HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KENANGAN 21+


__ADS_3

" … Gak usah terlalu dipikirinlah, Bu," ujar Ushi seraya meletakkan secangkir teh di meja. "Diminum dulu tehnya."


Ibu Ushi, Suleikah, menghela napas. "Gimana gak dipikirin? Orang kebayang mulu saking jelasnya."


"Emang mereka ngapain sih, Bu? Ciuman aja apa gimana?"


"Gak usah nanya. Nambah-nambahin dosa aja kalo diinget."


"Yaudah iya aku gak nanya lagi." Ushi beranjak. "Kalo gitu mau sambil aku pijet?"


Suleikah hanya mengangguk menanggapi Ushi. Sambil menikmati pijatan Ushi di pundaknya pun menikmati seruputan teh melati super manis, Suleikah lagi-lagi terbayang akan kejadian satu jam silam. Saat itu Suleikah baru saja kembali dari sholat jamaah isya di masjid. Suleikah sengaja melewatkan kegiatan tadarus bersama karena khawatir dengan Nia yang sendirian di rumah. Tetapi ternyata sia-sia saja kekhawatiran Suleikah.


Karena Nia tidak sendiri melainkan bersama Zaim. Dan bukan bersama melakukan aktivitas positif justru sebaliknya. Di atas meja televisi yang berantakan, tampak Nia dan Zaim sedang berciuman. Mereka berciuman sambil melancarkan sentuhan pada anggota tubuh satu sama lain. Masih teringat jelas di bayangan Suleikah, tangan kekar Zaim yang masuk ke dalam piama Nia. Sementara tangan Nia, sibuk melucuti pakaian Zaim yang berlapis.


"Astagfirullah."


"Eh, Bu? Kenapa? Kekencengan ya aku mijetnya?"


Suleilah menggeleng. "Sebenernya gimana cara kamu didik anak-anak sih? Kok bisa pacarannya sampe kelewatan gitu?"


"Anak zaman now kan emang gitu pacarannya, Bu."


"Ya terus kamu ngikut aja gitu?"


Ushi berganti menghela napas. "Mereka bakal langsung nikah kok setelah Nia lulus SMA. Jadi Ibu gak usah khawatir."


"Anak pacaran kelewatan gitu kok disuruh gak khawatir. Orangtua macem apa sih kamu tuh. Yang tegas dong." Suleikah meletakkan cangkir tehnya kasar, lalu beranjak.


"Ibu udah mau tidur?"


"Yaiya orang ngomong sama kamu gak faedah."


Ushi tertawa. "Iya-iya aku janji bakal lebih tegas sama mereka."


Suleikah tak menjawab, hanya menggeleng-geleng.


"Bu, pertanyaan aku yang kemaren belom dijawab loh." Ushi menghampiri Suleikah. "Ibu sama Bapak ada masalah apa kok Ibu sampe ke sini?"


"Gak ada masalah apa-apa," sahut Suleikah akhirnya.


"Terus Bapak di mana?"


Suleikah menggeleng lagi.


"Loh emang Bapak gak bilang apa-apa?"

__ADS_1


Suleikah tak henti menghela napas, napas lelah. Bukan lelah dengan masalah sang cucu melainkan sang suami, Safi. Jujur saja Suleikah lebih nyaman mengingat bayangan akan ciuman panas Nia dan Zaim daripada bayangan akan bincang terakhirnya dengan Safi. Suleikah sedang memberi makan ikan ketika Safi tiba-tiba mendatanginya. Suleikah cukup terkejut dengan kedatangan Safi. Terlebih dengan topik perbincangan mereka.


*FLASHBACK ON*


*PERCAKAPAN DALAM BAHASA MELAYU*


" … Intinya aku mau jual rumah ini. Jadi mendingan kamu ikut Ushi."


Suleikah menghela napas. "Emangnya kapan mau dijual?"


"Kamu packing aja dari sekarang."


"Yaudah." Suleikah berlalu.


"Makasih karna sampai detik ini kamu gak pernah nanya alesan atas semua tindakan aku."


Suleikah menghela napas lagi. "Emang apa untungnya nanyain hal-hal kotor?"


"Jangan sok bersih."


Spontan Suleikah menghentikan langkahnya.


"Kamu tuh juga kotor," imbuh Safi. "Selama bertaun-taun kamu khianatin aku."


Safi tersenyum. "Iya, Allah pasti denger. Denger pas kamu nyuruh dokter malsuin jenis kelamin anak haram itu. Denger pas kamu nyuruh Burhan kabur sama anak haram itu. Iya kan?"


*FLASHBACK OFF*


"Enggak. Bapakmu gak bilang apa-apa. Udah Ibu mau tidur. Tepatin janji kamu buat tegasin mereka."


Ushi memandangi Suleikah yang berlalu. "Pasti Ibu sama Bapak lagi berantem. Tapi baru kali ini Ibu sampe pergi. Ada aja masalah duh." Ushi berganti memandang pintu kamar Nia. "Itu anak lagi. Udah kebelet banget apa? Ya kalo udah kebelet kenapa sampe sekarang belom nyiapin pernikahannya? Bikin greget aja sih."


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Misi kalian selesai." Zaim menoleh pada Bastian dan Jani. "Kalian gak perlu lagi nyari kaki tangan Kasih. Mereka udah diurus sama Joff." Zaim berganti menoleh pada Sobari. "Bapak juga gak perlu lagi tinggal di rumah aman* buat ngelindungin Nia. Udah gak bakal ada pengganggu."


*Sebuah rumah yang digunakan Zaim untuk kepentingan misi-misinya. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.


"Maaf, Pak Zaim. Tapi bukannya masih ada Bu Kasih?"


"Setuju," timpal Bastian pada Sobari. "Dia pengganggu yang sebenernya karna dia punya gangguan mental kan, Za."


"Kasih udah diurus sama Yoshi. Jadi diem-diem Yoshi nemuin Kasih buat flashback kenangan mereka. Dia pikir itu bisa jadi salah satu cara buat nyembuhin Kasih."


Bastian mengangguk-angguk menanggapi Jani. "Gitu ya. Nekat juga ya tuh si Yoshi. Kalo kegep bokapnya Kasih bisa suram masa depannya."

__ADS_1


"Saya denger dari bawahan saya, Pak Anto terbang ke Minnesota seminggu yang lalu."


Bastian kembali mengangguk-angguk. "Pasti mau jemput istrinya sekalian protes sama pihak RSJ."


"Percuma." Zaim beranjak. "Istrinya gak bakal mau balik dan pihak RSJ gak bakal ngasih tau yang sebenernya. Iya kan, Jan?"


"Iya. Karna …"


Alasan Davina, istri Anto, enggan kembali ke tanah air adalah karena takut bertemu dengan Emily, orang yang mendorongnya dari tangga dan dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan. Lalu alasan pihak RSJ enggan memberitahu mengapa pihaknya memperbolehkan Kasih berkeliaran saat sedang dalam masa perawatan adalah karena Emily sudah membeli peraturan di RSJ yang mereka kelola dengan sekoper uang. Intinya, hancurnya kehidupan Kasih beserta keluarganya dikarenakan oleh Emily yang sampai hari ini masih menaruh iri pada Kasih.


" … Kalo soal Emily yang bebas keluar masuk penjara kan udah jelas. Karna ada Safi di belakangnya. Terus soal orangnya Pak Hakam yang Beliau bayar buat ngawasin Emily, Bagas dan yang lain juga sama. Mereka diancem bakal dibunuh Safi kalo nolak ngasih laporan palsu ke Beliau. Makanya makin bebas aja itu Emily bahkan bisa sampe nyamperin Kasih ke Minnesota," terang Jani.


"Intinya masalah Emily sama Safi udah clear. Kalo masalah Kasih, kita percayain aja sama Yoshi. Kalian bisa libur. Saya udah transfer."


Sobari beranjak. "Terima kasih, Pak Zaim."


Bastian ikut beranjak. "Mulutnya lebih licin dari belut diminyakin, Pak. Jadi jangan percaya kata libur yang keluar dari mulut dia."


Sobari hanya tertawa, diikuti Jani juga Zaim setelahnya. Bastian dan yang lain lalu pamit undur diri. Namun tak berselang lama, Zaim kembali kedatangan tamu di tengah-tengah dirinya yang sedang terburu menyantap makan siang yang terlambat. Meski begitu Zaim tetap harus menyambut si tamu yang tak lain tak bukan adalah sang kakek, Al Hakam. Al Hakam datang dengan menenteng plastik restoran steak kesukaan mereka. Melihat itu Zaim pun terpaksa menunda rapat penting dan terpaksa menyantap makan siang ronde dua.


" … Di Atlas?"


Zaim mengangguk pada Hakam. "Main catur sama Joff."


"Main catur sampe lima hari. Terus udahannya bukannya ngurusin kerjaan atau nemuin keluarga yang pasti khawatir tapi malah ke rumah anak orang dan ciuman sampe setengah telanjang di atas meja?"


UHUK


"Kakek tau kamu rada-rada," tambah Al Hakam sembari membuka botol air mineral untuk Zaim. "Tapi jangan bikin malu. Barusan Neneknya pacar kamu dateng ke kantor Kakek dan minta kamu cepet-cepet nikahin cucunya."


"Aku baru bisa nikah kalo Kakek ngasih restu."


Hakam meletakkan pisau steaknya kasar. "Mana mungkin."


"Tolong pikirin lagi."


Hakam mengusap mulutnya dengan tisu. "Kakeknya udah bunuh Kakak kamu. Cucunya hampir bunuh Kakek kamu. Bapak tirinya dipenjara karna kasus video porno. Ibu tirinya nikah sama mantan gangster. Dengan latar belakang keluarga sekacau itu, mau orang lain yang jadi Kakek kamu sekalipun gak bakalan dikasih restu."


"Nia gak sengaja."


"Apapun alesannya. Dia sama kacaunya sama keluarganya."


"Yaudah kalo gitu."


"Yaudah. Ini makan siang terakhir kita." Hakam berlalu.

__ADS_1


__ADS_2