HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
CUMA MIMPI


__ADS_3

"Aku juga gak suka ada yang ngusik milik aku." Zaim kembali menarik Nia mendekat. "Apalagi bikin milik aku sedih." Zaim menyentuh kedua wajah Nia. "Aku gak peduli sekali pun itu privacy, bakal aku terjang buat ngelindungin milik aku."


CUP


Nia tak bereaksi, meski ciuman Zaim semakin kasar, pun meski sebelah tangan Zaim yang tak kalah kasar semakin jauh menggerayang ke dalam pakaian Nia. Namun pada akhirnya Nia pun hilang akal, dan tanpa sadar sudah bergabung dalam aktivitas yang berpotensi menciptakan embun ambigu di kaca mobil itu. Sebelah tangan Nia ikut menggerayang, mencopot satu per satu kancing kemeja Zaim.


"May i*?"


*Bolehkan?


Nia tak bersuara, namun tanpa ragu membantu Zaim melepaskan kait branya. Sorot mata Zaim kian buas, ketika bra yang menutupi bagian sensitif Nia kini telah tertanggalkan sepenuhnya. Nia refleks mencengkeram hand grip, saat Zaim mulai bermain dengan bagian itu. Terlalu jauh. Nia harus berhenti sebelum tangan kasar itu kembali menggerayang ke bagian sensitifnya yang lain.


"Brenti-brenti."


"Telat." Zaim memundurkan kursi sopir, lalu bergerak mengubah posisi.


"Eh?"


"Bentar lagi ada polantas patroli." Zaim mengatur kursi sopir, memaksa Nia berbaring. "Kamu harus kooperatif kalo gak mau dipergokin mereka dalam keadaan bugil."


Lagi-lagi suara Nia tak terdengar, sebab tengah sibuk memandangi Zaim yang tampak tak sabar melucuti pakaiannya sendiri. Tubuh Nia seketika menggelinjang, saat Zaim kembali memainkan bagian sensitifnya, lebih kasar dibandingkan sebelumnya. Sambil menahan rintihan pemprovokasi, Nia melirik tangan Zaim yang begitu kokoh, yang saking kokohnya sampai membuat Nia minder.


Nia tiba-tiba menutupi wajah Zaim. "Itu, mmm, kayanya punya aku kecil banget ya?"


"Iya. Tapi apa boleh buat kan?"


DUG


"Anjir!"


Nia berseru, sembari meraba-raba dadanya sendiri. Ternyata mimpi. Mimpi yang sukses membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa hari terakhir Nia memang sering disambangi mimpi buruk. Mulai dari mimpi bermaraton dengan kuntilanak merah, dililit ular raksasa, hingga tenggelam di laut misterius berwarna pegam. Tetapi demi apapun, mimpi beberapa menit silam benar-benar yang terburuk!


Nia melepas sabuk pengamannya sambil melihat seisi mobil, pun sekitar. Sepertinya Nia tertidur setelah selama dua jam penuh mengikuti les menyetir. Namun di mana guru lesnya yang super seksi itu? Nia kembali melihat sekitar. Itu parkiran Zetindo, salah satu cabang supermarket milik Zaim. Nia menduga mungkin Zaim sedang membeli sesuatu.


Nia menghela napas, seraya membanting tubuhnya pada sandaran kursi mobil. Mimpi buruk beberapa menit lalu tiba-tiba saja terlintas. Membuat Nia khawatir. Bagaimana jika mimpi buruk itu menjadi kenyataan? Setidaknya meski itu hanya sebuah prasangka, Nia harus melakukan sesuatu, bukan? Nia mengangguk mantap, dan mulai bergelut dengan ponselnya.


"Apa ya waktu itu nama obatnya? Bulbul apa blublub?" Nia fokus memandang layar ponselnya. "Oh ternyata namanya bulbul. Btw berapa harganya ya? Telfon aja deh." Nia mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Halo, selamat sore. Saya Claudia dari Bulbul Store. Dengan siapa saya berbicara?" Suara ramah seorang wanita terdengar melalui sambungan telepon.


"Oh iya halo, Kak. Saya Yesenia Eve."


"Silahkan, Bu Yesenia. Ada yang bisa saya bantu?"


Nia berdeham, "Iya, mmm, jadi saya mau tanya-tanya dulu sebelum order boleh ya, Kak?"


"Baik, silahkan."

__ADS_1


"Iya, mmm, itu obatnya kira-kira aman gak ya buat usia tujuh belas taun?" tanya Nia ragu.


"Akan lebih aman jika digunakan di atas usia tujuh belas tahun, Bu. Tapi Ibu bisa keep dulu karna toko kami memberlakukan sistem PO. Di mana untuk kedatangan barangnya akan sangat memakan waktu."


"Gitu ya, Kak. Oke-oke. Terus saya boleh tau berapa harga per botolnya da–"


KLEK


"Oh no." Nia refleks menyembunyikan ponselnya saat mendapati kedatangan Zaim yang tiba-tiba.


"Kenapa kaget gitu? Lagi telfonan sama si–"


" ... Bagaimana, Bu Yesenia? Untuk obat pembesar p*yudar*nya mau pesan berapa bo–"


Nia tersenyum paksa, setelah buru-buru mengakhiri panggilan itu. "Kamu abis beli apa?"


"Air mineral. Sama popcorn karamel kesukaan kamu."


Nia menerima sodoran plastik kecil dari Zaim. "Kok lama?"


"Soalnya aku minta popcorn yang baru."


Nia membuka isi plastik. "Thank yo–"


“Jangan pake yang aneh-aneh," sela Zaim. “Aku gak masalah sama ukuran.”


“ ... Umar Zakawat kecatet udah mati.” Bastian melempar dokumen ke meja.


“Terus cctv yang dibilang Hendri?”


“Nihil. Udah gua cari sampe darah tinggi gua naek,” balas Bastian pada Zaim. “Udah gua cek juga semua cctv di sekitar tempat Umar Zakawat muncul terakhir kali.”


“Dan tetep gak ada?”


Bastian hanya mengangguk menanggapi Zaim.


“Tapi ada yang laen yang gua dapet,” imbuh Bastian.


Zaim diam, pandangannya yang semula hanya tertuju pada tumpukan dokumen yang berserakan di meja, perlahan mulai beralih sepenuhnya pada Bastian. Bastian yang tahu Zaim termasuk dari salah satu kelompok manusia dengan kesabaran di bawah rata-rata pun langsung melanjutkan topik yang sudah sukses menyulut rasa penasaran Zaim yang seperti bom waktu.


“Inget Emily? Pramugari yang udah dianggep Zain kaya adeknya sendiri?”


Zaim berganti mengangguk.


“Gua gak sengaja ketemu dia pas lagi nyari petunjuk Umar Zakawat di bandara ...”


*FLASHBACK ON*

__ADS_1


Bastian melangkah meninggalkan bandara dengan raut wajah putus asa. Ya, wajar. Itu adalah tempat kesembilan, dan Bastian bahkan belum sempat menyedot sodanya yang sudah pasti melebur dengan es batu. Sejak ditugaskan Zaim untuk mencari seorang pria bernama Umar Zakawat, Bastian seperti dikejar deadline misi kepenulisan 60.000 kata dalam sebulan. Mengerikan!


“Apa-apa yang ada hubungannya sama Sayfudin Qazzafi kok anjing banget ya.” Bastian menghela napas. “Itu orang apa dajjal si--”


“Bas?”


Spontan Bastian menoleh ke asal suara. “Eh, Mil.”


“Baru landing? Abis dari mana?”


“Enggak. Aku lagi tugas,” jawab Bastian. “Kamu sendiri? Kok gak pake seragam? Lagi off?”


“Iya. Soalnya dari awal tahun aku udah ambil jam terbang banyak banget.” Emily diam sesaat. “Kalo boleh tau kamu lagi tugas resmi atau?”


“Enggak, gak resmi. Biasa tugas dari Zaim.”


Emily tampak sangat terkejut. “Jadi Zaim udah tau?”


Bastian tak segera menjawab, sadar jika percakapannya dengan wanita berpotongan rambut bob itu tidak searah. Mode interogasi Bastian pun seketika berkedip, dan terus berkedip mengimbangi semua yang dikatakan Emily. Dan betapa terkejutnya Bastian saat mengetahui itu. Bastian bahkan sampai kesulitan mengolah kata karena telah sepenuhnya direngkuh keterkejutan.


“ ... Jujur waktu itu aku gak percaya. Tapi aku sering liat Kasih masuk hotel sama cowok itu.” Emily mengusap air matanya. “Aku gak bilang sama Kak Zain, Bas. Aku kasian. Kamu kan tau Kak Zain cinta banget sama Kasih walopun mereka nikah karna dijodohin.”


Bastian mengusap pundak Kasih. “Kamu masih inget muka cowok itu?”


“Aku punya fotonya, tapi di hp aku yang disita waktu ada insiden prostitusi itu.”


“Biar aku yang urus.” Bastian masih mengusap pundak Emily. “Ada lagi yang mau kamu sampein buat bantu Zaim?”


“Aku rasa anak yang dikandung Kasih bukan anaknya Kak Zain deh, Bas.”


*FLASHBACK OFF*


“ ... Jadi misal misteri kematian Zain tetep gak kekuak, seenggaknya kita tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih. Iya kan?”


Zaim mengangguk-angguk menanggapi Bastian.


“Soalnya gak ada petunjuk sama sekali soal Umar Zakawat, Za.”


“Yaudah selidikin,” balas Zaim akhirnya. “Itung-itung bisa gua jadiin bumerang buat minta restu sama Kakek.”


“Jadi Pak Hakam udah terang-terangan bilang kalo dia gak bakal ngerestuin hubungan lu sama si anak ba--”


Apa yang selanjutnya akan dikatakan Bastian menggantung, sebab sekretaris Zaim, Nisma, yang tiba-tiba memasuki ruang kerja Zaim. Nisma datang melapor jika ada seorang pria bernama Wafiq Ma'ruf yang ingin bertemu dengan Zaim. Bastian terkejut mendengar nama itu karena tahu siapa Wafiq Ma'ruf, untuk siapa Wafiq Ma'ruf bekerja, dan apa tujuan Wafiq Ma'ruf menemui Zaim.


“ ... Beliau bilang bersedia nunggu sampe semua schedule Anda beres, Pak.”


“Suruh masuk.”

__ADS_1


“Baik, Pak.” Nisma membungkuk pada Zaim, lalu meninggalkan ruangan.


__ADS_2