HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GASWAT!


__ADS_3

Lampu mobil Zaim tampak semakin mengecil, pun samar. Wajar. Mobil mewah itu berwarna tak kalah pekat dari langit malam yang mendung. Ditambah lagi ratusan pepohonan raksasa berdaun terlewat lebat yang berderet di sepanjang tujuh kilometer Desa Bukit Pelangi. Satu-satunya petunjuk bahwa kendaraan yang melintas di jalan tersebut tidak tertimpa bala hanya satu, lampunya yang berkedip-kedip seperti lilin pesugihan babi ngepet!


"Yaudah, Pak, Bu, mari langsung aja bantu Zaim."


Pak Kades dan Bu Kades hanya kompak mengangguk-angguk menanggapi Edo.


"Beneran berani kan, Pak, Bu?"


"Berani, Pak, insyallah," sahut Pak Kades akhirnya. "Yaudah Ibu cepet bangunin anak-anak terus ke gapura ya tunggu Bapak. Kita harus cepet-cepet ngungsi ke desa sebelah sebelom terang."


"Iya, Pak. Yaudah kalo gitu saya permisi ya, Pak Edo."


"Iya, Bu, silahkan. Hati-hati, Bu Kades."


"Kalo gitu saya juga permisi ya, Pak Edo. Soalnya rumah orang PLN*nya agak jauh. Kata Pak Zaim kan listriknya harus diputus dari sekarang biar masuk akal."


*Perusahaan Listrik Negara.


"Iya, Pak. Saya juga mau langsung bagiin ini ke warga." Edo menunjukkan segepok amplop putih. "Tapi gak apa-apa kan, Pak, saya bertamu malem-malem gini?"


"Namunya kan bawa rezeki, Pak Edo, jadi gak apa-apa. Ditambah lagi situasinya kan darurat."


Edo mengangguk merespon Pak Kades, dan berlalu berlawanan arah dengan langkah yang sama-sama terburu. Sama seperti yang ada dalam benak Bu Kades di sepanjang jalan pulangnya, Pak Kades serta Edo pun membatinkan perkara yang sama. Harus cepat! Tidak boleh gagal! Ini perintah dari orang sinting! Dan di tengah kesibukan ketiga robot baru Zaim, Zaim sendiri tak kalah sibuk menginjak gas mobilnya dengan murka tingkat dewa!


"Anjing," gumam Zaim.


Ya, anjing. Anjing sekali memang ketika hanya kita sendiri yang tidak tahu-menahu tentang apa yang tengah terjadi. Sebenarnya ada apa? Kenapa Pak Kades dan keluarganya harus sampai mengungsi? Kenapa listrik di Desa Bukit Pelangi harus dipadamkan dengan sengaja? Lalu kenapa pula Edo harus membagi-bagi uang kepada warga? Dan yang terakhir yang tak kalah penting. Siapa yang berani membuat Zaim Alfarezi murka hingga tingkat dewa?


"Za."


"Laporin," balas Zaim pada Bastian sembari membanting pintu mobilnya.


"Fix Bunga yang nyebarin foto-foto pribadinya Yesenia. Pak Sobari sama anak buahnya lagi ngejar dia. Terakhir dia ketangkep cctv masuk tol merak."


"Jani?"


"Gua suruh stay di bandara. Kata lu kan Monaco belom nyerah buat masukin orangnya ke sini. Jadi bukan gak mungkin kan ini jadi kesempatan emas buat mereka masukin orang lagi."


Zaim mengangguk-angguk. "Terus gimana kondisi Nisma?"

__ADS_1


"Masih kritis. Soalnya dia kilangan banyak darah. Dokter bilang semenit aja gua telat bawa dia ke rumah sakit. Dia pasti udah lewat sekarang."


"Kronologinya gimana?"


"Semalem Pak Sobari tiba-tiba nelfon gua nanyain alamat rumahnya Nisma. Gua sharelah sambil gua tanya ada apa. Tapi dia bilang gak ada waktu buat jelasin. Karna kebetulan gua lagi lewat sekitaran rumah Nisma ya gua iseng ngecek. Pas gua cek gak ada yang nyaut tapi gerbangnya gak dikunci. Yaudahlah gua masuk dan langsung nemuin si Nisma yang sekarat."


"Terus kronologi sampe Bunga ditetapin jadi tersangka penyebaran foto-foto itu?"


"Semalem Pak Sobari balik ke rumah aman* karna ada barangnya yang ketinggalan. Tapi pas balik dia ngeliat di lantai dua rumahnya Yesenia kaya ada cahaya senter. Dia langsung nyergap. Tapi tersangkanya kabur. Si tersangka ini pake jaket, topi sama masker. Tapi dari perawakannya Pak Sobari yakin dia cewek. Terus Pak Sobari juga bilang dia sempet narik topi si cewek ini pas mau kabur naik ojek. Di situlah ketauan dia Bunga."


*Sebuah rumah yang digunakan Zaim untuk kepentingan misi-misinya. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.


Zaim diam, langkahnya mendadak terhenti dengan sendirinya di depan lift rumah sakit.


"Bukti pendukungnya satpam di kompleknya Yesenia, sopir taksi yang diorder Bunga, cctv di sekitar komplek sama pangkalan ojek, sama tukang ojek. Semuanya udah diamanin Pak Sobari," imbuh Bastian.


Zaim masih diam. Namun pandangannya yang semula hanya tertuju lurus ke depan, perlahan beralih pada satu per satu orang yang berjubel di dalam lift.


"Kami naik lift berikutnya aja. Si–"


"Time is money, Bas," sela Zaim seraya masuk ke dalam lift.


"Manusia kang ngaret kaya lu gak pantes ngomong gitu."


Bastian hanya mendecak menanggapi Zaim.


"Beresin, Bas," tambah Zaim.


"Siapa? Media?"


"Bukan. Tapi mulut orang-orang yang suka nambahin bumbu." Zaim kembali menatap satu per satu penumpang melalui pantulan kaca lift. "Bikin mulut mereka diem sekarang atau, selamanya."


...•▪•▪•▪•▪•...


Sudah dua hari berlalu sejak foto-foto pribadi Nia tersebar di semua media sosial. Meski diambil secara amatir, foto-foto itu sangat jelas menunjukkan betapa dengki hati sang pemotret. Sejujurnya tidak semua orang tertular kedengkian si pemotret walau sudah berkali-kali mengonsumsi foto-foto pribadi Nia yang disebar sebanyak tiga buah tersebut. Sebagian orang malah bersimpati pada Nia setelah melihat foto pakaian dalamnya, nilai ulangannya dan terutama, foto kecilnya yang sangat memprihatinkan.


"Kamu bisa nyanyi kan, Vin? Nyanyi gih."


"Jangan!" seru Nia pada Ushi. "Sumpah, Bu, jangan."

__ADS_1


"Emang suara gue seancur itu apa, Nya?" Vina terbahak. "Sebenernya kalo ada gitarnya aku bakal nyanyi tanpa disuruh, Tan. Tapi gitarnya kan ada di mobil, dan mobilnya dibawa Kak Zaim tau ke mana."


"Dibilang ke Jakarta. Kak Zaim balik sebentar karna ada urusan darurat," sahut Ikbal.


"Darurat-darurat tapi masa udah dua hari gak kelar-kelar. Ibu bete nih. Jadi pengen udahan aja liburannya kalo kaya gini."


"Sebenernya gak kerasa bete-bete banget gak sih, Tan, kalo ada hp?"


"Tetep betelah. Liburan tuh kulineran sama wisata bukan maenan hp." Ushi menoleh pada Edo. "Tapi beneran Pak Kades sama Bu Kades gak ada di rumah, Do?"


"Ya sana kamu cek sendiri kalo gak percaya."


Ushi menghela napas. "Mereka ada urusan darurat juga kaya Zaim kali ya. Tapi harusnya kan pamitan dulu sama kita. Atau seenggaknya titipin kunci rumahnya ke tetangga kek. Udah tau hp kita semua dicas di rumahnya. Gimana sih."


"Ambil postifnya aja, Shi."


"Kayanya gak ada positifnya deh, Om."


"Bener banget," timpal Vina pada Nia. "Okelah kalo gak ada hp. Tapi ini tuh bukan cuma gak ada hp aja tapi juga mati lampu. Terus kita stuck di sini karna gak bisa ke mana-mana. Coba kalo ada mobil. Kita masih bisa jalan-jalan kan, Om. Iya kan? Iya dong?"


"Ya mau gimana lagi, Vina." Edo beranjak. "Sebenernya kita bisa bikin kegiatan baru biar gak bete. Kaya nangkep kepiting atau bikin es tebu?"


"Oh iya bener. Di kali yang rada ke kanan kan kepitingnya gede-gede ya, Om. Terus ada kebun tebu juga tapi agak jauh." Ikbal menyambar sepatunya di kolong kursi dengan antusias. "Bu, kepiting saos padang bisa kali."


"Ya bisa. Tapi bumbunya mana?"


"Emang bumbu-bumbu abis semua, Bu?" tanya Nia.


"Ya belanjanya aja cuma dikit gimana gak abis. Minta ke penduduk Bukit Pelangi sana."


"Oke biar kita yang mintain, Tan." Vina tiba-tiba menggandeng Nia. "Let's go bestie."


"Dih kok gue juga? Lu aja ah sana. Males gue turun ke bawah. Jauh banget gi–"


"Gue punya ide," sela Vina sembari berbisik.


Nia menggeleng mantap. "No."


"Yeslah. Lu mau mati bete di sini sambil nungguin ayang lu ngelarin urusan daruratnya? Gak kan? Mending kita ambil hp kita terus kalo batrenya abis nitip cas di rumah penduduk."

__ADS_1


"Emang lu punya kunci rumahnya Pak Ka–, eh tunggu, jangan bilang?"


Vina menyeringai sambil mengangguk-angguk. "Kita masuk rumahnya Pak Kades diem-diem."


__ADS_2