
Terlihat dari kejauhan, Vina seperti sedang dikejar-kejar kawanan anjing Pit Bull. Padahal tidak ada siapa-siapa di belakang gadis penggila tetelan bakso itu selain cici-cici uzur yang tengah berburu matahari pagi. Vina menghentikan langkahnya di depan rumah mewah bernomor delapan, dan langsung menekan bel sekali setiap setengah detik. Pemilik rumah, tidak, anak pemilik rumah pun muncul dari balik pintu dengan mimik wajah yang sangat amat jengkel.
"Brisik lu anjir."
"Plis ya **P**ithecantropus Erectus, lu gak bakal pernah paham rasanya rindu setengah mati," balas Vina pada Ikbal.
"Minggir muka lu jember." Ikbal menoyor wajah Vina yang menempel di jeruji gerbang.
Vina tak menjawab, hanya meluapkan amarahnya dengan menginjak kaki telanjang Ikbal sesaat setelah gerbang itu terbuka.
"Monyet!" seru Ikbal sambil melompat kesakitan.
Vina langsung bergegas ke kamar Nia yang ada di lantai dua, setelah sebelumnya mencium punggung tangan Ushi. Pintu dengan hiasan bunga edelweiss itu pun terbuka, namun segera Vina mengurungkan hasratnya untuk membanjiri sang sahabat dengan pelukan rindu. Ternyata hari pengungsian itu datang hari ini. Benar, hari pengungsian. Di mana Nia akan sementara mengungsi di kosan bertarif harian yang berjarak sangat jauh dari sekolah.
"Demi apa keluarga Tante dateng hari ini?" Vina menghampiri Nia sambil memandang kamar yang semakin mirip dengan kapal yang dibajak Vander Decken IX itu.
"Yup."
"Tumben banget dadakan?"
"Mau ngasih surprise buat ulang taun Ikbal katanya," sahut Nia.
"Dianak emasin banget gak sih tuh kang gombal?"
"Namanya juga cucu satu-satunya."
Vina hanya merespon dengan helaan napas kasar sembari membuka ranselnya, mengambil tas jinjing bekas setoran kue putu ayu buatan sang ibu, dan membantu Nia mengemas semua barang yang ada di meja belajar itu. "Lagian kenapa sih sampe sekarang si Tante belom bilang juga ke keluarganya kalo dia nampung lu?"
Nia mengangkat bahunya menanggapi Vina.
"Terus emang keluarga Tante pernah dateng ke sini dengan alesan selain kangen? Gak kan? Aneh tau gak sih kalo di–"
"Soalnya Tante disuruh nikah lagi." Ushi tiba-tiba muncul di belakang Nia dan Vina yang sedang bahu-membahu mengemasi buku dan alat tulis.
"What? Tante mau nikah lagi?"
Ushi memasukkan kotak bekal ke dalam ransel Nia. "Kayaknya udah cukup dua kali aja deh," jawab Ushi pada Vina.
"Tante udah nikah dua kali?"
__ADS_1
Ushi mengangguk menanggapi Nia. "Maaf ya, Tante bikin kamu susah tiap kali keluarga Tante dateng ke Indonesia. Maaf juga Tante belum bisa kasih tau mereka soal kamu. Belum waktunya, Sayang." Ushi merapikan ikatan rambut Nia. "Sabar ya."
"Gak apa-apa, Tan. Lagian mana ada Tante bikin aku susah, yang ada aku yang nyusahin Tante."
"Kamu sama sekali gak pernah nyusahin Tante kok." Ushi tersenyum lembut sambil mengusap sebelah pipi Nia. "Kalo udah selesai packing taro aja barang-barangnya di deket koper. Nanti biar tante yang bawa ke kosan sekalian berangkat ke kantor. Dipercepet ya, udah mau jam setengah delapan. Nanti kalian telat loh."
Nia hanya mengangguk pada Ushi yang berlalu.
"Makin aneh. Sumpah deh makin-makin."
Nia menoleh pada Vina. "Apanya?"
"Demi apa lu gak ngerasa? Bukannya sedihnya Tante sama lu tuh beda ya? Karna waktu si Ikbal kelelep di curug, si Tante gak sesedih itu loh mi–"
"Mau bolos gak?"
"Maulah," sahut Vina kilat.
"Yaudah mingkem, terus buru masukin baju ganti."
"Ke mana kita?"
Spontan Vina merogoh saku bajunya, saku roknya, dan terakhir, saku telinga ranselnya. "Dua puluh dua ribu tujuh ratus."
Nia tak menjawab, hanya menggeleng menanggapi sang sahabat, dan perlahan mengeluarkan selembar uang dari saku kanan roknya.
"Uwah, apa ini asli? Atau hanya halusinasi pemilik jiwa-jiwa miskin seperti Dedek?" Vina mengendus pecahan uang seratus ribu yang sengaja dijembreng Nia tepat di depan wajahnya.
"Markibol."
"Mari kita bolos." Vina mengekori Nia.
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat dari mata teropong Bastian, sepasang suami istri sedang menunggu mobil jemputannya di depan bandara. Mereka adalah orangtua Ushi yang selama ini menetap di Malaysia. Demi mendapatkan uang tambahan, Bastian menyanggupi pinta Zaim untuk mencari tahu latar belakang Ushi. Sejujurnya Bastian sudah mengawasi Ushi selama dua hari terakhir, namun wanita yang bekerja sebagai MUA di salah satu studio foto ternama itu benar-benar hanya menjalani rutinitas yang membosankan.
Selamanya, tanya perihal bagaimana Ushi bisa memiliki anak di luar nikah tidak akan pernah terjawab karena tak ada satu informasi pun yang bisa didapatkan darinya. Bastian pun mencari cara lain untuk menguak misteri itu melalui orangtua Ushi meski tahu berisiko membahayakan nyawanya. Ayah Ushi yang asli orang Malaysia merupakan mantan Raja yang terpilih selama tiga kali berturut-turut. Sementara ibu Ushi dan kakak perempuannya, terkenal sebagai MUA langganan artis papan atas.
Satu jam yang lalu, melalui orangnya yang bekerja di bandara, Bastian mendapatkan informasi akan kedatangan orangtua Ushi ke Indonesia. Itulah alasan Bastian bergelut dengan teropongnya saat ini. Bastian sudah memantau orangtua Ushi sejak mereka turun dari pesawat, dan sekarang dirinya sedang dalam perjalanan membuntuti mereka menuju kediaman Ushi. Sebisa mungkin Bastian membuat pengintaiannya tampak alami, karena jika dirinya sampai tepergok, panjang sudah urusannya.
__ADS_1
"Kenapa Ushi Widhiani milih tinggal di sini sedangkan keluarga besarnya netep di Malaysia? Jelas ada masalah, dan gua yakin masalah itu ada kaitannya sama masa lalu Ushi ya–"
Gumaman Bastian terjeda, sebab sebuah sedan hitam di depannya yang tiba-tiba menginjak rem. Beruntung Bastian melaju di jalan biasa, sehingga tabrakan beruntun bisa sepenuhnya dihindari. Bastian buru-buru melepas sabuk pengamannya, berniat memeriksa keadaan pengemudi sedan hitam itu terlepas dari siapa pun yang menjadi tersangka. Namun sial, sepertinya kecelakaan malam itu sudah direncanakan. Dua orang pria bertubuh tegap keluar dari mobil mewah tersebut, dan menggiring Bastian ke bahu jalan.
"Kenapa awak mengekori kami?"
"Maaf sebelumnya tapi saya gak ngekorin kalian. Tujuan saya memang ke arah sini," balas Bastian pada pria berkacamata hitam.
"Awak tak naik kapal terbang, tak pula mengambil sesiapa pun di lapangan terbang. Jadi apa awak sebut jika bukan mengekor?" Teman si pria berkacamata hitam menimpali.
"Anda berdua salah paham. Saya ke bandara memang bukan buat naik pesawat atau jemput orang." Bastian menunjukkan lencananya. "Saya sedang bertugas mengintai tersangka curanmor."
Dua pria itu kompak melihat ke arah satu sama lain, pun kompak melepas cengkeramannya dari bahu Bastian.
"Anda berdua juga sedang bertugas apa gimana? Terus kalo saya boleh tau, Anda berdua ini siapa ya?" imbuh Bastian.
"Bukan siapa-siapa. Awak pertimbangkan tak pernah jumpa kami." Pria berkantung mata tebal itu memberi kode pada pria berkacamata hitam untuk pergi.
Namun si pria berkacamata hitam malah berkecak pinggang, seolah sengaja memamerkan holster hitamnya pada Bastian. "Pertimbangkan betul-betul apa yang kawan kami cakap. Awak dan kami tak pernah jumpa."
"Hah, jadi beneran panjang nih urusan." Bastian langsung membuat panggilan telepon setelah memastikan sedan hitam itu berbelok memasuki tol. "Halo."
"Hm."
"Gua gak bisa lanjut nyari informasi soal masa lalunya Ushi Widhiani. Keluarganya punya pengawal, polisi."
"Lanjut aja. Gua tambahin." Suara Zaim terdengar samar dari seberang telepon.
Bastian menghela napas menanggapi Zaim. "Mati konyol yang ada gua."
"Gak bakal ada yang bisa matiin orang gua. Lanjutin aja."
Bastian kembali menghela napas. "Dari Yesenia Eve ke Ikbal Navarro terus sekarang ke Ushi Widhiani. Emang mereka ada hubungannya?"
"Ada."
"Apaan?"
"Kan lu yang bisa jawab itu."
__ADS_1
Bastian tak henti menghela napas. "Oke, lindungin gua."