HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BARU SADAR


__ADS_3

"Please angkat, Nia. Please," batin Monica seraya bergantian melihat orangtuanya. "Oh. Hai, Nia."


"Hai, Kak Monic."


Monica membalas lambaian tangan Nia melalui sambungan video call. "Kamu apa kabar?"


"Aku baik. Kakak sendiri?"


Monica tersenyum paksa. "Kakak juga baik. Kakak ganggu ya? Kayanya kamu lagi sibuk."


"Iya nih aku lagi siap-siap ke sekolah, Kak. Emang …"


Monica kembali tersenyum paksa merespon sang adik sambung. Sungguh, Monica tidak tahu kapan harus memberi tahu Nia jika Nila ingin sekali berbicara dengan Nia. Pagi ini terjadi kekacauan di kediaman Monaco. Bagaimana tidak? Setelah Nila mengetahui berita tentang insiden penembakan yang terjadi di sekitar tempat tinggal Nia, Nila terus memaksa pulang ke Indonesia. Nila berkata ingin melihat kondisi Nia secara langsung. Namun tentu saja Monaco menolak dengan tegas karena teringat ancaman Atlas*.


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


" … Kakak kenapa tiba-tiba vc aku? Biasanya chat doang?"


"Iya sebenernya ada yang mau ngomong sama kamu," balas Monica.


"Siapa? Sekarang banget? Aku udah kesiangan nih, Kak. Nanti aja pulang sekolah gimana?"


Monica menoleh pada Nila sebelum menjawab Nia, "Sebentar aja kok, Nia."


"Oh yaudah. Siapa emang, Kak?"


"Nia? Gi–"


Nia refleks memgakhiri panggilan video call itu, ketika wajah Monica digantikan dengan wajah Nila. Jujur saja Nia tak bermaksud bersikap tidak sopan seperti itu. Tetapi sungguh, tubuh Nia bergerak dengan sendirinya seolah menamengi trauma masa lalunya yang mendadak naik ke permukaan. Meski hanya sekian detik melihat wajah Nila, entah kenapa Nia merasa berdebar, diserang sakit kepala yang parah, dan berakhir jatuh pingsan. Beruntung Ikbal yang merasa telah berjamur menunggu Nia bersolek menghampiri Nia di kamarnya.


"Nia? Lu kenapa anjir." Ikbal menggoyang-goyangkan tubuh Nia yang tergeletak di lantai. "Anjir. Harus ngapain dulu nih gua. Telfon Ibu apa Kak Zaim? Gak-gak. Mending bawa ke rumah sakit aja." Ikbal buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Pesen G*car du–, Nia? Lu udah sadar? Lu kenapa tiba-tiba pingsan anjir. Kepleset lu? Apa drama?"


"Hp gue mana?"


"Jawab dulu anjir. Panik nih gua. Kenapa lu pingsan?"


"Tadi Kak Monic video call. Tapi terus dia nongol."


"Dia siapa?" Ikbal diam sesaat. "Jangan bilang si dajjal?"


Nia mengangguk.


"Mau ngapain dia? Awas aja nyari ri–"


"Sayang? Are you okay?"


Spontan Nia dan Ikbal menoleh ke pintu masuk. Terlihat Zaim datang bersama sopir pribadinya, Pak Ucil, dan Bi Nur. Zaim yang sudah berangkat ke kantor pasti langsung balik kanan setelah melihat Nia pingsan dari pantauan cctv tersembunyi di rumahnya. Ya, sudah pasti begitu. Setelah memindahkan Nia ke ranjang, Zaim meminta Ikbal untuk bergegas ke sekolah dan mengizinkan Nia pada sang wali kelas. Zaim juga meminta Pak Ucil untuk menjemput Dokter Leo dan terakhir meminta Bi Nur untuk membuat bubur.

__ADS_1


"Minum dulu, Sayang."


"Makasih," sahut Nia seraya menerima segelas air putih dari Zaim.


"Aku gak apa-apa. Gak usah panggil dokter."


"Biar dokter yang mutusin soal itu ya." Zaim mengecup kening Nia. "Sekarang kamu istirahat."


"Iya."


Sambil memandang wajah sang kekasih yang pucat pasi, Zaim melepas sepatu Nia, dasi, sabuk, jam tangan pun ikat rambutnya. Setelahnya Zaim menunggu kedatangan Dokter Leo di ruang tamu, sambil menginfokan pada semua karyawannya untuk mendatangi rumahnya jika ada perkara darurat atau dokumen yang harus diperiksa langsung dan ditandatangani. Lambat laun kediaman Zaim pun berubah menjadi lautan manusia. Dan di tengah lautan manusia itu, ada satu manusia yang sama sekali tidak Zaim sangka kedatangannya.


"Ternyata Pak Zaim bisa gak becus juga ya kerjanya."


Semua orang di ruang tamu termasuk Zaim kompak menoleh ke asal suara.


"Kok bisa Pak Zaim masih belom nangkep perempuan itu sih? Padahal udah jelas dia pelakunya. Dia gak cukup mau nembak Nia tapi juga ngancem. Ikbal udah cerita semuanya sama saya. Saya yakin Nia pingsan karna diancem sama perempuan itu," tambah Denar.


Zaim melepas kacamatanya. "Kita break dulu. Silahkan tunggu di luar."


Para karyawan Zaim hanya menjawab kompak mengiyakan perintah Zaim dan berlalu secepat kilat.


"Duduk dulu, Pak Denar. Bi Nur, tolong bikinin mi–"


"Gak usah repot-repot," sela Denar pada Zaim. "Saya ada penerbangan ke Taiwan sebentar lagi."


"Bukannya Pak Zaim ya yang bikin situasi makin rumit? Ferdi masih buron sampe sekarang. Terus Pak Zaim bukannya cepet-cepet nangkep perempuan itu malah ngebiarin dia bikin Nia menderita. Ma–"


"Bukan Nila pelakunya." Zaim berganti menyela. "Pak Denar juga tau itu kan? Jangan ngambinghitamin orang sembarangan. Nila yang sekarang bukan lawan Pak Denar."


"Oya?"


Zaim tak menjawab, hanya menatap Denar yang kini tengah berjalan ke arahnya.


"Saya yang sekarang juga bukan lawannya perempuan itu," tambah Denar. "Kalo Pak Zaim gak becus ngurus masalah ini, biar saya aja yang ngurus. Saya bakal jeblosin Ferdi dan perempuan itu ke penjara gimanapun caranya." Denar berlalu.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Kamu mau mati hah!"


Denar menghela napas menanggapi sang istri, Marina. "Gak usah lebay gitu."


"Lebay? Lebay kamu bilang? Kamu mau ke rumah gangster yang paling ditakutin di Taiwan dan kamu bilang aku lebay? Stop ikut campur masalah anak itu, Denar!"


"Bukan ke rumahnya tapi ke restonya." Denar menoleh pada Marina. "Dan masalah Nia tuh masalah aku juga."


"Keterlaluan! Bisa-bisanya kamu ngomong gitu sama istri kamu yang lagi khawatir!"

__ADS_1


"Apa yang kamu khawatirin si–"


"Gak mungkin kamu cuma nganggep anak itu sebates adik," sela Marina. "Kamu pasti nyimpen perasaan. Biar cuma sedikit, pasti kamu ada rasa iya kan? Karna buat apa kamu ngelakuin hal yang seberbahaya ini kalo kamu gak ada rasa!"


Denar menghentikan gerak tangannya yang sedari tadi sibuk menjejalkan ini itu ke dalam koper kecil, dan sejenak memikirkan ucapan Marina. Perasaan lebih dari sekadar adik pada Nia? Tidak. Tentu saja tidak. Sejak dulu hingga sekarang, Nia adalah adik perempuan bagi Denar. Dan wajar jika seorang kakak menumbalkan dirinya untuk melindungi sang adik dari marabahaya bukan?


Namun, pernah suatu ketika Denar memang merasakan sesuatu yang menggelitik di sekujur tubuh terutama di hatinya. Denar ingat betul kapan itu terjadi. Kala itu Denar gagal dalam dua mata kuliah utama dan harus mengulang kelas sesegera mungkin jika ingin mempercepat masa studynya. Tetapi dibutuhkan sejumlah uang untuk mengulang kelas dan tentu saja Denar tidak memiliki itu.


Di tengah kebingungan itu, Nia kecil datang mengetuk pintu kontrakan Denar dan membawa keajaiban. Nia kecil berkata jika dirinya baru saja mengembalikan dompet seorang pelanggan bakso. Berkat itu, pelanggan bakso tersebut menghadiahi Nia kecil sejumlah uang. Nia kecil berniat menghabiskan uang itu untuk membrorong susu cokelat di warung tetapi tak kunjung habis.


*FLASHBACK ON*


" … Kakak mau apa biar aku beliin? Kakak pasti belom makan. Belom minum juga kan? Terus, mmm, minyak rambutnya juga udah abis kan? Iya kan? Iya dong? Ngaku aja buru."


Denar hanya mengangguk menanggapi Nia. Mengangguk sambil menahan tangis.


"Yaudah nih buat Kakak," imbuh Nia sembari mengeluarkan satu per satu kepalan uang dari dalam saku roknya. "Ini buat Kakak makan. Ini buat beli minum. Terus ini buat beli minyak rambut. Oke?"


Denar masih mengangguk. Kali ini mengangguk dengan tangis yang tak lagi bisa ditahan.


"Kok nangis?"


"Iya. Tapi Kakak gak apa-apa," balas Denar akhirnya.


"Emang ada ya orang nangis yang gak apa-apa? Apalagi yang nangis orang gede." Nia berjongkok di depan Denar, mengusap air matanya. "Kalo Kakak lagi sedih, bayangin aku aja. Bayangin aku udah gede. Pasti aku cantik dan bakal bikin Kakak langsung jatuh cinta."


DEG DEG DEG


*FLASHBACK OFF*


" … Ceraiin aku."


Spontan Denar menoleh pada Marina yang entah sejak kapan sudah berpindah tempat, memunggunginya.


"Balikin uang yang dulu kamu pinjem buat bayar biaya pengobatan bapaknya anak itu," tambah Marina. "Terus keluar dari sini. Karna mulai hari ini apartemen ini udah ganti pemilik."


Denar kembali menghela napas. "Oke."


"Denar!"


"Apalagi? Mau cerai kan? Oke ayo kita cerai. Mau aku keluar dari sini juga kan? Oke aku bakal keluar. Terus apalagi?"


"Kamu bener-bener keterlaluan! Cuma demi anak itu kamu sampe ngeiyaiin semuanya tanpa mikir? Kaya gitu kamu masih bilang cuma nganggep anak itu sebates adik hah?"


"Enggak."


"Apa?"

__ADS_1


Denar berbalik menghadap Marina. "Setelah aku inget-inget. Nia itu cinta pertama aku. Andai aku gak terlibat sama kamu dan Nia gak terlibat sama Zaim Alfarezi. Andai aja."


__ADS_2