalu tiba-tiba menyentuh kedua telinga Zaim. "Jadi kamu sensitif di sini. Terus di mana lagi? Di sini?" Nia menyentuh leher Zaim. "Di sini?" Nia beralih menyentuh dada Zaim. "Atau di sini?" Nia menghentikan sentuhan berapi-apinya di perut Zaim yang keras!


Zaim tak merespon, hanya menutup wajahnya yang memerah. Ujian menjalin Kasih dengan anak belasan tahun yang kepekaannya sangat amat tumpul ternyata seberat itu. Beruntung Zaim bukanlah penganut kubu generasi milenial yang kebanyakan salah melakukan cicilan. Bukan lamaran atau ijab kabul terlebih dahulu tetapi malah unboxing. Kacau! Dan beruntung pula didikan Al Hakam, Kakek Zaim, sukses membuatnya menjadi pria sejati. Ya, pria sejati. Pria sejati akan memilih bertarung mati-matian dengan berahinya daripada nekat melepaskannya tanpa restu dari Tuhan.


"Are you okay?"


"Mmm, ini pertama kali aku donor darah sih jadi aku gak yakin."


"I'm here." Zaim mengecup punggung tangan Nia.


Seorang suster berdeham, "Saya mulai ya, Mbak. Rileks aja."


Nia mengikuti arahan si suster, dan proses pendonoran itu pun berjalan lancar. Bastian yang mendapat pendonor yang cocok akhirnya berhasil melewati masa kritis. Meski begitu dokter belum mengizinkan keluarga untuk menjenguk Bastian. Zaim dan Nia pun hanya bisa melihat Bastian dari jendela pintu kamar. Bastian tampak sangat sakit. Wajar saja. Bastian ditembak di bagian dada yang hanya berjarak sedikit sekali dari jantungnya. Zaim dan Nia kompak menyudahi kegiatannya memandang Bastian. Keduanya lalu duduk di kursi tunggu di depan kamar Bastian.


"Makan sama shopping dulu ya baru pulang? Katanya kamu mau beliin hoodie baru buat Ikbal sama bungkusin ayam percik buat Vina?"


"Iya. Tapi masa pulang? Bukan ke hotel?" Nia menoleh pada Zaim.


Zaim ikut menoleh. "Kamu dari di pesawat kok kayanya mancing-mancing aku terus ya?" Zaim menggeser posisi duduknya mendekati Nia. "Nunggu umur kamu 20 taun itu lama loh, Sayang."


DEG DEG


"Jadi kamu mau brenti mancing-mancing aku atau, kita check in hotel sekarang juga?" imbuh Zaim.

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2