
"Hah."
Nia menghela napas sambil menutup lemari pendingin dengan jidatnya. Jangankan susu cokelat, bahkan sampah sedotannya saja tidak ada di dalam sana. Lemari pendingin itu benar-benar kosong. Nia merindukan masakan Ushi yang kaya akan rempah, tetapi sudah empat hari Ushi berada di luar kota, jadi tak ada yang bisa Nia lakukan selain merengek meminta Ushi agar segera pulang.
"Gofo*d bosen," gumam Nia. "Kalo gitu fix gue harus ke supermarket." Nia kembali menghela napas.
Setelah merayu dirinya untuk berganti pakaian, mengikat rambut dan meraih sepatu di rak, Nia pun berangkat menuju supermarket. Meski jarak supermarket dan rumah Nia tergolong dekat, tetap saja sulit menempuhnya dengan berjalan kaki di siang yang seterik ini. Andai saja Ikbal tidak pergi ke warnet untuk melancarkan modusnya pada kasir warnet yang kabarnya seperti model.
" … Jadi gak bisa nemenin gue ke supermarket nih?"
"Bukan gak bisa hanibaniswiti." Suara Vina terdengar melalui panggilan telepon. "Gue lagi sibuk neror si bunga ******."
"Ah elah."
"Oke-oke gini aja, ntar sorean gue ke rumah lu deh. Sekalian nginep."
"Yaudah."
"Semangka*." Vina mengakhiri panggilan.
*Singkatan dari semangat kakak.
Nia pun kembali merayu dirinya untuk melangkah menuju gang curut. Akan ada angkot berwarna ungu yang setia menunggu siapa pun di ujung gang curut. Jadi Nia hanya perlu terus melangkah, menaiki angkot tersebut, dan bergegas memenuhi troli*. Dan berhasil. Ya, Nia berhasil merayu kakinya untuk terus melangkah dan bahkan mendapat tempat duduk di depan.
*Alat bantu pemindahan barang dari satu tempat ke tempat yang lain dalam kegiatan operasional suatu perusahaan atau tempat perbelanjaan seperti swalayan.
"Yo Zetindo*, Ketapang, Pasar Setu, Yo langsung jalan yo."
*Nama supermarket milik Zaim yang memiliki cabang di Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar. Zetindo terkenal super lengkap, super higienis, juga super estetik.
"Yo Zetindo, Ketapang, Pasar Setu, Yo langsung jalan yo." Sopir angkot terus mengulang ucapannya. "Yo Zetindo …"
Setelah angkot yang terkenal dengan julukan janda kembang itu disesaki penumpang, barulah sang sopir menginjak gas. Nia melamun memandang lampu lalu lintas berwarna merah, tanpa menyadari jika pemilik mobil mewah yang berjejer tepat di samping angkot janda kembang itu tengah memerhatikannya. Al Hakam. Ya, pemilik mobil mewah berpelat cantik itu adalah Al Hakam.
"Saya gak nyangka."
Spontan Hendri menoleh ke kursi penumpang di belakang. "Maaf, Pak?"
__ADS_1
Hakam menunjuk Nia. "Ituloh anak itu. Saya gak nyangka dia bakal naik angkutan umum setelah pacaran sama si brandal itu."
"Iya juga ya, Pak. Padahal dia bisa naik silver bird* tiap hari."
*Merupakan layanan taksi eksekutif. Kendaraan yang digunakan untuk jenis taksi satu ini tidak sembarangan. Pastinya mewah dan nyaman. Jenis mobil yang dipakai di layanan ini adalah Toyota Alphard dan Mercedes-Benz C200.
"Makanya," balas Hakam. "Ikutin coba dia mau ke mana."
"Baik, Pak."
Mobil mewah Al Hakam pun melaju membuntuti si janda kembang. Hakam sempat mengira jika aksi pembuntutannya ketahuan karena si janda kembang yang tiba-tiba menepi di bahu jalan. Tetapi sepertinya Nia telah sampai di tujuan. Terlihat Nia turun bersama seorang ibu hamil yang membawa banyak sekali plastik belanjaan. Nia tampak bergerak sangat energik membantu si ibu hamil tersebut.
"Itu siapanya, Hen?"
"Kurang tau saya, Pak. Tapi kayanya cuma penumpang yang dia tolong," jawab Hendri.
Hakam menggeleng-geleng. "Saya jadi makin pengen ngejodohin si brandal itu sama Kasih. Anak itu bukannya untung tapi buntung dapet brandal kaya dia."
Hakam semakin menggeleng ketika tahu pertolongan Nia pada si ibu hamil rupanya tidak berhenti di sana. Terlihat Nia menyeberangkan si ibu hamil ke seberang sambil mengambil alih semua plastik belanjaannya. Lalu tak berselang lama, seorang pria bersepeda motor yang merupakan suami si ibu hamil pun datang. Si ibu hamil dan suaminya bersikeras memberi Nia uang tetapi Nia malah kabur.
Hendri diam, hanya melirik Hakam melalui kaca.
"Gak tau kenapa tiap liat muka anak itu, atau Ibunya, atau keluarganya, saya jadi inget Safi si pembunuh itu," imbuh Hakam. "Padahal awalnya saya tertarik sama anak itu."
...•▪•▪•▪•▪•...
TING
Pintu lift terbuka, dan seperti yang lalu-lalu meski tidak sering, Nisma, sekretaris Zaim, tampak berdiri mematung tepat di depan lift. Apakah Nia lagi-lagi membolos sekolah untuk mengunjunginya tanpa pemberitahuan? Untuk apa? Mungkinkah hari ini ada berita viral Zaim yang luput dari pemantauannya? Tapi jika bukan karena itu, lantas karena apa? Itulah tanya yang terus menyesaki benak Zaim sejak sosok sang sekretaris menyambutnya di depan lift.
" … Ituloh, Pak, Kepsek Andalan Teladan. Yang beberapa waktu lalu sempet viral sama pacar Bapak … Pak Denar Djajadi."
Spontan Zaim menghentikan langkahnya yang cepat. "Sama siapa dia?"
"Sendirian, Pak." Nisma buru-buru mengeluarkan buku catatan beserta pulpen. "Jadi ada schedule Bapak yang mau direvisi apa gak?"
Zaim mengangguk. "Schedule saya yang selanjutnya ganti ke besok."
__ADS_1
"Semuanya, Pak?"
"Iya," sahut Zaim. "Soalnya saya bakal langsung turun ke lapangan kalo dia beneran bilang 'cukup'."
"Maaf, Pak?"
Zaim menoleh pada Nisma. "Jangan biarin siapa pun masuk ya. Termasuk pacar saya." Zaim memasuki ruangannya.
"Baik, Pak.
KLEK
"Udah nunggu lama, Pak Denar?"
Denar buru-buru beranjak. "Gak apa-apa, Pak Zaim. Udah resiko karna saya juga kan datengnya tanpa pemberitahuan."
Zaim melonggarkan ikatan dasinya. "Jadi?"
"Jadi kenapa kemaren Pak Zaim tiba-tiba mukul saya?"
"Kenapa ya? Gabut* kali ya."
*Gabut bisa diartikan sebagai seseorang yang tidak melaksanakan tugas-tugasnya, namun tetap menerima gaji atau makan gaji buta. Selain itu, gabut dalam arti yang lebih luas juga bisa dimaknai untuk mewakili keadaan di mana seseorang yang bingung ingin melakukan aktivitas, namun tidak memiliki pekerjaan tertentu.
"Maaf?"
"Saya emang suka mukul orang kalo lagi marah, jeles, sama gabut." Zaim melepas jasnya. "Oh, sama orang yang gak to the point juga."
Denar berdeham, "Waktu itu Pak Zaim pernah bilang kan kalo saya bisa dateng ke sini kapan aja? Sekarang saya dateng."
"Buat bilang 'cukup'?"
Denar menggeleng. "Buat nyeritain kisah saya yang sebenernya. Yang Nia bahkan gak tau."
Awalnya Zaim kecewa karena Denar tidak datang untuk meminta tolong sesuai prediksinya. Tetapi pernyataan yang baru saja dilontarkan Denar, seketika mengobati kekecewaan Zaim. Meski belum mendengar kisah sebenarnya Denar, entah kenapa Zaim yakin itu bukanlah kisah yang akan menyenangkan untuk didengar. Mungkin saja itu adalah kisah di mana benang takdir antara Denar dan Nia terhubung, dan benar saja.
"Saya itu satu-satunya orang yang yang paling ngerti Nia," imbuh Denar.
__ADS_1