
Penyakit Ikbal terbukti membawa keberuntungan, meski hanya demam ringan dan keseleo di bagian otot hamstring. Berkat penyakit Ikbal, keputusan bulat Ushi perihal pindah sekolah bisa diubah. Ikbal memanfaatkan penyakitnya untuk menipu Ushi yang hampir setiap hari menangisinya yang tak pernah absen merintih. Ikbal berkata pada Ushi jika dirinya bisa jatuh ke lantai satu karena melamun, melamun akan keberatannya pindah sekolah. Ikbal sudah terbiasa di Lentera Dunia, baik dengan atmosfernya, teman-temannya maupun para guru.
" … Akhirnya Tante setuju. Dengan syarat Ikbal dan terutama gue harus langsung laporan kalo ada tanda-tanda pembullyan lagi," terang Nia.
Vina terbahak. "Licik juga tuh si Pithecanthropus Erectus."
"Gue juga kaget dia selicik itu. Jujur aja gak tega liat muka Tante waktu itu tapi diem-diem gue jadi tim horenya si Ikbal."
Vina kembali terbahak. "Lagian Tante tuh gak perlu ngekhawatirin lu kali, apalagi Ikbal. Lu berdua kan sama-sama cuek. Tapi kalo udah dicolek, langsung mimpi buruk tiap malem deh tuh orang yang berani nyolek lu berdua."
"Emberan."
"Terus lu mau cerita apaan kemaren? Katanya banyak yang mau lu ceritain sama gue?" tanya Vina sembari menyeruput kuah bakso.
"Oh iya hampir lupa. Jadi gini …."
Nia mulai bercerita, dan setiap satu ceritanya selesai, Vina hampir selalu tersedak kuah panas dengan lima sendok sambal itu. Mulai dari Duplikat L.K yang mengirim Zaim Alfarezi ke kediaman Nia saat akun Zetnya dihapus Ushi. Kemudian pesan ancaman dari unknown number yang sempat mengganggu Nia sebelum nomor ponselnya mendadak tidak terdaftar. Dan terakhir cerita yang masih hangat-hangatnya, Nia yang menyetujui ajakan Duplikat L.K untuk menikah saat usianya menginjak dua puluh tahun kelak.
"What? Udah gila ya lu? Demi apa lu ngeiyain gitu aja nikah sama orang online? Kalo dia om-om kaya Pria Purnama gimana? Atau yang lebih parah, kalo dia udah punya istri? Udah punya anak? Ya oke, anggep aja istrinya ngizinin dia nikah lagi, tapi kalo gak gimana hah?"
"Mmm kayanya dia beneran masih single deh, Vin."
Vina tiba-tiba beranjak, kemudian duduk di depan Nia. "Nya, dengerin gue. Ini real life, real life. Dan cowok seksi, masih single ples pengusaha cuma ada di film atau novel. Jadi plis, tarik ajakan nikahnya Duplikat L.K sekarang juga."
"Terus kalo dia ngirim Hotman Paris buat nuntut gue karna ingkar janji gimana?"
Vina menepuk dahinya keras. "Iya juga ya. Pas lu ngeblokir dia, dia ngirim Polisi. Pas akun Zet lu diapus Tante, dia ngirim Zaim Alfarezi. Kalo lu sampe ingkar janji, bukan gak mungkin dia ngirim Hotman Paris. Atau yang lebih parah, ngirim Farhat Abbas."
"Makanya."
"Kok lu santai banget sih, Nya? Ini masalah serius loh. Kalo ternyata bener Duplikat L.K om-om yang udah beristri dan beranak masa iya lu tetep mau nikah sama dia?"
"Gaklah. Terus gimana?"
"Ajak Duplikat L.K ketemu. Kalo ternyata dia beneran om-om beristri dan beranak, balikin semua yang dia kasih selama kalian pacaran." Vina tiba-tiba menunjukkan anting barunya. "Gue siap jual ini buat lu. Terus kalo dia masih gak terima juga, terpaksa lu harus minta bantuan orangtua."
"Maksudnya Tante?"
Vina mengangguk-angguk. "Gak ada cara lain. Walo gimanapun kita cuma anak kecil. Gak semua masalah bisa kita selesaiin sendiri. Kalo ngerasa gak ada jalan keluar lagi, kita harus minta bantuan orangtua."
"Tapi, Vin, langitnya cerah banget." Nia mendongak memandang langit.
"Ya terus apa hubungannya anjir. Udah cepet ajakin Duplikat L.K ketemuan. Malem minggu, di kafe lambada, jam 7 malem."
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Nia dan Vina tengah memasuki sebuah kafe yang terlewat sesak itu. Setelah menunggu cukup lama, dua meja yang mereka pesan pun akhirnya kosong. Mengikuti urutan rencana yang sudah mereka susun sejak empat hari yang lalu, Vina yang menggantikan Nia untuk bertemu Duplikat L.K langsung duduk di meja nomor satu, meja yang tepat mengarah ke pintu masuk kafe. Sementara Nia, duduk di meja yang paling dihindari pengunjung karena terlalu dekat dengan toilet, meja nomor tiga puluh dua.
Vina berdebar menanti kedatangan Duplikat L.K yang katanya mengenakan kemeja merah. Wajar. Posisi Vina saat ini jauh berbeda dengan posisi Nia saat itu yang bisa kabur kapan saja. Jika terbukti Duplikat L.K om-om, cara satu-satunya untuk kabur adalah dengan berpura-pura ke toilet kafe, tepatnya toilet pria. Karena pintu masuk dan keluar lain hanya ada di sana. Setelah berhasil keluar, Nia dan Vina hanya perlu menelepon Ikbal yang sudah siap menjadi driver goc*r mereka. Ya, begitulah rencananya.
Lalu akhirnya, pria berkemeja merah muncul, tepat pada pukul tujuh. Tetapi demi apapun, satu-satunya pria yang mengenakan kemeja merah hanya Zaim Alfarezi. Benar, Zaim Alfarezi, si hidden crazy rich. Dan pria beraura flamboyan itu melenggang begitu saja melewati meja nomor satu, dan tanpa ragu menarik kursi meja nomor tiga puluh dua. Gila! Seorang Zaim Alfarezi bersedia duduk di meja yang paling dihindari semua pengunjung kafe? Dengan gadis SMA aneh yang sedari tadi mengenakan kacamata hitam?
"Hai."
__ADS_1
Nia melepas kacamatanya. "Kakak ngapain di sini?"
"Bukannya kamu yang nyuruh saya ke sini?"
Nia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kan kamu ngajakin saya ketemuan di sini jam 7 malem."
"Saya gak ngajakin Kakak tapi Duplikat L.K," sahut Nia.
"Ya saya Duplikat L.K."
"Ini april mop*? Perasaan masih bulan maret."
*April mop atau april fool's day adalah tradisi tahunan yang dilaksanakan pada tanggal 1 April. Pada hari itu, orang-orang yang merayakan April Mop akan melakukan berbagai hal sebagai lelucon bahkan melakukan kebohongan untuk mencari sensasi.
Spontan Zaim tertawa. "Serius, saya Duplikat L.K."
"Dan serius, itu Pria Purnama."
"Ma–"
Ucapan Zaim terjeda, karena Nia yang tiba-tiba menarik kerahnya. Tentu saja itu bukan spontanitas yang menjurus pada keromantisan, apalagi keerotisan. Sebab apapun yang berkaitan dengan Nia benar-benar hanya akan berlabuh pada kekonyolan.
"Ha–"
"Cancel janjinya cancel, Nya. Ada Pria Purnama di meja sebelas. Cepet keluar. Gue tunggu di pintu keluar toilet cowok." Suara Vina terdengar melalui panggilan telepon.
"Ada apa?" tanya Zaim.
"Ada Pria Purnama di meja sebelas."
Zaim melirik meja bernomor sebelas dari pantulan kaca di depannya. "Pria Purnama?"
"Temen kencan onlinenya Vina."
"Terus masalahnya?"
"Masalahnya Pria Purnama nganggep saya Vina," balas Nia.
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang."
"Santai aja. Malem ini kan masih panjang." Zaim menunduk, membisiki Nia. "Jadi, mau pindah tempat biar ceritanya lebih nyaman?"
Nia tak menjawab, hanya mengikuti pergerakan Zaim yang perlahan tapi pasti membawa mereka keluar dari kafe tersebut. Entah berapa lama tangan Zaim yang kasar, kokoh, dan bertabur urat-urat seksi itu sudah menggenggam tangannya, Nia tak sempat menghitung. Kini Nia pun sudah duduk di kursi penumpang sebuah mobil mewah beraroma white musk. Zaim tertawa dan langsung menancap gas, ketika Nia refleks mengenakan sabuk pengaman.
Semua mata terpana melihat wujud mobil tanpa suara itu dari dekat, termasuk mata para polisi lalu lintas yang mulai lelah mengurai kemacetan. Namun entah bagaimana enam orang polisi lalu lintas yang semula sibuk meniup peluit itu tiba-tiba memasang traffic cone. Dua orang polisi terlihat berlari ke pos dan kembali dengan motor dinas. Sementara empat yang tersisa, sibuk mengatur para pengendara agar tetap berada di dalam traffic cone.
Tatapan terpana semua orang seketika berubah kesal, saat dua orang polisi bermotor menghentikan kendaraannya tepat di depan dan di belakang mobil Zaim. Luar biasa, tapi bagaimana bisa? Tidak sulit, tidak perlu menelepon pun mengirim pesan singkat. Hanya sekali mengedipkan lampu tembak saja, dan kelompok berseragam yang kerapkali dikutuki masyarakat itu akan langsung membuat jalan khusus untuk mobil doff berpelat cantik tersebut.
"Ini pelanggaran loh, Kak."
__ADS_1
Zaim tertawa. "Saya kepepet."
Nia hanya menoleh pada Zaim, berharap pria berkemeja merah dengan kancing rendah itu mengatakan sesuatu yang lain agar Nia bisa sedikit mengerti.
"Ini kan kencan pertama saya," imbuh Zaim.
"Kencan?"
Zaim mengangguk-angguk menanggapi Nia.
"Sama?" tanya Nia lagi.
"Sama Kaoru Kamiya."
Spontan Nia membekap mulutnya sendiri. "Kakak main Zet juga? Kok Kakak bisa tau nickname saya di Zet?"
"Taulah. Kamu kan ngeadd saya di Zet."
"Tapi saya cuma ngeadd Duplikat L.K."
Zaim diam, sibuk menyembunyikan senyum malu-malunya.
"Masa Kakak beneran Duplikat L.K?"
"Mau bukti?" Zaim balik melempar tanya.
"No. Udah jelas bukan. Soalnya Duplikat L.K tuh seksi."
Zaim tertawa lagi. "Emang saya kurang seksi?"
Nia refleks melirik Zaim, melirik menjurus langsung ke bagian itu. Benar, ke bagian dada bidang yang sengaja dijadikan sedekah itu.
"Oke buktiin."
"Buktiin apa? Keseksian saya?"
"Iya, eh bukanlah bukan." Nia berdeham, "Maksudnya buktiin kalo Kakak beneran Duplikat L.K."
Zaim tak membalas, hanya merogoh ponselnya dari dalam saku celana dan kemudian membuat panggilan telepon dengan Nia. Namun.
NOMOR YANG ANDA TUJU TIDAK TERDAFTAR. SI–
Nia menahan tawanya. "Duh, segitu gak mau ketemunya ya Duplikat L.K sama saya sampe bikin skenario begini? Hampir aja saya percaya. Btw Kakak kenapa gak main sinetron aja deh?"
"Kasih," gumam Zaim.
"Hah? Apa? Kakak ngomong apa?"
"Kasih nyetting hp saya."
"Kasih? Namanya kaya gak asing. Oh, saya inget. Kasih itu istrinya almarhum Kakaknya Kakak la–"
"Iya. Yang punya gangguan mental, yang nganggep saya suaminya, dan yang ganggu kencan pertama saya."
__ADS_1