HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
CUBITAN MAUT


__ADS_3

Telunjuk Zaim masih setia mengetuk kaca mobil yang diklaim anti peluru itu. Bukan karena terkesima, melainkan bosan setengah mati. Entah ke mana Wafiq akan membawa Zaim. Jika hitungan Zaim tidak meleset, sudah satu jam sebelas menit mobil berpelat AKU 8055 itu melaju. Hari ini tangan kanan Safi, Wafiq, tiba-tiba saja menyambangi kantor Zaim. Zaim berpikir Wafiq akan menyampaikan maksud kedatangannya di tempat, ternyata tidak.


Zaim yang sudah tak tahan bergelut dengan rasa bosan, berniat menyerukan protes, tetapi untungnya mobil yang sedari tadi melaju dengan kecepatan di atas rata-rata itu akhirnya menginjak rem. Mobil itu berhenti di parkiran sebuah pabrik yang sudah terbengkalai sejak zaman penjajahan. Itu benar-benar tempat yang cocok untuk menghilangkan jejak para pengganggu. Bahkan rasanya lalat sekali pun tidak akan tahu jika ada bangkai di sana.


"Silahkan. Tuan saya sudah menunggu di dalam." Wafiq membukakan pintu mobil untuk Zaim.


"Di dalem? Serius kamu?"


"Betul, Tuan. Silahkan."


Zaim membenahi jasnya. "Milih tempat udah kaya orang selingkuh mau kangen-kangenan aja."


KREK


Pintu lapuk yang terbuat dari baja ringan itu terbuka, dan seketika menampakkan seorang pria paruh baya yang gagah, angkuh, serta keji. Melihat kedatangan Zaim, Safi langsung menyambutnya dengan senyum semringah. Tentu saja Zaim tak membalas senyum itu meski terasa benar-benar tulus. Safi mempersilakan Zaim untuk duduk di tempat yang telah disediakannya, sambil menuangkan secangkir teh dengan tangannya sendiri.


"Makasih udah mau nemuin saya, Zaim Alfarezi."


Zaim menerima cangkir teh dari Safi. "Saya bakal terima ucapan terima kasihnya kalo Anda to the point, Pak Sayfudin Qazzafi."


Safi tersenyum. "Udah satu taun Kakek kamu, Al Hakam, mata-matain saya. Dan maaf, saya gak suka."


Zaim tak menjawab, hanya menyeruput tehnya.


"Saya tau apa yang Kakek kamu lagi cari," imbuh Safi. "Dengan senang hati saya mau ngasih tau secara cuma-cuma."


"Wah, mencurigakan banget ya."


Safi tersenyum lagi. "Saya gak ada niat tersembunyi kok. Saya cuma gak mau nambah musuh. Apalagi musuhnya kamu sama Kakek kamu."


Zaim hanya ikut tersenyum.


"Satu taun lalu saya mau nyalon lagi jadi raja, tapi ada satu saingan yang kuat. Saya niat nyingkirin dia." Safi diam sesaat. "Waktu dia ada perjalanan bisnis ke Eropa, saya naro bom di pesawatnya."


"Tapi Anda gak tau kalo pilot pesawat itu Kakak saya. Gitu?"


Safi mengangguk. "Saya baru tau pas Kakek kamu mulai ngirim orang buat mata-matain saya."


"Terus, di mana orang yang Anda suruh buat masang bom di pesawat itu? Maksud saya Umar Zakawat. Saya denger dia masih hidup. Kebetuan saya lagi nyari dia."

__ADS_1


DEG


Zaim meletakkan ponselnya di tengah meja, memperlihatkan foto-foto autopsi mendiang sang Kakak. "Penyebab utama kematian Kakak saya bukan karna kecelakaan pesawat, tapi berantem."


DEG DEG


Zaim masih melanjutkan, "Dan kayanya lawan berantemnya Umar Zakawat. Jujur aja saya kesusahan nyari dia. Tapi gak masalah sih. Rencananya saya mau minta bantuan temen mafia saya yang di Italia."


DEG DEG DEG


Zaim mengambil kembali ponselnya, mengantonginya di saku celana, dan kemudian beranjak. Sepertinya Umar Zakawat orang yang sangat berharga untuk Safi. Buktinya saja Safi sampai tak ragu memangkas cerita masa lalunya. Zaim penasaran, tentang hubungan seperti apa yang dimiliki mantan Raja Malaysia yang terpilih selama tiga kali berturut-turut itu dengan salah satu kacungnya, Umar Zakawat. Apakah anak haramnya? Atau, kekasih?


"Bawa Umar Zakawat ke depan saya. Itu baru harga yang pas buat jadiin saya temen." Zaim meninggalkan ruangan.


DEG DEG DEG DEG


...•▪•▪•▪•▪•...


"Aw."


"Aw."


" … Masa Ibu tau masalah kamu dari postingannya Lambe Luber di instagr*m?" Ushi kembali mendaratkan cubitannya di lengan Nia.


"Sakit."


"Makanya kalo ada apa-apa ngomong biar gak sakit," balas Ushi pada Nia. "Kamu juga. Bukannya waktu itu kamu jug lagi makan bakso? Kenapa kamu gak bantuin Nia? Seharusnya kamu siram juga muka Bapak kamu itu pake kuah bakso." Ushi berganti mencubit lengan Ikbal.


"Aduh." Ikbal mengusap-usap lengannya. "Orang banyak tetelannya. Kan sayang kalo dibuang, Bu."


Ushi menghela napas. "Oke cukup. Ibu udah mikirin hukuman buat kalian berdua ya–"


Ucapan Ushi terjeda, karena bel rumahnya yang tiba-tiba berbunyi berulang kali. Ushi yang kejengkelannya sudah sampai di ubun-ubun itu pun terpaksa balik kanan dan berjalan setengah berlari menuju pintu. Terlihat dari monitor bel pintu, sang mantan suami, Bagas, tengah berdiri di depan gerbang. Ushi mengabaikan Bagas dan berniat melanjutkan sesi hukuman, namun ponselnya berdering.


"Harus banget video call ya?" Ushi mengusap layar ponselnya. "Kenapa?"


"Kamu di rumah kan?"


"Iya terus kenapa? Gak usah basa-basi aku lagi sibuk."

__ADS_1


"Bantuin aku, Shi. Aku butuh tempat tinggal sementara. Aku tiba-tiba dipecat dari tempat kerja aku di Amerika."


"Kan kamu punya orangtua."


"Gak bisa. Mereka musuhin aku sejak postingan Lambe Luber di instagr*m viral. Mereka bilang aku kekanakan banget."


"Ya emang," sahut Ushi malas.


"Iya aku tau. Aku udah sadar sekarang. Jadi bantuin aku ya, Shi."


"Kenapa gak balik aja ke Amerika sih?"


"Gak bisa juga. Paspor aku tiba-tiba dibekuin. Kalo gak mah aku udah balik dari kemaren-kemaren. Tolong banget, Shi. Aku gak punya tempat tujuan lagi."


Ushi mendecak menanggapi Bagas. "Ke hotel aja sih."


"Mana bisa aku tidur di hotel selain yang bintang enem."


"Yaudah tinggal cari yang bintang enem kan?"


Bagas menghela napas. "Kamu serius gak tau? Hotel bintang enem di Jakarta kan punyanya Zaim Alfarezi semua. Udah pasti diusirlah aku dari sana."


"Tapi Nia gak nyaman ada kamu di rumah ini."


"Mana Nianya? Bilang aku mau ngomong sama dia."


Ushi tak menanggapi, hanya menyandarkan ponselnya pada vas bunga, kemudian mengarahkannya pada Nia juga Ikbal.


"Om kan udah minta maaf. Om juga udah janji kan? Om harus gimana lagi?" Bagas berganti melihat ke arah Ikbal. "Bal, bantu Bapak dong. Jangan cuma diem aja."


"Terserahlah." Ikbal beranjak dan berlalu.


"Bal. Ikbal. Dengerin Bapak du–"


"Bagas," sela Ushi sambil kembali menghadapkan layar ponsel ke wajahnya. "Aku pikir cuma Nia aja yang bakal ngerasa gak nyaman, tapi ternyata Ikbal juga. Maaf tapi kayanya kamu harus nyari tempat lain." Ushi mengakhiri sambungan video call itu.


BRAK


"Sialan! Semuanya gara-gara Nia yang sok jual mahal. Padahal pasti udah ditidurin sama Zaim Alfarezi berkali-kali tuh." Bagas mendongak, memandang murka ke kamar Nia yang ada di lantai dua. "Tunggu aja pembalasan gua."

__ADS_1


__ADS_2