HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
CAHAYA DI GANG CURUT


__ADS_3

Langkah berisik Bastian yang memenuhi koridor rumah berlantai empat itu membuat belasan pelayan menghentikan kesibukannya sesaat. Meski tahu itu adalah Bastian, tetap saja mereka masih kesulitan terbiasa. Karena majikan mereka, Zaim Alfarezi a.k.a Duplikat L.K, tidak hanya jarang memamerkan suara seksinya tetapi juga jarang membuat suara-suara kecil seperti langkah kaki, kunyahan, dan bahkan, serdawa.


Maksud kedatangan Bastian kali ini adalah untuk memberikan langsung apa yang diminta Zaim satu jam yang lalu. Benar, lagi-lagi Zaim meminta informasi pribadi seseorang meski tahu itu ilegal. Jujur saja Bastian kesal setiap kali telepon dari Zaim datang, namun meski begitu dirinya tetap tak bisa mengabaikan. Wajar saja. Sebab panggilan dari orang terkaya nomor satu di Jakarta Selatan itu digaransi imbalan puluhan juta.


Meski tak ada bedanya dengan jongos, faktanya di zaman ini uang kian berkuasa menginjak harga diri. Memang siapa yang akan menolak diberi uang dengan nominal besar hanya dalam hitungan jam? Upah Bastian saat berhasil memecahkan kasus saja tidak sebesar upah yang didapatnya ketika berhasil meredakan kekepoan Zaim. Bastian menyudahi gerutunya dalam hati, saat seorang pelayan membukakan pintu yang mengarah ke kolam renang.


"Silahkan, Pak."


Bastian hanya mengangguk menanggapi pelayan wanita bertubuh subur itu.


"Orangnya mana?"


"Sedang berenang, Pak."


Spontan Bastian menyapu area kolam renang yang sangat tenang itu. Bastian bingung, sebab demi Tuhan tidak ada siapa-siapa di dalam pun di sekitar kolam renang.


"Tuan Zaim kalo berenang kaya ikan sapu-sapu, Pak," imbuh si pelayan pada Bastian.


Bastian masih tidak memberi respon, hanya melangkah mendekati kolam renang untuk membuktikan benar tidaknya ucapan pelayan senior tersebut.


"Bahkan renang aja gak ada suaranya nih manusia. Bisa repot Indonesia kalo sampe dia jadi penjahat." Bastian menggeleng setelah melihat Zaim yang benar-benar ada di dasar kolam sedalam tiga meter itu. "Tolong jus semangka sama cemilan yang kemaren itu ya."


"Baik, Pak."


Si pelayan berlalu, pun Bastian. Bastian menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi kayu yang ditata berjejer di bawah payung warna-warni. Sambil menanti Zaim muncul ke permukaan, Bastian menyiapkan apa yang diminta pria yang dinilainya memiliki banyak kepribadian itu. Informasi pribadi seseorang yang kali ini diminta Zaim adalah informasi pribadi Ikbal. Ya, Ikbal yang itu, yang kemarin malam resmi menjadi jongos Nia.


"Dapet?"


Bastian terlonjak kaget menyadari Zaim yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. "Bisa sedikit kaya manusia gak sih di–"


"Bacain," sela Zaim sembari duduk di seberang Bastian.


"Ikbal Navarro. Enam belas taun. Anak tunggal pasangan Bagas Prasetyo dan Ushi Widhiani. Orangtuanya cerai 2012 lalu karna Bagas Prasetyo selingkuh sa–"


Zaim kembali menyela, "Ada rahasia?"


"Ada." Bastian membalik lembar halaman selanjutnya. "Ushi Widhiani pernah punya anak diluar nikah."


"Terus?"


"Terus itu doang yang gua dapet. Keluarganya Ushi Widhiani orang kuat, gua susah cari info lebih."

__ADS_1


Zaim beranjak. "Cari."


"Oke. Tapi gak bisa cepet. Gua lagi megang kasus gede soalnya."


"Gua tambahin kalo bisa cepet."


Bastian menghela napas. "Emang mau lu buat apaan sih informasi pribadinya Ikbal Navarro?"


"Kaoru tinggal serumah sama dia, dan gua gak suka dia terlalu akrab."


"Kaoru? Maksud lu Yesenia Eve? Bocil kelas satu di SMAN Lentera Dunia itu?" tanya Bastian dengan nada suara setengah berteriak.


"Iya."


"Jadi lu beneran serius sama itu bocil?" Bastian ikut beranjak. “Za, lu gak lupa kan? Kasih lagi hamil."


...•▪•▪•▪•▪•...


Suara tawa lepas terdengar terlampau mengganggu dari dalam kamar Nia. Terlihat di balik selimut yang menggunduk membentuk tenda mini itu, Nia tengah melakukan panggilan telepon dengan sahabat sehati sesanubarinya, Vina. Nia tak henti tertawa mendengar curahan hati sang sahabat tentang kesialan bertubi yang menimpanya kemarin bahkan hingga detik ini.


"Lagian bego." Nia masih tertawa.


"Sepanik-paniknya mana ada yang berani ngeluarin hp di hari senen, di depan Pak Putro pula," balas Nia dengan iringan tawa.


"Kan lu gara-garanya anjir. Gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba dipanggil Kepsek siapa yang gak panik? Refleklah gue ngeluarin hp buat ngechat lu, dan refleklah juga tuh Pak Putro nyita hp gue."


"Iya-iya. Makasih ya udah panik. Besok Kakak traktir nasi pecel ya di kantin. Gorengannya bebas berapa aja."


"Sama es jeruk."


"Yayaya Kakak udah tau kamu bakal ngelunjak."


Tawa Vina yang sejak satu jam lalu ditahannya setengah mati itu akhirnya lolos, diikuti Nia setelahnya.


"Terus kemaren niatnya kan abis balik sekolah gue mau ke rumah lu ya, tapi gue ditahan sama geng anak pinter buat nyicil tugas kelompok yang deadlinenya masih sepuluh taun lagi."


Nia kembali tertawa menanggapi Vina, kian lepas, kian keras, pun kian membuat Ikbal yang kini tengah menggombali sang kekasih melalui video call kehilangan rangkaian kata-kata gombalnya.


"Dan derita gue gak cuma sampe di situ. Si Bayu ngadu ke bokap gue kalo hp gue disita Pak Putro. Alhasil pas nyampe rumah gue langsung divonis hukuman kurung kamar. Cuma keluar manggil abang bakso aja mata bokap gue langsung melotot segede-gede jengkol," imbuh Vina.


Nia kesulitan menghentikan tawanya, dan benar-benar tak mampu merespon Vina meski hanya dengan satu kata.

__ADS_1


"Ini aja gue ngontek lu pake hp nyokap."


"Lah emang ke mana Bu Rt?" tanya Nia akhirnya, sembari mengusap air mata gelinya.


"Kayanya keluar beliin gue bakso. Kan gue ngambek gak mau makan dari pagi," sahut Vina. "Btw, Nya. Kalo itu polisi beneran orang suruhannya Duplikat L.K, berarti Duplikat L.K bukan orang biasa dong?"


Spontan Nia membuka selimutnya. "Lexander Kingston orang biasa bukan sih? Soalnya polisi itu bilang Duplikat L.K sebelas dua belas sama Lexander Kingston."


"Lexander Kingston siapa? Bule? Maksudnya Duplikat L.K bule kaya Lexander Kingston? Yaudah gas, Nya. Merubah keturunan."


"Bukan itu maksud gue anjir," balas Nia sembari beranjak menuju lemari pakaian. "Lu pernah baca novel JUST KILL ME?"


"What is baca?"


"Baca is kegiatan yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin."


Suara tepuk tangan Vina terdengar dari seberang telepon, menandakan jika dirinya kini tengah tertawa terguling-guling.


"Gue mau ke toko buku nyari tuh novel," tambah Nia. "Kalo bener Duplikat L.K bukan orang biasa, gue yang cuma orang biasa ini harus cepet-cepet balik kanan kan?"


"Yup. Dan yang paling utama, cari cara lain buat blokir Duplikat L.K selamanya."


Nia mengangguk-angguk merespon sang sahabat, sambil berusaha mengaitkan ritsleting jaketnya yang kembali bertingkah.


"Yaudah cepetan ke toko bukunya mumpung belom malem-malem banget."


"Iya. Bye hanibaniswiti." Nia mengakhiri panggilan telepon berdurasi empat jam empat puluh menit itu.


Nia pun bergegas. Sambil menuruni satu per satu anak tangga, Nia melirik ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Masih tersisa satu setengah jam lagi sebelum toko buku di belakang halte tutup, pun sebelum Ushi pulang dari kantor. Sejujurnya Nia ingin ditemani oleh Ikbal, tetapi pecandu game Fruit Ninja itu pasti sedang sibuk menebar benih-benih gombal pada pacar-pacarnya sekarang.


Ini adalah kali pertama Nia pergi ke toko buku tanpa paksaan dari para guru. Apa boleh buat. Kedamaian hidup Nia ke depan benar-benar bergantung pada isi buku berjudul JUST KILL ME itu. Ada dua jalan menuju toko buku, jalan biasa dan jalan pintas. Jika memilih jalan biasa, Nia akan tiba tepat pada pukul sembilan. Sedangkan jika memilih jalan pintas, Nia akan tiba lebih cepat namun dengan risiko dibayang-bayangi keparnoan.


Dan Nia pun memilih kedua jalan itu. Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh langkah, Nia berbelok ke Jalan Dahlia, lalu berjalan lurus sedikit sebelum kembali berbelok ke gang sempit yang tembus menuju jalan raya. Semuanya aman-aman saja, sesaat sebelum pemandangan di ujung gang itu terlihat. Sekelompok pemuda yang tengah asyik menghisap rokok elektrik, menyudahi isapan mautnya, saat mendapati kedatangan Nia.


"Mau bareng?"


Nia tak menjawab, pun tak merasa takut pada pria misterius yang mengenakan tudung dan masker berwarna senada itu.


"Kalo mau bareng pegang tangan gua," imbuh si pria misterius seraya memamerkan telapak tangannya yang seksi.


DEG DEG DEG

__ADS_1


__ADS_2