
" … Emang gak ada cowok lain? Emang harus si sinting itu?"
Nia hanya mengangguk menanggapi Monica, wanita asing yang empat puluh menit lalu tiba-tiba mendatanginya di sekolah seperti penculik.
"Kenapa gak pacaran sama yang seumuran aja sih? Mending putus aja deh. Serius kalian gak cocok dari segi manapun."
"Mmm, tapi saya udah terlanjur suka," sahut Nia akhirnya.
"Ya makanya mending putus mumpung kamunya masih sebatas suka."
"Mmm, kalo gitu ralat."
"Hah?"
"Saya udah terlanjur sayang."
Monica mendecak, "Dia brengsek tau gak. Ya wajar sih kalo kamu gak bisa liat apalagi ngerasain." Monica langsung menyedot jus kacang merahnya yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. "Biar saya aja yang ngurus dia."
"Ngurus maksudnya, Kak?"
"Saya bakal deketin dia sampe dia suka sama saya. Kalo dia udah suka, kamu aman dan kerjaan saya jadi bisa cepet selesai … "
Spontan Nia mengurungkan niat memotong red velvet cakenya, lalu perlahan menatap Monica yang duduk di depannya. Alih-alih mengumpat bersemangat, Nia malah terpesona oleh kecantikan Monica yang berkelas. Nia bahkan tak lagi sungkan memandangi Monica dari ujung kepala sampai kaki, pun tak lagi ragu memutuskan dandanannya kelak saat berada di usia yang sama dengan Monica.
Rambut cokelat sebahu, riasan dengan konsep summer look, serta setelan semi formal yang seolah dibuat khusus untuk tubuhnya yang tinggi semampai. Sungguh, Nia merasa sedang membaca majalah fashion tiga dimensi. Tidak benar. Bukan itu yang seharusnya Nia pikirkan sekarang. Kekasihnya sedang diincar, Nia harus segera menemukan kata-kata tampikan yang akan membuat Monica kalah telak!
" … Kamu dengerin saya gak sih? Da–"
"Kakak ini siapa deh?" sela Nia.
Monica berdeham, "Oh. Iya. Saya sampe lupa ngenalin diri gara-gara si sinting itu. Saya Monica. Monica Yin."
"Pilihannya si Mbah ya?"
__ADS_1
"Pilihan? Mbah? Maksudnya?"
"Maksudnya calon mantu pilihannya Al Hakam, Kak. Kakeknya Zaim."
Monica menarik napas, hampir saja dirinya tersedak. "Tunggu-tunggu. Maksudnya calon mantu pilihannya Al Hakam itu bukan kamu? Enggak, bukan. Jadi maksudnya hubungan kamu sama Zaim gak direstuin sama Al Hakam gitu?"
"Mmm mungkin."
Monica menggeleng-geleng. "Nia, dengerin saya baik-baik. Hubungan yang kehalang restu itu yang paling berat cobaannya. Jadi lepasin Zaim sekarang juga. Jangan berjuang buat hal yang sia-sia. Ka–"
Monica tak melanjutkan ucapannya, sebab Nia yang tiba-tiba membekap mulutnya. Nia bergantian menunjuk telinganya sendiri, lalu menunjuk seorang wanita yang duduk tepat di belakang kursinya. Monica mengangguk mengerti, menganggap wanita tersebut orang yang mungkin dikenal Nia. Terdengar wanita itu tengah berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang bernama Kasih.
Nia melirik pada pantulan kaca. Tampak wanita yang tengah bertelepon dengan Kasih itu mengenakan seragam pramugari maskapai Awan Biru. Saat Nia tiba-tiba teringat mendiang kakak Zaim yang juga bekerja di maskapai yang sama, pramugari tersebut malah menyebut nama Zain. Tidak hanya menyebut, pramugari itu bahkan menumpahkan unek-uneknya tak lama setelah memutus panggilan telepon.
"Najis. Dari dulu gobloknya gak udah-udah. Itulah kenapa gue gak ikhlas dia sama Zain. Mana pantes Zain sama dia. Pantesan juga sama gue." Si pramugari cekikikan. "Tapi gue seneng seenggaknya bisa ngerusak rumah tangga mereka. Yang satu mampus, yang satu jadi ***** sampe gila."
DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
Emily? Ya Emily. Ternyata pramugari yang bertelepon dengan Kasih di kafe beberapa menit silam adalah Emily. Singkat cerita Nia yang terpergok menguping bahkan merekam semua yang Emily katakan membuat Emily naik pitam. Emily hendak berbuat kasar pada Nia dan terutama hendak merusak ponselnya. Namun di luar dugaan Monica tiba-tiba saja menjambak rambut Emily, bahkan menyiram wajah Emily dengan sisa jus kacang merahnya.
"Bu Monica, tolong tenang, Bu. Ini kantor polisi. Tolong jangan bikin keributan. Mari kita selesaikan baik-baik. Tolong lepasin dulu, Bu Monica." Seorang polisi mencoba melepaskan jambakan murka Monica dari Emily.
"Bukannya pelakor itu ya, yang bikin keributan dan gak mau nyelesaiin baik-baik?"
"Apa kamu bilang? Pelakor? Jangan asal ngomong ya kamu! Jangan sampe saya tuntut kamu atas pencemaran nama baik!" Teriakan Emily kian menggelegar.
"Ibu Emily juga tolong tenang, Bu. Akan keliatan kok nanti siapa yang bener dan siapa yang salah. Jadi sekarang duduk dulu. Ka–"
"Gak perlu," sela Monica pada si polisi. "Dengerin ini aja. Ini cukup buat jadi alesan saya nyerang pelakor ini." Monica meletakkan ponsel Nia di meja, lalu mengklik ikon play sebuah rekaman suara.
Najis. Dari dulu gobloknya gak udah-udah. Itulah kenapa gue gak ikhlas dia sama Zain. Mana pantes Zain sama dia. Pantesan juga sama gue. Tapi gue seneng seenggaknya bisa ngerusak rumah tangga mereka. Yang satu mampus, yang satu jadi ***** sampe gila.
__ADS_1
"Kalo kaya gini gua gak perlu repot-repot ngintrogasi kan, Za?"
Perhatian semua orang yang semula tertuju pada hasil rekaman Nia, kini beralih pada suara bariton seorang pria. Terlihat Zaim dan Bastian berdiri di tengah pintu masuk kantor polisi. Monica yang akhirnya melepaskan jambakan murkanya, membuat emily seketika jatuh terduduk. Emily menunduk, tubuhnya bergetar, dan perlahan, tangisnya pun pecah. Entah hukum berdasar undang-undang atau hukum dari Zaim yang menanti di depan sana, satu yang pasti, Emily sudah berakhir!
"Are you okay, Sayang?"
Nia hanya mengangguk menanggapi Zaim.
"Ikbal sama Ibu kamu lagi otw ke sini. Maaf aku gak bisa nganterin pulang. Tapi nanti aku telfon."
Nia kembali mengangguk, dan perlahan melepas genggaman tangan Zaim yang gemetar. Sementara Zaim dan Bastian dikawal oleh dua orang polisi ke ruangan Jenderal, Nia melangkah enggan menuju pintu keluar kantor polisi. Entah kenapa Nia tiba-tiba merasa sesak. Mungkinkah karena Zaim yang kini juga tengah merasa sesak? Rasanya Nia ingin sekali menerobos ruangan Jenderal itu dan menggenggam tangan Zaim. Sebab sungguh, tangan yang gemetar itu harus kembali seperti sedia kala. Berapi-api!
"Tuh, Bu. Tuh si Nia tuh gantian cubit." Ikbal menunjuk Nia yang baru saja muncul dari balik pintu kantor polisi seraya menghindari cubitan Ushi.
Ushi berjalan setengah berlari menghampiri Nia. "Kamu gak apa-apa? Ada yang luka? Perlu ke dokter? Coba Ibu periksa." Ushi memutar-mutar tubuh Nia.
"Gak ada yang luka, Bu. Aku gak apa-apa."
"Selalu bilang gitu." Ushi mulai melancarkan cubitannya di lengan Nia. "Selalu bilang gak apa-apa. Gak pernah terbuka sama Ibu. Kalo sakit tuh ya bilang sakit."
"Sakit."
"Yaiyalah sakit. Siapa suruh." Ushi kembali mencubit lengan Nia. "Jantung Ibu mau copot tau gak. Ibu pikir gantian kamu yang dikejar sama om-om. Kamu juga." Ushi tiba-tiba menoleh pada Ikbal. "Kebiasaan banget bikin Ibu panik se–"
"Halo. Maaf. Ibu ini yang namanya Ibu Ushi kan? Orangtua angkatnya Nia kan?"
Spontan Ushi menoleh ke asal suara. "Orangtua kandunglah. Orang saya yang ngelahirin dia. Kamu siapa?"
"Oh. Saya Monica. Saya temennya Zaim yang dari luar negri."
Ushi mengangguk-angguk. Berbeda dengan Nia yang memiringkan kepalanya, bingung.
"Tapi yang saya denger dari Zaim Nia ini anaknya Ma–, maksud saya, anaknya Ibu Nila sama Pak Burhan," imbuh Monica.
__ADS_1
"Oh Zaim belom cerita berarti ya. Nila mah cuma ibu tiri. Sebelom nikah sama Nila, saya sama Burhan udah punya Nia …"
DEG