HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
TOBAT SEHARI


__ADS_3

" … Remes-remesan tangan pasti sering. Peluk-pelukan juga udahlah ya pasti. Kalo ciuman?"


"Enggak."


"Enggak sepuluh kali apa enggak dua puluh kali?"


"Dih, Ibu!"


"Sebenernya gak apa-apa ciuman kalo cuma cipika-cipiki. Yang gak boleh tuh ciuman yang hot banget kaya di drakor-drakor. Malah yang lebih bener tuh gak usahlah pacar-pacaran. Karna yang rugi tuh … Amit-amit misal kamu hamil duluan nih. Ibu gak akan sepenuhnya nyalahin Zaim. Karna ya ini, kamu mau diajak liburan sampe berhari-hari. Bahkan sering nginep di rumah Zaim. Iya kan?"


"Mukanya Zaim emang brengsek, Bu, tapi bener-bener cuma mukanya doang kok."


"Ya syukur kalo gitu. Tapi apa gak mendingan kamu nyari cowok lain aja? Ibu pusing nih mikirin hubungan kalian ke depannya. Pasti ribet deh. Kalo Pak Hakam sampe tau siapa yang masang Pongpong di mobilnya Zaim gimana coba?"


"Ya udah jelas kan, Bu. Pak Hakam bakal makin gak ngasih restunya buat aku sama Zaim."


"Ya itu dia. Masa kalian mau pacaran sampe kakek nenek."


"Mau gimana lagi."


"Ih Ibu gak rela. Mending putus aja kamu sama Zaim. Kaya cowok yang bibit bobot bebetnya oke cuma dia aja. Pokoknya kalian putus atau paksa si Zaim nikahin kamu tanpa restu dari Pak Hakam."


"Bu, ntar aja ngomongin nikahnya. Masih lama tau gak."


"Masih lama gimana. Orang lulus nanti umur kamu udah dua puluh. Kalo Pak Hakam tau pas kalian belom nikah sih bodo amat. Tapi kalo dia tau pas kalian udah nikah dan posisinya kamu lagi hamil gimana? Pak Hakam pasti nyuruh Zaim …"


Itu adalah obrolan Ushi dan Nia yang berhasil direkam Sobari beberapa waktu silam. Setelah diombang-ambingkan dilema yang parah, pada akhirnya Sobari mantap untuk memberikan rekaman obrolan tersebut pada Zaim. Zaim pun langsung memutar rekaman itu. Rekaman yang jika direnungkan ternyata mengandung jutaan nilai pendidikan.


Tak terhitung sudah berapa kali Zaim memutar rekaman obrolan tersebut. Alih-alih bosan, Zaim malah kian bersemangat menekan tombol replay. Jani yang saat ini tengah bersama Zaimlah yang justru merasa bosan setengah mati. Sambil menikmati sate padangnya, Jani membatin, mengikuti percakapan Ushi dan Nia yang sudah dihafalnya di luar kepala.


Dan demi apapun, mendengarkan rekaman obrolan bertabur nilai pendidikan itu sejuta kali lipat lebih membosankan daripada memelototi monitor pengawas cctv. Ya, suara Ushi dan Nia yang terngiang di telinga Jani benar-benar lebih mengganggu daripada memantau gerak-gerik putus asa Bagas dan teman editornya, Ken Izanagi, di dalam jeruji besi.


" … Remes-remesan tangan pasti sering. Peluk-pelukan juga udahlah ya pasti. Kalo ciuman?"


"Enggak."


"Enggak sepuluh kali apa enggak dua puluh kali?"


"Dih, Ibu!"


"Sebenernya gak apa-apa ciuman kalo cuma cipika-cipiki. Yang gak boleh tuh ciuman yang hot banget kaya di drakor-drakor. Malah yang lebih bener tuh gak usahlah pacar-pacaran. Karna yang rugi tuh … Amit-amit misal kamu hamil duluan nih. Ibu gak akan sepenuhnya nyalahin Zaim. Karna ya ini, kamu mau diajak liburan sampe berhari-hari. Bahkan sering nginep di rumah Zaim. Iya kan?"


"Mukanya Zaim emang brengsek, Bu, tapi bener-bener cuma mukanya doang kok."


"Ya syukur kalo gitu. Tapi apa gak mendingan kamu nyari cowok lain aja? Ibu pusing nih mikirin hubungan kalian ke depannya. Pasti …"


"Gua kalo jadi Ushi Widhiani juga bakal ngomong gitu ke anak gua yang masih sekolah. "


Spontan Zaim menekan tombol pause pada voice recorder. "Gua tau bates."


"Iya gua percaya. Tapi lama-lama juga bakal lu terjang dikit-dikit itu bates."

__ADS_1


Zaim diam, sebab ya, tak bisa menangkis apa yang baru saja dikatakan Jani. Kontak fisiknya dengan Nia memang lambat laun mulai menerjang batas!


"Sebenernya ini bukan soal lu tau batas apa gak, Za. Tapi lebih ke kekhawatiran seorang ibu sama anak ceweknya. Cewek tuh bawa perut. Kalo perutnya gede di statusnya yang masih single bahkan masih sekolah kan gak lucu," imbuh Jani.


"Gua bisa paham kalo soal itu."


"Makanya. Jadi wajar Ushi Widhiani ngomong gitu kan."


Zaim mengangguk. "Mungkin kalo gak dengerin rekaman ini, pas liburan nanti gua bakal beneran nerjang tuh yang namanya bates."


Jani berganti diam, namun lambat laun, tersedak hebat.


"Soalnya jujur aja gua udah gak tahan," tambah Zaim sembari menggeser kotak tisu. "Gua gak bisa nunggu sampe umurnya genep dua puluh. Menurut lu gua harus apa?"


Jani masih tersedak. Wajar. Atasan sekaligus teman dekat satu-satunya itu benar-benar bermuka tembok!


"Nikah apa nyicil ya–"


"Stop." Jani mengarahkan tusuk sate ke wajah Zaim. "Gua punya solusinya."


"Apa?"


"Yang pertama, hindarin liburan atau kencan berdua aja. Selalu ajak keluarganya Yesenia. Yang kedua, puasa gak ketemu Yesenia sampe umurnya genep dua puluh."


Zaim kembali diam, tetapi perlahan, berganti tersedak. Tersedak tak kalah hebat dari Jani.


UHUK UHUK UHUK


Mobil seharga miliaran itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol yang basah setelah diguyur gerimis sedari subuh. Si sopir sekaligus pemilik mobil, Zaim, tampak fokus memegang kemudi sambil sesekali menjawab tanya sopir cadangannya yang super kepo, Edo. Sementara Nia dan penumpang yang lain yakni Ushi, Vina serta Ikbal, terlihat seru bergibah sembari bertukar camilan.


Ya, akhirnya liburan Nia dan Zaim berubah menjadi libur jamaah. Itu karena Zaim mempertimbangkan saran Jani yang pertama, yaitu membawa serta keluarga Nia saat berlibur dan berkencan. Nyatanya libur jamaah seperti sekarang cukup menyenangkan dan tentu saja cukup bisa menahan keinginan Zaim untuk mengacak-acak urutan pernikahan yang sudah ditetapkan sejak zaman baheula.


" … Mau gantian nyetirnya, Za?"


"Boleh, Pak. Nanti di rest area aja," balas Zaim pada Edo.


"Oke. Tapi masih jauh ya Bukit Pelanginya?"


"Lumayan, Pak. Nanti kita parkir mobil dulu di Desa Bukit Pelangi. Terus ke pondoknya jalan kaki."


"Seru tuh, Kak Zaim," sahut Ikbal. "Tempat yang treknya susah-susah gitu pasti ciamik."


"Ciamik-ciamik. Gak usah sok-sokan deh. Kamu gak liat tuh di luar gerimis gak brenti-brenti? Kamu kan kena ujan dikit langsung meriang."


Spontan Vina terbahak menimpali Ushi. "Ternyata gak cuma mukanya yang hello kitty gais tapi fisiknya juga. Iyuh bingit."


"Lah bukunya kan juga hello kitty, Vin. Coba aja lu buka sampulnya. Pokoknya gengges banget buat mata."


"Itu Ibu yang beliin ya anjir." Ikbal menarik kunciran Nia. "Gue gak segaje itu sampe beli-beli buku hello kitty."


"Udah-udah." Ushi menyentil jidat Ikbal. "Pada duduk yang anteng gitu bisa …"

__ADS_1


Semua tertawa mendengar Nia, Vina serta Ikbal yang berdebat seru menggunakan bahasa yang artinya hanya bisa dicari dalam kitab gaul. Dan tanpa terasa perjalanan yang memakan waktu lima jam dengan medan tanah berlumpur dan jalan setapak itu pun berakhir. Nia, Zaim serta yang lain tiba di Bukit Pelangi. Sebuah bukit yang pernah menjadi tempat favorit Nia dan Zaim untuk menyantap makan siang.


Seperti liburan yang direstui oleh Tuhan, gerimis seketika mereda tak lama setelah Nia, Zaim dan yang lain meluruskan kaki. Mereka pun bergegas mengikuti arahan Zaim untuk memancing ikan, memetik umbi-umbian, dan membuat api unggun. Sempurna. Benar, itu adalah liburan yang sempurna tanpa embel-embel kontak fisik ala drakor andai saja penyakit kepo Nia tidak kambuh di pukul sebegitu!


KLEK


"Aku mau nanya."


"Sekarang banget, Sayang?"


Nia hanya mengangguk mantap menanggapi Zaim.


"Yaudah apa?"


"Masa di sini? Kalo ada yang denger gimana?"


"Ya masa di dalem? Kalo kamu gak bisa keluar gimana?"


"Dih," balas Nia seraya menyelonong ke dalam kamar tidur Zaim. "Jadi kenapa rencana liburan romantis  kita berubah jadi liburan jamaah?"


Spontan Zaim terbahak. "Gak ada alesan khusus, Sayang. Aku pikir seru aja kalo liburannya rame-rame. Dan ternyata bener kan. Seru banget malah."


"Aku gak suka tuh liburan seru. Aku sukanya liburan romantis." Nia memicingkan matanya. "Aku yakin kamu punya alesan khusus. Cepet ngomong apa aku teriak?"


Zaim kembali terbahak. "Oke-oke aku ngaku. Aku emang punya alesan khusus."


"Apaan?"


"Kayanya aku ngasih taunya lain waktu aja deh, Sayang. Takutnya ada yang denger."


"Ya makanya pintunya tutup biar gak ada yang denger dong." Nia tiba-tiba balik kanan dan menutup pintu kamar Zaim. "Nah, sekarang kasih tau aku. Apa alesan khususnya?"


"Kamu bener-bener ya." Zaim menghela napas seraya mengusap sebelah pipi Nia. "Aku, ngeri kebablasan kalo kita cuma liburan berdua aja."


Nia diam cukup lama, menatap Zaim dengan sorot misterius. "Dari kapan kamu ngerasa ngeri?" tanya Nia akhirnya.


"Mmm kayanya kemaren."


"Kenapa baru kemaren?"


"Hm?"


"Kenapa kamu ngeri kebablasannya baru kemaren? Gak dari pas aku nginep di rumah kamu, atau dari pas kita ciuman di kamar aku, atau dari pas kita ciuman di kondangannya Kak Denar?"


"Mungkin ka–"


"Kamu tuh gak perlu ngerasa ngeri," sela Nia. "Karna kamu bukan cowok yang kaya gitu. Mungkin kamu emang pernah mikir buat bablas aja. Toh kita bakal nikah juga. Tapi endingnya kamu inget batas kan?"


Zaim membisu, sebab lagi-lagi, takjub dengan pemikiran sang kekasih yang unik.


"Kita tuh saling cinta. Jadi kontak fisik wajar. Apalagi kita terikat sama hubungan yang namanya pacaran. Aku gak mau jadi cewek sok suci dan munafik. Karna faktanya aku emang suka kontak fisik sama kamu," tambah Nia.

__ADS_1


"Gitu ya. Kalo gitu, mau atur ulang liburan yang romantis sama aku?"


__ADS_2