
Terlihat Ikbal berjalan menuju titik penjemputan taksi onlinenya, diekori Vina. Ikbal yang merasa Zaim ingin berduaan dengan Nia, langsung berinisiatif menggiring Vina untuk menjauh. Tentu saja Vina protes. Sebab agenda mereka setelah berbelanja atribut kondangan adalah pergi ke restoran sushi yang terkenal dengan konsep Kaitenzushi*nya. Namun setelah Ikbal menjelaskan dengan amat sangat susah payah, akhirnya Vina pun berhenti mengoceh.
*Sushi siap saji yang diletakkan dalam piring-piring kecil yang beredar dengan bantuan ban berjalan (semacam kereta) sehingga pengunjung restoran dapat mengambil sendiri piring sushi yang diinginkan.
" … Udah? Paham kan? Masa lu gak bisa liat sih? Jelas-jelas Kak Zaim lebih banyak diem."
"Ya dia kan emang pendiem. Emang lu, ngoceh mulu kaya ibu-ibu yang pengen diet tapi hobinya ngemil bakwan," balas Vina sambil duduk kesal di samping Ikbal. "Terus ini mau ke mana? Gue kan belom selesai shopping."
"Mau nyari apaan lagi sih anjir."
"Banyaklah. Gue belom dapet aksesoris rambut, lipstik, eye shadow sama blush on. Gue harus nyari makeup yang gak ngejreng karna warna baju gue udah ngejreng. Lu pulang sendiri aja deh sono."
"Heh." Ikbal menarik tangan Vina. "Nyari di tempat laen aja."
"Ih, gue udah dapet ya–"
"Gua bayarin," sela Ikbal.
"Sama parfum sekalian. Kutek juga. Sama …"
Ya, tepat sekali apa yang dirasakan Ikbal sebagai seorang laki-laki. Zaim memang sangat ingin berduaan dengan Nia. Sambil menemani Nia mencari atribut kondangan, diam-diam Zaim sudah mereservasi sebuah restoran steak. Zaim pun langsung mengajak Nia ke restoran tersebut, setelah memastikan Nia sudah mendapatkan semua yang diperlukannya untuk menghadiri rentetan acara sakral Denar dan Marina esok hari.
"Enak?"
Nia mengangguk berulang kali menanggapi tanya Zaim, tanpa menghentikan gerak tangannya memotong steak. "Aku pikir steak yang di samping bioskop kamu tuh udah yang paling enak loh."
"Iya itu juga enak. Tapi enaknya masih di urutan empat. Steak di sini yang urutan pertama."
"Kamu sering ke sini?"
"Iya. Sebulan dua kali."
"Sama siapa?"
"Kadang sendiri. Kadang sama Bastian."
"Kamu tuh bener-bener baru banget pacaran ya?"
Zaim tertawa. "Iya. Gak bisa dipercaya ya?"
"Gak bangetlah. Aku pikir selera cewek kamu tinggi."
__ADS_1
"Emang. Aku kan gak cuma nyari yang mukanya cantik aja tapi hatinya juga." Zaim menuangkan air untuk Nia. "Karna jadi pendamping aku gak gampang. Silau dikit aja sama harta, aku bisa ancur."
"Aku juga silauan loh sama harta."
Zaim tertawa lagi. "Bukannya kamu silaunya cuma sama nasi uduknya Bu Jum sama diskonan liptint ya?"
Nia yang kehilangan kata-kata hanya ikut tertawa.
"Aku boleh nanya sesuatu?" imbuh Zaim sambil meletakkan peralatan makannya.
"Kayanya serius."
"Iya, anggep aja gitu." Zaim menatap Nia. "Misal Kakek aku atau Ibu kamu atau mereka berdua gak ngerestuin hubungan kita, kamu bakal gimana?"
"Yaudah kita backstreet* aja sampe kakek nenek."
*Secara harfiah arti backstreet adalah jalan belakang. Akan tetapi dalam percakapan bahasa gaul, arti backstreet adalah hubungan rahasia atau pacaran diam-diam.
Spontan Zaim tertawa, lebih geli dari sebelumnya. "Serius dong, Sayang."
"Yaiya aku serius." Nia mengusap mulutnya dengan tisu. "Kamu tuh udah ngapa-ngapain aku loh. Tanggung jawab dong. Masa abis manis sepah dibuang."
Zaim tak henti tertawa. "Kok aku gak terima ya? Aku gak ngerasa udah ngapa-ngapain kamu tuh. Kalo ciuman sama kissmark mah baru pemanasan doang."
"Aku boleh nanya lagi?" tambah Zaim sembari mengusap air mata gelinya. "Misal Bapaknya Ikbal, kakak tiri kamu, pria purnama atau mungkin Denar jadi pengganggu hubungan kita di masa depan, kamu bakal nyerah gak?"
"Kayanya Kak Bunga lebih cocok disebut pengganggu deh."
"Bunga? Maksud kamu Bunga mantannya Ikbal?"
Nia kembali mengangguk. "Ternyata dia gak sepolos tampangnya tau. Kamu inget gak waktu dia ke rumah? Yang waktu kita mau makan pecel ayam di rel kereta?"
"Iya inget. Kenapa?"
"Ternyata waktu itu dia diem-diem masuk kamar aku. Dia moto-moto gitu. Motoin nilai ulangan aku, pakean dalem aku, sama foto aku pas TK. Terus dirumpiin sama dia di grup."
Zaim diam, raut wajahnya seketika berubah angker.
"Tapi udah dikasih pelajaran kok sama Vina," imbuh Nia. "So please don't do anything to her*." Nia menyentuh tangan Zaim. "Ya, Sayang?"
*Jadi tolong jangan apa-apain dia.
__ADS_1
Zaim hanya menghela napas menanggapi Nia, membalas sentuhan tangannya, seraya membatin, "Sialan. Nambah satu lagi aja pengganggu."
...•▪•▪•▪•▪•...
Seorang wanita berusia kisaran pertengahan empat puluh itu tampak sangat senang ketika para petugas Bandara Soetta mengizinkannya melintas. Wanita yang jauh-jauh datang dari Taiwan itu tak menyangka misi satu miliarnya akan berjalan terlewat mulus. Namun alih-alih bergegas meninggalkan bandara, wanita itu malah terlihat keluar dari kerumunan, mencari-cari bangku kosong, dan membuat panggilan telepon.
"Saya udah masuk Indonesia, Pak."
"Kamu yakin?" Suara ragu seorang pria terdengar dari seberang telepon.
Si ibu mengangguk mantap. "Seratus persen yakin, Pak Duyi."
"Kok gampang banget ya? Jangan-jangan ini jebakan," batin Duyi, tangan kanan Monaco. "Bagus. Kalo gitu lanjutin sesuai rencana."
"Baik, Pak."
"Dan buang hp kamu setelah selesai telfon saya."
Si ibu hendak menanyakan alasan Duyi, sayangnya Duyi sudah lebih dulu memutus panggilan telepon mereka. Jika si ibu menuruti perintah Duyi untuk membuang ponselnya, lantas bagaimana si ibu bisa melaporkan perkembangan misi mereka? Rupanya firasat Duyi benar, misi satu miliar itu tak mungkin berjalan tanpa halangan. Saat si ibu berbalik, tampak seorang polisi pria paruh baya sudah berdiri tepat di hadapannya dengan berkecak pinggang.
"Dengan Ibu Mei?" Polisi itu, Sobari, bertanya setelah membaca sebaris nama yang tertera dalam kertas.
"Betul. Ada apa ya, Pak? Saya udah diizinin masuk Indonesia kok."
"Iya. Tapi itu baru tahap pemeriksaan pertama, Bu."
Mei mulai terbata, "E-emang ada berapa tahap ya, Pak?"
"Empat tahap. Tahap pertama pemeriksaan identitas oleh petugas bandara. Tahap kedua wawancara langsung dengan saya. Tahap ketiga pemeriksaan ulang identitas. Lalu tahap terakhir wawancara langsung dengan Zaim Alfarezi."
Mei melotot. Nama seorang pria yang sangat familiar itu seketika membuat Mei tidak bisa lagi mengatur mimik wajahnya yang palsu. Wajar. Karena sebelum menerima misi satu miliar tersebut, Duyi berulang kali memberitahu Mei jika dirinya tidak boleh bertemu dengan pria bernama Zaim Alfarezi. Mei akan langsung dianggap gagal dalam misi jika sampai bertemu dengan Zaim Alfarezi, dengan alasan apapun, dengan alasan semasuk akal sekali pun!
" … Ibu? Ibu Mei? Anda dengar saya?"
Mei semakin terbata menanggapi Sobari. "I-itu. S-saya h-harus t-telfon o-orang d-dulu."
"Silakan telfon di ruangan yang sudah kami sediakan. Mari." Sobari mempersilakan Mei untuk berjalan terlebih dahulu.
"Duh, gimana nih? Apa kabur aja? Tapi mustahil bisa lolos," ujar Mei dalam hati. "I-itu. S-saya g-gak j-jadi m-masuk I-Indonesia a-aja d-deh."
"Loh kenapa, Bu? Wawancaranya gak susah kok."
__ADS_1
"B-bukan s-soal i-itu. P-pokoknya s-saya g-gak j-jadi m-masuk I-Indonesia." Mei berlalu sambil menyeret kopernya dengan terburu.
Sobari mendecak, "Pasti dia orangnya Monaco."