
Zaim tak henti tertawa, bahkan tawa tertahan itu mulai terdengar jelas seiring bertambahnya menit. Para pelayan yang sedang melakukan pekerjaannya masing-masing di sekitar Zaim sampai dibuat kepo. Apakah tuan yang selama berbelas tahun hanya melipat wajahnya itu tengah menyaksikan sesuatu yang seru di ponselnya? Tidak, tidak mungkin. Mereka berani menjamin dengan upah tahunan mereka yang fantastis, bahwa tayangan selucu apapun tidak akan bisa menjahili urat-urat tawa di wajah tuannya.
Lalu? Apakah ada wanita yang membuat Zaim tertawa? Yang itu jauh lebih tidak mungkin. Karena jika itu mungkin, saat ini mereka pasti sedang duduk manis melihat wedding organizer mengambil alih pekerjaan mereka. Jadi? Apa yang membuat Zaim tertawa? Entah mulai diserang penyakit gila atau ketempelan arwah gentayangan di suatu tempat. Yang jelas, satu di antara itu. Wajar saja jika mereka berpikir demikian. Sebab selama bertahun-tahun bekerja untuk Zaim, pria tampan itu selalu tampak tak normal.
Dan hari inilah yang paling tak normal. Seorang Zaim Alfarezi yang biasanya sibuk meninjau satu per satu usahanya kini sedang berjemur sambil menertawakan entah apa di ponselnya. Seharusnya para pelayan memercayai alasan yang kedua. Sebab ketidaknormalan yang ditunjukkan Zaim saat ini benar-benar karena wanita, atau lebih tepatnya pacar onlinenya. Benar, Nia, Yesenia Eve, gadis tujuh belas tahun yang lebih tidak peka dari gebetan yang sudah berjam-jam diajak berkeliling di stand make up!
LK : Jadi Ikbal lagi ngebos karna lagi sakit?
KAO : Yup. Wat to the hell banget kan?
LK : Haha.
KAO : Kalo aku gak ngancem pake foto syurnya sama si ta* berjalan, dia udah nyuruh aku mijetin kakinya yang bau comberan itu tau gak. Dasar bocah setan.
LK : Haha.
KAO : 🤬
LK : Mau aku kirimin bunga biar suasana hati kamu membaik?
KAO : Boba aja. Sama martabak coklat keju. Sama ayam geprek. Sama bomboloni juga boleh. Tapi aku paling pengen jajanan K-m*rt sih. Gimbab tuna keju sama kuah tteokbokki duh 🤤
LK : Mau aku beliin?
KAO : Gratis?
LK : Hari gini mana ada yang gratis.
KAO : Jadi gantinya pake uang atau?
LK : Atau?
KAO : 😑
LK : Haha.
KAO : mengetik…
LK : Tapi aku gak mau kalo cuma sekali.
KAO : Ini lagi bahas jorok kan?
LK : Iya dong.
"Makin ke sini makin blak-blakan banget ngomongnya nih makhluk online," gumam Nia sambil terus mengetik.
KAO : mengetik…
LK : Mau aku nikahin gak kalo kamu udah lulus?
KAO : mengetik…
__ADS_1
LK : Kalo nikah kan tidurnya bisa berkali-kali.
Mulut Nia membulat, jari-jemarinya yang sibuk mulai terasa kesemutan, dan otaknya, blank total. "Fix ini ngelanggar aturan kencan ketiga. Fix pake banget."
KAO : mengetik…
LK : Haha.
KAO : Plis aku masih 17 taun.
LK : Nanti pas lulus kan udah19 taun.
KAO : Aku maunya nikah di umur dua puluhan.
LK : Kalo gitu aku cuma perlu nunggu satu taun lagi.
Nia meniup poninya. "Dan fix, ini cowok beneran pengusaha. Lincah banget ngomongnya omg-omg. Gak, gue gak boleh kalah lincah."
LK : mengetik…
KAO : Kamu baru aja ngelanggar aturan kencan ketiga loh 😏
LK : Terus? Mau ngeblokir aku lagi 😏
"Anjir. Baru mau ngancem udah skak," gumam Nia.
KAO : mengetik…
KAO : 😒
LK : Aku jadi inget soal temen kencan online Vina yang katanya om-om itu. Kamu tau apa yang sebenernya bikin dia marah? Dari sudut pandang aku sebagai cowok?
KAO : Apa?
LK : Bukan soal tidur atau semua hadiah yang dia kasih ke temen kamu. Tapi harapan yang diancurin. Cowok gak bakal mau keluar uang kalo dia gak ngarep sesuatu, dan cewek gak boleh nerima uang sepeserpun kalo dia gak bisa nangkep harepan itu.
Nia bergumam lagi, "Anjir bahasanya macem Yang Mulia Braheim kalo lagi nyuruh-nyuruh Murat Iskender pas lagi gak mood."
LK : Simpelnya. Ketika cowok mau keluar uang, si cewek harus tau apa yang biasanya diharepin cowok. Gak melulu tidur sih, ya walopun kebanyakan itu. Tapi ada juga yang kaya aku, cuma mengharap naik ke pelaminan sama kamu.
"Ulululu co cweet banget sih ini pacar online acu." Nia memukul-mukul bantal yang sedari tadi dipeluknya.
LK : Jadi kalo aku kirim boba, martabak coklat keju, ayam geprek, bomboloni, gimbab tuna keju sama kuah tteokbokki, tau kan apa yang aku harepin?
Spontan Nia melempar ponselnya. "Apaan dih. Apaan? Tidur? Nikah?"
LK : Nikah sama aku kalo kamu udah 20 taun? Deal?
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Tatapan semua penumpang pesawat yang semula hanya fokus melihat papan informasi teralihkan sepenuhnya, ketika sosok pria bersetelan serba hitam itu, Zaim Alfarezi, melintas di sekitar mereka. Terlihat Zaim tengah mencari keberadaan Bastian yang satu jam lagi akan terbang ke negeri jiran. Melalui telepon terakhirnya, Bastian mengatakan pada Zaim ada yang perlu disampaikannya secara langsung. Zaim yang saat itu sibuk menggoda Nia melalui pesan suara pun terpaksa menyudahi kegiatan favoritnya tersebut dan bergegas ke bandara.
"Gua abis beli kopi."
Zaim tak menjawab, hanya menoleh ke asal suara lalu berjalan mencari kursi tunggu bandara yang kosong.
"Gua cuma dapet cuti dua minggu," tambah Bastian.
"Terus masalahnya? Kurang lama? Mau gua urus biar lu dapet cuti selama yang lu mau?"
Bastian tertawa, sembari duduk di samping Zaim. "Makasih tapi gua gak berencana jadi jongos lu seumur hidup." Bastian diam sesaat. "Waktu kita nyusup ke rumah Ushi, gua gak nemuin yang bisa dijadiin petunjuk selain kunci yang dibuat ganjel meja rias. Gak tau kenapa gua feeling kalo kunci itu bukan sengaja dijadiin ganjelan tapi disembunyiin sama Ushi di sana," ujar Bastian akhirnya.
Zaim hanya mengangguk-angguk mendengarkan.
" … Setelah gua cari tau ternyata itu kunci loker kereta, buatan Malaysia. Gua yakin ada petunjuk masa lalu Ushi di dalem loker itu. Semoga aja lokernya masih ada."
"Dan kalo udah gak ada?"
Bastian refleks menghela napas. "Terpaksa pake rencana cadangan. Gua bakal nyusup ke kamar Ushi yang di Malaysia."
Zaim kembali mengangguk-angguk. Itu rencana cadangan yang tak ada bedanya dengan bunuh diri. Untuk menyusup ke kamar Ushi maka harus lebih dulu menyusup ke dalam kediamannya, dan mustahil bisa menyusup ke dalam kediaman dengan penjagaan paling ketat karena dihuni oleh orang paling berpengaruh di Malaysia, bukan? Rasanya selain Lexander Kingston yang memiliki pendengaran iblis atau Devraaj Narvinder yang bisa membuka portal sesuka hati dan atau Daxraj Natesh yang biasa berkelakar dengan waktu, siapa pun itu hanya akan mati konyol.
"Oke. Lakuin sesuai rencana lu aja." Zaim beranjak.
"Oke."
"Bas."
Bastian tak menjawab, hanya mengurungkan niatnya menyeruput kopi dan menoleh pada Zaim yang sudah berjalan cukup jauh.
"Jangan mati," imbuh Zaim.
"Emang ada yang bisa matiin orangnya Zaim Alfarezi?"
Zaim tertawa, lalu berlalu melanjutkan langkahnya sembari melambaikan tangan pada Bastian.
"Za."
Zaim berganti menoleh.
"Walopun masih terlalu cepet buat ngomong ini tapi lu harus siap-siap. Karna kalo bener Yesenia Eve anak di luar nikahnya Ushi Widhiani, kalian dalem bahaya."
"Gua tau, tapi masa lu gak tau?"
Bastian enggan merespon, sebab jika Zaim sudah mengatakan sebaris kalimat membosankan itu, sungguh hanya rasa jengkel tak tersalurkan yang akan didapat Bastian setelahnya.
"Serius lu gak tau?" Zaim sepenuhnya berbalik menghadap Bastian.
"Iya apaan?"
"Gua kan Duplikatnya Lexander Kingston. Jadi bukan gua yang harus siap-siap ngadepin bahaya, tapi sebaliknya."
__ADS_1