HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SIDANG NASGOR KATSU


__ADS_3

Tampak Nia dan Ikbal bersimpuh di depan Ushi dengan kedua tangan terangkat ke udara. Kenapa? Kenapa lagi. Sudah pasti karena Nia dan Ikbal kembali berulah, dan kini sedang menjalani sidang. Nia disidang karena ketahuan membolos, sementara Ikbal disidang karena mendapat surat panggilan orangtua dari sekolah. Sidang itu sudah berlangsung selama hampir dua jam, tetapi Ushi tak kunjung mengetuk palu.


" … Aku juga baru tau hari ini soal video itu, Bu."


"Dari siapa?" tanya Ushi pada Nia.


"Mmm, itu, mmm, tau sendiri."


"Hah? Tau sendiri? Jadi maksudnya kamu tau situs-situs kaya gitu?"


Nia menggeleng cepat. "Bukan-bukan. Bukan gitu, Bu. Maksudnya, mmm, pertamanya temen aku yang ngasih tau. Terus selebihnya aku cari tau sendiri. Gitu, Bu."


"Oke. Intinya kamu gak nyembunyiin masalah lagi dari Ibu. Yaudah bangun. Kamu boleh makan malem. Tapi abis itu langsung tidur."


Spontan Nia beranjak dan melakukan peregangan. Nia melirik ke arah Ikbal, pun Ushi. Ada yang aneh dengan Ikbal. Tidak biasanya Ikbal setenang itu. Apa Ikbal terkejut setelah diberi surat panggilan orangtua? Tidak. Meski jarang, Ushi pernah dipanggil ke sekolah karena aneka ulah Ikbal yang sedang puber. Nia semakin penasaran, tentang ulah memalukan apa yang dilakukan Ikbal kali ini. Begitu pula dengan Ushi.


"Bal?"


Ikbal hanya mendongak merespon panggilan Ushi.


"Kamu gak ngehamilin anak orang kan?"


"Gaklah," jawab Ikbal akhirnya.


Ushi menghela napas lega. "Terus kenapa kamu jadi diem gitu? Kamu lagi belajar insaf apa gimana?"


"Emang aku preman."


"Bukan tapi buaya."


Ikbal beranjak. "Kita ngomongnya di luar aja, Bu."


"Di sini emangnya kenapa?"


Ikbal menoleh pada Nia yang tampak sangat jelas sedang menguping. "Yaudah ngomong di kamar aku aja." Ikbal berlalu.


"Kenapa sih tuh anak?" Ushi ikut beranjak. "Kamu tau gak kenapa dia jadi sok serius kaya gitu?"


Nia menggeleng menanggapi Ushi sambil mencentong nasi goreng di wajan. "Mungkin dia kena razia ngrokok, Bu. Atau razia seragam. Dia kan kalo di sekolah bajunya suka dikeluarin. Sama dasinya suka dipake di tangan."


"Emang gitu tuh. Orang kalo gak good looking tuh emang harus nyeleneh biar diliat. Niru siapa sih dia." Ushi berlalu. "Udah kamu cepet makan terus tidur."


"Iya."

__ADS_1


"Inget ya. Hari ini terakhir kamu bolos. Besok-besok kalo Ibu sampe denger kamu bolos lagi, kamu gak boleh main sama Vina."


Nia tampak terkejut, dan semakin terkejut saat pintu kamar Ikbal ditutup dengan kasar. Sepertinya ulah yang dibuat Ikbal kali ini sangat serius. Namun adakah yang lebih serius selain menghamili anak orang? Nia berniat menguping, tetapi demi apapun lambungnya sudah goyang dombret. Selama Ikbal bisa menahan diri tidak menangkis ocehan Ushi, Ikbal pasti bisa memenangkan sidang dan menyantap nasi goreng katsu.


KLEK


"Kamu gak usah sok se–"


"Yang bikin video itu Bapak," sela Ikbal pada Ushi. "Bapak nyuruh temen aku buat bikin opening video itu. Terus selebihnya temen Bapak yang orang Jepang yang ngedit."


"Ya ampun. Udah sinting ya Bapak kamu." Ushi merogoh ponselnya dari dalam saku. "Yang salah siapa yang heboh siapa. Udah, masalah ini biar Ibu yang urus."


"Mana bisa." Ikbal meraih jaketnya yang tersampir di kursi belajar, lalu mengenakannya. "Cewek ngurus masalah beginian mah endingnya cuma nyakar sama ngejambak." Ikbal menyabet kunci motor dan dompetnya. "Biar cowok aja yang ngurus."


"Gimana cara ngurusnya? Terus ntar dulu. Ini kamu mau ke mana malem-malem begini? Emang Ibu kasih izin kamu keluar apa?"


"Bu, ini darurat loh."


"Ya makanya biar Ibu ya–"


"Mending Ibu telfon wali kelasnya Nia. Mintain Nia izin gak masuk sekolah sampe masalah ini selesai," sela Ikbal lagi. "Si Nia tuh udah dilecehin dari kapan tau. Sampe guru aja tetang-terangan ngelecehin dia pas upacara."


"Bener-bener ya Lentera Dunia. Udah fix, kalian pindah aja dari sa–"


"Iya yaudah. Tapi kamu mau ke mana?"


"Ke mana lagi? Ke rumah orang yang bisa bikin warga Jakarta kiceplah."


KLEK


...•▪•▪•▪•▪•...


Bastian kembali menampar sebelah pipi Yoshi. Yoshi yang masih dalam pengaruh obat bius itu pun perlahan membuka matanya, sambil meringis kesakitan. Subuh tadi Bastian membawa Yoshi ke rumah sakit. Yoshi yang menghindari kejaran Bastian berakhir menubruk kurir sh*peefood dan mengecup basah aspal jalanan. Meski begitu Yoshi tetap bersikeras melarikan diri. Merasa tak memiliki pilihan, Bastian pun melepaskan timah panas ke kaki kanan Yoshi.


" … Bangun cepet. Gak usah manja."


Yoshi hanya merespon Bastian dengan rintih kesakitan.


"Gesit juga ya kamu larinya. Kenapa gak daftar jadi polisi aja sih malah daftar jadi penjahat kelamin di m*chat?" Bastian duduk di pinggiran ranjang. "Sekarang ceritain semuanya kalo gak mau kaki kamu yang satunya saya bikin gak bisa jalan juga."


Yoshi mengangguk-angguk. "Saya udah lama gak kontekan lagi sama kasih."


"Berapa lama? Coba kira-kira."

__ADS_1


"Lima atau enem bulanan."


"Cocok sama usia kandungan Kasih sekarang," batin Bastian. "Terus status kamu sama Kasih apaan? Pacar atau apa?"


"Cuma temen tidur."


"Terus kenapa kalian gak lanjut?"


"Karna dia jadi aneh." Yoshi diam sesaat. "Waktu itu saya sama Kasih abis dari Eropa. Kita nginep di hotel sekitar bandara. Terus suaminya tiba-tiba dateng. Suaminya ngasih hp sama kasih terus pergi. Dari situ Kasih mulai jadi aneh. Terus Kasih nyuruh saya pergi dan ngelupain semuanya."


"Aneh gimana?"


"Dia suka teriak-teriak, nangis sama ngomong gak jelas."


"Ngomong apa?"


"Dia kaya minta maaf, dia nyesel, dia goblok. Cuma itu yang paling jelas," sahut Yoshi.


"Kamu tau di mana hp itu?"


Yoshi menggeleng. "Cuma Kasih yang tau."


"Terus apa yang kamu tau soal Emily?"


Yoshi menggeleng lagi. "Saya cuma tau Emily dari cerita Kasih. Kata Kasih Emily itu pelakor. Emily juga orang yang sengaja nabrak mobil Kasih dan bikin Kasih keguguran."


"Jadi bener Kasih pernah hamil sebelumnya." Bastian masih membatin. "Jadi bener anak yang dikandung Kasih sekarang itu anak kamu?"


"Iya."


Bastian hanya menghela napas kasar mendengar jawaban Yoshi yang sangat mantap itu.


"Udah kan? Gak ada urusan lagi sama saya," tambah Yoshi.


Bastian menoleh pada Yoshi. "Saya sih gak ada. Tau deh kalo Zaim Alfarezi."


"Kan udah lewat Bapak."


"Ya kalo dia mau ketemu kamu gimana?" Bastian mengeluarkan borgol, melilitkannya pada pegangan ranjang, dan kemudian pada pergelangan tangan Yoshi. "Jangan ngajakin Zaim Alfarezi main kucing-kucingan. Karna main kucing-kucingan kan harus sama sesama kucing bukan kucing sama macan. Duduk manis aja. Oke?"


Bastian meninggalkan kamar rawat Yoshi, lalu bergegas menuju kediaman Emily. Jika dipikir-pikir jelas ada yang ganjil. Zain dan Kasih memang menikah karena perjodohan. Tetapi siapa pun yang menjadi saksi pernikahan itu pasti sepakat jika keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain. Dan pernikahan yang baru berumur jagung itu hancur secara misterius dalam keheningan? Bastian yakin, tanya itu hanya bisa dijawab oleh satu orang.


"Emily pasti udah tau gua bakal datengin dia, dan dia pasti udah bikin alibi." Bastian mengurangi kecepatan langkahnya. "Kalo gitu cuma ada satu cara. Gua harus nemuin hp itu." Bastian mendecak, "Sumpah abis ini gua pensiun jadi jongosnya si Za–"

__ADS_1


"Pak Bastian?"


__ADS_2