HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
TERNYATA


__ADS_3

Ushi duduk termangu, memandang lurus ke plang studio foto yang buka dua puluh empat jam. Pukul sepuluh tiga puluh malam. Ushi sudah terlambat satu setengah jam untuk pulang, namun dirinya masih setia melakoni aktivitasnya tersebut. Apa yang dikatakan kakek Zaim, Al Hakam, siang tadi benar-benar seperti langsung mengoyak mental Ushi. Terlalu banyak tanya yang berjubel dalam benak Ushi hingga membuat mentalnya terasa semakin dikoyak.


"Bapak bener-bener," gumam Ushi.


Apakah sang bapak, Safi, sudah tidak waras? Membunuh orang? Terlebih orang itu adalah kakak Zaim? Apakah itu masuk akal? Sebenarnya apa tujuan Safi? Apakah Safi sengaja melakukannya karena merasa tidak puas menghancurkan hubungannya dengan Burhan kala itu? Apakah Safi ingin membuat hubungan Nia dan Zaim berakhir nahas seperti hubungan Ushi dan Burhan? Dan apakah Zaim sudah mengetahui perihal ketidakwarasan Safi?


Ushi menggeleng-geleng. "Kalo Zaim udah tau, gak mungkin dia masih lanjutin hubungannya sama Nia. Apalagi Nia."


Ya, jika Nia tahu alasan Hakam enggan merestui hubungannya dengan Zaim, Nia pasti akan langsung meninggalkan Zaim bagaimanapun caranya. Dan setelahnya mungkin trauma Nia akan bertambah. Mungkin Nia akan kesulitan membuka hati untuk membangun hubungan yang baru. Memikirkan itu membuat hati Ushi hancur secara perlahan. Penderitaan Nia sudah berakhir di masa lalu. Di masa kini, Ushi berjanji hanya akan memberikan kebahagiaan pada Nia, pun Ikbal.


"Aku harus ngelakuin sesuatu." Ushi menyalakan mesin mobilnya. "Pertama, buktiin dulu kebeneran omongan Pak Hakam."


KLEK


"Ibu!" Nia dan Ikbal kompak berseru sembari berlari menghampiri Ushi.


"Ibu, orang nelfon berkali-kali kok dikacangin sih?"


"Tau. Ibu tuh. Kita panik banger. Udah otw lapor polisi tau gak," timpal Nia pada Ikbal.


"Bukannya kalian seneng ya kalo Ibu pulang telat?"


Nia mengekori Ushi yang berjalan menuju lemari pendingin. "Yaiya tapi gak telat dua jam juga, Bu."


"Emang Ibu abis dari mana?" tanya Ikbal.


"Ya dari studiolah. Hari ini tuh studio rame banget. Banyak yang pada foto buat wisuda. Pas Ibu mau pulang, eh si Madam malah nyuruh Ibu kerja bakti karna studio udah kaya TPST*."


*Tempat Pembuangan Sampah Terpadu.


"Kalian udah pada makan malem kan?"


Nia dan Ikbal hanya menggeleng bersamaan merespon Ushi.


"Kok belom sih? Ibu kan masak semur. Tinggal diangetin juga," imbuh Ushi.


"Diabisin sama Esa sama Falah, Bu. Tadi mereka ke sini udah kaya bos bangkrut."


Ikbal mendorong Nia. "Heh, sahabat sehati sesanubari lu itu kan makan juga. Dia tuh yang makannya paling banyak."


Nia berganti mendorong Ikbal. "Si Esalah yang makannya paling banyak. Nasi aja sampe abis …"


Ushi tersenyum memerhatikan kedua anaknya. Tersenyum sambil meneteskan air mata. Menyadari itu Ushi pun buru-buru balik kanan. Sambil menyalakan keran cucian piring tanpa alasan, Ushi meminta Nia serta Ikbal untuk memesan makanan online. Terlihat Nia dan Ikbal langsung beradu kecepatan jempol untuk memesan ini itu. Ushi kembali tersenyum, pun kembali meneteskan air mata. Lalu setelahnya ketiganya pun langsung menyantap makan malam bersama.


"Mulai minggu ini Ibu bakal sering bolak-balik ke luar kota ya. Ibu ada perlu sama temen."


"Emang Ibu punya temen?" tanya Ikbal dengan ekspresi mengejek.


Ushi tertawa. "Punyalah. Sembarangan aja kamu kalo ngomong. Mau Ibu itungin? Atau Ibu telfonin temen Ibu satu-satu sekarang juga?"


"Penting banget kayanya, Bu?"

__ADS_1


Ushi menoleh pada Nia. "Iya. Penting banget. Soalnya ini nyangkut masa depan kita."


Kunyahan lahap Nia dan Ikbal kompak melambat.


"Kalian gak perlu mikir yang macem-macem. Nanti kalo semua persiapannya beres, Ibu bakal kasih tau kalian. Sekarang kalian fokus belajar aja. Udah tingkat dua. Kurangin maennya," tambah Ushi.


"Aku mah gak cuma ngurangin maen tapi juga ngurangin pacaran."


"Boong, Bu." Nia menunjuk Ikbal dengan tusuk sate. "Dia masih maen warnet di deket rumahnya Vina. Kata Vina kasirnya cakep banget kaya model. Pasti lagi dimodusin sama dia."


"Jaga bicaramu anak muda!"


Spontan Nia tertawa geli. "Tuaan gue ya hey prajurit majapahit."


"Anjir. Badan gua berotot gini disamain sama prajurit yang ceking-ceking itu. Liat aja ntar badan gua bakal segede Kak Zaim ya–"


KLANG


Sendok berlumuran kuah pekat gulai kepala ikan kakap itu jatuh ke lantai, dan seketika menjeda apa yang akan dikatakan Ikbal selanjutnya. Nama Zaim menjadi terdengar menakutkan di telinga Ushi, sejak Hakam membuka kartu asnya. Ushi harus segera memperbaiki kebiasaan terkejutnya itu, karena Nia dan Ikbal tidak boleh sampai tahu sebelum Ushi selesai bersiap. Beruntung Ushi menemukan alasan konyol yang berhasil mengusir tanya anak-anaknya yang kepo.


Ushi menggeser mangkuk berisi gulai kepala ikan kakap. "Singkirin mata ikannya dong. Ibu kok kaya ngerasa lagi diplototin sama ikannya."


Nia dan Ikbal melongo, tetapi kemudian tertawa geli, diikuti Ushi.


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Ilang pas mapel penjaskes?"


"Iya kayanya. Soalnya sebelom mapel penjaskes kan gue masih pake name tag," sahut Nia pada Vina.


"Iya nanti abis balik dari tempat Kak Denar. Temenin ya?"


"Gak perlu pake diminta keles, Nya. Anak ayam mana yang gak ngintilin emaknya hey." Vina tertawa. "Btw Pak Denar udah bales chat lu belom? Coba telfon lagi kalo belom."


Nia merogoh ponselnya, memeriksa notifikasi, dan kemudian menggeleng. "Belom diread malah. Coba gue telfon lagi deh. Eh, malah gak aktif nomernya. Gimana nih?"


"Ya gak gimana-gimana, Nya. Bentar lagi kan kita nyampe tempatnya Pak Denar. Pak Denar lagi sibuk kali."


"Iya kali ya. Tapi gak enak tau namu kalo yang ditamuin gak tau kita mau namu."


"Anggep aja surprise, Nya." Vina tertawa lagi.


"Surprise sama ganggu orang yang lagi sibuk tuh beda ya tolong."


"Omg." Vina tiba-tiba membekap mulutnya sendiri. "Jangan-jangan sibuknya Pak Denar tuh sibuk begituan lagi."


Nia ikut membekap mulutnya, menyetujui kemungkinan yang dipikirkan sahabat sehati sesanubarinya itu. Namun apa boleh buat. Hanya tinggal satu stausin lagi sampai Nia dan Vina tiba di apartemen Denar. Tidak mungkin mereka balik kanan. Mereka harus segera mencopot Pongpong* karena misi sudah berakhir. Tetapi Denar tak kunjung membalas pesan, pun menjawab panggilan. Padahal Nia sudah mencoba menghubungi sejak sebelum berangkat ke stasiun.


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja.


Denar memang slow respon dalam menjawab pesan ataupun telepon, tetapi Denar tidak pernah mengabaikan keduanya. Mungkin benar apa kata Vina. Denar sedang sibuk memorak-porandakan ranjangnya dengan wanita yang ada di foto. Karena meyakini itu, Nia serta Vina pun rela menunggu di lobby apartemen selama tiga puluh menit. Setelahnya mereka pun memberanikan diri menekan bel apartemen Denar. Namun.

__ADS_1


KLEK


"Siapa ya?" tanya wanita itu, wanita yang tempo hari melakukan itu, wanita ituloh, wanita yang ada di foto!


"Halo, Ka, eh, Bu. Kita muridnya Pak Denar."


"Emang jobdesknya Kepsek ngajar juga ya?" Wanita itu tertawa menanggapi Vina. "Ayo masuk."


"Kita pulang aja deh, Vin," bisik Nia. "Ini mah udah ketauan kita gak bakal bisa nyopot Pongpong ta–"


"Oh, gak mau masuk?"


Spontan Vina menarik tangan Nia. "Mau, Bu, mau. Ini kita otw masuk kok."


TAK


"Saya Marina." Marina meletakkan dua buah kaleng soda di meja. "Calon istrinya Denar."


Nia dan Vina hanya menanggapi dengan senyum paksa.


"Jadi ada urusan sepenting apa kok murid sampe datengin rumah Kepseknya?" imbuh Marina.


"Oh, kita emang sering main ke sini, Bu. Soalnya Nia sa–"


"Nia?" sela Marina pada Vina. "Maksud kamu Nia yang bikin Denar morotin saya? Jadi Nia yang itu sekolah di Andalan Teladan juga?" Marina tertawa. "Pantesan akhir-akhir ini dia rajin ke sekolah."


"Itu, mmm, maksudnya morotin apa ya, Bu?"


Marina menoleh pada Nia. "Ya morotin. Ngeret. Masa anak milenial gak tau artinya morot?" Marina membukakan kaleng soda untuk Nia dan Vina. "Kalian kenal sama anak yang namanya Nia itu?"


Vina berusaha tidak melirik Nia, pun berusaha mengirimkan telepati pada Nia yang terlihat sangat terkejut.


"Kenal, Bu. Tapi bukan kenal yang deket gitu."


Marina mengangguk-angguk. "Saya pengen banget tuh ketemu sama anak itu. Pengen bilang makasih karna udah bikin Denar jadi milik saya. Sayangnya Denar selalu ngalang-ngalangin."


"Mmm, kalo boleh saya tau, mmm, gimana ceritanya bisa jadi sampe kaya gitu, Bu?"


Marina kembali menoleh pada Nia. "Gak ada untungnya kamu tau ka–"


"Ada, Bu. Katanya Ibu mau ketemu sama Nia. Kalo kita tau ceritanya kan kita bisa ceritain balik ke Nia. Pasti ntar si Nia langsung nemuin Ibu."


Marina diam, menimang ucapan Vina. Meski membutuhkan waktu agak lama untuk menimang, tetapi pada akhirnya Marina setuju. Marina mengaku bertemu Denar pertama kali di kampus. Marina langsung jatuh hati pada Denar yang kala itu menjabat sebagai Ketua Bem fakultasnya. Marina yang semakin hari semakin jatuh hati pun akhirnya mengutarakan perasaannya. Namun Denar menolak dengan alasan tidak memiliki waktu untuk hubungan semacam pacaran.


" … Tapi tiba-tiba dia datengin saya dan ngajak pacaran. Aneh kan? Tapi lama-lama saya tau tujuan sebenernya dia ngajakin saya pacaran." Marina bergantian menatap Nia dan Vina. "Ternyata saya dieret. Untungnya ngeretnya buat nolong orang ..."


DEG


" … Dia bilang ada anak kecil di samping kontrakannya yang lagi kena musibah. Namanya Nia. Bapaknya Nia sakit, dan uangnya udah abis buat perawatan. Ada uang simpenan, tapi kata Bapaknya Nia itu buat Nia kuliah …"


DEG DEG

__ADS_1


Marina masih melanjutkan, "Saya bilang bakal bantu lunasin dengan syarat setelah urusan biaya perawatan Bapaknya Nia kelar, dia bisa kasih hatinya ke saya. Dia setuju. Itulah kenapa saya yang bukain pintu buat kalian …"


DEG DEG DEG


__ADS_2