
"Tolong volumenya ditambah."
"Baik, Den," balas Pak Ucil pada Zaim.
📺 : ... Belum diketahui secara pasti alasan Muezza* mendadak meliburkan diri. Padahal kabarnya, banyak sekali artis papan atas tanah air yang sedang berlangganan katering di sana demi mencapai berat badan impian. Beragam spekulasi dari netizen pun muncul. Apakah tengah terjadi masalah internal di Muezza? Atau benarkah perusahaan saingan yang diCEOi oleh putri Gubernur Kota Jakarta itu akhirnya berhasil menggeser Muezza dari posisi pertama? Atau …
*Nama perusahaan milik Al Hakam. Perusahaan ini menawarkan jasa katering diet.
Kerut di dahi Zaim kian menebal melihat berita pagi yang ditontonnya melalui head unit*. Bukan hanya para netizen pun pembawa berita, Zaim juga mempertanyakan hal yang sama. Tetapi hanya untuk pertanyaan pertama. Karena untuk pertanyaan kedua sudah pasti ada campur tangan dari perusahaan saingan Muezza. Muezza tidak akan memberikan posisi pertamanya mengingat sang CEO yang kecanduan bersaing. Kalau begitu, artinya memang ada masalah internal!
*Perangkat yang terletak di dasbor mobil. Head unit terbagi menjadi dua, head unit single din dan head unit double din. Head unit single din hanya dapat memutar audio dalam format cd dan dvd. Sementara head unit double din, selain dilengkapi dengan layar sentuh juga bisa memutar audio dalam format cd, vcd, dvd, mp3, wav, wma, dvd-r, dvd-rw, cd-r, cd-rw, flac, dan mp4.
"Kita mampir ke kantor Muezza dulu ya, Pak."
Pak Ucil mengangguk. "Siap, Den, siap."
Sembari menghitung menit ketibaannya di Muezza, Zaim membuat panggilan telepon dengan orang kepercayaan Al Hakam, Hendri. Namun sesuai dugaan, tidak ada jawaban. Zaim beralih menelepon Al Hakam, tetapi alih-alih ditanggapi ponsel sang kakek malah mati. Lalu setibanya Zaim di Muezza, ternyata kantor tiga puluh lantai itu benar-benar tutup. Terlihat hanya ada empat orang security yang berjaga di pos. Zaim pun bertanya pada mereka meski sudah tahu hanya akan membuang waktu.
" … Kalo kami mah ditugasin patroli, Pak. Sama ada lagi lima petugas bagian ngecek listrik sama manasin mobil-mobil perusahaan sa–"
"Bukan itu yang saya tanyain," sela Zaim pada salah seorang security. "Bos kalian ngomong apa sebelum kantor kalian ditutup?"
"Kalo Pak Hakam sih gak ada ngomong apa-apa, Pak. Yang ngomong mah Pak Hendri."
Security lain mengangguk-angguk menimpali temannya. "Beliau bilang mau nemenin Pak Hakam healing."
"Healing buat nyari inspirasi menu baru, Pak," timpal security terakhir.
Mendengar itu membuat Zaim sedikit lega. Setiap satu tahun sekali sang kakek memang sering pergi ke luar negeri untuk mencari inspirasi menu baru usahanya. Tetapi tiga tahun belakangan Al Hakam tidak lagi melakukan kegiatan itu. Itulah kenapa Zaim tidak terpikirkan sampai ke sana. Ditambah lagi, Hendri yang mengidap mabuk udara parah enggan mengekori Al Hakam dan lebih memilih lembur setiap malam. Jadi pertanyaannya, apa alasan kali ini Hendri ikut serta?
DRRRTTT DRRRTTT DRRRTTT
"Oke makasih kalo gitu. Silahkan lanjut kerjanya." Zaim berlalu sambil mengangkat telepon. "Halo, Hen."
"Iya, Za. Tadi nelfon ya? Sorry gak keangkat."
"Lu di mana?"
"Luar negri."
"Nyari inspirasi menu baru?" tanya Zaim lagi.
Hendri tertawa. "Anggep aja gitu."
"Kakek di mana?"
"Gak tau. Gua ditinggalin gitu aja."
__ADS_1
"Ada masalah apa?"
"Jangan nanya-nanya kalo cuma kepo." Hendri kembali tertawa.
"Lu dipecat Kakek kan? Ya pantes sih. Orang lu gila kaya gini."
Hendri tak henti tertawa. "Ngomong-ngomong, katanya lu udah ngontek WO* turun-temurun keluarga?"
*Wedding Organizer.
"Iya."
"Iya sih. Anak itu kan bentar lagi lulus ya. Tapi beneran lu gak ada niat pikir-pikir lagi? Serius lu mau nikahin anak itu? Yang hampir bikin Kakek meninggal?"
Zaim hanya mengulang jawabannya.
Hendri menghela napas. "Fakta dia cucu dari orang yang udah bikin kita kehilangan Zain aja udah ngeselin. Ini malah ditambah fakta kalo ternyata dia itu orang yang hampir bikin kita kehilangan Kakek juga."
Zaim diam.
"Tapi yaudah kalo itu keputusan lu. Gua doain persiapan pernikahan kalian lancar." Hendri diam cukup lama sebelum melanjutkan, "Terus maaf kalo selama ini gua banyak salah atau plinplan milih kubu." Hendri tertawa. "Tapi kubu yang gua pilih gak akan berubah walopun kita gak sedarah. Gua cuma bakal ada di kubu lu atau Kakek. Yaudah kalo gitu gua tutup ya. Nanti gua telfon lagi."
Zaim menatap layar ponselnya yang memperlihatkan durasi teleponnya dengan Hendri. Aneh? Ya, andai saja Hendri tidak menyelipkan tawa lepas dalam katanya pun tidak berjanji untuk menelepon Zaim di lain waktu. Zaim sempat dilanda keragu-raguan sebelum akhirnya mantap mengutus salah satu robotnya untuk menenangkan perasaannya yang tak jelas. Namun niat Zaim seketika tidak lagi menjadi prioritas saat telepon dari orang yang dinantinya sepanjang hari ini datang.
"Halo. Selamat pagi, Pak Zaim." Suara seorang wanita yang tak lain adalah WO turun-temurun keluarga Zaim terdengar begitu ramah. "Saya mau nginfoin kalo gaun buat photoshoot prewed Mbak Yesenia udah selesai dirombak. Tapi maaf nih, Pak, baju Bapak masih dalam proses."
"Kok lama?"
"Udah berapa persen prosesnya?"
"Dua puluh lima persen, Pak."
"Cuma naik tujuh persen ya dalam seminggu. Yaudah gak apa-apa."
WO terdengar menghela napas lega. "Terima kasih atas pengertiannya, Pak Zaim. Terus mau Mbak Yesenia yang fitting duluan atau mau nunggu baju Bapak jadi aja?"
"Nunggu baju saya jadi aja."
"Baik, Pak, saya noted. Kalo gitu nyicil fitting baju akad sama resepsi dulu aja gimana, Pak? Kira-kira kapan Bapak dan Mbak Yesenia ada waktu?"
"Soal itu kamu kontek langsung aja Nianya. Saya menyesuaikan aja."
"Baik, Pak. Terima kasih atas waktunya. Kalo gitu selamat bekerja, Pak."
"Makasih kembali." Zaim menutup telepon seraya membatin girang. "Akhirnya bentar lagi aku bisa milikin kamu seutuhnya."
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Minggu kedua di bulan juni itu dijuluki minggu terheboh. Setelah berita tentang Muezza yang mendadak tutup menyambut awal minggu, kini datang berita lain di pertengahan minggu yang tak kalah heboh. Tersangka insiden penembakan yang sudah lama buron akhirnya tertangkap. Namun identitas si tersangka dirahasiakan atas permintaan seseorang. Pihak penegak hukum pun setuju mengingat orang tersebut telah berjasa mengakhiri kekalutan warga, terutama warga Komplek Medina.
Jalan di sekitar Komplek Medina langsung dihiasi kemacetan karena penghuninya yang berbondong kembali ke kediaman mewahnya sesaat setelah berita itu dirilis. Komplek Medina yang menjadi TKP* penembakan terpaksa ditutup demi keamanan para penghuninya, pun usaha kecil dan besar di sekitarnya. Akhirnya para penghuni Komplek Medina terpaksa menumpang di rumah kerabat atau hotel. Tetapi kini Komplek Medina sudah kembali normal. Dan untuk merayakan itu, digelarlah syukuran besar-besaran.
*Tempat Kejadian Perkara.
Tak ketinggalan Zaim juga hadir dalam acara syukuran tersebut. Para penghuni komplek elit itu tampak salah tingkah karena bisa melihat sekaligus mengobrol langsung dengan orang terkaya seJakarta Selatan. Dan tak terasa waktu sudah mendekati tengah malam. Setelah membantu mengangkat meja-meja, menurunkan tenda dan menggulung ambal, Zaim pun pamit pada para penghuni Komplek Medina, Ushi, serta Nia. Sambil mengenakan seat belt, Zaim bertanya perihal usulan WO mereka untuk fitting pakaian akad dan resepsi.
"WOnya bilang dia udah telfon kamu tapi kamu belom kasih jawaban."
Nia hanya mengangguk menanggapi Zaim.
"Kenapa, Sayang? Ada masalah?"
"Iya," sahut Nia akhirnya.
Spontan Zaim melepas seat beltnya dan keluar dari mobil. "Tell me* Sayang."
*Kasih tau aku, Sayang.
"Mmm gimana ngomongnya ya?"
"Omongin aja yang sekarang terlintas di pikiran kamu."
Nia mengangguk lagi. "Aku tuh pengennya pernikahan kita bikin semua orang bahagia. Tanpa terkecuali Ibu dan Kakek kamu. Terus aku juga mau mereka terlibat dalam persiapan pernikahan kita walopun cuma ngasih pendapat."
"Jadi maksudnya persiapan pernikahan kita dipending dulu gitu?"
"Iya. Gak apa-apa kan?"
"Apa-apa sih kalo kamu ngomongnya nanti-nanti," balas Zaim seraya tersenyum paksa. "Yaudah aku coba ngomong sama Kakek ya. Tapi kayanya butuh waktu lama. Ka–"
"Jangan lama-lama," sela Nia. "Kita cuma perlu usaha sewajarnya. Kalo mereka kekeh gak mau yaudah jangan dipaksa. Aku juga gak mau mereka bahagia karna paksaan."
Mendengar itu, Senyum Zaim yang semula terlihat kaku pun langsung tampak lepas selepas-lepasnya.
"Kita masih punya banyak waktu kok. Tapi kalo sampe aku lulus sekolah makeup mereka tetep gak mau ngasih restu juga yaudah. Kita nikah aja." Nia diam cukup lama. "Toh masih ada dia yang bisa jadi saksi pernikahan kita."
"Dia? Maksudnya ibu tiri kamu?"
Nia kembali merespon Zaim dengan anggukan.
"Kamu serius?"
"Iya," jawab Nia akhirnya. "Kak Denar juga bisa jadi saksi kan. Aku bakal mulai perbaikin hubungan sama mereka."
Zaim menghambur memeluk Nia. "Tapi jangan paksain diri kamu ya, Sayang. Ada aku. Jadi jangan sungkan bagi kesedihan kamu, ketakutan kamu dan apapun itu perasaan yang bikin kamu gak nyaman sama aku."
__ADS_1
"Iya makasih."
"Kita pasti bisa lewatin apapun ujian yang dikasih Tuhan. Kita cuma perlu sabar dan konsisten milih jalan yang bener. Ya?" Zaim mengecup kening Nia berulang kali. "I love you."