HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SURPRISE J


__ADS_3

Teropong Bastian tak henti mengedar ke setiap sudut rumah di seberang, tepatnya rumah Ushi. Bastian mendapat tugas dari Zaim untuk menjaga Nia selama Zaim menemani Ushi pergi ke Malaysia. Itulah kenapa Bastian mengontrak rumah tepat di seberang rumah Ushi. Bastian tak ingin kembali menuai kegagalan dalam misinya, pun tak ingin memaksakan kehendaknya untuk menuntut balas pada Jani yang sudah mengukir dua puluh dua jahitan di dada kirinya. Biar Tuhan yang membalas!


" … Kalo gua yang nemenin Ushi ke Malaysia, mampus udah itu si Jani." Bastian meninggalkan balkon.


Ini sudah hari kedua Bastian menjadi penjaga balkon di tengah cuaca yang tak menentu, tidur hanya satu jam sehari demi meneropong dan memantau siapa-siapa saja yang keluar masuk kediaman mewah bernomor delapan itu. Aman. Selain Ikbal serta Nia, hanya Vina, kekasih Ikbal, Bunga, dan kurir makanan online yang sering datang berkunjung. Namun hari itu teropong Bastian menangkap pemandangan yang tidak biasa. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang kediaman Ushi.


"Siapa tuh?" Bastian beranjak dari kursi. "Kok gak keluar-keluar dari taksi?" tanya Bastian dalam hati.


Firasat Bastian mendadak memburuk. Padahal bisa saja penumpang taksi tersebut adalah kekasih Ikbal, Bunga. Sebab setiap kali datang berkunjung, Bunga memang selalu menggunakan jasa transportasi taksi. Tetapi Bastian memercayai firasatnya, dan berusaha fokus meneropong sembari mengenakan jaket juga mengikat tali sepatunya. Dan akhirnya penumpang taksi misterius itu pun menampakkan batang hidungnya, bersamaan dengan Nia yang baru saja membuka gerbang.


"Sialan." Bastian berlari tunggang langgang.


Ya, memang sialan. Karena ternyata penumpang taksi misterius itu bukan Bunga melainkan Suleika, ibu Ushi. Seharusnya Suleika sudah kembali ke tanah airnya dua hari yang lalu. Tapi bagaimana bisa? Suleika mengunjungi kediaman Ushi ketika Ushi tengah berada di Malaysia? Mencurigakan. Jangan-jangan keluarga Ushi sudah mengetahui identitas asli Nia. Bastian mempercepat langkahnya, bahkan tanpa sadar melompati pagar setinggi satu meter. Namun sia-sia saja.


"Anjing!" seru Bastian.


Taksi itu sudah melaju jauh, membawa Suleika dan sudah pasti, Nia. Bastian kembali berlari kesetanan, pun melompati pagar rumah yang dikontraknya, berniat mengambil mobil. Beruntung kondisi jalanan longgar, sehingga taksi yang membawa Nia itu sempat disusul Bastian. Kaca taksi itu berwarna pegam, jadi tak ada yang bisa Bastian lihat. Bastian memutar kemudi, nekat melawan arah. Namun orang yang selama ini dicari Bastian, Jani, tiba-tiba muncul dari arah yang berlawanan dengan taksi tersebut.


"Ini hari kenapa anjing banget." Bastian melihat bergantian ke arah taksi yang berbelok ke kiri, dan mobil Jani yang berbelok ke kanan.


...•▪•▪•▪•▪•...


Mobil Bastian berhenti di depan ruko yang masih dalam proses pembangunan. Dilema Bastian membuatnya kehilangan jejak taksi yang membawa Nia dan Suleika. Ada banyak cctv palsu di sekitar ruko itu, jadi pasti sulit untuk melacak ke mana perginya taksi berpelat ganjil di tanggal genap tersebut. Sambil menyelisik sekitar, Bastian membuat panggilan dengan Zaim. Tetapi tiba-tiba Jani muncul di hadapan Bastian. Bastian yang seketika naik pitam itu pun tak ragu menarik pelatuk dan mengarahkannya pada Jani.


"Tunggu, Pak Bastian. Saya bisa jelasin. Saya masih orangnya Zaim Alfarezi."

__ADS_1


Bastian menyeringai. "Jelasin sama Tuhan kamu aja gimana?"


"Maaf tapi saya ateis, Pak."


Bastian menekan mulut pistolnya ke dahi Jani. "Kamu gak bisa milah tempat buat becanda sama serius ya?"


"Oke-oke." Jani semakin tinggi mengangkat kedua tangannya. "Sebelumnya saya minta maaf. Tapi waktu itu saya terpaksa nembak Pak Bastian. Karna kalo gak, Bapak beneran bisa mati."


"Saya gak pe–"


"Hendri punya mata-mata yang nyamar jadi salah satu pengawalnya Sayfudin Qazzafi," sela Jani. "Dan dia ngasih saya info kalo waktu itu Sayfudin Qazzafi ngirim sniper buat bunuh Pak Bastian."


Bastian tak menjawab, namun tekanan mulut pistolnya yang semula dipenuhi amarah meluap-luap itu mulai mengendur.


"Jadi saya terpaksa nembak Pak Bastian. Abis itu saya diburu orang-orangnya Sayfudin Qazzafi. Tapi itu emang tujuan saya. Biar mereka gak ganggu pengobatan Pak Bastian."


"Saya tau saya bakal ketangkep. Jadi saya ikutin maunya Sayfudin Qazzafi. Saya kasih yang dia minta. Jejak terakhir Ahmad Burhanudin, foto bayi dan voice recorder de–"


"Gila kamu ya? Hah?" Bastian kembali mengarahkan pistolnya pada Jani, kali ini ke pelipisnya. "Tau gak kamu kalo itu barang bukti penting dan satu-satunya?"


"Tunggu, Pak Bastian, tunggu. Saya belum selesai ngomong. Barang bukti yang saya kasih ke Sayfudin Qazzafi bukan yang asli."


"Maksud kamu?"


"Foto bayi dan isi voice recorder yang saya kasih ke Sayfudin Qazzafi udah saya edit," jawab Jani. "Terus foto bayi dan voice recorder yang asli ada sama saya." Jani melirik mobilnya dari kejauhan. "Di sana."

__ADS_1


Bastian ikut melirik ke arah ke mana mata Jani melirik. Meski tak ingin, Bastian terpaksa menurunkan kembali pistolnya. Jani tidak berbohong, insting Bastian yang mengatakannya. Insting yang sudah menemani Bastian selama tujuh tahun dalam memecahkan beragam kasus mengerikan dan membuat Bastian mendapat banyak penghargaan mana mungkin membohonginya, bukan? Bastian menghela napas kasar, memunggungi Jani, mengatur emosinya yang enggan mereda.


Jani berdeham, "Sekali saya minta maaf, Pak Bastian. Waktu itu saya gak punya pilihan. Soalnya sniper itu nyampe di stasiun lebih cepet dari saya."


"Terus ngapain kamu di sini?"


"Mau laporan sama Zaim. Saya baru sempet karna sejak terlibat sama Sayfudin Qazzafi, semua alat komunikasi saya disadap."


"Zaim gak ada di sini. Dua hari lalu dia ke Malaysia sama Ushi. Mereka mau nemuin dokter yang dulu bantuin Ushi lahiran."


"Tapi dokter yang bantu Ushi lahiran kan ada di sini."


Spontan Bastian kembali menghadap Jani. "Apa?"


"Saya bilang, dokter yang bantu Ushi lahiran ada di sini. Tapi dia udah pensiun. Dia udah tiga taun netep di sini."


"Kamu kata siapa?"


"Kata saya. Saya yang cari tau. Udah dua kali saya ketemu dia," jawab Jani. "Saya juga udah tanya jenis kelamin anak pertama Ushi."


Bastian tampak terkejut, tetapi juga tak siap, pun tak sabar menanyakan tanya yang sedari dulu mengusik pikirannya. Ternyata benar apa kata Zaim, Jani adalah tipe yang gemar memberi surprise. Sekarang Bastian tahu alasan Zaim bergeming meski Bastian sudah berjuta kali mengatai Jani sebagai pengkhianat. Jani, wanita berusia di awal tuga puluh tahun itu bukanlah pengkhianat melainkan penyelamat. Berkat taktik Jani yang tak terbaca, Bastian aman, barang bukti aman, dan Jani sendiri pun aman.


"Terus dokter itu jawab apa? Anaknya Ushi Widhiani sama almarhum Ahmad Burhanudin cewek apa cowok?" tanya Bastian akhirnya.


"Cewek."

__ADS_1


"Terus? Dokter itu bilang apalagi?"


"Anak itu masih hidup, Pak."


__ADS_2