
"Hah."
Nia tak henti menghela napas, kesal sebab kesulitan tidur. Padahal esok ada ulangan bahasa inggris. Seperti biasa Nia harus berangkat ke sekolah lebih awal agar bisa mengorek sesuatu dari kelas yang sudah lebih dulu menghadapi ulangan. Atau mentok-mentok, membuat contekan di kedua paha! Namun alasan utama Nia kesulitan tidur bukan itu melainkan terus teringat akan insiden perkelahian Zaim dan Denar.
"Terus tangannya Zaim udah diobatin belom ya? Pasti belom. Gue cek deh abis itu baru tidur."
Nia beranjak dari ranjang, menyambar ikat rambutnya di meja, dan bergegas menuju ke kamar Zaim. Namun tak ada jawaban dari Zaim, tak peduli meski Nia tak lelah mengentuk pintu kamarnya. Nia pun berniat menerobos. Tetapi tentu saja kamar tidur seorang Zaim Alfarezi tidak akan dibiarkan terbuka. Beruntung ada Bi Nur, Kepala Pelayan kediaman Zaim, yang membantu Nia yang hampir saja merealisasikan ide gilanya.
"Makasih ya, Bi."
"Sama-sama, Non. Kalo gitu saya permisi ya."
Nia hanya tersenyum menanggapi Bi Nur yang berlalu, dan buru-buru masuk ke kamar Zaim. Terlihat Zaim tertidur di kursi kerjanya, dengan pulpen dan dokumen yang masih dalam genggaman. Ternyata benar, tangan Zaim yang terluka setelah menjotos Denar belum diobati. Tidak hanya itu, kamar Zaim pun berantakan. Entah kenapa melihat itu semua membuat Nia bersedih, bahkan perlahan, membuat sudut-sudut matanya panas.
"Apa sih gue," gumam Nia seraya memunggungi Zaim. "Mending gue bersihin kamarnya. Eh, apa obatin tangannya dulu? Apa bikinin makan dulu? Duh, apa dulu ya? Bersihin kamarnya dulu deh."
Dengan hati-hati Nia membersihkan kamar Zaim. Lalu setelahnya membuatkan Zaim makanan. Nia kembali ke kamar Zaim dengan membawa nampan makanan, vitamin yang biasa dikonsumsi Zaim sehari-hari, serta obat untuk luka lecet. Sambil mengobati tangan Zaim, Nia teringat cerita Bi Nur saat tadi menemaninya membuat makanan. Sejak tiga tahun terakhir, jam tidur Zaim semakin kacau. Begitu kata Bi Nur.
"Kalo tiga tahun, berarti sejak kamu kenal aku ya. Maaf ya. Kayanya emang cuma ada masalah aja di hubungan kita," batin Nia sembari beranjak. "Good night, Sayang."
Nia pun kembali ke kamarnya. Dan tak berselang lama, Zaim terbangun. Zaim terkejut melihat kondisi kamarnya dan terutama dirinya sendiri. Hampir saja Zaim mengamuk pada orang kurang ajar yang sudah memasuki kamarnya diam-diam. Namun seporsi nasi goreng seafood yang diberi hiasan timun membentuk hati itu membuat Zaim langsung tersenyum. Zaim pun memastikan tebakannya melalui pantauan cctv tersembunyi di kamarnya.
Tampak dari pantauan cctv tersembunyi tersebut, si orang kurang ajar yang memasuki kamar Zaim memang benar Nia. Zaim berganti memeriksa cctv tersembunyi di kamar Nia bahkan hingga seluruh cctv tersembunyi di kediamannya. Zaim menikmati kegiatan jaga-jaganya itu sembari menyantap seporsi nasi goreng seafood buatan sang kekasih. Namun, perlahan gerak tangan Zaim terhenti di cctv tersembunyi dapurnya.
" … Masakan Bu Nur kan emang enak banget," ujar salah seorang pelayan yang tengah menyantap nasi goreang seafood.
Pelayan lainnya mengangguk-angguk menimpali, "Iya bisa enak banget gini ya. Padahal kayanya cuma pake bumbu simpel."
Pelayan terakhir mendecak, "Bu Nur kan sarjana tata boga. Ya wajarlah masakannya enak. Terus perempuan itu kan emang wajib bisa masak enak."
"Tapi kayanya enggak wajib deh buat calon Nyoya Alfarezi."
"Iya juga ya. Tapi kalian setuju gak sih kalo Yesenia Eve yang jadi Nyonya kita?"
"Aku sih gak. Dia masih kecil soalnya. Terus udah jelas dimanjain banget sama Bu Ushi. Terus apa dikit pingsan. Itu beneran pingsan apa caper sih?"
"Kayanya caper deh. Duh beruntung banget ya jadi Yesenia Eve. Mana kayanya Tuan Zaim cinta banget lagi."
"Cintanya laki-laki ke perempuan yang gak bisa apa-apa tuh gak bakal bertahan lama."
"Setuju-setuju. Perempuan tuh seenggaknya harus biasa bersih-bersih rumah sama bisa masak. Ya walopun gak harus bisa masak seenak masakannya Bu Nur gi–"
"Udah ngerumpinya?"
__ADS_1
Spontan ketiga pelayan itu menoleh pada Nur yang tiba-tiba muncul seperti hantu.
"Kalian lupa ya kalo di rumah ini banyak cctv tersembunyi," imbuh Nur. "Dan Tuan Zaim gak pernah absen ngecek cctv setiap hari. Dan bukan gak mungkin sekarang Tuan Zaim lagi ngecek cctv di dapur ini."
"Maaf, Bu. Kita salah."
"Tolong jangan aduin ke Pak Zaim ya, Bu. Kita masih pengen kerja di sini."
"Iya, Bu. Tolong, Bu. Kita gak akan ulangin lagi. Kita janji."
Nur tak menjawab. Hanya berlalu setelah menghela napas kasar.
"Bu Nur, tu–"
"Cepet pada balik ke kamar," sela Nur pada satu dari tiga pelayan. "Oh iya. Masakan yang kalian puji-puji itu bukan bikinan saya tapi bikinan Non Nia. Terus satu lagi. Non Nia tuh cuma kecil umurnya. Bukan sifatnya. Jelas?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Nia dan Vina tengah tertawa menonton sesuatu melalui ponsel. Sesuatu yang tak lain adalah video viral Zaim yang memamerkan dua menit aksi brutalnya saat menghajar Denar Djajadi, Kepala Sekolah SMAN Andalan Teladan. Di luar dugaan ternyata Vina pun setuju jika keseksian hidden crazy rich Jaksel itu semakin bertambah saat sedang gelut alias berkelahi. Memang, benar-benar sahabat sehati sesanubari!
" … Kasian sih sama Pak Denar. Tapi asli gue salfok sama keseksian ayang Zaim." Vina tertawa.
Nia ikut tertawa. "Gue pikir cuma gue doang yang salfok."
Nia pun kembali tertawa. "Wikwik kan termasuk gelut juga tuh. Berarti fix seksinya bakalan tumpah-tumpah bahkan gak ketolong."
"Anjir mulut lu gue suka, Nya."
Dua sahabat sehati sesanubari itu kian tak bisa menghentikan tawanya, pun pikiran liarnya. Namun ketika salah seorang petugas kereta menegur Nia dan Vina, seketika tawa mereka pun terhenti. Tetapi tentu saja hanya terhenti saat proses peneguran berlangsung. Karena saat punggung si petugas kereta hilang dari balik pintu gerbong, tawa berikut pikiran liar Nia serta Vina semakin tak tertolong, sama seperti keseksian Zaim.
"Nginep di rumah Zaim yuk, Vin? Besok kan hari minggu tuh. Kita berenang. Terus kata Ibu hari ini Om Edo ke Jakarta. Jadi pasti nanti malem ada pesta makan-makan."
"Mau banget sumpah, Nya. Tapi apa daya hari ini dedek disuruh ikut belanja."
"Belanja apaan?"
Vina membenahi posisi duduknya. "Emang gue belom cerita ya soal bokap gue yang mau buka jasa fotokopi?"
Nia menggeleng. "Ngapain pengacara bukannya nanganin kasus malah mau maenan kertas?"
"Karna gak ada klien yang mau nyerahin kasusnya ke bokap gue yang sangat-sangat lurus itu. Makanya gelar pengacara kondangnya mau dia tuker sama mesin fotokopi."
Spontan Nia tertawa. "Aduh, Vina, serius dikit dong."
__ADS_1
"Ya serius. Jadi selama dua taun terakhir ini bokap gue sepi job. Itu karna bokap gue cuma mau ngebela klien-klien yang bener. Coba kalo bokap gue ngebela klien-klien yang jahat juga. Pasti tiap hari kita gak bakalan makan oseng oncom mele."
Nia hampir kembali tertawa, namun buru-buru ditahan karena melihat raut wajah Vina yang mulai murung.
"Selama ini keluarga gue tuh bener-bener bertahan dari pemasukan nyokap," imbuh Vina. "Untung nyokap orangnya gak bisa diem. Tapi tetep aja tiap hari kita makan oseng oncom."
Nia berdeham, "Gue ada ide."
Vina hanya menoleh putus asa pada Nia.
"Gimana kalo bokap lu jadi sekertarisnya Zaim? Kebetulan sampe sekarang Zaim belom dapet sekertaris. Ples, gue kasian banget ngeliat dia tiap hari ngerjain kerjaan sebanyak itu sendirian. Bokap lu kan lulusan hukum tuh. Jadi gak cuma bisa jadi sekertaris aja tapi juga penasehat hukum perusahaan. Iya gak sih?"
Vina beranjak bersemangat dari sandaran duduknya. "Iya-iya. Ya ampun akhirnya, ada peluang mengakhiri hari-hari oseng oncom. Eh, tapi kan belom tentu bokap gue diterima."
"Pasti diterima selama memenuhi syarat dan gue yang minta."
"Bener juga. Duh, Nya, i love you full." Vina menghambur memeluk Nia. "Yaudah bentar gue telfon bokap gue dulu."
Terdengar suara ayah Vina, Suseno Santoso, atau yang lebih akrab dipanggil Om Santos, juga kegirangan. Wajar saja. Memang siapa yang tidak akan girang jika bisa bekerja di bawah kuasa seorang Zaim Alfarezi? Jangankan jabatan tinggi sekelas sekretaris atau penasihat hukum perusahaan, sekadar pemungut daun-daun kering di area taman kediaman mewah Zaim saja bisa digaji hingga puluhan juta dalam sebulan!
" … Mau, Nya, kata bokap gue. Yaudah yuk cus ke rumah ayang Zaim."
Nia hanya mengangguk-angguk merespon Vina, ikut girang. Mereka pun berangkat ke kediaman Zaim. Namun setibanya di sana, keduanya tak menyangka akan disambut pertengkaran bak adegan dalam sinetron ikan terbang! Tampak Ushi tengah beradu mulut dengan seorang wanita misterius. Setelah menguping agak lama, barulah diketahui identitas wanita misterius berambut merah fanta tersebut. Benar, kekasih Edo.
" … Iya aku emang ngikutin kamu dari rumah sampe ke sini. Terus kenapa? Kamu takut?"
Edo menghela napas menanggapi sang kekasih, Saskia. "Takut apa? Ngomong apa sih kamu ma–"
"Aku kan udah bilang. Aku gak suka kamu bolak-balik Semarang Jakarta cuma buat ngurus masalah sahabat kamu ini," sela Saskia. "Sahabat ya sahabat. Tapi gak gitu juga kali."
"Siapa yang sahabatan ya maaf?"
Spontan Saskia menoleh pada Ushi, pun Edo, dan semua penonton di kursi paling depan yakni Nia, Vina, Ikbal, Bi Nur, Pak Ucil serta para pelayan Zaim.
"Saya bukan sahabatnya Edo tapi cinta matinya," tambah Ushi. "Edo gak cerita emang? Edo tuh udah suka saya dari SMP. Tapi karna saya udah punya pacar, Edo mundur. Terus Edo mulai gonta-ganti pacar biar bisa move on dari saya. Gak sadar ya kalo situ juga termasuk alat buat move on? Kasian."
Saskia tampak terkejut sekaligus geram. Berbeda dengan Edo yang salah tingkah seolah tertangkap basah.
Edo berdeham, "Shi, tolong jangan ngomong yang macem-macem kalo gak bisa tanggung jawab."
"Bisalah. Kamu mau aku tanggung jawab apa? Jadi pacar kamu? Jadi tunangan kamu? Apa jadi ibu dari anak-anak kamu hah? Cepet jawab."
DEG DEG DEG
__ADS_1