
" … Kami hanya mengikuti prosedur keselamatan."
"Prosedur keselamatan? Emang kamu pikir saya penjahat hah?" Monaco, ayah Monica, tiba-tiba menarik kerah baju salah seorang petugas bandara.
"Mohon, tenang dulu, Pak. Pihak kami tidak sembarangan menahan warga negara asing yang ingin mengunjungi Indonesia. Kami pu–"
"Banyak bacot!" seru Monaco seraya melepaskan tinjunya.
Dan perkelahian sepihak itu pun tak bisa terhindarkan. Monaco yang sedari tadi mati-matian menahan tinjunya, akhirnya melepaskan tinju itu pada petugas bandara yang dianggapnya banyak bacot. Petugas bandara yang lain pun refleks turun tangan untuk menghentikan aksi Monaco yang mulai mencuri perhatian kamera ponsel para penumpang pesawat. Tak terima sang bos disentuh oleh belasan petugas bandara, kacung-kacung Monaco pun ikut melepaskan tinju.
BUG
BUG
BUG
"Dengan Pak Monaco?"
Monaco tak menanggapi seorang polisi pria yang baru saja memasuki ruangan di mana dirinya beserta kacung-kacungnya ditahan oleh pihak Bandara Soetta. Polisi itu, Sobari, adalah polisi yang ditugaskan untuk menangani insiden kerusuhan yang melibatkan Monaco dan para kacungnya. Monaco berikut para kacungnya terancam hukuman kurungan dan denda miliaran rupiah karena telah melanggar prosedur yang sudah ditetapkan oleh pihak bandara, melukai petugas bandara, dan merusak prasarana.
"Mau pesen sesuatu, Pak? Makanan atau mi–"
"Langsung ke intinya aja," potong Monaco. "Zaim Alfarezi kan yang bikin saya sama orang-orang saya ditahan di sini?"
"Betul, Pak Monaco. Pa–"
"Sialan! Emang dia pikir dia siapa! Ternyata gak cukup dia ngusir anak saya!" Monaco menggebrak meja.
"Ada alasannya, Pak Monaco. Dan menurut pihak saya, alasan Pak Zaim layak untuk dipertimbangkan." Sobari meletakkan beberapa lembar dokumen di meja. "Pak Monaco pernah jadi gangster. Kejahatan yang Pak Monaco lakukan tercatat ada enam ratu sembilan belas kejahatan, dengan korban mencapai se–"
"Saya udah tobat."
"Itu gak cukup untuk dijadikan jaminan kalo Pak Monaco gak akan membahayakan Indonesia," balas Sobari dengan nada suara pun wajah yang tenang. "Kami cuma berjaga kalau-kalau Pak Monaco ngerencanain kejahatan di ne–"
"Saya bilang saya udah tobat!" Monaco kembali menggebrak meja.
"Jangan menambah masalah, Pak. Anda sedang berada di negri orang. Mari, kita musyawarhkan sampai menemukan jalan keluar yang tidak memberatkan kedua belah pihak."
Monaco membuang wajahnya. "Saya mau ketemu Presiden."
"Presiden kami juga ada di pihak Pak Zaim, Pak."
Monaco mengeratkan giginya, pun kepalan kedua tangannya. "Sekali lagi saya bilang. Saya udah tobat. Saya ke sini cuma mau jemput anak tiri saya karna istri saya yang lagi sakit pengen banget ketemu dia."
"Saya percaya, Pak Monaco. Tapi maaf kami tidak bisa melanggar prosedur. Apalagi itu prosedur yang udah disetujui Presiden." Sobari beranjak. "Silahkan tunggu di sini. Sampaikan ke petugas jika ada yang Pak Monaco butuhkan. Saya akan mengurus kepulangan Pak Mo–"
BRAK
PRANG
Satu-satunya meja yang ada di ruangan itu terbalik dan hancur berkeping-keping. Monaco yang lagi-lagi gagal menahan amarahnya, pada akhirnya kembali melepaskan tinju. Begitu pula dengan kacung-kacung Monaco yang refleks memasang kuda-kuda. Alih-alih mengeluarkan pistol dari selongsong sebagai pertahanan, Sobari malah bergeming. Dan ketika tinju Monaco hampir mengenai wajah keriput Sobari, seseorang tiba-tiba memasuki ruangan.
KLEK
__ADS_1
"Jari tangan bisa cedera loh kalo cara ngepel tinjunya kaya gitu."
Monaco menghampiri pria yang berdiri di tengah pintu. "Kamu pasti Zaim Alfarezi kan?"
"Oh, kayanya saya punya grup penggemar juga ya di Taiwan."
"Kurang ajar," pekik Monaco. "Berani-beraninya kamu ngusir saya, anak saya, dan bahkan orang-orang saya!" Tinju Monaco melayang mengincar wajah tampan Zaim.
KREK
"Tuh kan bener cedera. Kan udah saya bilang bukan kaya gitu cara ngepel tinju yang bener. Tapi gini."
BUG
BRUK
DUG
Monaco jatuh terjengkang dengan kepala membentur lantai setelah Zaim memamerkan kepalan tinju yang benar menurut teori bela diri yang pernah dipelajarinya. Kacung-kacung Monaco langsung berhamburan memeriksa keadaan Monaco yang kemungkinan besar mengalami pergeseran di salah satu rahangnya. Bukan main. Tidak hanya menangkis tinju Monaco secepat kilat, Zaim bahkan bisa membuat seseorang cedera parah meski dengan tangan kiri.
"Pak Sobari." Zaim menghampiri Sobari.
"Ya, Pak Zaim?"
"Kena berapa pasal dia?"
"Kemungkinan empat pasal," jawab Sobari.
"Tolong bebasin. Karna kalo jadi dia saya pun bakal ngelakuin hal yang sama demi istri saya."
Zaim mengangguk menanggapi Sobari, lalu berganti menghampiri Monaco yang masih terduduk di lantai. "Saya lagi nahan-nahan buat gak matiin Nila loh. Jadi duduk manis aja. Tunggu sampe Nia siap." Zaim berlalu. "Anak sama bapak sama aja. Sama-sama nganggep sepele mental korban penganiayaan."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Akhirnya nyerah juga nih si bunga ******." Vina cekikikan sembari memandangi layar ponselnya.
Satu pekan bercosplay menjadi peneror, akhirnya Vina pun meraih sukses. Ya, Putri alias Bunga alias si bunga bangkai, akhirnya memohon pada Vina agar berhenti menerornya. Padahal awalnya Bunga sangat gigih. Hari pertama mendapatkan teror dari Vina, Bunga langsung mengambil tindakan pemblokiran. Vina yang sudah memprediksi tindakan Bunga pun sudah menyiapkan banyak nomor sekali pakai untuk terus melancarkan aksinya.
Pada akhirnya Bunga pun mengganti nomor ponselnya. Beruntung salah seorang anggota Duplikat L.K Lovers, Sofia, bersedia membantu Vina karena menyimpan dendam kesumat pada Bunga. Sofia membantu Vina untuk mendapatkan nomor ponsel Bunga yang baru sehingga aksi peneroran itu pun bisa dilanjutkan. Bunga mengganti nomor ponselnya berulang kali, tetapi tentu saja sia-sia karena Sofia hampir selalu bisa mendapatkannya dengan mudah.
"Kan bener? Nyiriin ini makhluk astral mah gampang. Tinggal cari aja yang ngeliuk-liuk kaya ulet bulu atau cekikikan gak jelas sendirian," ujar Ikbal seraya menghentikan motornya di samping Vina.
"Gue kaya denger ada suara." Vina celingukan. "Tapi di mana ya? Masa iya di got."
"Monyet. Ngelunjak." Ikbal menarik kuncir Vina.
"Sakit-sakit."
Nia memukul Ikbal. "Lepasin dih. Kaya gak tau aja Vina ngelunjak. Maklumin dong."
"Tau tuh. Seenggaknya kalo muka udah gak good looking, kepribadian harus good looking dong. Dasar cowok mines."
Ikbal tak menjawab, hanya menoyor Vina hingga membuatnya hampir tergelincir ke dalam got. Aksi saling balas toyoran itu pun berlanjut seru. Nia yang menyerah melerai Ikbal dan sahabat sehati sesanubarinya itu pun hanya terbahak.
__ADS_1
"Btw tumben lu berdua balik bareng?"
"Iya. Mau sekalian ngambil laundry soalnya," jawab Nia pada Vina. "Lu sendiri kenapa belom balik?"
"Nungguin Kak Yeshi."
"Lah bukannya uang jajan lu udah balik normal?" tanya Nia lagi.
"Iya. Tapi lebih hemat ke sekolah bareng Kak Yeshi. Cuma patungan bensin ceban. Jadi gue bisa makan ayam bakar madu sama chicken steak tiap hari."
Ikbal mendecak, "Udah gua duga. Makhluk astral emang gak ada yang gak licik." Ikbal menyalakan mesin motornya. "Jangan deket-deket dia lu ntar ketularan."
"Dih, dasar gengges*. Iri kan lu sama gue yang makan enak tiap hari. Makanya duit jajan tuh dipake buat makan bukan buat ke warnet modusin cewek. Udah pulang lu sono. Muka lu kaya pr matematika, menyebalkan."
*Kata gengges biasa dipakai untuk mengungkapkan hal yang mengganjal kepada seseorang atau sesuatu. Gengges berasal dari kata ganggu yang diubah sedikit dan diberi imbuhan "es" di belakangnya.
Gue kaya denger ada suara."Tapi di mana ya? Masa iya di got." Ikbal menjulurkan lidahnya seraya berlalu.
Nia tertawa melihat wajah Vina yang murka. "Nanti gue telfon ya hanibaniswiti." Nia melambaikan tangannya.
Vina membalas lambaian tangan Nia sambil berjingkrak-jingkrak bersemangat. Lalu karena mulai turun gerimis, Vina pun berteduh bersama anak-anak Andalan Teladan yang lain di teras pos security. Vina menoleh ke gedung ruang guru, penasaran kenapa Yeshi yang tiba-tiba dipanggil wali kelasnya tak kunjung keluar dari sana. Meski begitu Vina tak berniat untuk mencari tahu, karena meneror si bunga bangkai jauh lebih menyenangkan.
" … Bastian Bramantyo." Bastian menunjukkan identitasnya. "Saya lagi ada misi nyari hp korban kecelakaan. Ada pelacak lokasi di hp korban, dan pelacaknya ngarah ke kamu." Bastian menatap Yeshi. "Jadi bisa jelasin ke saya?"
Yeshi tak menjawab, tubuhnya semakin gemetaran.
Wali kelas Yeshi, April, berdeham, "Kayanya anaknya ketakutan sampe gak bisa ngomong, Pak. Mungkin saya bisa kasih tau informasi pribadi Yeshi? Kali aja bisa bantu."
"Boleh," balas Bastian.
" … Yeshi tinggal sama neneknya dan kakak cowoknya yang namanya Yoshi. Orangtua mereka udah meninggal. Jadi dari kecil mereka dirawat sama neneknya aja … Yoshi ini mahasiswa drop out. Kerjanya serabutan. Pernah sekali Yoshi ambil rapotnya Yeshi …"
"Makasih, Bu April. Informasinya cukup ngebantu." Bastian kembali menatap Yeshi. "Boleh saya liat hp kamu?"
Yeshi mengangguk berulang kali sambil buru-buru mengambil ponselnya dari dalam ransel.
"Ada yang mau kamu sampein soal hp ini?"
"I-itu, hpnya Abang. A-abang minjemin ke saya k-karna hp saya lagi d-diservice," jawab Yeshi akhirnya.
"Abang kamu pernah ngomong sesuatu gak soal hp ini?"
Yeshi diam cukup lama sebelum merespon tanya bertubi dari Bastian. "H-hp ini selalu dibongkar pasang sama Abang. K-katanya ini hp nemu. T-takutnya ada pelacaknya."
"Pinter juga dia. Berarti fix ini hp yang Zain kasih ke Kasih sebelom Kasih kena gangguan mental," batin Bastian. "Kalo gitu saya sita hp ini buat penyelidikan lebih lanjut. Saya bakal cariin hp yang sama persis biar Abang kamu gak curiga. Kamu bisa ngeles kan sampe saat itu?"
Yeshi kembali mengangguk berulang kali.
Bastian beranjak. "Kalo gitu makasih. Bu April, saya permisi."
"T-tapi, Pak, A-abang saya terlibat apa, Pak?"
"Bukan masalah serius. Kamu cukup fokus belajar dan dengerin omongan saya aja. Kalo gak, mungkin bisa jadu masalah serius. Soalnya masalah ini berhubungan sama Zaim Alfarezi." Bastian berlalu.
__ADS_1
DEG