
Nia tampak melangkah ragu, ketika gang yang biasa dilaluinya ke sekolah dipenuhi kating. Sejujurnya tak ada alasan untuk Nia menjadi ragu-ragu seperti itu, sebab bukan hanya dirinya seorang yang melewati gang tersebut. Ada banyak siswi perempuan, pun pekerja kantoran yang juga perempuan, para pedagang kaki lima yang berbondong mendorong gerobaknya, dan bahkan calon polisi-polisi wanita yang bermaraton pagi.
"Makin rame aja tuh tempat nongkrong." Nia menghela napas. "Fix mulai besok gue mau baik-baikin Ikbal biar bisa berangkat sekolah bareng."
Bukan tanpa alasan Nia mengambil keputusan semantap itu. Rasa ragu yang dirasakan Nia selama empat hari terakhir benar-benar mengganggu. Para kating yang biasa nongkrong di ujung gang sambil menyesap rokok elektriknya mulai memandang Nia berbeda. Namun bukan memandang terpesona melainkan mupeng alias muka pengen. Bahkan tak jarang mereka juga melontarkan kata-kata misterius yang terdengar cabul.
"Gak nyangka ternyata kecil-kecil jago juga goyangannya."
"Bener banget. Sampe anunya si anu gak bisa lemes."
"Jadi pengen. Sayang yang punya orang gede."
"Yaudah tunggu aja ntar kalo udah ditinggalin."
"Udah longgar dong?"
Nia tak mengindahkan tawa geli kakak-kakak tingkatnya tersebut, hanya fokus menambah kecepatan langkahnya. Sialnya rasa mengganggu itu terus mengekori Nia. Kemarin para kating, sekarang berganti teman sekelas Nia dan bahkan, wali kelas Vina, Pak Putro. Gila. Ada apa sebenarnya? Kenapa Pak Putro sampai ikut-ikutan melontarkan kata-kata cabul itu? Di pidatonya saat upacara hari senin pula.
" … Khususnya untuk siswi perempuan. Jangan mudah termakan bujuk rayu pacar. Karna yang bakal dirugikan itu kalian." Pak Putro memutar tubuhnya menghadap kelas X2, kelas Nia. "Ya, Yesenia? Hati-hati pacarannya. Bedain cara nikmatin masa muda sama ngehancurin masa depan."
Suara sorak bercampur tepuk tangan terdengar sangat seru, melebihi suara delapan oktaf sang komandan upacara pagi itu. Semua penghuni sekolah baik yang paham pun tak paham maksud tersembunyi yang disampaikan Pak Putro dalam pidatonya, kompak menoleh pada Nia, pun kompak berbisik menanyakan keviralan apalagi yang menjadikan Nia dan Zaim sebagai sasaran empuk.
"Serius lu gak tau, Bal?" tanya Esa.
"To the point apa gua bogem?"
Esa tertawa. "Kasih tau, Fal, kasih tau."
__ADS_1
Falah ikut tertawa, seraya merogoh ponselnya dari dalam saku. "Tapi pake headset dulu, Bal."
"Bener-bener pake headset. Bahaya soalnya buat kuping-kuping minim iman kaya kuping lu." Esa tak henti tertawa.
Ikbal tak menjawab, hanya menerima headset dari Falah.
"Nih. Selamat berhareudang-hareudang ria, sahabat." Falah pun tak henti tertawa.
Ikbal mengerjapkan matanya berulang kali. Video panas berdurasi empat puluh sembilan menit itu baru terputar selama tujuh detik, tetapi Ikbal langsung tahu siapa para pemeran utamanya. Benar, Nia dan Zaim. Bodoh memang jika ada yang langsung memercayai keaslian video panas itu. Tetapi demi apapun itu benar-benar Nia dan Zaim. Terbukti dari segi wajah, bentuk tubuh, dan terutama, suara. Gila!
Yang lebih gilanya lagi, video panas yang dibuat di kamar mandi mewah itu diunggah sendiri oleh Zaim dengan caption, merambah bisnis lain. Pantas saja jika sejak hari perilisan video panas itu bisa langsung menembus sepuluh juta penonton. Meski terlalu banyak kemiripan yang sulit disangkal, hati kecil Ikbal bersikeras menolak untuk percaya. Mungkin Zaim memang betengsek, tetapi kepalanya pasti bukan sekadar pajangan.
"Ini bener akunnya Zaim?"
"Denger-denger sih bener. Katanya dia udah jadi member dari taun 2013," balas Falah.
"Gak percaya gua."
"Bal? Woy? Bu Indah udah masuk kelas tuh. Woy."
Ikbal mengabaikan seruan kedua sahabatnya, sibuk menambah kecepatan langkahnya menuju spot tersembunyi para siswa Lentera Dunia ketika ingin membolos kelas. Namun lambat laun langkah terburu Ikbal terhenti, karena tak sengaja mendengar suara cekikikan seorang siswa. Ikbal mengendap mengikuti asal suara, mengintip, dan mendapati Bayu tengah menonton video panas Nia dan Zaim.
"Anjir-anjir. Dewa banget ini editannya. Padahal aslinya dibuat di toilet sekolah." Bayu masih cekikikan.
"Maksud lu di toilet sekolah?"
DEG
__ADS_1
...•▪•▪•▪•▪•...
Pemandangan sore itu di lapangan golf langganan para artis dan politikus tampak sangat langka. Safi, mantan Raja Malaysia yang terpilih selama tiga kali berturut-turut terlihat tengah berusaha keras mengajak mengobrol Al Hakam, CEO katering diet nomor satu di Indonesia. Andai saja ada wartawan, itu benar-benar akan menjadi headline berita yang luar biasa. Ketika mantan Raja Malaysia nyaperin CEO Muezza.
Entah bagaimana Safi dan Hakam bisa berakhir bermain golf bersama, yang pasti Hakam hanya bungkam meski Safi terus mengalahkan pukulannya. Hingga topik baru yang disinggung Safi berhasil membuat kebungkaman Hakam bertekuk lutut. Safi berkata jika dirinya dan Hakam lebih baik bekerja sama. Lagipula mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menyingkirkan Nia, jadi tak ada gunanya saling bermusuhan, bukan?
"Maaf tapi niat saya cuma sebatas gak ngasih restu aja, Pak Safi. Gak lebih dari itu."
Safi menggeleng-geleng menanggapi Hakam. "Zaman sekarang kalo punya niat gak boleh setengah-setengah, Pak Hakam."
"Wah, saya gak sesemangat Anda, Pak."
"Harusnya Anda semangat kalo gak mau rugi." Safi bersiap mengayunkan tongkat golfnya. "Kalo cuma gak ngasih restu tanpa punya taktik, mereka bisa kawin lari. Atau yang lebih parah, hamil di luar nikah. Berita kaya gitu gak bagus loh buat pebisnis kaya kita."
Hakam diam, sambil mengangguk. Bukan anggukan setuju tetapi anggukan pengakuan akan bakat Safi dalam bermain golf.
" … Dan mau serapet apapun kita berusaha nutupin berita itu, pendapatan perusahaan kita bakal tetep anjlok. Saya kan udah pengalaman soal itu." Safi tertawa. "Putri bungsu saya pernah kabur dari rumah dan hamil anak tukang bakso."
"Tapi denger-denger baksonya enak."
Safi kembali tertawa. "Sayang banget tapi kayanya tujuan kita emang beda ya, Pak Hakam."
"Karna saya yakin mereka bakal nyerah. Kalo pun gak nyerah, pasti gak bakal nikah. Saya tau watak cucu saya, dan sedikit tau watak cucu Anda."
Safi mengangguk-angguk lagi. "Tapi mungkin lain kali kita bisa kerja sama." Safi memberikan stik golfnya pada pramugolf. "Kalo gitu saya permisi dulu. Sampe bertemu la–"
"Harusnya Anda nawarin kerja sama yang lain sama saya, Pak Safi," sela Hakam. "Saya pasti pertimbangin walopun gak pake cara yang berdarah-darah."
__ADS_1
Spontan Safi menghentikan langkahnya, lalu perlahan kembali menghadap Hakam. "Saya khawatir kita lagi bahas topik yang beda, Pak. Jadi, bisa langsung ke intinya aja?"
"Bawa Umar Zakawat ke depan saya. Sekarang."