
Rem mobil yang diinjak mendadak itu seketika membuat suara berderit yang memprovokasi kata-kata kotor. Dan yang lebih mengganggu, si pengendara mobil memarkirkan begitu saja mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Tentu saja semua orang bersedia maklum, tetapi bukankah maklum pun ada batasannya? Tidak cukup dengan suara rem mengganggu dan parkir sembarangan, si pengendara mobil berbentuk roti tawar itu bahkan berlarian dengan hanya mengenakan pakaian mandi hotel. Luar biasa!
"Mbak, anak saya. Namanya Ikbal, Ikbal Navarro. Katanya dirawat di sini. Nomer berapa kamarnya, Mbak?"
Wanita berseragam kuning tua itu ikut panik. "Pasien bernama Ikbal Navarro dirawat di kamar nomor 1089 da–"
"Makasih," sela Ushi.
Ushi bergegas menuju kamar di mana Ikbal dirawat. Ikbal hampir tidak pernah sakit, tetapi sekalinya sakit, pasti selalu mengkhawatirkan. Sudah dua hari Ikbal mengenakan pakaian pasien, namun baru hari ini Nia memberi kabar pada Ushi. Ushi tahu maksud Nia sebab gadis itu hapal betul wataknya. Jika diberitahu Ikbal dirawat tepat saat hari H, Ushi pasti akan langsung tancap gas ke Jakarta. Wajar saja. Memang ibu mana yang akan tetap menyantap sate maranggi saat mendapat kabar anaknya jatuh dari lantai satu?
BRUK
"Aduh, maaf-maaf sa–, eh, Zaim ya? Zaim Alfarezi iya kan? Ya ampun saya ngefans loh."
Zaim tersenyum sembari membantu Ushi berdiri. "Anda gak apa-apa?"
"Gak apa-apa. Maaf ya saya buru-buru. Saya ngebut dari Puncak karna anak saya sakit. Terus anak saya yang cewek jaga sendirian, terus juga dari tadi saya nyari kamar 1089 gak nemu-nemu. Kayanya Mbaknya salah ngasih tau nomer kamarnya deh." Ushi menoleh ke sana ke mari.
"Kamar 1089 ada di lantai 10. Anda tinggal naik ke lantai 10 terus cari kamar nomer 89 aja."
"Gitu ya. Pantes dari tadi saya liat nomer kamarnya cuma puluhan. Makasih ya. Sebenernya saya pengen foto tapi ya ampun, hp saya gak tau dimana. Duh, jangankan hp, pake baju aja saya lupa." Ushi tertawa. "Kalo gitu saya duluan ya. Maaf sekali lagi ya."
Zaim hanya mengangguk menanggapi Ushi, dan perlahan tapi pasti, langkahnya bergerak tanpa komando mengekori Ushi yang tengah berjalan setengah berlari menuju lift. Terlihat dari kaca jendela pintu kamar 1089, Ushi memeluk dan menciumi Ikbal serta Nia secara bergantian. Ketiganya tampak mengobrol sambil menangis, pun sambil saling membalas sentuhan penuh cinta itu. Zaim masih berdiri di tempatnya, tak berencana ke mana-mana sampai sebelum Nia keluar dari kamar tersebut.
"Tadi sampe mana deh? Oh ini." Nia bergumam sembari membaca sebuah artikel di ponselnya. "Jadi bener ya, kakaknya Zaim Alfarezi meninggal karna kecelakaan pesawat. Kasian banget jasadnya belom ditemuin sampe sekarang tu–"
"Udah ketemu kok."
Nia terlonjak mendapati suara berat berikut napas panas yang menjeda kegiatan membaca seriusnya.
"Jangan baca artikel yang ditulis penulis itu. Dia terkenal drama," imbuh Zaim.
"Sejak kapan Kakak di sini?"
"Sejak sepuluh menit yang lalu."
"Ngapain?" tanya Nia lagi.
"Lewat aja. Kamu sendiri sejak kapan ada di sini?"
"Udah tiga hari ini."
"Kenapa gak ngasih tau sa–, maksudnya Duplikat L.K?"
"Gaklah. Bisa-bisa dia ngirim dokter dari luar negri."
Zaim tertawa. "Terus kamu mau ke mana?"
"Pulang disuruh ngambil baju ganti Tante." Nia melambaikan tangannya pada Zaim. "Kalo gitu saya duluan ya, Kak."
"Tunggu."
__ADS_1
Spontan Nia berbalik menghadap Zaim.
"Biar saya anter," tambah Zaim.
"Gak usah, Kak. Saya udah pesen ojek kok."
"Tapi kamu harus pulang sama saya. Gimana ya ngasih taunya?"
"Ngasih tau apaan, Kak?"
Zaim tak segera menjawab, hanya menatap Nia sesekali. "Kita searah. Jadi ayo bareng aja pulangnya."
"Sejak kapan Jaksel sama Jaktim searah?"
Zaim tertawa lagi, tapi kali ini sembari menggerakkan jari-jemari seksinya untuk menanggalkan satu demi satu kancing kemeja yang dikenakannya.
"Kakak ngapain?"
"Katanya kamu mau liat roti sobek?"
Nia hendak memberi jawaban penolakan, tetapi demi Tuhan, roti sobek montok yang berjejer rapi di bawah sana seketika membuat Nia kehilangan rangkaian kata penolakan.
"Itu, ja–"
"Diem." Zaim tiba-tiba melilitkan kemejanya di pinggang Nia.
"Itu, ka–"
"What? Tembus? Siapa?" Nia refleks menyentuh bokongnya. "Wat to the fak," batin Nia. "Mmm jadi ini bukan tembus. Soalnya, mmm ini belom tanggalnya. Iya, jadi mmm ini tuh pasti itu."
"Itu?"
"Iya itu, Kak. Mmm, semacem ambeien?"
Zaim membuang muka, menahan tawa. "Oke apapun itu yang penting sekarang kamu harus pulang." Zaim menggandeng Nia.
...•▪•▪•▪•▪•...
BRUK
"Gila. Gue udah gila. Kenapa bilang ambeien sih. Itu kan lebih parah daripada ketauan tembus." Nia memukul mulutnya berulang kali, sembari membuka sedikit pintu kamarnya.
Terlihat dari tempat Nia mengintip, Zaim tengah berdiri melihat-lihat rumah, berdiri hanya dengan mengenakan celana jin. Jelas saja. Karena saat ini baju Zaim sedang digunakan sebagai pengganti pembalut. Nia buru-buru melepas kemeja berwarna biru itu, dan mendapati banyak bercak merah di sana. Bukan salah datang bulan, pun bukan salah Nia. Semuanya salah Ikbal. Karena sibuk menenangkan Ikbal yang mengigau setiap malam, Nia sampai lupa hari, lupa tanggal, dan lupa jika rasa tak nyaman yang dirasakannya selama beberapa hari belakangan bukan sebab kelelahan tapi alarm datang bulan.
"Cuci. Cepetan cuci." Nia berlari memasuki kamar mandi. "Kemejanya harus balik kaya semula atau gue harus kerja di ind*maret buat beli kemeja yang sama. Titik," gumam Nia yang tengah sibuk melumuri kemeja berbahan sutra itu dengan sabun colek. "Tunggu. Kenapa gak gue laundry aja?"
Nia sibuk membersihkan kemeja Zaim, sampai tidak sadar jika sudah satu jam berlalu. Gila! Membiarkan tamu menunggu selama satu jam tanpa terlebih dahulu dipersilakan duduk, minum, dan bahkan diberi baju ganti? Segera setelah sadar Nia langsung keluar dari kamar, dan masih mendapati Zaim berdiri dengan aura seksinya yang tumpah-tumpah. Nia berlari memasuki kamar Ikbal, mengacak-acak isi lemarinya demi menemukan baju yang pas untuk tamunya yang terlewat seksi. Dapat. Namun sialnya baju yang pas itu adalah baju favorit Ikbal yang hanya dikenakannya saat hari valentin.
"Kak, pake ini."
Zaim langsung mengenakan hoodie milik Ikbal. "Lama juga ya kamu liat roti sobek saya."
__ADS_1
Nia berdeham, "Mau minum apa, Kak?"
"Kalo nyuruh saya duduk dulu gimana?"
"Oh iya bener. Duduk, Kak, duduk." Nia ikut duduk. "Jadi minumnya apa, Kak?"
"Air es boleh."
Spontan Nia beranjak. "Oke, Kak."
"Makan juga boleh."
Nia mengurungkan niatnya membuka pintu kulkas, dan perlahan menoleh pada Zaim. "Mie gak apa-apa, Kak?"
"Tapi pake telor sama rawit yang banyak."
"Kok ngelunjak banget ya kaya seseorang." Nia menggerutu pelan.
"Saya denger loh."
"Hah?" Nia menggeleng-geleng. "Gak-gak, Kak. Maksudnya oke siap saya bikinin. Mie kan? Pake telor sama rawit yang banyak. Gampang itu mah. Nyantai-nyantai dulu aja, Kak."
"Oke. By the way, gimana hubungan kamu sama Duplikat L.K?"
"Baik dong, Kak."
Zaim tersenyum. "Apa yang kamu suka dari dia?"
"Mmm Duplikat L.K tuh care, dewasa, seru, dan penyelamat saya."
"Penyelamat?"
Nia mengangguk-angguk tanpa menghentikan kesibukannya mengiris rawit. "Sejak Ayah meninggal, saya ngerasa kehilangan sesuatu yang vital di diri saya. Saya gak tau itu apa tapi Duplikat L.K kaya ngebalikin itu dikit-dikit."
"Emosi. Mungkin kamu kehilangan itu."
Gerak terburu Nia mengiris sepuluh buah cabai rawit itu mulai melambat.
"Saya juga kehilangan emosi sejak Kakak saya meninggal." Zaim beranjak, melanjutkan kegiatannya melihat-lihat rumah. "Ketawa kalo sekitar ketawa, nangis kalo sekitar nangis, dan diem kalo sekitar diem, walopun cuma pura-pura. Karna gak ada yang bisa bikin saya nunjukin emosi sejujur Kakak saya. Sampe saya ketemu dia," imbuh Zaim.
"Dia siapa, Kak?"
Zaim tersenyum sambil memandang potret perayaan ulang tahun Nia yang ketujuh belas. "Pacar saya."
"Omg-omg. Jadi Kakak udah punya pacar. Siapa, Kak? Artis? Model? Selebgram? Atau pengusaha juga?"
"Cuma anak sekolah."
Spontan Nia membekap mulutnya. "Omg jadi Kakak pacaran sama anak bawang."
"Bukan anak bawanglah kalo udah tembus. Iya kan?"
__ADS_1
DEG DEG DEG