
"Telfonan sama siapa, Sayang? Kok lama banget bahkan sampe ngumpet-ngumpet? Jawabnya jangan berbelit-belit ya. Soalnya aku kurang tidur," ujar Zaim.
"Aku juga kurang tidur. Tapi aku kalo kurang tidur gak mendadak jadi cabul kaya kamu."
Zaim yang semula serius spontan menahan tawanya yang hampir saja lepas.
"Nih denger ya cowok ganteng," imbuh Nia seraya mematikan lampu kamar mandi. "Kamu kan niatnya ngancem. Tapi kalo kamu ngancemnya pake wujud seksi kaya gitu semua cewek juga rela diancem."
Zaim kembali menahan tawa. "Serius dong, Sayang. Abis telfonan sama siapa? Hm?"
"Kak Denar. Dia khawatir sama aku. Karna kan kasus penembakan yang kemaren itu kejadiannya di sekitar sini."
Zaim hanya mengangguk-angguk merespon Nia sembari menyeka air mata gelinya.
"Ngomong-ngomong kamu masuk kamar aku lewat jendela lagi? Kalo sampe Ibu tau dan makin ngamuk gimana coba? Nambah masalah aja deh kamu tuh. Masalah semur ayam aja belom kamu lurusin."
"Orang yang hobi salah paham kaya Ibu kamu tuh bakal tetep ngamuk walopun aku cuma rebahan," balas Zaim. "Aku ambil libur kerja tiga hari. Aku nginep ya."
"Ih kok bisa mau nginep sih? Kalo Ibu sampe tau gimana?"
"Tau apa?"
"Ya tau kamu nginep di sini."
"Kan aku nginep buat ngelurusin masalah semur ayam."
Nia mendecak, "Terserah deh. Tapi jangan sampe ketauan sama Ibu."
"Ketauan apa sih, Sayang? Emang kita ngapain? Ini sebenernya yang suka mendadak jadi cabul tuh kamu apa aku?"
Nia refleks mencubit lengan Zaim. "Kenapa segala libur kerja sampe tiga hari sih?"
"Suka-suka aku dong. Lagian mau aku libur kerja sampe setaun juga duit aku gak bakal abis sampe tujuh turunan. Mau bukti? Ayok bikin keturunan dulu. Bikin tujuh. Atau bikin sepuluh aja kan aku punya sepuluh perusahaan. Kita bikinnya di te–"
Nia membekap mulut Zaim, menghentikan ucapan yang membuat wajah jelitanya mendadak berubah menjadi semerah kepiting rebus. Merasa perlu merendam wajah aibnya, Nia pun buru-buru keluar dari kamar dengan dalih membawakan Zaim makan malam. Butuh waktu lama untuk Nia kembali ke kamar meski nampan berisi sepiring nasi goreng kambing, teh manis hangat dan dua botol air mineral dingin berukuran sedang itu sudah siap dihidangkan pada Zaim.
Tetapi Nia langsung terbirit ketika melihat lampu kamar Ushi yang tiba-tiba menyala. Ushi pasti hendak ke toilet di lantai satu karena toilet kamarnya sedang mampet. Hampir saja terjadi masalah baru. Semuanya karena Zaim yang seperti maling itu. Dan saat berhasil kembali ke kamarnya, Nia langsung meletakkan nampan makanan itu di meja belajar. Nia harus tidur sebelum Zaim selesai mandi dan menangkap basah wajah kepiting rebusnya!
Mungkin karena terlalu menakutkan banyak hal, Nia pun terlelap hanya dalam hitungan detik. Zaim yang akhirnya selesai mandi hanya tersenyum melihat Nia yang terlelap. Sambil menyantap makan malamnya yang terlambat, Zaim memeriksa ponsel Nia. Terlihat ada nama Denar dalam riwayat panggilan telepon terakhir. Tetapi untuk sekadar menelepon karena khawatir akan kondisi Nia yang ternyata baik-baik saja, bukankah satu jam terlalu lama?
"Apa beneran Denar cowok yang dimaksud Pak Sobari?" tanya Zaim dalam hati.
*FLASHBACK ON*
" … Pelakunya cewek, anggota Atlas … Yang saya salutin pangkat dia masih rendah tapi udah berani ambil job di luar Atlas … Kaki tangannya yang udah fix ada dua orang, Pak. Satu driver. Satunya lagi cowok yang nyamperin Mbak Yesenia."
"Kalo cowok yang nolongin pacar saya?"
__ADS_1
Sobari menggeleng menanggapi Zaim. "Saya gak yakin. Soalnya waktu itu posisi kami semua jauh banget, Pak."
"Terus soal perkembangan cctv?"
Sobari kembali menggeleng. "Masih nihil, Pak Zaim. Pelakunya cerdas. Semua cctv di Komplek Medina dan sekitarnya udah direkayasa. Tapi saya akan tetep berusaha."
Zaim mengangguk. "Ada lagi?"
"Saya saranin Pak Zaim temuin Pak Joff … Beliau bakal langsung tau siapa anggotanya yang pake limosin plat 110 … Saya gak bisa nemuin Pak Joff karna peraturan, Pak. Anggota Atlas yang udah resign, gak bisa masuk Atlas dengan alesan apapun. Jadi …"
*FLASHBACK OFF*
"Bukan Bastian. Karna kalo Bastian yang nolong Nia, kaki tangan itu gak bakal bisa lolos. Ikbal juga bukan. Ikbal ada di rumah pas kejadian. Edo juga bukan. Hendri? Gak mungkin. Kakek? Lebih gak mungkin." Zaim diam sesaat, lalu melirik daftar panggilan telepon Nia. "Berarti bener Denar."
Keyakinan Zaim semakin kuat mengingat durasi panggilan telepon Nia dan Denar yang tidak biasa untuk sekadar tanya jawab sepele. Ditambah lagi, Zaim yang sudah menghapal semua gerak-gerik Nia di luar kepala tahu betul gerak-gerik sang kekasih saat tengah menyembunyikan sesuatu. Berbekal keyakinan yang kuat, Zaim pun tanpa ragu menelepon Denar. Dan andaikan Denar tidak menjawab, Zaim sudah bertekad untuk menjadi tamu tak beretika. Namun.
"Halo, Pak Zaim."
"Halo," sahut Zaim pelan, pada Sobari.
"Saya dapet rekaman cctvnya, Pak. Walopun gak jelas, tapi saya tau siapa yang nolongin Mbak Yesenia pas kejadian penembakan itu."
"Siapa?"
"Kepala Sekolah SMA Andalan Teladan, Pak. Denar Djajadi."
Akhirnya Nia tersadar, setelah melewatkan dua kali alarmnya yang berlatar lagu fly me to the moon. Seperti biasa, butuh waktu lama untuk Nia mengumpulkan kesadaran. Dan ketika dirinya telah tersadar sepenuhnya, Nia refleks melompat dari ranjang. Nia terkejut melihat seorang pria dengan punggung seluas samudra yang tengah membaca koran di balkon kamarnya.
"Za."
Spontan Zaim menoleh pada Nia yang saat ini bersembunyi di balik tirai. "Good morning, Sayang."
"Kamu ngapain di situ?"
"Berjemur."
"Duh kok bisa sih kamu berjemur. Di samping kamar aku kan kamarnya Ibu."
"Ibu kamu barusan keluar kok," balas Zaim.
Nia refleks menghela napas lega seraya membatin, "Berarti Ibu udah jalan kerja. Syukur deh. Eh tunggu. Kalo Ibu udah jalan kerja berarti sekarang udah jam tujuh lewat dong. Gawat. Bisa telat ke sekolah. Duh, mana jam pertama bahasa inggris lagi."
"Sayang?"
"Aku telat ke sekolah," sahut Nia sembari berlari memasuki kamar mandi.
"Sayang, tu–"
__ADS_1
"Ntar aja ngomongnya ya cowok ganteng."
Zaim hanya tertawa menanggapi Nia yang baru saja masuk ke kamar mandi. Sepertinya kesadaran Nia belum terkumpul sepenuhnya mengingat dirinya lupa jika tak ada sekolah pun aktivitas di luar rumah selama pelaku penembakan tempo hari masih berstatus buron. Yah, apa boleh buat. Nia yang terlewat bersemangat itu sudah terlanjur tak bisa dihentikan.
" … Za, bisa diem gak sih? Udah mau jam lapan nih. Aku beneran udah telat banget ke sekolah."
"Emang aku ngapain? Orang aku cuma senderan," jawab Zaim pada Nia.
"Yaiya senderan tapi gak senderan di aku juga. Aku buru-buru tau. Awas ah."
"Buru-buru mau ke mana sih, Sayang?"
Spontan Nia beranjak dari kursi riasnya. "Kamu tuh ya. Orang pacarnya mau menuntut ilmu malah dihambat. Aku udah kelas tiga tau gak. Dan walopun ujian nasional masih lama, itu tuh gak bakal kerasa. Aku tuh gak pinter. Makanya aku harus ngurang-ngurangin bolos walopun super duper berat."
Zaim hanya terbahak merespon Nia.
"Eh, sssttt. Diem-diem. Bisa repot kalo Ikbal denger," imbuh Nia.
"Sayang, sini. Duduk dulu. Dengerin aku dulu. Daripada ntar kamu makin malu."
"Hah? Malu? Kenapa aku malu? Ah bodo ah. Awas. Aku mau jalan. Ka–"
"Kamu kan izin sekolah, Sayang," sela Zaim. "Ibu kamu juga kan izin kerja. Sampe pelaku penembakannya ketangkep."
Mendengar itu, kedua pundak Nia yang semula tegang mendadak melemas. Ternyata ini alasan Zaim memaksa Nia untuk duduk sejenak. Memalukan. Ingin rasanya Nia berpura-pura kesurupan. Tetapi itu bukan gaya Nia. Karena gaya Nia adalah, memasang muka tembok! Meski merasa sangat malu, faktanya Nia masih memiliki tenaga untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Nia berdeham, "Kok kamu tau?"
"Ikbal yang ngasih tau."
"What? Maksudnya Ikbal tau kamu masuk kamar aku diem-diem gitu? Duh, kamu tuh gak kenal Ikbal ya? Ikbal tuh kaya Swiper. Yang di kartun Dora. Swiper yang licik banget itu. Itu tuh si Ikbal persis banget sama dia. Ikbal pasti bakal ngadu sama Ibu."
Zaim tak henti terbahak. "Kata siapa aku masuk kamar kamu diem-diem sih, Sayang? Orang aku masuk lewat pintu. Ikbal yang bukain. Tanya aja anaknya kalo kamu gak percaya."
Nia tak menjawab, karena lidahnya, mendadak keriting! Jangankan berpura-pura kesurupan. Memiliki muka tembok saja rasanya tidak cukup menghadapi seorang Zaim Alfarezi. Merasa tak kuasa membendung rasa malunya, Nia pun kembali menarik selimut. Zaim yang melihat itu semakin merasa gemas, pun semakin bersemangat menggoda sang kekasih.
"Bentar deh. Kamu beneran lupa kalo kamu izin sekolah, atau kamu mau ngasih tau aku kalo kamu punya fetish*?"
*Obsesi seksual yang muncul saat seseorang mendapatkan rangsangan seksual yang mendalam pada berbagai objek selain manusia, atau anggota tubuh yang bukan termasuk dalam organ genital. Contoh, melihat orang lain memakai aksesori tertentu, jenis pakaian tertentu, atau bisa juga mengacu pada benda mati.
Nia tiba-tiba menendang selimutnya. "What? Gila kamu ya," teriak Nia. "Siapa yang punya fetish dih ngaco banget."
Zaim merangkak mendekati Nia. "Gak usah malu gitu, Sayang. Jujur aja. Emang kenapa kalo punya fetish? Aku juga punya kok. Dan kayanya fetish kita sama. Jadi nanti malem pertama kita kamu pake seragam sekolah kaya gini ya bi–"
Ucapan Zaim terjeda, karena sebuah bantal yang baru saja menghantam wajahnya. Nia yang melihat Zaim terkejut spontan tertawa geli, pun Zaim. Kini Nia menyerah menyembunyikan keberadaan Zaim dari Ushi. Karena seperti Nia, Ushi pun pasti hanya akan berakhir dipermalukan. Namun dibalik canda tawa itu, diam-diam Zaim sudah bergerak. Bergerak mengirim para robotnya untuk menangkap A110.
" … Pak Sobari nemuin Denar Djajadi. Jani ngejar kaki tangan pelaku penembakan. Dan gua dikirim ke sini? Ini kan neraka," ujar Bastian sembari memandangi gerbang utama Atlas.
__ADS_1