HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SALAH DAMPRAT TAPI SELAMAT


__ADS_3

Terlihat Nia dan Vina tengah saling mengejar sembari menertawakan entah apa. Seperti biasa keduanya pulang sekolah bersama, dan kali ini Vina berniat menginap di kediaman Nia demi menghindari menjadi babu dadakan di acara pengajian yang digelar sang ibu setiap minggu. Keduanya tampak semakin girang, ketika gerimis tipis yang mengguyur tanah kerontang ibukota sejak pagi buta itu perlahan mulai digantikan hujan lebat.


" … Dia gak cuma ngerebut cowok yang ngehamilin saya aja," ujar Kasih seraya mengalihkan pandangan dari Nia dan Vina yang baru saja melintas di samping mobilnya. "Tapi juga bikin saya keguguran." Kasih menoleh pada seorang wanita yang duduk di sampingnya. "Itulah alesan saya pulang."


"Jadi, buat bales dendam, Bu?"


Kasih mengangguk pada si wanita misterius. "Tapi saya gak mau pake cara yang sama sama cara yang dipake anak bau kencur itu. Menurut kamu enaknya pake cara apa?"


"Cara psikologis aja, Bu."


"Maksudnya?"


Wanita berusia kisaran awal tiga puluhan itu membenahi posisi duduknya, lalu berdeham dan menjelaskan saran jahatnya serinci mungkin. Wanita misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai A110 itu menyarankan Kasih untuk menargetkan trauma Nia sebagai cara balas dendam yang disebutnya elegan. Karena kebetulan dari hasil penyelidikan A110, Nia memiliki trauma masa kecil yang ibarat kanker, sedang merangkak menuju tahap stadium akhir.


" … Kurang lebih selama dua tahun, Yesenia Eve dianiaya ibu tirinya, Nila Anggraeni. Nila Anggraeni sering mukulin Yesenia Eve pake benda-benda tumpul, terus juga selama kurun waktu itu Yesenia Eve cuma dikasih makan nasi basi …" A110 membalik halaman catatannya. " … Kemungkinan besar Yesenia Eve pernah dilecehin karena sering dititipin di rumah duda yang namanya Ferdi."


"Pantes foto kecilnya yang bocor ke media waktu itu keliatan miris banget." Kasih kembali menoleh pada A110. "Terus cara bales dendamnya gimana? Saya masih belum paham."


"Ibu tinggal bayar orang buat bikin Yesenia Eve inget sama masa lalunya. Saya bakal siapin skenario. Nanti biar orang-orang itu yang bersandiwara."


Spontan Kasih tersenyum puas. "Elegan banget ya."


"Betul, Bu. Kalo Ibu mau keliatan makin elegan, kita bisa ajak kerja sama Nila Anggraeni sama Ferdi."


"Atur aja. Saya serahin semuanya sama kamu."


"Baik, Bu," jawab A110.


"Tapi jaminan keamanan buat saya beneran seribu persen kan?"


A110 mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil Kasih. "Atlas* emang keji, Bu, tapi mereka selalu megang janji. Di kontrak saya sama Atlas tertulis kalo selama saya masih jadi bagian Atlas, Atlas bakal ngelindungin saya dan orang-orang saya. Jadi Ibu gak perlu khawatir."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


Kasih hanya mengangguk pada A110, sembari mengamati wanita berkepang satu itu keluar dari mobilnya dan berpindah ke mobil yang lain. Setelahnya mobil yang ditumpangi A110 pun tancap gas. Sementara itu, Kasih meminta sang sopir untuk menikmati rokoknya lebih lama lagi. Sebab Kasih masih ingin memandang kediaman bernomor delapan yang diapit pohon rambutan rapiah tersebut, pun pemiliknya yang baru saja keluar memanggil pedagang siomay keliling.


"Kakek sama cucu sama aja. Sama-sama pembunuh." Kasih menggeleng-geleng. "Puas-puasin aja kamu ketawa, Nia. Sebelum aku bikin kamu nangis seumur hidup."

__ADS_1


...•▪•▪•▪•▪•...


Ushi mengaduk adonan bubur dengan perasaan yang juga teraduk-aduk. Meski masih kalah teraduk-aduk dari Ikbal yang entah sudah berapa kali keluar masuk kamar Nia untuk mengganti air serta kain kompres. Perasaan teraduk-aduk semua orang berawal dari Nia yang tiba-tiba saja terserang demam tinggi setelah bermain hujan-hujanan dengan Vina kemarin siang. Dan layaknya sepasang sahabat sehati sesanubari sejati, Vina pun ikut terserang demam tinggi!


KLEK


"Bu."


Ushi mengangguk pada Zaim. "Iya masuk, Za."


"Saya bawa Dokter Moreno, Bu."


"Dokter Moreno? Maksudnya dokter yang sering nongol di tv itu?"


Zaim berganti mengangguk. "Beliau lagi parkir mobil."


"Oh oke-oke. Makasih, Za."


Zaim mengangguk lagi. "Gimana kondisi Nia, Bu?"


"Udah turun kok demamnya. Udah saya kasih obat penurun demam juga."


Bincang serius Zaim dan Ushi tak berlangsung lama karena kemunculan Dokter Moreno. Dokter Moreno pun langsung dituntun ke kamar Nia untuk melakukan pemeriksaan. Demam Nia turun secara ajaib setelah Dokter Moreno memberikan suntikan. Air wajah Nia tampak tak sepucat sebelumnya, dan igauannya pun lambat laun berkurang. Dokter Moreno lalu pamit undur diri setelah meninggalkan resep untuk ditebus.


" … Sampe ngecancel rapat segala, Za. Saya jadi gak enak. Pasti si Ikbal ngelebih-lebihin. Pasti itu anak gak cuma bilang Nia demam aja tapi juga bilang yang macem-macem kan?"


Zaim tersenyum menanggapi Ushi. "Gak kok, Bu. Ikbal cuma bilang Nia gak sekolah karna demam. Saya feeling kondisi Nia parah karna suara Ikbal kedengeran khawatir banget."


"Ya soalnya kan Nia jarang sakit."


"Saya baru tau, Bu." Zaim menerima segelas jus jeruk dari Ushi. "Ngomong-ngomong, saya boleh nginep, Bu? Soalnya percuma saya pulang karna pasti saya gak bakal tenang sampe mastiin sendiri Nia baikan."


"Ya boleh-boleh aja. Yaudah nginep aja." Ushi beranjak sambil tersenyum paksa. "Kalo gitu saya pasang bed cover kamar tamu dulu ya. Kamu kalo mau mandi, mandi aja, Za. Ntar saya bawain baju ganti."


Zaim ikut beranjak. "Iya, Bu, makasih. Saya mau ngecek kondisi Nia lagi aja."


Ushi kembali tersenyum paksa merespon Zaim. Keduanya pun sama-sama berlalu berlawanan arah. Zaim yakin betul Ushi mengizinkannya menginap karena terpaksa. Semuanya tergambar jelas di wajah Ushi yang payah bersandiwara. Tetapi apa boleh buat. Kekhawatiran Zaim benar-benar mendesaknya untuk menginap meski harus diprasangkai buruk oleh Ushi. Sayangnya prasangka buruk Ushi tak kunjung meluruh malah sebaliknya, menyimpang terlalu jauh.

__ADS_1


KLEK


"Aku anak lagi sehat aja susah tidur apalagi anak lagi sakit kaya gini." Ushi menguap. "Lah Itu kenapa pintu kamarnya Nia kebuka? Eh, kok lampu kamarnya Nia mati? Loh-loh itu ada bayangan siapa? Gak mungkin si Ikbal. Itu anak pasti udah molor. Kalo gitu pasti Zaim. Bener-bener ya. Harusnya tadi gak aku izinin nginep."


Ushi melangkah murka menuju kamar tidur Nia, sambil menahan beragam umpatan yang sudah tak terbendung. Dan benar saja, ada orang lain di kamar Nia. Laki-laki, yang posisinya seperti sedang mencium Nia. Spontan Ushi meraih payung di keranjang di samping pintu, dan tanpa ragu menghujani laki-laki yang diyakininya sebagai Zaim itu dengan pukulan bertubi. Tak ketinggalan Ushi juga menumpahkan umpatannya yang penuh sensor.


BUG BUG BUG


"B******* kamu ya! Cowok *****h! Bisa-bisanya kamu nyari kesempatan sama orang yang lagi sakit! Dasar l****! Temenannya sama Atlas sih makanya kaya ****t! Keluar dari rumah saya sekarang juga dasar kamu p****! ****e! L****! *****e! Ga–"


BUG BUG BUG


"Ibu ini aku, Bu! Ibu!"


Ushi refleks menahan pukulannya. "Ikbal? Ngapain kamu di sini?"


"Jagain si Nialah. Masa maen voli." Ikbal mengusap-usap seluruh badannya. "Ibu barbar banget sih. Orang mah nyalain lampunya dulu baru maen hakim sendiri."


"Ya lagian kenapa segala kamu matiin lampunya?"


Ikbal menunjuk Nia yang tertidur pulas. "Aku liat dia kepanasan makanya lampunya aku matiin. Terus kan kata Dokter Moreno dia gak boleh pake ac atau kipas angin dulu."


"Terus ngapain kamu nungging-nungging kaya tadi?"


Ikbal kembali menunjuk Nia. "Tadi di lehernya ada nyamuk. Aku bingung mau digebuk apa dibiarin. Akhirnya yaudah aku tiupin biar nyamuknya terbang."


"Gaje banget sih anak ini." Ushi memukul Ikbal lagi, kali ini dengan guling Nia yang jatuh di lantai.


"Dih, Ibu, udah dih. Parah banget. Sakit tau gak. Ibu tu–, eh, Kak Zaim belom tidur?"


DEG


"Maaf ya, Kak, jadi kebangun," imbuh Ikbal. "Ibu nih. Ngatain gaje padahal sendirinya yang gaje. Tapi keren sih Ibu skill makinya." Ikbal mengangkat dua jempolnya. "Tapi ngomong-ngomong Ibu barusan maki siapa? Tunggu. Jangan bilang maki Kak Zaim?"


DEG DEG


"Kayanya iya, Bal." Zaim memasuki kamar Nia. "Tapi, Bu, saya gak suka nyari kesempatan sama orang yang lagi sakit. Karna mereka bakal sakit sendiri kalo saya udah nyari kesempatan. Terus Ibu harus ati-ati sama Atlas. Soalnya mereka salah aja gak suka dimaki apalagi gak salah. Terus kalo Atlas udah sakit hati, sekelas Zaim Alfarezi aja gak bakal bisa gitu gini loh, Bu. Serius."

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2