HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KEMUNCULAN YOSHI


__ADS_3

BUG


"Anjir gigi gua copot. Si–"


"Makanya buruan pilih," sela Ikbal. "Mau ngomong apa gua bikin ompong."


"Gua gak tau anjir."


BUG


"Terus maksud lu itu video dibikin di toilet sekolah apaan?"


Bayu meringis kesakitan. "Gua cuma asal ngomong. Sumpah, Bal."


"Bokis terus aja lu."


BUG


BUG


BUG


"Ampun, Bal, ampun. Oke-oke. Gua ngomong. Sumpah gua ngomong sekarang."


"Buru." Ikbal ikut menggelesot.


"Ada om-om yang bilang mau bales dendam sama Nia. Dia nyuruh gua bikin opening video panas. Nanti sisanya diedit sama temennya yang orang Jepang. Terus yaudah gua bikin. Abis itu gua dikasih duit sejuta."


"Gimana caranya lu bikin opening video itu? Lu ngrekam si Nia diem-diem apa gimana?"


"Iya gua rekam diem-diem. Waktu si Nia lagi di toilet gua maksa masuk. Gua sepik ngumpet karna dikejar guru yang ngegepin gua ngrokok. Yaudah itu di situ gua mulai ngrekam. Kameranya gua taro depan pintu. Udah gitu doang. Sumpah, Bal."


Ikbal menghela napas kasar. "Siapa nama om-om itu?"


"Gak tau."


Ikbal tak menjawab, namun kedua tangannya yang kembali saling mengepal tampaknya cukup untuk memberikan Bayu jawaban. Bayu menggeleng, memohon belas kasih Ikbal setidaknya untuk giginya yang sudah tanggal dua buah. Tetapi tentu saja Ikbal tak terlihat akan mengasihani. Padahal Bayu berkata jujur, dirinya memang tidak tahu nama om-om yang memberinya pekerjaan kotor itu. Tinju Ikbal pun kembali mengudara, namun seketika tertahan saat Bayu menyerukan sebuah nama.


"Bagas!" seru Bayu. "Gua gak tau itu nama aslinya apa bukan tapi di profil wh*tsappnya namanya Bagas. Bagas Prasetyo."


"Bagas siapa?"

__ADS_1


"Bagas prasetyo," balas Bayu. "Gua gak nyimpen nomernya tapi gak gua apus. Lu liat aja di hp gua kalo gak percaya." Bayu menunjuk ponselnya yang tergeletak di lantai.


Ikbal menoleh mengikuti ke arah telunjuk gemetar Bayu menunjuk, seraya beranjak ragu. Bagas Prasetyo. Itu nama yang sama persis dengan nama ayah Ikbal. Tapi ada banyak orang yang memiliki nama sama persis di dunia ini, jadi buang jauh-jauh pikiran negatif! Selain nomor wh*tsaap sang ibu, Ikbal juga hafal nomor wh*tsaap sang ayah. Jadi Ikbal hanya perlu memastikan nomor wh*tsaap om-om sinting itu, berharap tidak berjumlah sepuluh angka dengan tiga angka terakhir 667. Namun.


"Bapak," gumam Ikbal.


...•▪•▪•▪•▪•...


Bastian tampak serius memelototi layar laptop, pun seorang pemuda berkacamata yang duduk di sampingnya. Keduanya tak hanya kompak melotot tetapi juga mengukir kerut-kerut tebal di dahi. Meski telah mendapatkan banyak petunjuk tentang Yoshi, Bastian tetap belum bisa menemukan keberadaannya. Itulah mengapa Bastian menggandeng seorang hacker dalam misinya untuk menguak siapa ayah biologis dari anak yang dikandung Kasih.


" … Lokasi Yoshi cuma bisa dilacak lewat instagr*mnya. Beneran bisa kamu pulihin kan?"


Pemuda berkacamata itu hanya mengangguk sambil membenahi kacamatanya yang merosot.


"Butuh waktu berapa lama?" tanya Bastian lagi.


Si pemuda berkacamata hanya menunjukkan tiga jarinya pada Bastian. Entah itu jawaban untuk tiga menit, tiga detik, atau malah tiga puluh menit.


"Yang jelas. Tiga menit, tiga detik apa ti–"


"Tiga milidetik." Pemuda berkacamata memutar laptop menghadap Bastian. "Akun instagr*mnya gak diapus tapi dijual di sh*pee. Sekarang yang punya cewek."


"Iya terus maksudnya? Kamu nyuruh saya liat postingan nih cewek yang lagi bikin tutorial alis?"


"Loading ma–"


Ucapan Bastian terjeda, sebab setelah muncul angka seratus persen secara tiba-tiba, profil akun instagr*m milik seorang wanita bernama Princessheila itu perlahan berubah dengan sendirinya. Mulai dari foto profilnya yang kini berubah menjadi foto profil Yoshi, bionya yang semula penuh kini berubah kosong, dan sampul postingannya yang sebelumnya berhias aneka makeup kini berubah menjadi foto-foto selfie Yoshi serta Kasih. Luar biasa!


"Tapi dm sama komennya butuh waktu agak lama buat dipuluhin." Mr. H melirik jam tangan Bastian. "Kira-kira dua puluh detik lagi."


"Oke-oke. Abis itu udah beres?"


"Iya."


"Saya transfer besok jam 8 pagi."


"Oke, Pak." Mr. H beranjak. "Kontek saya aja kalo butuh bantuan lagi. Selain ngehack saya juga bisa ngedit sama benerin mesin-mesin." Mr. H berlalu.


Bersamaan dengan Mr. H yang hilang dari balik pintu kafe 24 jam, direct message dan komentar-komentar yang disembunyikan oleh Yoshi berhasil dipulihkan. Jari-jemari Bastian langsung bersemangat mengklik semua foto yang diunggah Yoshi, terutama foto-foto Yoshi dengan Kasih. Ternyata rekan Yoshi yang tempo hari dihajar Bastian berkata jujur. Yoshi pernah mengunggah foto test pack dengan latar belakang punggung telanjang seorang wanita.


"Ini mah Kasih," gumam Bastian sembari beralih mengklik postingan Yoshi yang lain. "Ini kosan kan?" Bastian memperbesar postingan itu. "Kaya gak asing. Oh, gua tau ini di mana."

__ADS_1


Bastian buru-buru menutup laptopnya dan berlari meninggalkan kafe tersebut. Rumah kos yang ada dalam salah satu postingan Yoshi berada tak jauh dari lokasi Bastian saat ini. Ketika sampai di rumah kos tiga puluh pintu itu, Bastian langsung menghampiri pos security. Bastian menunjukkan identitasnya, dan si security langsung memeragakan sikap hormat. Merasa tak memiliki waktu untuk berbasa-basi, Bastian pun menunjukkan foto Yoshi.


"Saya gak pernah liat dia di sini, Pak."


"Kamu yakin?" Bastian mendekatkan selembar foto itu pada security. "Coba liat yang bener."


"Iya, Pak. Yakin. Soalnya saya apal siapa-siapa aja yang ngekos di sini."


"Temen kamu mungkin kenal."


Si security menggeleng. "Cuma saya security di sini, Pak."


Bastian tak menanggapi, hanya mengamati dengan saksama rumah kos dengan taman tak terawat itu.


"Dia kuliah di BSI juga, Pak?"


Bastian berganti menggeleng. "Di UI."


"Oh, bukan di sini berarti, Pak. Di sini mah khusus kosan anak BSI. Kalo khusus anak UI mah kosan yang di depan, Pak. Yang di sebrang alfamidi."


"Apa nama kosannya?"


"Kosan Ayem, Pak. Yang punya Bu Sukiyem. Beliau dosen aktif di UI," jawab si security.


"Kalo gitu saya coba cek ke sana." Bastian memberikan kartu namanya. "Kalo pemilik kos butuh penjelasan lebih detil soal kunjungan saya, suruh telfon aja."


"Siap, Pak Bastian."


Kosan Ayem. Bastian membaca gerbang rumah kos itu sesaat setelah keluar dari mobilnya. Seorang security menghampiri Bastian dengan sorot mata curiga, namun langsung berubah ramah ketika Bastian menunjukkan identitasnya. Setelahnya Bastian pun menunjukkan foto Yoshi pada security. Security tersebut tidak mengenal Yoshi tapi mengiyakan jika Yoshi adalah penghuni kos di sana. Sayangnya Yoshi sedang pulang ke kampung halamannya di Lampung.


" … Saya juga gak tau bener apa gaknya, Pak. Cuma kata penghuni lain sih gitu. Terus terakhir liat dia emang bawa koper gede." Suara si security mulai meninggi. "Jangan-jangan isinya mayat, Pak? Kaya yang di berita-berita itu?"


"Bukan. Ini bukan kasus kaya gitu."


Si security menghela napas lega. "Terus kasus apa kalo saya boleh tau, Pak?"


"Intinya bukan kasus biasa."


"Kirain bukan cinta biasa, Pak." Si security terkekeh.


Bastian tersenyum sembari memberikan kartu namanya. "Kalo Bu Sukiyem butuh penjelasan lebih detil soal kunjungan saya, suruh Beliau telfon aja. Sama kalo Yoshi pulang, tolong kabarin saya secepetnya."

__ADS_1


"Baik, Pak. Se–, eh, loh, itu Yoshi udah pulang, Pak." Si security menunjuk tepat ke belakang Bastian.


DEG


__ADS_2