HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GARA-GARA KEPITING SAOS PADANG


__ADS_3

Nia dan Vina tampak begitu bersemangat menuruni jalan setapak menuju Desa Bukit Pelangi. Keduanya berlari saling mendahului melewati jalanan dengan turunan curam itu sambil menertawakan hal-hal konyol. Tetapi ketika keduanya hampir tiba di Desa Bukit Pelangi, Vina tiba-tiba saja terperosok ke dalam sawah dan mengalami cedera kaki cukup serius.


"Aduh."


"Vina," teriak Nia seraya berlari menghampiri Vina. "Lu gak apa-apa?"


"Fix kaki gue kesleo."


"Omg gimana dong." Nia menoleh ke sana ke mari. "Lu tunggu dulu di sini. Gue coba minta bantuan ke warga ya."


Vina hanya mengangguk menanggapi Nia, sahabat sehati sesanubarinya, sambil merasakan sakit di pergelangan kakinya yang mulai membiru. Sementara Nia, terlihat menghampiri seorang petani singkong yang tengah beristirahat di bawah pohon. Warga tersebut buru-buru beranjak saat mendapati kedatangan Nia, dan langsung mengekor ketika Nia meminta bantuannya untuk menolong Vina yang cedera. Namun.


"Loh ke mana si Vina?" Nia menunjuk tanah tempat Vina terperosok. "Perasaan bener di sini tempatnya."


"Udah ditolong sama Pak Edo kali, Mbak. Terus langsung dibawa ke pondok."


"Om Edo?"


Petani singkong paruh baya itu mengangguk-angguk. "Iya yang polisi itu."


"Iya saya tau tapi maksud saya kenapa Om Edo? Maksudnya kenapa Bapak nebaknya langsung Om Edo? Kan bisa aja yang nolong Vina tuh Ibu saya. Atau Ikbal."


Petani singkong itu refleks memukul kepalanya sendiri.


"Fix ada masalah nih. Soalnya aneh aja Bapak langsung bahas Om Edo. Terus bahasnya kaya orang udah akrab gitu lagi," imbuh Nia.


"Enggak kok, Mbak Nia, enggak."


"Enggak salah maksudnya? Ada apa sih, Pak? Cerita aja gak apa-apa."


"Anu, Mbak. Duh, gimana ya. Beneran gak ada apa-apa, Mbak. Ja–"


"Nia?"


Spontan Nia dan petani singkong itu menoleh ke asal suara.


"Iya kamu bener. Emang ada masalah tapi gak ada hubungannya sama Bapak ini," imbuh Edo seraya menoleh pada si petani singkong. "Silahkan dilanjut kerjanya, Pak."


"Oh iya-iya. Kalo gitu saya permisi, Pak Edo, Mbak Nia." Si petani singkong berlalu dengan langkah setengah berlari.


"Masalah apa, Om?"


"Zaim yang tau detailnya. Jadi biar Zaim aja yang jelasin sa–"


"Omg tunggu-tunggu," sela Nia. "Jangan bilang masalah ini yang bikin Zaim tiba-tiba balik ke Jakarta?"


"Iya."

__ADS_1


"Yaudah kalo gitu masalahnya apa, Om? Masa Om Bagas? Gak mungkinlah kan dia lagi dipenjara. Apa kondisi Pak Hakam ngedrop?"


"Enggak kok Beliau baik-baik aja."


"Terus masalahnya apa? Jangan bilang, Mamah tiri saya? Gak …"


Mendengar apa yang baru saja dikatakan Nia membuat Edo seketika dikungkung firasat buruk. Bagaimana tidak? Foto-foto pribadi Nia yang tersebar di semua media sosial viral hingga mancanegara. Itu hal yang wajar mengingat Nia adalah kekasih Zaim Alfarezi yang sangat terkenal di dunia bisnis. Jadi ada kemungkinan berita viral itu juga bisa sampai di telinga Nila, ibu sambung Nia, bukan?


Dan terlepas dari apapun reaksi Nila, bukankah Monaco tidak akan tinggal diam jika media sampai mengetahui ada satu dari tiga foto pribadi Nia yang berkaitan dengan kekejian Nila di masa lalu? Sialnya firasat buruk Edo benar-benar terjadi. Saat ini, Nila tengah menangis histeris di depan televisi, menatap foto kecil Nia yang kurus kering, pucat dan penuh luka lebam.


" … Foto itu, awal-awal Mamah mulai nganiaya Nia," lirih Nila.


"Cukup, Mah. Itu udah lalu. Sekarang be–"


"Mamah ngehukum diri sendiri dengan cara yang sama kaya Mamah nganiaya Nia," sela Nila pada Monica. "Mamah sengaja nikahin orang tempramen biar dipukulin … Sengaja makan makanan basi … Tapi Mamah masih ngerasa belum cukup."


"Udah, Mah. Udah cukup. Mamah udah dirawat di rumah sakit selama bertahun-tahun. Bahkan Mamah gak bisa lepas dari obat-obatan sampe sekarang. Mamah udah menderita. Jadi udah cukup, Mah." Monica menoleh pada sang ayah yang tiba-tiba beranjak. "Papah mau ke mana?"


"Udah jelas kan," balas Monaco.


"Jangan cari masalah sama Zaim, Pah. Dia pasti bakal ngatasin masalah ini."


Spontan Monaco menghentikan langkah cepatnya. "Dia cuma bakal ngatasin masalah pacarnya, bukan masalah Mamah kamu."


"Masalah Mamah maksudnya?"


Monaco menoleh pada Monica. "Barusan kan Mamah kamu ngejelasin. Foto kecil Nia yang kaya mayat idup itu penyebabnya Mamah kamu. Kamu pikir Zaim Alfarezi bakal ngatasin itu juga hah? Udah kamu jangan cerewet. Urus aja tuh Mamah kamu. Nangis mulu bikin pusing."


"Duyi."


Duyi, tangan kanan Monaco, bergegas menyamakan langkah dengan Monaco. "Mau gimana, Tuan?"


"Kalo Zaim Alfarezi ngehalangin kita masuk Indonesia pake kuasa polisi nomer satu di sana bahkan Presiden, kita juga bisa ngelakuin hal yang sama kan?"


"Iya, Tuan."


"Siapin uang dua koper. Saya mau masuk Indonesia hari ini juga, dan ngasih pelajaran penyebar foto-foto itu."


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Udah makan belom?"


Terlihat melalui panggilan video call, Zaim menggeleng merespon tanya Nia. "Bentar lagi aku makan."


"Sekarang cepet aku mau liat."


"Aku sibuk, Sayang," jawab Zaim.

__ADS_1


Nia menghela napas. "Kamu pasti gak sadar kalo kurusan."


"Masa? Tapi roti sobek aku masih banyak tuh."


"Dih."


Zaim tertawa. "Aku balik besok. Kita lanjutin liburannya oke? Sekarang aku sibuk dulu."


"Yaudah iya."


"Can't wait to see you, Sayang*. I love you."


*Gak sabar ketemu kamu, Sayang.


Nia mengangguk sambil melambaikan tangannya pada Zaim. Dan video call berdurasi sangat singkat itu pun berakhir. Sembari menghela napas kasar, Nia mengembalikan ponsel Edo yang sedari tadi setia menunggunya hingga selesai melepas rindu dengan Zaim melalui video call. Edo pun mengajak Nia untuk kembali ke pondok sebelum Ushi, Vina atau Ikbal menaruh kecurigaan.


"Om dulu aja. Aku mau di sini sebentar lagi."


"Kayanya kamu gak percaya sama Zaim ya?"


Nia hanya menoleh pada Edo, tak mengerti maksud pertanyaannya.


"Itu loh soal roti sobeknya yang masih banyak," tambah Edo.


Spontan Nia tertawa. "Aku tuh sedih, Om, liat Zaim jadi kurus gitu gara-gara aku."


"Kok jadi gara-gara kamu?"


"Ya karna masalah sekarang ini pasti berkaitan sama aku kan?"


Edo seketika menggigit lidahnya.


"Om gak perlu jawab kok. Karna aku udah feeling dan yakin." Nia menghela napas. "Kalo masalah itu nyangkut kita, harusnya kita yang nyelesaiin, bukan malah orang lain. Orang lain kan juga punya masalah. Aku tuh pengen banget bantu Zaim, Om."


"Kamu gak perlu khawatir, Nia. Kalo Zaim sendiri yang turun tangan nyelesaiin masalah, berarti itu masalah gede yang cuma bisa diselesaiin pake uang yang gak ada serinya. Kamu cukup percaya aja sama Zaim. Ya?"


Nia hanya mengangguk menjawab Edo.


"Yaudah kalo gitu kita balik ke pondok yuk. Ini kepiting saos padangnya pasti udah mateng. Baunya udah sampe sini soalnya. Yuk."


Nia kembali mengangguk memberi Edo jawaban, dan mengekori kekasih tak sampai sang ibu itu meninggalkan kebun mentimun. Meski masih dilanda perasaan sedih, aroma kepiting saus padang itu memang membuat perasaan sedih dan sejenisnya seketika sirna. Dan makan malam ketiga tanpa Zaim pun kembali berlalu. Namun malam ini tidak berlalu sedamai malam-malam yang lalu.


Nia terbangun karena suara dengkuran Edo. Terlihat Vina tertidur pulas sambil memegangi perutnya yang semalam dipuaskan oleh tiga porsi kepiting saus padang. Pun Ushi dan Ikbal. Udara malam ini cukup aneh. Hujan terus turun tetapi udara terasa sangat panas. Itulah kenapa Nia dan semua orang memutuskan untuk menggelar kasur palembang dan tidur di ruang tamu pondok.


Nia beranjak dengan hati-hati, berniat membenahi selimut Edo. Namun saat Nia hendak kembali tidur, dirinya tak sengaja melihat ponsel Edo. Nia pun meraih ponsel itu setelah berdebat hebat dengan logikanya yang menggembar-gemborkan sopan santun. Dengan tak kalah hati-hati Nia keluar dari pondok, dan bergegas meluapkan kekepoannya yang sudah tak terbendung!


"An–". Nia buru-buru membekap mulutnya yang hampir saja berseru. "Ih anjir apa-apaan nih? Ini kan foto cd gue, nilai ulangan gue sama foto gue pas TK. Siapa yang nyebarin anjir."

__ADS_1


"Nyebarin apa?"


DEG


__ADS_2