HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GAK CUKUP XXX


__ADS_3

" … Jadi karna Ikbal nyurigain Kasih soal insiden penembakan waktu itu, semua orang termasuk Ibu kamu jadi ikut-ikutan?"


Terlihat Nia hanya mengangguk menanggapi Zaim melalui sambungan video call.


"Terus kalo menurut pendapat kamu?"


"Gak tau ah. Aku gak mau bahas soal itu," sahut Nia akhirnya.


"Harus dibahas, Sayang. Tapi yaudah cukup buat hari ini. Terus Ibu kamu gimana? Masih marah?"


"Masih kalo Bu Kasih kekeh di sini. Untungnya dia langsung pulang pas dicecer sama Ikbal. Udah ah jangan bahas soal itu lagi. Kamu lagi ngapain?"


"Ngecek dokumen. Kamu sendiri lagi apa?"


"Otw ngerjain tugas." Nia beranjak dari ranjang. "Hari ini kamu juga gak bisa pulang?"


"Gak bisa, Sayang. Masih banyak banget kerjaan."


"Oh."


Zaim tersenyum. "Kangen ya?"


Nia mengangguk-angguk.


Zaim kembali tersenyum. "Kamu harus biasain mulai dari sekarang. Karna kalo nanti kita nikah, aku bakal sering gak pulang berhari-hari bahkan berminggu-minggu."


"Bahas nikahnya nanti ajalah. Toh masih lama."


"Tapi rencananya aku mau langsung nikahin kamu setelah kamu kelar ujian nasional loh. Karna pas sama hari ultah aku, pestanya jadi bisa sekalian. Makanya bahasnya harus dari sekarang. Ka–"


"Aku ngerjain tugas dulu ya," sela Nia. "Kamu jangan lupa makan. I love you."


Nia mengakhiri panggilan video call itu tanpa menunggu balasan ungkapan cintanya. Ya, Nia memang sengaja. Entah sejak kapan tetapi Nia mulai kehilangan semangat ketika membahas perkara pernikahan. Itulah kenapa Nia menyela ucapan Zaim dengan spontan dan melarikan diri. Nia sadar betul akan spontanitas perbuatannya, dan berniat meminta maaf saat Zaim kembali. Namun apa-apaan pemandangan pagi itu? Kenapa Zaim sudah kembali sebelum berhari-hari bahkan berminggu-minggu?


"Silahkan, Non."


Nia tersenyum pada Nur yang baru saja menarik kursi makan untuknya. "Makasih, Bi."


"Mau sarapan apa, Non? Menu hari ini ada nasi goreng sama bubur ayam."


"Bubur ayam boleh, Bi."


"Baik, Non. Ditunggu ya.".


Nia kembali tersenyum, pun mengucapkan terima kasih pada Nur. Atmosfer di ruang makan itu terasa terlewat mencekam. Wajar mengingat suasana hati semua orang yang kacau. Terutama suasana hati Zaim. Zaim pasti marah karena semalam Nia tidak hanya menyela ucapannya perihal rencana masa depan tetapi juga melarikan diri. Namun sungguh, Nia tidak menduga jika Zaim akan semarah itu. Terlebih cara Zaim meluapkan amarahnya. Nia pun tidak menduga jika Zaim akan meluapkannya dengan cara seerotis itu.

__ADS_1


"Bu Ushi."


Ushi hanya menoleh merespon panggilan Zaim.


"Rencananya saya mau nikahin Nia setelah dia kelar ujian nasional. Kebetulan hari ultah saya pas sama hari Nia kelar ujian nasional. Jadi pestanya biar sekalian," imbuh Zaim.


"Buru-buru amat. Umur Nia kan juga belom genep dua puluh, Za. Tunggu. Jangan-jangan, kalian pacarannya makin jauh?"


Zaim mengusap mulutnya dengan tisu. "Gak kok, Bu. Jadi Ibu gak perlu khawatir."


"Ya terus alesannya apa kok kayanya buru-buru?"


"Saya udah cukup umur dan saya gak suka **** bebas." Zaim beranjak sembari meraih jasnya yang tersampir di punggung kursi. "Nafsu saya juga gak cukup ditenangin cuma sama konten porno atau sabun makanya saya buru-buru."


PRANG


...•▪•▪•▪•▪•...


"Liat tuh sodara sama gebetan lu udah kaya permen karet."


"Kaya orgil kali," sahut Ikbal pada Esa.


Falah terbahak. "Anjir sadis lu, Bal."


Esa dan Falah hanya kembali terbahak menanggapi Ikbal yang tampak gondok itu. Bagaimana tidak? Tak terhitung sudah berapa kali Ikbal menegur Nia dan Vina agar berperilaku sebagaimana penghuni planet bumi, tetapi jangankan direnungkan, didengarkan saja tidak. Nia dan Vina yang sejak insiden penembakan sama-sama dikurung oleh orangtua masing-masing terpaksa hanya bisa melepas rindu melalui pesan singkat, telepon dan video call.


Namun tentu saja semua itu tidak cukup memuaskan rindu. Itulah kenapa hari ini sejak bertemu lagi setelah sekian lama, Nia dan Vina terus berpelukan. Tetapi bukan berpelukan yang biasa dilakukan kebanyakan orang normal melainkan berpelukan sembari duduk, berdiri, bahkan berjalan. Benar, memang terlihat seperti orgil alias orang gila seperti yang dikatakan Ikbal. Namun sayangnya yang bersangkutan memilih menutup mata serta telinga.


"So, siapa yang mau cerita duluan? Sumpah gue punya cerita banyak banget omg-omg," ujar Vina.


"Yaudah lu duluan aja."


Vina mengangguk girang. "Jadi gue install Zet* lagi yuhu. Dan apa coba? Akhirnya gue ketemu sama soulmate gue, Nya. Nama samarannya Danny Phantom. Keren kan? Terus kita tuh kaya langsung akrab gitu padahal kan baru pertama chat-chatan."


*Aplikasi kencan milik Zaim yang sudah diunduh oleh lebih dari seratus juta pengguna.


"Dih, Vin. Emang lu udah lupa soal Pria Purnama?"


"Omg plis deh, Nyq. Gue tuh tipe orang yang selalu belajar dari pengalaman ya. Jadi kali ini gue bakal ati-ati."


"Tetep aja itu tuh bahaya bu–"


"Stop," sela Vina. "Gue janji bakal ati-ati. Jadi sekarang giliran lu. Cepet kasih tau gue lu punya cerita apa?"


Nia tak segera menjawab, ragu. Padahal Nia ingin sekali menceritakan semuanya pada sahabat sehati sesanubarinya itu. Tetapi tampaknya terlalu berisiko mengingat ceritanya kali ini bukan cerita yang ringan pun mengingat Vina yang kerapkali keceplosan. Akhirnya Nia mantap memilih menceritakan insiden pagi tadi, saat dirinya disuguhi mimik wajah dingin Zaim untuk pertama kali. Bak penasihat cinta level superstar, Vina pun langsung menyadarkan Nia.

__ADS_1


Vina meletakkan gelas es dawetnya kasar. "Omg-omg. Lu makan selai kadaluarsa lagi apa gimana sih, Nya? Bisa-bisanya lu nolak ajakan nikahnya ayang Zaim."


"Ya gimana. Gue kayanya belom siap nikah muda. Gue masih pengen belajar, main, nyobain dunia kerja. Gitu-gitulah pokoknya."


"What? Belajar? Belajar apaan lagi plis?"


"Gue pengen ngambil sekolah makeup."


"Oh." Vina mengangguk-angguk. "Yaudah lu jelasin gitu dong ke ayang Zaim. Lu pengen sekolah dulu gitu. Abis itu barulah nikah. Ngapain lu kabur dengan sepik-sepik ngerjain tugas? Orang kita tim ngerjain tugas h-detik. Itu pun di sekolah ngerjainnya."


Nia tak menjawab, sibuk memainkan sedotan es dawetnya.


"Gini ya, Nya," tambah Vina sembari menghela napas. "Lu salah kalo nolak ajakan nikah ayang Zaim. Kenapa? Karna lu udah janji dari awal pacaran. Janji tuh gak boleh diingkarin, Nya. Misal kepepet sekali pun, milih-milih oranglah kalo mau ngingkarin janji. Jangan ayang Zaim dong. Dia serius loh sama lu."


"Iya gue tau."


Vina menghela napas lagi. "Panteslah ayang Zaim marah. Gue yakin pasti hari ini dia gak ada ngontek lu."


Nia hanya mengangguk-angguk.


"Terus lu nunggu apa ya ampun," imbuh Vina. "Sana temuin. Jelasin baik-baik. Minta maaf. Terus baikan."


"Iya yaudah nanti pulang sekolah gue ke kantornya."


Vina terlihat puas mendengar jawaban Nia, pun Nia yang merasa telah bercerita pada orang yang tepat. Dan sepulangnya dari sekolah, Nia pun langsung menuju kantor Zaim. Raut wajah Zaim masih tampak dingin meski tak sedingin saat sarapan. Merasa takut, Nia pun buru-buru menyampaikan maksud kedatangannya setelah sebelumnya meminta maaf. Sayangnya Zaim tak memberi respon apa-apa. Namun pada akhirnya Zaim beranjak, menghampiri Nia, dan duduk di depannya.


"Sekolah apa?"


"Makeup," jawab Nia pada Zaim.


"Berapa lama?"


"Sekitar delapan bulan."


"Oke. Aku bakal tunggu delapan bulan lagi."


Nia mengangguk senang menanggapi Zaim.


"Tapi abis itu kita nikah," tambah Zaim sambil mengulurkan jari kelingkingnya. "Aku gak mau nunggu lebih lama dari itu."


Nia kembali mengangguk seraya menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Zaim.


"Aku pegang janji kamu. Tapi kalo kamu ingkarin janji sekali lagi, gak bakal ada kesempatan, toleransi, atau maaf." Zaim mengecup kening Nia.


DEG

__ADS_1


__ADS_2