HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KELAMAAN MEGANGNYA!


__ADS_3

Terlihat Zaim, Bastian dan Jani kompak menujukan mimik wajah serius pada Anto yang tengah menceritakan kondisi mental putri semata wayangnya, Kasih. Ternyata Kasih divonis mengidap delusi* tak lama setelah kematian Zain. Namun meski sudah didampingi Psikiater ternama, delusi Kasih malah semakin parah. Itulah kenapa Kasih dikirim ke salah satu Rumah Sakit Jiwa di Amerika. Perlahan delusi Kasih pun membaik berkat pemberian obat-obatan antipsikotik dan psikoterapi.


*Merupakan salah satu gangguan mental serius. Delusi ditandai dengan kesulitan seseorang untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi. Dan walaupun sudah terbukti bahwa apa yang diyakini tidak benar, penderita gangguan delusi akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar.


" … Tapi kambuh lagi kata Psikiater yang meriksa Kasih barusan. Katanya penyebabnya lingkungan."


"Saya turut prihatin. Tapi ngomong-ngomong dari tadi saya gak liat Tante Davina."


"Dia dirawat, Za," balas Anto pada Zaim. "Kata Kasih dia kepleset dari tangga. Tapi pas sadar dia gak mau ngomong sama siapa-siapa. Makanya Kasih pulang. Nyuruh saya ke Minnesota. Tapi pas saya mau otw ke sana, Bastian ngabarin kalo Kasih pingsan."


Bastian membenahi posisi duduknya. "Iya jadi waktu itu gua, Jani, sama sopir angkot lagi mantau anak kecil yang dikasih duit Yesenia di depan apartemen Mall Jago. Tapi terus gua liat mobil Kasih masuk apartemen Mall Jago. Yaudah gua susul. Tapi …"


Bastian kehilangan jejak Kasih. Namun tak butuh waktu lama untuk Bastian menyudahi keterombang-ambingannya dalam pencarian yang menguji kesabaran itu. Melihat penghuni apartemen yang berkumpul sembari mengarahkan ponselnya ke suatu tempat, Bastian yakin di sanalah Kasih berada. Dan benar saja. Tampak Kasih tengah menampar dan meneriaki seorang pria berseragam cleaning service. Pria yang tak lain tak bukan adalah Yoshi, ayah biologis dari anak kedua yang dikandung Kasih.


" … Yoshi kerja di apartemen itu," terang Bastian.


Zaim melirik Anto. "Om udah tau siapa Yoshi?"


Anto hanya mengangguk enggan pada Zaim.


"Om mau gimana?"


"Belom saya pikirin, Za. Saya mau fokus sama kesembuhan istri sama anak saya aja dulu," jawab Anto akhirnya.


Zaim hanya mengangguk-angguk merespon Anto.


Jani berdeham, "Terus Om udah protes sama pihak RSJ?"


"Belom. Rencananya saya mau protes langsung aja nanti setelah Kasih mendingan."


"Iya intinya Om harus protes. Kalo perlu tuntut aja. Masa pasien dalam perawatan diizinin keluar. Keluar negri lagi." Jani menggeleng. "Gak beres tuh RSJ."


Zaim beranjak, "Saya izin liat Kasih, Om."


Anto hanya mengangguk pada Zaim, lagi-lagi mengangguk enggan. Jujur saja Zaim pun enggan. Tetapi sungguh, Zaim tak tega memamerkan sisi kejamnya pada seorang ayah yang tengah diuji melalui istri dan anaknya tersebut. Setelah mengatur napas berulang kali, Zaim pun masuk ke dalam kamar tidur Kasih. Terlihat Kasih terjaga, sambil memandang ke luar jendela. Zaim yang kian merasa tak tega setelah disambut potret pernikahan sang kakak dan Kasih itu pun berniat balik kanan. Namun.


"Kok bisa kamu setega itu sama aku?"


Zaim refleks menghentikan langkahnya.


"Gak cukup gak ngakuin anak kita aja tapi juga ngelindungin cewek yang udah buat anak kita keguguran," tambah Kasih.


Zaim berbalik, menatap Kasih. "Apa?"


"Ternyata bener kata temen aku. Kamu tuh aslinya emang lebih hina dari binatang."

__ADS_1


"Temen? Siapa?"


"Nikahin aku dulu baru aku jawab."


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Ibu gak nonton berita emang?"


"Kamu pikir saya sesenggang itu hah!" seru Marina pada salah seorang security.


Security lainnya berdeham, "Iya jadi gini, Bu. Komplek Medina dikosongin sampe pelaku insiden penembakan ketangkep. Dan yang boleh masuk ke sini cuma yang punya izin dari Pak Gubernur. Gitu, Bu."


"Terus pada ngungsi ke mana?"


"Kalo itu sih kami kurang tau, Bu. Tapi rata-rata ngungsi ke rumah kerabat atau hotel yang jauh dari sini."


"Kalo gitu Nia ngungsi ke mana?" tanya Marina lagi.


"Nia siapa ya, Bu?"


"Nia. Yesenia Eve. Pacarnya Zaim Alfarezi. Masa kalian gak tau?"


"Ya kan yang namanya Nia banyak, Bu. Apalagi di komplek sini yang namanya Nia ada kali lima orang. Iya kan, Cup? Nia yang anak TK yang rumahnya di belokan masjid situ satu. Terus Bu Nia yang mantan pra–"


"Stop-stop," sela Marina pada security berkopiah itu. "Jadi kalian tau gak Nia yang pacarnya Zaim Alfarezi ngungsi ke mana?"


Spontan Marina beserta kedua security Komplek Medina itu menoleh pada Sobari yang tiba-tiba muncul. Marina mengamati Sobari dari ujung kepala sampai kaki sebelum memberi jawaban dan balik kanan. Buang-buang waktu! Begitu jawab Marina. Tetapi langkah kesal Marina langsung terhenti ketika Sobari memperkenalkan diri, memberitahu misi yang tengah diembannya yakni tetap memantau kediaman Nia demi menghindari insiden penyusupan seperti yang dilakukan Bunga beberapa bulan lalu, dan bahwa dirinya mengetahui keberadaan Nia.


"Ternyata orang yang waktu itu dateng ke rumah," batin Marina. "Terus Nia di mana?"


"Anda jawab saya dulu. Ada urusan apa sama Mbak Yesenia," balas Sobari.


Marina menghela napas kasar. "Saya harus ketemu Nia dan bawa dia ke bandara. Soalnya cuma dia yang bisa ngehentiin suami saya."


"Jangan bilang Pak Denar mau nyamperin Nila Anggraeni ke Taiwan."


Marina hanya mengangguk menanggapi Sobari.


"Kapan Pak Denar jalan ke bandara?"


Marina melirik jam dinding di dalam pos security. "Sekitar setengah jam yang lalu."


Sobari menggeleng. "Gak keburu."


"Terus gimana nasib suami saya? Dia pasti mati kalo nyari masalah sama mamah tirinya Nia yang katanya nikah lagi sama mantan gangster itu. Tolong lakuin sesuatu, Pak. Tolong bantu saya."

__ADS_1


"Iya saya pasti bantu." Sobari merogoh ponselnya dari dalam saku jaket. "Saya telfon Pak Zaim du–"


"Jangan," teriak Marina sembari menahan tangan Sobari. "Nanti malah jadi ribet."


"Anda gak punya waktu buat jemput Mbak Nia. Apalagi ngejar Pak Denar. Satu-satunya cara cuma nutup bandara. Dan yang punya kuasa itu di Indonesia cuma Pak Presiden, Atlas* sama Pak Zaim."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


Marina tak menjawab, namun pegangan tangannya yang semula menggelayut sangat kuat pada Sobari perlahan mulai mengendur. Sobari pun melanjutkan rencananya untuk menelepon Zaim. Setelahnya Sobari tampak membuat panggilan telepon yang lain. Sobari menelepon sopir pribadi kediaman Zaim, Pak Ucil. Sobari meminta Pak Ucil untuk mengantar Nia ke bandara tanpa boleh diketahui Ushi maupun Ikbal. Dan, selesai. Kini Sobari hanya perlu bercosplay menjadi sopir pribadi Marina yang mengantongi SIM hasil tembak!


Tibalah Sobari dan Marina di bandara, bersamaan dengan Nia yang ternyata diantar Ikbal menggunakan sepeda motor. Keempatnya pun langsung berpencar mencari Denar. Suasana bandara malam itu terasa menakutkan. Teriakan serta umpatan seakan menyatu membentuk keselarasan yang mengutuk orang berkuasa yang dianggap seenak jidat menghentikan aktivitas bandara. Dan di tengah suara pun umpatan yang tak ada ujungnya itu, tampak Denar duduk di pojok kursi tunggu penumpang, menunduk melamunkan entah apa.


"Kak Denar."


Spontan Denar beranjak. "Loh, Dek?"


"Kak Denar mau ke Taiwan? Ngapain? Mau setor nyawa? Udah gila ya? Apa sih yang Kakak pikirin?"


Denar hanya tersenyum pada Nia.


"Mendingan sekarang Kakak pulang aja deh," imbuh Nia.


Denar menggeleng. "Kakak gak bisa biarin ini lebih lama, Dek. Kakak harus selesain ini sekarang."


"Selesaiin apa? Bales dendam? Sama orang yang gak salah?"


"Dia salah, Dek. Dia yang ngirim Ferdi. Dia yang ngirim penembak itu. Dan dia juga yang udah bikin kamu pingsan. Dia salah, De–"


"Iya dia emang salah. Tapi salahnya di masa lalu bukan di masa sekarang."


Denar terdiam, tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja Nia katakan.


"Bukan dia pelakunya, Kak. Tapi orang lain."


"Jadi kamu udah tau siapa pelakunya? Siapa? Cepet kasih tau Kakak," sahut Denar akhirnya.


"Aku gak yakin karna gak punya bukti. Aku cuma feeling aja sama orang-orang yang mungkin masih nyimpen dendam sama aku."


"Iya siapa? Siapa mereka?"


Nia diam cukup lama sebelum menjawab, "Bunga. Atau mungkin, Bu Kasih."


"Kasih."


Nia dan Denar kompak menoleh ke asal suara. Tampak Zaim menghamipiri Nia dan Denar bersama Bastian, Jani, Sobari, Marina serta Ikbal.

__ADS_1


"Kasih punya delusi," imbuh Zaim. "Dan delusinya makin parah. Kasih nganggep saya udah ngehamilin dia. Dan nganggep Nia yang bikin dia keguguran. Jadi udah clear kan siapa pelakunya?" Zaim menunjuk tangan Denar yang memegang tangan Nia. "Jadi sekarang Pak Denar bisa lepas ini? Kelamaan megangnya. Saya gak suka."


"Saya juga gak suka adik saya ketimpa masalah terus karna Pak Zaim," sahut Denar sembari menarik Nia ke sisinya.


__ADS_2