
Ikbal dan Nia tampak serius mendengarkan penjelasan dari guru les mereka yang baru, Zaim. Itu les yang biasanya terasa menyesakkan, tetapi kali ini jauh berbeda. Baik dari segi atmosfer pun cara mengajar, semuanya benar-benar berbeda. Les bahasa inggris itu tidak diadakan di ruangan yang super dingin melainkan di taman yang dipenuhi beraneka tanaman kaktus. Cara mengajar Zaim pun tidak menggunakan proyektor, laptop atau ponsel seperti yang biasanya digunakan para guru melainkan hanya dengan papan kapur.
"Ikbal dapet poin tujuh puluh." Zaim melepas kacamatanya. "Nia dapet poin lima puluh."
"Yes."
Nia menoleh pada Ikbal sembari memonyongkan bibirnya. "Hilih, paling juga ngitung kancing."
"Sorry isi pala gua lebih banyak dari lu ya." Ikbal beranjak. "Udah boleh pulang kan, Kak?"
"Iya. Tapi besok jangan lupa lagi prnya ya, Bal. Saya anti kasih toleransi dua kali."
"Siap, Kak." Ikbal menjulurkan lidahnya pada Nia sebelum kabur. "Bye bola ubi kopong."
"Bye buaya bantar gebang."
Zaim menahan tawa, tetapi buru-buru berdeham saat Nia kembali menghadapkan kursi padanya. Nia masih setia memoyongkan bibirnya, membuat Zaim gemas bahkan sesaat sempat kehilangan fokus. Jujur saja Zaim ingin menyudahi les hari itu karena khawatir suasana hati Nia akan semakin memburuk. Tetapi tiba-tiba saja Zaim terpikirkan sebuah cara yang mana bisa tetap membuatnya melanjutkan tanggung jawab sebagai seorang guru tanpa menambah buruk suasana hati sang kekasih.
"Kamu baru boleh pulang kalo bisa tambah dua puluh poin lagi."
Nia diam, bibir pucat merah jambunya kian moyong.
"Tapi kalo jawaban kamu salah, aku buka baju," imbuh Zaim.
"Hah? Buka apa?"
"Baju. Tiap kamu salah jawab satu soal, aku bakal buka baju. Pertanyaan pertama." Zaim mulai membacakan soal.
Zee: Well, i'm actually tired of taking physics courses.
Christy: Why?
Zee: The subject makes me confused…………
Christy: You’d better pay more attention.
A. What is the best answer?
B. What do you expect?
C. What do you advise me to do?
D. What do you hope?
E. What do you want?
Nia diam sesaat. "B."
Zaim menyeringai, tapi perlahan menanggalkan sweaternya, dan kemudian kembali membacakan soal.
Marsha: Flora, i don’t have money to pay the school fee.
__ADS_1
Flora: Do you want to borrow my money? …….If you need some.
A. I’m going to go to the nearest ATM
B. I would like to accompany you.
C. Would you accompany me?
D. I save my money.
E. I lent you
Nia tampak ragu. "C."
"Kayanya kamu emang sengaja jawab salah ya, Sayang," balas Zaim sembari membuka kaosnya.
GLEK
Nia tampak kesulitan menelan, sebab kini hanya tersisa celana panjang di tubuh super kekar itu. Zaim tak henti membacakan soal, sambil memegang ritsleting celananya. Nia yang awalnya hanya menganggap Zaim menggertak itu kini mulai panik. Pikiran Nia memang kotor, tetapi sungguh, roti sobek Zaim sudah sangat cukup memuaskan pikiran kotornya. Jadi pemandangan menakjubkan yang ada di balik celana jeans hitam itu benar-benar tidak diperlukan. Nia pun mengerahkan seluruh konsentrasinya ketika Zaim selesai membacakan soal.
"B. Sumpah jawabannya B." Nia menutup matanya dengan kamus bahasa inggris.
"Jelasin alesan kamu milih jawaban itu."
Nia menurunkan kamus itu sedikit demi sedikit. "Kata ganti buat cewek kan emang her. Terus is kan to be buat subjek he, she, sama it. Karna subjeknya cewek ya pakenya she dong."
"Good. Next."
Nia refleks menghela napas. "Pake baju kamu dulu."
"A."
Zaim mengangguk-angguk. "Alesannya?"
"Ya emang antonimnya murah kan mahal."
"Terus kenapa tadi gak bisa jawab?"
"Orang kamu buru-buruin," jawab Nia. "Sengaja banget emang mau bugil."
"Ketauan banget ya?"
"Jangan macem-macem."
"Yah. Padahal udah lama aku gak macem-macem." Zaim merangkak mendekati Nia. "Macem-macem sedikit yuk?"
Nia tak merespon, baik dengan pelototan maupun debaran tak karuan. Itu benar-benar mimik wajah yang datar yang baru pertama kali Zaim lihat. Zaim berpikir mungkin candaannya terlalu berlebihan, atau dilakukan di waktu yang kurang pas. Perlahan Zaim pun menjauh dari Nia, sambil meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun di luar dugaan, Nia malah menarik leher Zaim dan berganti merangkak mendekat.
"Kenapa harus sedikit?" tanya Nia sambil duduk tanpa ragu di pangkuan Zaim.
Zaim menyeringai lagi. "Aku cuma ngimbangin bates kesanggupan kamu."
__ADS_1
"Oya?" Nia memiringkan kepalanya.
"Iya." Zaim ikut memiringkan kepalanya.
"Kamu gak jago kok belagu banget sih ngomongnya?"
Spontan Zaim terbahak. Terbahak hingga tubuhnya bergetar hebat. Terbahak hingga tak kuasa menangkis ejekan sang kekasih. Terbahak hingga berahinya sirna tak bersisa!
...•▪•▪•▪•▪•...
Nia berjalan berbelok-belok, mengikuti bayang-bayang pohon rindang. Entah kenapa perjalanan pulang Nia hari ini terasa sangat jauh, lama, dan melelahkan. Nia ingin cepat-cepat tiba di rumah dan berjongkok di depan lemari pendingin. Namun tampaknya Nia harus memendam keinginannya itu, karena ada tamu yang datang tanpa pemberitahuan.
Terlihat seorang pria berpakaian formal tengah berdiri di depan kediaman Nia, menekan tombol bel berulang kali. Nia tidak mengenal pria itu, tetapi rupa pun perawakannya mirip dengan Ikbal. Nia pun mempercepat langkahnya, buru-buru menghampiri pria yang mulai jengkel karena terik matahari itu. Dan ternyata benar, pria itu adalah ayah Ikbal, Bagas Prasetyo.
" … Saya baru balik di Amerika. Saya ke sini mau ketemu Ikbal. Kangen banget soalnya selama ini kita cuma komunikasi online." Bagas menunjuk Nia. "Kamu sendiri siapa?"
Nia menjabat tangan Bagas. "Saya Nia. Mmm, saya ting–, eh, mmm, maksudnya numpang sementara di sini sampe Ibu saya balik dari Taiwan."
"Oh." Bagas mengangguk-angguk. "Cantik banget ya kamu. Udah punya pacar berapa?"
Nia hanya tersenyum paksa. "Kayanya Ikbal masih di sekolah deh, Om. Tadi saya liat dia nongkrong di parkiran. Mau tunggu di dalem aja, Om?"
"Mau dong. Apalagi nunggunya sama kamu." Bagas tiba-tiba merangkul Nia. "Ayo masuk."
Nia hanya kembali tersenyum paksa. Sepanjang menunggu Ikbal pulang, Bagas terus berbicara, pun melakukan kontak fisik yang tidak diperlukan. Tak terhitung sudah berapa kali Bagas merangkul Nia, apalagi membelai rambutnya. Tentu saja Nia merasa sangat tak nyaman, karena itu tidak terasa seperti sentuhan kasih sayang melainkan sentuhan kurang ajar.
"Kamu udah punya pacar?"
"Udah, Om," balas Nia sambil meletakkan segelas jus jeruk di meja.
"Udah ngapain aja pacarannya?"
Nia tak henti tersenyum paksa. Lalu duduk di seberang Bagas dengan posisi serong. Ya, serong. Karena demi apapun tatapan Bagas sedari tadi hanya tertuju pada bagian-bagian tertentu yang hanya dimiliki oleh kaum hawa. Tidak cukup dengan tatapan Bagas yang tak senonoh, seringainya pun jauh lebih tak senonoh. Benar-benar seperti psikopat cabul!
"Jawab dong. Udah ngapain aja pacarannya?"
"Biasa aja kok, Om," jawab Nia tanpa melupakan sunggingan senyum paksanya.
"Pegangan tangan pasti udahlah ya. Pelukan juga pasti udah. Cium pipi sama kening ju--"
KLEK
"Ikbal." Spontan Nia beranjak, dan berlari kegirangan menghampiri Ikbal yang baru saja datang.
"Hp lu koid?"
"Iya."
"Kebiasaan anjir." Ikbal menghampiri Bagas. "Apa kabar, Pak?"
"Baik dong. Kalo jagoan Bapak gimana kabarnya?" Bagas menyambut pelukan Ikbal.
__ADS_1
"Baik juga." Ikbal memberi kode pada Nia untuk masuk ke kamarnya. "Dan jangan turun sampe gue suruh." Ikbal kembali memberi kode pada Nia melalui isyarat tangan.
Nia hanya mengangguk, lalu bergegas meninggalkan lantai satu.