
Nia serta Vina berlari saling mendahului menuju warung bakso di sekitar sekolah. Rasa lapar keduanya benar-benar sudah tak tertolong lagi. Wajar saja, ini hari senin. Banyak pelajar yang melewatkan jam istirahat di hari senin karena jadwal mata pelajaran yang lebih padat dibandingkan hari-hari lain. Ditambah pula dengan bel masuk sekolah yang berbunyi lebih awal karena ada upacara dengan atribut alay.
"Abang, bakso campur dua. Tetelannya pisah. Sama es jeruk dua pake tambahan gula satu sendok. Sekian terima kasih." Vina melompat ke kursi dan duduk di depan Nia. "Jadi gimana tadi? Soal perasaan lu setelah tau kalo ternyata Tante tuh nyokap lu yang asli?"
"B aja sih. Tante kan dari dulu juga udah sayang banget sama gue. Yang kaya numpang malah si Ikbal kan."
"Emberan. Kan gue juga sering bilang sayangnya si Tante sama lu tuh beda. Lunya aja yang gak percaya. "Vina meletakkan ranselnya. "Terus akhirnya lu sama Tante sama si Pithecanthropus Erectus dan yang lain sepakat ngerahasiain identitas asli lu demi keselamatan?" tanya Vina lagi.
Nia mengangguk. "Karna kan Mbah gue yang dari Tante gak suka sama bokap gue. Jadi ada kemungkinan dia gak suka sama gue juga kan."
Vina ikut mengangguk. "Kalo gitu hubungan lu sama Zaim gak akan semulus itu dong, Nya? Secara bokapnya Tante gak suka lu. Terus lu pernah bilang gak suka sama Pak Hakam juga kan?"
"Bakso campur dua. Tetelan pisah. Es jeruk dua pake tambahan gula satu sendok." Abang tukang bakso meletakkan nampan berisi pesanan Vina. "Selamat mukbang kekasih-kekasih gelap Abang."
"Idih gaje anjir." Vina terbahak.
Nia hanya ikut terbahak sembari mengangkat mangkuk baksonya.
"Terus lu udah punya rencana?"
"Rencana buat apaan?" Nia balik bertanya.
"Ya buat kelanjutan hubungan lu sama Zaimlah."
"Gak ada. Selama dia gak selingkuh atau mukul gue, gak ada alesan buat gue pergi dari dia kan?"
"Ihiy yang pelan-pelan mulai jadi bucin." Vina kembali terbahak. "Oh iya hampir lupa. Gimana-gimana soal bokapnya Ikbal yang kata lu ganjen bin najis?"
"Kayanya dia udah gak bakal berani ganjen-ganjen lagi deh setelah diancem sama Zaim."
Vina tak henti terbahak. "Lagian macem-macem sama calon Nyonya Alfarezi ya–
Ucapan pun tawa terbahak Vina menggantung, sebab ada suara lain yang lebih menggelegar. Suara yang tak lain adalah suara ayah Ikbal, Bagas, seketika mengubah atmosfer riuh di warung bakso yang sangat sesak itu menjadi sehening ruang sidang skripsi. Entah sejak kapan Bagas sudah berdiri di depan gerobak bakso tersebut, yang pasti firasat Nia sangat amat buruk!
" … Jadi kamu di sini? Bagus deh. Biar temen-temen kamu denger sekalian." Bagas menghampiri meja Nia dan Vina. "Denger baik-baik ya kalian semua. Anak ini nih." Bagas menunjuk Nia. "Udah numpang di rumah orang malah gak tau terima kasih, dan malah ngadu-ngadu sama pacarnya sampe saya dipecat …"
Pengunjung warung bakso yang mayoritas siswa-siswi SMAN Lentera Dunia itu mulai saling berbisik.
__ADS_1
" … Padahal niat saya cuma mau akrab. Eh, dia malah ngadu yang enggak-enggak sama pacarnya. Bilang saya genitlah, tukang megang-meganglah, apalah. Gak tau terima kasih!" seru Bagas. "Dan mungkin kalian belom tau …"
Para pengunjung bakso mulai menujukan kamera ponselnya masing-masing pada Bagas.
"Dia ini cewek gak bener! Masih sekolah tapi udah berani nginep-nginep di rumah pacarnya! Murahan ba–"
BYUR
Kini berganti ucapan pun seruan Bagas yang menggantung. Karena isi mangkuk bakso Nia yang belum tersentuh sedikit pun itu membasahi wajah Bagas. Spontan Bagas pun berteriak sambil mengipasi wajah dan terutama kedua matanya. Bagaimana tidak? Bakso suci itu baru saja dibubuhi lima sendok penuh sambal dan saus cabe! Suasana kian riuh, ketika isi mangkuk bakso Vina berganti dilayangkan ke wajah Bagas.
BYUR
"Aaakkk perih-perih. Air tolong air. To–"
BYUR
"Om emang genit dan tukang megang-megang tuh," sela Nia setelah berganti menyiram wajah Bagas dengan es jeruk. "Terus saya emang murahan, tapi cuma sama Zaim Alfarezi. Terus kenapa? Masalah?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Wafiq, tangan kanan Safi, terlihat tengah melaporkan sesuatu pada Safi. Safi yang sedari tadi terus mengayunkan tongkat golfnya memang tampak acuh, tetapi pukulannya yang meleset lebih dari dua kali cukup membuktikan jika mantan Raja Malaysia itu sedang mendengarkan dengan baik. Padahal respon yang diekspresikan Safi tidak seharusnya demikian. Sebab Wafiq membawa laporan yang menggembirakan.
*Dokter yang bantu Nona Ushi lahiran ternyata udah pensiun dan netep di Jakarta. Saya udah nemuin dia, Tuan. Dan anak Nona Ushi bener jenisnya cowok.
Safi masih bungkam, sibuk berkonsentrasi.
"Saya juga telah menemui semua kakitangan perubatan dan orang yang pada masa itu menyaksikan kelahiran Miss Ushi. Mereka juga mengatakan bahawa anak Miss Ushi adalah lelaki, Tuan*," imbuh Wafiq.
*Saya juga udah nemuin semua tenaga medis dan orang-orang yang waktu itu jadi saksi lahiran Nona Ushi, Tuan. Mereka juga bilang anak Nona Ushi cowok.
"Hati saya masih ganjil." Safi menoleh pada Wafiq. "Saya nak jumpa doktor. Para medik dan orang lain yang awak maksudkan tadi*."
*Saya mau ketemu sama dokter itu. Tenaga medis, dan semua orang yang kamu maksud barusan.
"Saya akan membuat temu janji de–"
"Sekarang," sela Safi. "Saya ingin berjumpa dengan mereka sekarang juga."
__ADS_1
Wafiq tak memberi jawaban apa-apa, meski begitu pria yang kerapkali mengenakan kopiah hitam itu langsung balik kanan dan berjalan setengah berlari meninggalkan tempatnya. Wafiq yang sudah mengabdi untuk Safi selama lima belas tahun tahu betul watak majikannya tersebut. Safi tidak pernah menyela ucapan orang, namun ketika dirinya sampai melakukan itu, itu artinya Safi sedang naik pitam.
"Silahkan, Tuan."
Safi muncul, setelah Wafiq membukakan pintu mobil. Sesuai kehendaknya, Safi akhirnya menemui orang-orang yang dulu menjadi saksi saat sang putri bungsu melahirkan anak pertamanya. Tetapi Safi tak melontarkan sepatah kata pun saat berhadapan dengan mereka. Safi sibuk membaca bahasa tubuh lima orang yang sudah tidak lagi menjabat sebagai tenaga medis itu. Tampak dari kacamata Safi, kelimanya begitu panik, takut dan tak siap.
Safi beranjak. "Awak semua masih warganegara Malaysia. Kemudian tahun depan saya nak bertanding raja lagi. Jadi awak tahu perlu berpihak kepada siapa?*." Safi meninggalkan ruangan.
*Kalian semua masih warga negara Malaysia. Terus tahun depan saya mau nyalon lagi jadi raja. Jadi kalian tau kan harus ada di pihak siapa.
"Bagaimana, Tuan?" Wafiq mengekori Safi, berusaha mengimbangi langkah majikannya yang sangat terburu.
"Mereka menipu. Jika mereka tidak membuka mulut sehingga lusa, bersihkan sahaja*."
*Mereka bohong. Kalo mereka gak buka mulut juga sampe lusa, beresin aja.
"Baiklah, Tuan."
"Bersihkan orang yang mungkin bersekongkol dengan mereka*." Safi tiba-tiba memperlambat langkahnya. "Sama juga dengan polis yang namanya Bastian dan Jani*." Safi menoleh pada Wafiq. "Bersihkan juga pengawal peribadi Suleikah*."
*Beresin orang-orang yang mungkin sekongkol sama mereka. Sama sekalian polisi yang namanya Bastian sama Jani. Beresin juga pengawal pribadi Suleikah.
"Tetapi, Tuan. Polis yang namanya Bastian dan Jani adalah orang Zaim Alfarezi. Saya rasa ia agak berbahaya*."
*Tapi, Tuan. Polisi yang namanya Bastian sama Jani kan orang-orangnya Zaim Alfarezi. Saya rasa itu agak bahaya.
Safi mengurungkan niatnya memasuki mobil, lalu berbalik menghadap Wafiq. "Maksud awak Zaim Alfarezi lebih bahaya dari Al Hakam?"
"Sungguh, Tuan. Apa yang saya tahu Zaim Alfarezi mempunyai banyak hubungan mafia di luar negara*."
*Benar, Tuan. Yang saya tau Zaim Alfarezi punya banyak koneksi mafia di luar negri.
"Awak yakin?"
"Yakin sangat, Tuan."
Safi masuk ke dalam mobilnya. "Jika ya, alih keluar Bastian dan Jani daripada senarai sasaran. Kemudian buat temu janji dengan Zaim Alfarezi*."
__ADS_1
*Kalo gitu keluarin Bastian sama Jani dari daftar target. Terus buat janji ketemu sama Zaim Alfarezi.